
"Tante kapan datang ke indonesia?" tanya niken berbasa-basi sembari meletakkan tas nya di atas meja.
"Kemarin sore, dan tante sekarang menginap di hotel yang tidak jauh dari sini," jawab Maria.
"Oo," niken manggut-manggut.
"Oh ya tante, kenapa tante gak nginap di mension zi saja?" imbuh niken bertanya.
Semburat kesedihan di wajah Maria kembali terlihat, di sertai helaan nafas nya.
"Maaf ya tante,. Aku nggak bermaksud membuat tante bersedih," Sesal niken yang melihat kesedihan di wajah Maria.
"Tidak apa-apa niken," balas Maria berusaha tersenyum.
"Ini memang semua salah tante." imbuh Maria.
"Jadi apa rencana tante sekarang?" tanya niken lagi.
"Tante belum tau, saat ini tante hanya ingin bertemu dengan zi." jawab Maria.
Tiba-tiba Ponsel di dalam tas niken berbunyi, setelah melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponsel nya, niken pergi menjauh dari Maria untuk mengangkat sambungan telepon ya.
"Apa kau sudah dapat informasinya?" tanya niken saat sambungan teleponnya sudah terhubung.
"Nama nya Salsabila, dia seorang pelajar SMA negri nusa bangsa, dulu dia tinggal bersama ibu dan ayah tirinya di jalan Durian blok B no 39, sekarang dia tinggal mension zidan alvero." Tutur seseorang memberikan informasi dari sambungan telepon niken.
"Apa kau bercanda! mana mungkin dia tinggal di mension zidan alvero?" Ucap niken sedikit membentak nya.
"Jika anda tidak percaya Anda bisa membuktikannya sendiri," Ujar si penelepon itu datar.
"Apa Ada lagi yang ingin anda ketahui?" imbuh si penelepon.
"Apa hubungan wanita itu dengan zidan?" tanya niken dengan raut wajah menahan amarah.
"Menurut catatan sipil, mereka adalah pasangan suami istri,"
Tuuuuuuuuut!
Belum selesai orang itu berbicara niken sudah memutuskan sambungan teleponnya.
"Tidak mungkin! tidak mungkin zi menikahi anak kampung itu. ya itu tidak mungkin, aku harus mencari tau nya sendiri, ya aku harus mencari tau nya sendiri!" batin niken menyangkal.
***
Di sekolah salsa.
__ADS_1
Bell pulang sekolah sudah Berbunyi lima manit yang lalu, tapi Santi dan Salsa masih terlihat berada di dalam kelasnya.
"Yuk sa, kita pulang." ajak Santi sembari memegang tangan Salsa dan menarik agar ia berdiri dari duduk nya.
"Tunggu bentar lagi San, aku malas. nanti ketemu si Rendi lagi." balas Salsa yang malas bangkit dari duduk nya.
"Palingan juga dia sudah pulang," kekeh Santi yang terus menarik tangan sahabat nya itu.
Dengan terpaksa Salsa bediri dan mengikuti langkah kaki sahabatnya itu.
"Ingat kata-kata aku tadi, kamu itu harus ceritain semua ini pada laki mu, biar dia gak salah paham," ujar Santi sembari merangkul bahu Salsa dengan terus berjalan keluar.
"Iya, iya," Balas Salsa yang melangkah malas.
"Jangan iya, iyain aja, omel Santi dengan wajah serius nya.
"Iya mak-mak bawel," Ledek Salsa seraya mengusap kasar wajah sahabat nya itu.
Mereka sekarang sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Benar saja ternyata Rendi masih menunggu Salsa. Terlihat Rendi duduk di atas motor sports nya yang terparkir samping pos satpam. Langkah mereka seketika itu berhenti.
"Ihhh, gimna ini San! Tuh dia masih ada di sana kan," lirih Salsa seraya memeluk lengan Santi, wajah dan badannya ia sembunyikan di belakang tubuh Santi. Saat melihat Rendi turun dari motor nya.
"Udah kamu tenang saja," ujar Santi yang menenangkan sahabat nya itu sembari memegang tangan nya. Lalu mereka mulai kembali melangkah.
Saat berjalan melewati Rendi, Salsa yang berjalan di belakang santi, hanya menunduk kan wajah nya tanpa melihat Rendi yang berdiri di depan di depan.
"San, bareng aja yuk pulang nya," ucap Salsa yang sudah duduk di dalam mobil
"Kamu duluan aja, aku ada perlu ke tempat lain," balas Santi seraya melambaikan tangan nya pada Salsa.
Setelah mobil yang membawa Salsa pergi. Santi berjalan mendekati Rendi yang masih berdiri di depan pagar sekolah mereka.
"Loe apa-apaan sih San, udah kaya bodyguard nya saja," sinis Rendi.
"Eh, loe yang apa-apaan ya, ngapain loe gangguin sahabat gua!" ketus Santi kesal.
"Perasaan Gua gak ada ganggu dia, gua hanya pengen dekat aja dengan dia," balas Rendi datar.
"Karna loe pengen dekat dengan dia mangkanya dia merasa terganggu," sengit Santi yang emosi.
"Sayang nya gua nggak peduli, karna gua sudah terlanjur suka, saat pertama melihat dia," ujar Rendi yang masih santai.
"Cih, dasar playboy cap ikan asin loe," kesal Santi dengan mendorong dada Rendi dengan satu tangan nya lalu melangkah pergi.
"Gua bakal buktiin sama loe, gua pasti akan dapatin dia," teriak Rendi pada Santi yang sudah berjalan menjauh.
__ADS_1
"Dasar cowok sinting," gumam Santi yang terus melangkah pergi.
***
Mobil yang di kendarai jefri yang ada Salsa di dalam nya, hendak masuk ke dalam mension zidan. tapi mobil mereka terhenti karna sebuah mobil sedan merah terparkir tepat di depan pintu gerbang. tampak dari kaca depan mobil seorang wanita yang sedang bertengkar dengan satpam yang berjaga.
"Siapa itu bang jefri? tanya Salsa pada jefri.
"Nama nya niken nyonya," jawab jefri.
Tin. Tin. Tin.
Jefri lalu membunyikan klakson mobil, berharap niken akan memindahkan mobil nya. Tapi niken malah berjalan ke arah mereka dengan wajah merahnya. Salsa merasa cemas saat melihat wajah emosi niken yang berjalan mendekatinya.
"Nyonya duduk saja, jangan di buka pintu nya," ucap jefri memberi perintah karna melihat wajah cemas Salsa dari kaca spion nya.
Jefri lalu keluar dari mobil itu.
"Kau siapa? Siapa Kau berani mengusir ku," bentak niken yang sudah berada di dekat jefri.
"Maaf nona, saya hanya meminta nona agar memindahkan mobil nona yang di depan, karna menghalangi jalan saya," balas jefri.
"Kalau aku tidak mau kau mau apa? Kau itu hanya babu disini nggak usah sok-aok an menyuruh aku." bentak niken di sertai makian.
"Dorong saja mobil nya ke depan," teriak Jefri pada satpam yang masih berdiri di luar pintu gerbang, tidak lama terlihat satpam dan beberapa orang penjaga mendorong mobil merah yang terparkir di depan gerbang mension itu.
Plak!
Niken hendak menampar jefri tapi dengan sigap jefri menangkap tangan nya.
"Kau. babu sialan, berani kau sama aku," Geram niken sembari menarik kembali tangan nya yang masih di pegang jefri.
Dengan langkah kesal niken berjalan mendekati mobil nya. Jefri kembali masuk ke dalam mobil, ia melihat Salsa yang duduk meringkuk ketakutan dengan wajah yang cemas.
Jefri lalu menginjak gas memasuki mension zidan.
****
Dikantor zidan.
Raka yang sejak tadi ingin menemui zidan. Mengurungkan niat nya, karna takut akan membuat emosi bos nya itu semakin memuncak.
Kini Raka mengumpulkan keberaniannya mengetuk pintu ruangan kerja zidan.
Tok. Tok. Tok.
__ADS_1
Sudah beberapa kali Raka mengetuk pintu ruangan itu tapi tidak ada jawaban dari dalam, kemudian Raka membuka sendiri pintu itu.
Cek lek.