Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Minta pisah


__ADS_3

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Zidan yang sudah tidak sabar lagi.


"Sepertinya dia mengalami rasa takut dan cemas yang berlebihan tuan," ujar dokter.


"Maksudnya," tanya Zidan dengan kerutan di dahinya.


"Fisik nya terlalu lemah tuan, jadi saat dia mengalami rasa takut dan cemas yang berlebihan, maka saat itu pasokan darah dan oksigen yang masuk ke otak nya menjadi lemah, sehingga membuat fungsi otak nya pun terhambat. mangkanya dia tadi jatuh pingsan," ujar dokter sedikit menjelaskan.


"Kenapa fisik nya begitu lemah?" tanya zidan kembali.


"Itu ada dua faktor tuan, bisa karna faktor genetik dan bisa juga karna faktor trauma yang pernah Dia alami," jawab dokter itu menerangkan.


"Maksudnya apa?" tanya zidan yang tidak mengerti.


"Faktor genetik itu faktor dari keturunan nya, bisa jadi ini penyakit bawaan nya dari lahir, atau hanya faktor trauma nya saja, mungkin dulu dia pernah kehilang sosok orang yang sangat dia sayangi, jadi rasa itu muncul kembali dan membuat nya ketakutan dan cemas," terang dokter menjelaskan.


"Apa penyakit itu bisa sembuh?" tanya zidan lagi.


"Sangat bisa tuan," ujar sang dokter.


"Lalu kau tunggu apa lagi, cepat sembuhkan dia," ucap Zidan yang begitu khawatir.


Dokter itu hanya tersenyum mendengar ucapan zidan.


"Penyembuhan nya butuh proses tuan, tuan tenang saja sebentar lagi dia akan sadar." ujar sang dokter menenangkan Zidan.


"Jika dia sadar jagalah emosi nya, jangan sampai dia mengalami hal yang serupa seperti tadi, karna saat ini tubuh nya sangat lemah sekali," pesan dokter yang bersiap hendak pergi.


"Berikan vitamin ini, untuk menguatkan kembali fisik tubuhnya." imbuh sang dokter sembari membarikan secarik kertas pada Zidan.


"Saya permisi dulu tuan," Ucap sang dokter sembari melangkah pergi.


"Tunggu," Zidan menghentikan langkah kaki dokter yang sudah sampai di pintu kamarnya.

__ADS_1


"Berikan ini pada Jefri," imbuh Zidan lalu memberikan kertas yang di berikan pada nya tadi.


"Baik tuan, saya pemisi dulu," balas dokter itu di sertai langkah kaki nya meninggalkan kamar zidan.


"Siapa wanita yang datang ke sekolah itu, apa yang di katakan nya, hingga membuat istriku seperti ini," gumam zidan dengan rahang yang mengeras.


Zidan kemudian mengambil kursi kerja nya, meletak kan di samping ranjang. lalu zidan duduk di kursi itu, zidan meraih satu tangan Salsa mengenggam satu tangan itu dengan ke dua telapak tangan nya, sesekali zidan mencium tangan Salsa.


Ponsel zidan tiba-tiba bergetar, setelah melihat nama pemanggil di layar ponsel nya zidan berjalan ke balkon kamar nya.


"Ada apa?" tanya zidan saat sambungan telepon nya mulai terhubung.


"Yang datang ke sekolah nyonya Salsa tadi itu niken bos," balas Raka.


Zidan mengepalkan tangan nya kuat hingga urat-urat di lengan nya terlihat jelas, disertai rahang nya yang ikut mengeras.


"Kau tau apa yang mesti kau lakukan Raka?" ucap Zidan dengan suara berat nya.


"Maafkan saya bos, tapi saat ini niken sedang bersama Nyonya Maria di hotel XXX bos, pengawal nyonya Maria begitu banyak bos, saya belum bisa membawa nya ke markas," balas Raka dari sambungan telepon nya.


***


Tangan yang zidan genggam perlahan mulai bergerak, kelopak mata yang tadi hanya terpejam kini terlihat sedikit mengerinyit. Zidan yang masih duduk di samping ranjang  wajah nya kembali berbinar.


Zidan terlihat menikmati pergerakan kecildari wajah istri nya itu.  Perlahan mata itu mengedip sebelum terbuka sempurna, menatap dingin ke arah nya.


"Kenapa dia memberikan ku tatapan seperti itu?" batin zidan.


Setelah Salsa benar-benar tersadar, ia hanya diam berbaring di ranjang.


Banyak tanya yang zidan lontarkan, tapi tidak satu pun balasan atau pun respon dari Salsa.


Sepatah kata pun belum ada keluar dari bibir Salsa semenjak ia tersadar.

__ADS_1


"Katakanlah apa yang kamu mau," ucapan terakhir Zidan dari sekian banyak tanya yang tidak pernah di jawab oleh Salsa sajak tadi.


Terlihat dada Salsa yang naik turun dengan halaan nafas yang bisa di dengar oleh zidan.


"Saya ingin pergi om," Lirih Salsa menatap kosong langit-langit kamar, dengan bola mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kemana?" tanya zidan datar.


"Tolong antar kan saya ke rumah Santi om," balas Salsa yang masih menatap langit kamar.


"Hais, kamu mau apa kesana? keadanmu saja seperti ini, jika kama ingin berjumpa dengan teman mu itu, biar saya suruh Jefri saja menjemputnya," ujar zidan yang hendak menelpom Jefri.


"Gak om, saya ingin tinggal dengan dia," balas Salsa, yang kini menatap zidan dengan tatapan memohon. Zidan memalingkan wajahnya kesamping untuk menghindari tatapan Salsa.


"Buat apa kamu menumpang di rumah orang lain!" ucap zidan yang tidak ingin melihat Salsa dengan wajah seperti itu.


"Saya di sini juga menumpang om, saya mana ada rumah! saya tidak punya siapa-siapa om, saya hanya punya ibu saja-," balas Salsa, yang berusaha menahan air mata nya agar tidak keluar.


zidan berdiri dari duduk nya telapak tangannya ia topang kan di meja dengan posisi memunggungi Salsa. Jika dulu ia selalu memalingkan wajah nya hanya untuk menyembunyikan senyum nya. tapi sekarang ia menyembunyikan wajah sedih nya


Hatinya begitu tersayat mendengarkan kata-kata Salsa tadi.


"Ini rumah mu, dan saya adalah suami mu, pahami lah itu," seru zidan dengan suara serak nya, dengan masih memunggungi Salsa.


"Om-," Salsa menghela nafas nya panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Saya hanya ingin om melepaskan saya, dan jika ada saya berhutang, saya akan menggantinya nanti jika saya sudah bekerja," lirih Salsa memohon.


Zidan Menengadahkan kepalanya ke atas, menahan sesuatu yang yang seperti akan ke luar dari mata nya. dari hidung nya kini sudah mengeluarkan cairan bening yang telah sampai di bibirnya.


Zidan lalu berjalan keluar dari kamar nya, dan menghempaskan pintu kamar itu begitu kuat. Dari balik pintu kamar, zidan sudah tidak bisa lagi menahan bendungan di mata nya, air mata yang sajak tadi ia tahan pun kini keluar dengan deras nya, di sertai cairan di hidung nya yang juga ikut mengalir keluar.


Tubuh nya ia sandarkan di dinding kamar perlahan merosot kebawah. Zidan terduduk di lantai itu.

__ADS_1


Begitu pun Salsa yang berbaring di dalam kamar, sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, ucapan yang dia ucapkan, membuat hatinya begitu sakit. Ia belum siap untuk berpisah dengan Zidan yang salalu menjadi pelindung nya, tapi ia juga tidak ingin, merusak hubungan seseorang.


Sedih, Takut dan cemas itu lah yang ia rasakan saat ini.


__ADS_2