Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Tugas sekolah


__ADS_3

Jemari Salsa terus saja memainkan rambut-rambut halus di dada bidang suami nya. Zidan menengadah kan wajah nya ke atas sembari melenguh menahan sensasi jemari Salsa yang bermain di dadanya. Mata nya juga ikut terpejam di sertai mulut yang sedikit menganga.


"Uuuh... Sayang...."


Salsa mendongak kan wajah melihat suaminya yang meram melek seperti begitu menikmati sentuhan jemarinya.


"Iiih, mas apaan sih! Udah lah, ayok kita makan siang," Salsa lalu bangkit, berjalan melenggang keluar kamar meninggalkan Zidan yang masih diam terpaku menahan sesuatu yang bergejolak dalam tubuh nya.


"Hais, kenapa dia pergi? Bukan kah tadi dia juga menginginkannya," batinnya sembari mengusap kasar rambut nya lalu berlari mengejar Salsa yang sudah lebih dulu berjalan keluar.


Diluar, Salsa duduk di sofa ruang utama sambil membuka leptop yang baru di belikan Zidan untuknya. Zidan berjalan mendekati duduk di sebelah nya. Ia juga mencondongkan wajah nya di leher jenjang Salsa.


"Katanya belum lapar, ayo kita ke kamar lagi," bisik Zidan di telinga istrinya.


"Iiih..., mas sana iiih," Salsa menolak wajah Zidan yang sudah mencium leher nya.


"Mas, ini cara menghidupkan leptop nya gimana?" imbuh nya setelah menyingkirkan wajah Zidan.


"Nanti saja sayang, sekarang Mas lagi pengen," desis nya yang terus berusaha mendekatkan bibirnya ke leher Salsa.


"Pengen apa?" Salsa membolakan matanya menatap Zidan.


"Ya pengen itu lah," Zidane menunjuk dada Salsa.


"Mas! Ini masih siang lho?" Salsa menoleh kekiri dan kanan, takut saja jika ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Tadi ngapain kamu usap-usap dada mas, sekarang kamu harus tanggung jawab karna telah membuat mas--,"


"Tanggung jawab apa? Mas saja yang pikiran nya mesum, kan tadi itu aku hanya ingin meraba saja," balas Salsa tak kalah sengit.


Karna tidak mendapatkan apa yang di ingin kannya, Zidan lalu menggeser duduk nya menjauh dari Salsa kemudian mengeluarkan ponselnya.


"Mas, mas. nanti di acara perpisahan aku boleh ya mengajak mama Maria," pinta Salsa seraya memegang lengan Zidan.


Zidan tidak menjawab jari dan mata nya kini tengah sibuk menggeser dan melihat layar ponsel nya


"Mas....," Salsa merengek sembari menggoyang-goyangkan lengan Zidan.


"Hhhm," respon Zidan tanpa menoleh.


"Boleh nggak?" Salsa terus merengek.


"Buat apa kamu pergi sama dia," ucap Zidan tanpa mengalihkan pandangan nya pada layar ponsel.


"Terus aku pergi sama siapa dong, kan di acara perpisahan para orang tua harus hadir,"


"Kamu kan punya suami, kenapa tidak mengajak suami mu saja?" balas Zidan yang melihat Salsa dari sudut matanya.


"Iiih. Pokoknya aku mau nya pergi sama mama Maria. Titik," ketus nya seraya melangkah masuk kedalam kamar.


Zidan menoleh melihat istrinya yang berjalan memasuki kamar dengan menghentakkan kaki nya kasar.


"Kenapa dia yang marah? Harus nya kan aku?"


Zidan menggeram kesal saraya mengacak rambut nya sendiri. Mau tidak mau ia harus mengalah, membujuk istrinya, karna istrinya yang belum makan siang dan meminum obat.


Clek. Clek. Clek.


Zidan memutar gagang pintu tapi tidak bisa di buka.

__ADS_1


"Sial. kenapa dia menguncinya!"


Zidan lalu mengetuk pintu kamar nya, meminta Salsa untuk membuka. Namun sudah berulang kali Zidan melakukan nya, pintu tetap saja belum di buka Salaa.


Zidan menghela nafas panjang, mengumpulkan kesabarannya.


"Sayang, buka dulu pintu nya,"


Kata-kata itu sudah berulang kali Zidan ucapkan membujuk istrinya.


Zidan berteriak memanggil Marni dari tempat nya berdiri, untuk meminta kunci cadangan.


Ceklek


"Ada apa tuan,"


Pintu terbuka Bersamaan dengan datang nya Marni dari arah belakang. Sedangkan Salsa setelah membuka pintu ia kembali masuk kedalam kamar.


Zidan pun mengikuti Salsa masuk ke dalam kamar dan menutup pintu nya, membiarkan Marni berdiri di luar.


"Sayang," panggil nya sembari berjalan mendekati Salsa.


Zidan berdiri di depan Salsa yang duduk di pinggir ranjang dengan wajah cemberut, sembari menatap jemari nya yang memelintir pakaian nya sendiri.


"Oke, oke. Terserah kamu mau pergi dengan siapa," ucap Zidan.


Salsa mengangkat wajah nya memandang Zidan sembari tersenyum.


"Benar ya mas, aku boleh pergi dengan mama Maria," ucapnya penuh semangat.


"Ya" balas Zidan singkat tanpa expresi.


"Terimakasih ya mas, cayang," ucap nya seraya berdiri dan memeluk tubuh suaminya.


"Sekarang makan siang dulu dan minum obat mu," perintah Zidan.


"Ayo kita makan siang, aku juga sudah lapar," Salsa lalu menggandeng tangan Zidan berjalan keluar kamar.


"Siap kan makan siang," titah Zidan pada Marni yang masih berdiri di samping pintu.


**


Malam hari nya Salsa menelpon nomor ponsel lama nya yang ada pada Santi. Satu kali panggilan tidak dijawab Santi.


"Kemana sih anak itu?" gerutu nya.


Kemudian ia melakukan panggilan kedua.


"Halo, siapa ini?" tanya Santi saat sambungan telepon terhubung.


"Ini aku Salsa," Salsa menyahut.


"Aku kira siapa tadi, karna tidak ada nama nya," balas Santi.


"Ya ini nomor baruku, San," ucap Salsa.


"Nomor baru, ponsel baru lagi?"


"Iya baru di beliin suamiku," jawab Salsa bangga sembari melihat punggung Zidan yang duduk menatap layar leptop.

__ADS_1


"Bau, bau, ada yang sudah jatuh cinta nih?" ledek santi.


Salsa hanya tersipu malu mendengar kata-kata sahabat nya itu.


"Udah lah jangan bahas itu, aku mau menanyakan pelajaran di sekolah tadi,"


"Eh, bukan nya laki bos mu itu sudah meminta para guru, untuk mengirimkan tugas mu lewat e-mail," balas Santi.


"Maksud mu gimana, San?" tanya Salsa yang tidak paham.


"Ya, tugas-tugas mu itu sudah di kirim guru lewat e-mail," jawab Santi.


"Ooo, gitu ya San," balas Salsa.


"Ya dengar nya sih gitu. Oh ya Sa, emang kamu sakit apaan sih?" tanya Santi.


Salsa berpikir sejenak, bingung harus menjawab apa.


"Oii, Sa. Kok malah diam?"


"I- iya San," sahut nya.


"Aku nanya kamu sakit apa? Atau jangan jangan? Kamu hamil ya?" Santi menerka.


"Iiiih, kamu apaan sih San, dah lah aku mau mengerjakan tugas sekolah dulu," Salsa lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Setelah itu ia berjalan mendekati Zidan, hendak menanyakan tugas sekolah nya.


"Mas, lagi sibuk ya?" tanya nya sembari melingkarkan kedua tangan di leher Zidan dari belakang.


Mata nya juga memperhatikan layar leptop Zidan.


"Lhooo, Itu kan tugas sekolah aku mas," ucap nya setelah melihat layar leptop Zidan yang berisikan pelajaran sekolah nya.


"Iya ini tugas sekolah mu, mas minta guru mengirimkan ke e-mail mas," balas Zidan datar.


"Iiih, itu kan tugas sekolah aku, kenapa di kirim ke e-mail mas," sungut nya.


"Emang kamu punya e-mail?" tanya Zidan.


Salsa hanya diam sembari menggelengkan kepalanya meski Zidan tidak melihat.


"Tapi kan itu tugas sekolah aku mas," Dia terus merengek.


"Ini sudah mas kerjakan semua, sekarang ayo kita tidur," balas Zidan seraya berdiri dari duduk nya setelah menutup leptop.


"Kenapa mas yang mengerjakan, itu kan tugas sekolah aku, gimana kalau jawaban yang mas buat salah semua,"


"Heis! Apa kamu tidak tau, kalau suami mu ini dulu nya adalah siswa yang berprestasi di bidang akademik apa pun," ujar Zidan membanggakan dirinya.


Salsa memutar bola matanya malas.


"Awas saja kalau jawaban mas salah," ancam nya.


"Satu pun tidak akan ada yang salah," ucap Zidan penuh percaya diri.


***


Zidan yang baru kembali dari kamar mandi, mendekati Salsa yang sudah berbaring di atas ranjang.

__ADS_1


"Sayang, mari kita lanjut kan yang tadi siang," bisiknya yang kini sudah berbaring di ranjang dan lansung memeluk tubuh Salsa.


Salsa tidak menjawab, ia pasrah saja saat Zidan menciumi lehernya.


__ADS_2