Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Pulang tengah hari.


__ADS_3

"Lho, memang nya Zidan belum memberitahukan nya?" Maria bertanya sambil menatap wajah Salsa yang ke bingungan.


"Aku hamil? Aduh....., kok bisa sih? Bagai mana nanti kalau aku di keluarkan dari sekolah?" batin nya seraya melihat dan memegang perutnya yang masih rata.


"Sayang. Kenapa wajah nya seperti itu?" Maria kembali bertanya melihat perubahan raut wajah Salsa.


"Ma, nanti sekolah Salsa gimana?" rengek nya meminta solusi seraya memegang lengan Maria yang duduk di sampingnya.


"Kan Kamu masih bisa sekolah sayang, kalau kamu capek nanti bisa belajar Daring, sayang," ujar Maria menenangkannya.


"Tapi bulan depan Salsa akan ujian akhir ma, Salsa takut nanti Salsa di keluarkan dari sekolah," ucap nya.


"Mama jamin kamu tidak akan di keluarkan dari sekolah." balas Maria menyingkirkan ketakutan yang ada didalam diri menantu nya itu.


"Ooh ya Ma, dua hari lagi sekolah akan mengadakan acara perpisahan, mama datang ya! sebagai orang tua Salsa." pinta nya dengan wajah penuh harap.


"Pasti mama akan datang sayang, tapi kamu harus bilang dulu sama suami mu, jangan sampai dia marah nantinya," jawab Maria.


"Nyonya sarapan lah dulu, dari tadi anda belum sarapan. Saya akan dimarahi tuan jika anda tidak sarapan dan meminum obat," ucap Marni yang sudah berdiri di samping sofa.


Maria memandang Salsa yang duduk di sebelahnya. Lalu ia berdiri dari duduk nya.


"Ayo, sekarang kita kemeja makan, pasti dedek di dalam perut kamu ini sudah lapar," ajak Maria sembari menarik tangan Salsa agar ia berdiri.


Dengan malas Salsa mengikuti langkah Maria yang membawa nya ke meja makan. Maria menemani Salsa sarapan, dan membantunya mengeluarkan obat dari dalam plastik untuk ia minum pagi ini.


**


Selesai Salsa sarapan dan meminum obat. menantu dan mertua itu kembali duduk di sofa ruang utama mension.


"Makasih ya, ma," ucap Salsa menatap haru Maria.


"Terimakasih buat apa sayang?" tanya Maria.


"Terimakasih, karna mama baik banget sama Salsa. Andai saja ibu Salsa seperti mama." Jujur, saat ini Salsa sangat merindukan Ibu nya.


"Lho, kenapa wajah nya jadi sedih sayang? Harus nya mama yang mengucap kan terimakasih, karna sebentar lagi kamu akan memberikan mama cucu," balas Maria di sertai tangan nya mengusap lembut bulir air yang keluar dari mata Salsa.


Salsa memeluk erat mertua nya itu, meluap kan rasa rindu pada sosok ibu yang ia rindukan.


-


-


-


"Permisi nyonya," ucap jefri yang baru saja datang, berdiri tidak jauh di belakang mereka.


"Ada apa bang?" tanya Salsa yang menoleh melihat jefri.


"Tuan menyuruh saya memberikan ini untuk nyonya," balas jefri sembari berjalan mendekati Salsa yang duduk di sofa lalu memberikan paper bag yang di bawanya.

__ADS_1


"Terimakasih bang jeff," ucap Salsa saat menerima kantong paper bag yang di berikan jefri.


Salsa mengeluarkan isi dalam kantong paper bag itu, yang di dalam nya berisi sebuah laptop dan ponsel baru.


"Kenapa mas membelikan aku ponsel lagi? Kan ponsel aku masih ada, meski sekarang ada pada santi,"  gumam nya.


Tiba-tiba ponsel yang di pegang nya itu berbunyi.


Salsa melihat nama Suamiku serta foto Zidan yang tampil di layar ponsel barunya itu, ia tersenyum pada Maria yang duduk di sebelah nya lalu mengangkat sambungan telepon itu.


"Halo sayang, apa kamu sudah makan, dan minum obat?" tanya Zidan saat sambungan telepon nya sudah terhubung.


Namun Salsa hanya diam saja memasang wajah cemberut nya.


Zidan lalu merubah panggilan suara nya menjadi Video Call.


"Sayang coba liat layar ponsel mu," ucap Zidan karna Salsa yang masih mendekatkan ponsel itu ketelinga nya.


"Heish! Kenapa dengan wajah mu?" tanya Zidan yang melihat wajah cemberut Salsa.


"Aku nggak mau ngomong sama mas," ucap nya tanpa melihat layar ponsel.


"Kenapa? Apa kamu tidak rindu dengan suami mu ini?" tanya Zidan menggoda nya.


"Enggak!" balas Salsa singkat, masih memasang wajah kesal.


"Ooo..., ya sudah kalau begitu hari ini mas tidak pulang ya? Kan tidak ada yang rindu," Zidan berharap Salsa merengek meminta nya pulang.


"Ya, nggak usah pulang selamanya," ucap Salsa yang masih kesal.


"Kamu masih marah karna mas tidak membangunkan mu tadi pagi?" tanya Zidan.


Salsa hanya diam tanpa melihat layar di ponsel nya.


"Ok, mas minta maaf ya sayang," ucap Zidan sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


Maria memandang wajah Salsa yang terlihat masih kesal sesudah berbicara dengan Zidan lewat sambungan video call. Bibir tipis nya mengerucut ke depan, seperti sedang mengoceh.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" tanya Maria lembut.


"Nggak ada ma," jawab nya di sertai gelengan kepala.


"Ingat pesan mama ya sayang, jaga kesehatan, dan jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan. Mama mau balik ke hotel, besok mama kesini lagi," ujar Maria.


"Kenapa mama tidak tinggal di sini saja?" Salsa memegang tangan Maria.


"Nanti, nanti kita akan tinggal sama-sama sayang," ucap Maria meyakin kan.


Maria pergi meninggalkan mension setelah menyimpan nomon ponsel Salsa.


**

__ADS_1


Tengah hari. Zidan sudah berada di mension nya, ia lansung masuk ke dalam kamar mencari Salsa yang saat itu sedang tidur di atas ranjang. Zidan berjalan mendekati istri nya yang sedang tidur sembari memeluk boneka yang pernah diberikan nya dulu. Seingat nya boneka itu masih berada di kamar nya yang ada di lantai dua.


Zidan mengulurkan tangan nya mengusap lembut rambut Salsa, kemudian mencium kening nya.


Tubuh Salsa lansung bergelinjak, ia pun lansung duduk di atas ranjang, saat merasakn bibir Zidan mendarat di kening nya.


"Mas ngapain di sini? katanya tadi tidak mau pulang," ketus nya menatap Zidan kesal.


Zidan hanya tersenyum sembari duduk di tepi ranjang.


"Mas sana iiihh! Jangan dekat-dekat!"  Salsa mendorong tubuh Zidan yang sudah duduk di atas ranjang.


Terpaksa Zidan kembali berdiri dan melangkah sedikit menjauh dari ranjang.


"Aku tu masih marah, dan kesal sama mas," ucap nya.


"Marah? Kok marah? Memangnya mas melakukan kesalahan apa?" tanya Zidan yang tidak mengerti.


"Masih saja pura-pura nggak tau!" Salsa mendengus kesal.


Zidan mengernyitkan dahi nya, mencoba mengingat-ingat apa yang membuat istrinya itu marah.


"Oo. Masalah mas yang tidak membangun kan kamu tadi pagi? Sayang, mas kan sudah minta maaf," balas Zidan.


"Nggak usah panggil aku sayang, mas itu sebenarnya gak sayang sama aku," ucap nya dengan bola mata yang berkaca-kaca.


Zidan kembali mendekat dan memeluk tubuh istri nya yang hendak menangis.


"Salsabila, mas itu sayang sama kamu, kenapa kamu masih belum percaya itu?" ucap Zidan yang sudah memeluk tubuh Salsa.


"Tapi kenapa mas membuat aku hamil, hiks..., hiks..., mas kan tau aku ingin mengejar impian ku, aku ingin mewujudkan harapan ayah, hiks...,hiks...., sekarang ayah pasti kecewa pada ku..., hiks....,"


Salsa menangis sesugukan dalam pelukan Zidan.


"Kamu masih bisa mewujud kan itu semua, sayang. Setelah kamu lulus nanti kamu bisa mendaftar kuliah di universitas mana saja." ujar Zidan sembari mengusap lembut kepala nya.


"Tapi kan nanti perut aku besar mas, hiks.., hiks.., gak mungkin kan aku kuliah dengan perut besar. Dan juga kalau anak ini lahir, siapa yang menjaga nya dirumah? kalau aku kuliah. hiks... hiks...," ucap nya yang terus saja menangis.


Zidan melepaskan pelukannya, mengeluarkan sapu tangan nya lalu menghapus air mata yang membajiri pipi istrinya itu.


"Itu biar mas yang mengurusnya," ucap Zidan sembari tersenyum dan menoel hidung Salsa.


"Mas, iiih," Salsa memukul. dada bidang Zidan, yang tubuh nya lansung di rangkuh Zidan ke pelukannya.


"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Zidan.


"Aku belum lapar mas," jawab Salsa yang masih berada dalam pelukan suaminya.


"Ini kan sudah siang sayang, ayo kita makan dulu," ajak Zidan.


"Nanti mas,"

__ADS_1


Satu telunjuk Salsa bermain di dada bidang Zidan yang masih menggunakan setelan kerjanya. Seperti sedang menuliskan sesuatu di sana. Jemari nya semakin nakal, ia kini malah membuka satu kancing kemeja zidan dan menyusupkan tangan nya ke dalam, meraba lansung rambut-rambut halus di sana.


"Uuuh, sayang jangan lakukan itu," Zidan melenguh merasakan sentuhan jemari istrinya itu.


__ADS_2