
"Uuugh," Salsa meregangkan tubuh nya yang baru saja terbangun.
Ia melihat jam yang terpaku di dinding kamar yang masih menunjukkan pukul 05:15. Tapi, ia harus segera bangun, karna tadi malam ia dan mertuanya sudah berencana untuk membuat sarapan pagi ini.
Iiih, kok tangan mas kuat sekali sih.
Salsa berusaha memindahkan satu tangan Zidan yang memeluk tubuh nya.
"Ini masih gelap sayang, kamu mau kemana?" tanya Zidan yang masih memejamkan mata.
"hm Aku- hm aku-. aku mau ke kamar mandi mas," gugup Salsa menjawab, pastinya jika ia bilang mau memasak ke dapur, Zidan tidak akan mengizin kan nya.
Zidan lalu membuka mata nya, mengangkat kepalanya tepat di depan wajah Salsa, ia menatap wajah istrinya Itu, seperti sedang membaca isi pikirannya, berkata jujur atau tidak.
"Ke-kenapa mas menatap aku seperti itu?" tentu Salsa merasa risih dengan tatapan mata suami nya saat ini.
"Ayo lah, mas juga mau ke kamar mandi," ajak Zidan sambil menyingkirkan selimut dan duduk di ranjang.
"Ya, sudah mas duluan," Salsa lalu ikut duduk dan menggeser tubuh nya memberi ruang untuk Zidan turun dari ranjang.
"Ya kita sama-sama saja sayang, sekalian mandi," Zidan meletak kan kepalanya di kedua paha Salsa, mendongak kan wajah nya ke atas menatap wajah Salsa yang masih menyembunyikan kebohongan.
Puas menatap wajah sang istri, Zidan pun berdiri di samping ranjang. Kemudian ia sedikit mencondongkan badan nya meraih bibir Salsa. kedua bibir mereka saling bertaut aroma nafas bangun pagi semakin menambah gairah tersendiri bagi Zidan. rasanya ia ingin melakukan hal yang lebih lagi, karna sudah cukup lama ia tidak melakukan nya, yang di bawah pun sudah bangun sendiri.
Zidan semakin mendorong tubuh nya sendiri hingga Salsa kembali berbaring di ranjang. Sedang kan ia sendiri berada diatas tubuh Salsa, menahan berat tubuh nya dengan kedua tangan, agar tidak menimpa badan Salsa. tidak ada penolakan dari Salsa malah ia juga ikut membalas ci*man panas Zidan.
"Uuhh sayang, mas tidak tahan," Zidan merebahkan badannya di samping Salsa.
"Kenapa? Kok berhenti mas?" tanya nya seakan ia tak ingin Zidan menghentikan itu.
"Kamu kan lagi hamil sayang, mas takut nanti terjadi sesuatu,"
"Tapi, apa mas bisa menahan nya?" Salsa bertanya sambil tangan nya meraba d*d* bidang Zidan, seperti sedang menggodanya.
"Uuuuh sayang, hentikan tangan mu itu," Zidan menangkap tangan Salsa yang bermain di d*da nya.
"Kenapa tidak mas tanyakan pada dokter Erwin," ujar Salsa memberi nya solusi.
"Kamu benar sayang, mas bisa stres jika harus menahannya terus, mas juga akan menghukum mu karna sudah membuat mas kesal semalam," Zidan segera bangkit dari ranjang lalu mengambil ponsel, mencari nomor kontak dokter Erwin dan lansung menelpon nya sambil memandang nakal pada Salsa.
Satu panggilan tidak terjawab, dua panggilan di abaikan, pada panggilan ke tiga baru lah dokter Erwin mengangkatnya.
"Kau dari mana saja? kenapa lama sekali mengangkat telepon ku?" dengus Zidan bertanya saat sambungan telepon nya baru saja terhubung.
"Ya ada apa tuan? Saya baru bangun! Apa istri tuan ada keluhan?" tanya dokter Erwin dari sambungan telepon.
__ADS_1
"Tidak, istriku baik-baik saja, aku hanya ingin bertanya, boleh tidak kalau aku melakukan itu dengan nya?"
"Ada baik nya tunda dulu tuan untuk melakukan hubungan intim. Pasalnya, pada usia kehamilan tersebut sangat rawan terjadi kontraksi maupun keguguran," terang dokter Erwin menjawab.
"Ahh si*l, terus sampai kapan aku harus menunggu?"
"Tuan bisa melakukannya setelah usia kendungan 3 sampai 4 bulan," jawab dokter Erwin.
Panggilan telepon pun berakhir. Zidan mengacak rambut nya sendiri dengan wajam masam.
"Kenapa mas? Apa kata dokter Erwin?" tanya Salsa yang sudah kembali duduk di ranjang.
"Katanya tidak boleh, harus menunggu sampai usia kandungan mu 3 sampai empat bulan," jawab Zidan menyampaikan apa yang di sampaikan dokter Erwin padanya.
"Uh, kasihan sekali suami ku ini, sini peluk," bujuk nya, sambil merentang kan tangan ke ke arah Zidan.
"Sudah lah, mas mau mandi," dengus Zidan sambil mengayun kan langkah nya masuk ke kamar mandi. Pikir nya mungkin dengan mandilah bisa menurunkan gairah nya pagi ini.
"Ikut, " Salsa berlari mengejar nya.
****
Selesai mandi, Salsa mematut diri nya di depan cermin, dengan menggunakan drees kuning bermotif bunga, ia memperhatikan bentuk tubuh nya yang masih terlihat lansing.
"Mas, kan sebentar lagi aku mau ujian akhir. terus, kalau sudah lulus SMA, aku nggak bisa kuliah dong mas," ia melihat Zidan dari pantulan cermin.
"Siapa bilang kamu tidak bisa kuliah sayang? tanya Zidan sambil menopangkan dagu nya di pundak Salsa.
"Kan aku akan punya anak mas! Siapa yang menjaga anak ku kalau aku kuliah?
"Sudah lah, jangan beban kan pikiran mu itu, dengan hal-hal sepele, itu biar mas yang memikirkan,"
"Eh, tapi mas ingin anak cewek apa cowok?" tanya Salsa penuh semangat sambil membalikkan badannya menghadap Zidan.
Zidan sejenak berpikir.
"Buat mas yang terpenting, anak kita dan kamu nya sehat sayang," balas Zidan yang lansung mendapat pelukan hangat dari Salsa.
"Tuh, ponsel mas bunyi," Salsa melepaskan pelukannya saat mendengar suara ponsel yang berbunyi.
Zidan berjalan mengambil ponsel nya yang berdering. Setelah melihat nama Raka yang tertera di layar ponsel, Zidan lansung mendekatkan ponsel nya ke telinga setelah menggeser tombol hijau.
"Ya, aku akan datang pagi ini," jawab Zidan pada Raka dari sambungan telepon nya kemudian memutus kan nya.
"Sayang, hari ini mas harus ke kantor, kamu tidak apa tinggal sendiri kan?" tanya Zidan sambil mengusap lembut pipi Salsa, seperti berat untuk meninggalkan nya.
__ADS_1
"Iiih, mas itu lebay deh, di rumah ini banyak orang, dan ada mama juga. Harus nya aku yang khawatir," jawab Salsa dengan wajah cemberut.
"Apa yang kamu khawatir kan?" Zidan bertanya dengan menyipitkan matanya.
"Aku khawatir mas akan cari wanita lain," jawab Salsa sambil memainkan jemarinya di bawah.
Zidan tersenyum sambil meraih kedua pipi Salsa.
"Dengarin mas ya! tidak ada wanita lain di luar sana, yang bisa membuat mas jatuh cinta, hanya kamu sayang, hanya kamu yang berhasil membuat jantung mas berdetak kencang," ujar Zidan lalu memeluk tubuh Salsa.
"Terimakasih ya mas, karna sudah mencintai ku," Salsa membalas pelukan nya.
*****
Kini sudah jam sepuluh pagi, setengah jam yang lalu, Mertua nya juga sudah keluar karna ada keperluan penting. Salsa tidak bisa ikut karna Zidan tidak mengizinkan nya.
Salsa merasa bosan, dan juga kangen dengan suaminya, padahal baru beberapa jam saja berpisah, kemudian ia mengambil ponsel dan lansung mencari kontak Zidan untuk menelponnya.
"Mas, lagi apa? Aku ganggu nggak?" tanya Salsa saat sambungan teleponnya terhubung.
"Tentu tidak sayang, ini mas lagi ada kerjaan sedikit, sebentar lagi mas akan pulang," jawab Zidan.
"Aku kangen mas, aku boleh ya pergi ke kantor mas," pinta nya manja.
"Tapi sebentar lagi mas akan pulang sayang, kamu tunggu ya," balas Zidan.
"Nggak mau, pokok nya aku mau ke kantor mas," rengek nya memaksa.
"Oke, oke, mas tunggu kamu di kantor," balas Zidan.
Sambungan telepon pun terputus....
Salsa dengan penuh semangat lansung pergi keluar menemui Jefri.
"Bang Jef, tolong anterin Salsa ke kantor mas," pintanya pada Jefri yang sedang duduk santai dengan kopi panas di hadapannya.
"Baik nyonya," jawab Jefri yang lansung berdiri dari duduk nya.
"Kalau abang mau habisin minum nya nggak pa-pa, Salsa tunggu kok," ujar nya yang melihat kopi di gelas Jefri masih penuh.
"Tidak usah nyonya, kita berangkat sekarang saja," Jefri lansung berjalan ke mobil dan membukakan pintu kabin belakang untuk Salsa dan menutup nya kembali setelah Salsa masuk kedalam.
Mobil yang di kemudikan Jefri kini sudah melaju di jalanan. Salsa yang duduk di kabin belakang menatap ke sisi kiri jalan dari balik kaca mobil.
Ibu....... Itu ibu......
__ADS_1
"Bang Jeff stop!"