Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Om mau ngapain?


__ADS_3

Marni seketika menutup mulut nya yang ke ceplosan itu, tubuh nya jadi gemetar saat melihat mata zidan yang membola menatap nya.


"Apa yang kau katakan Marni?" tanya Zidan dengan plototan mata tajam.


"Ma-maafkan saya tuan," lirih Marni dengan dada yang naik turun, mata nya tidak berani menatap tuannya  yang berdiri tepat di hadapannya.


"Pergilah katakan padanya aku akan ke sana," titah Zidan, melambaikan 1 tangan mengusir.


"Saya permisi tuan," ucap Marni bersamaan langkah kaki nya pergi menuju kamar Salsa.


"Apa yang telah mulut ini katakan," umpat Marni menepuk mulut nya sendiri.


Sementara itu, Raka yang di perintahkan Zidan untuk menemui Ibu Salsa kini sudah berada di depan pintu rumah Rita.


Tok


Tok


Tok


Raka mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat itu. Tidak lama pintu itu di buka Rita.


Melihat Raka yang berdiri di luar, Rita hendak menutup pintu rumah nya kembali, tapi tangan Raka dengan cepat menahan pintu agar tidak tertutup.


"Tunggu sebentar nyonya, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan," ucapan Raka itu berhasil menghentikan tangan Rita yang hendak menutup pintu.


"Katakan cepat saya sibuk," dengus Rita menatap Raka tidak suka.


"Nona Salsa hari ini akan menikah dengan tuan Zidan, saya harap nyonya bisa ikut dengan saya untuk menghadiri nya." terang Raka menyampaikan maksud tujuan nya.


"Ooo... Jadi anak sialan itu mau menikah. Bukannya dia sekarang di penjara?" sinis Rita, menyilangkan kedua tangan di dada.


"Benar nyonya, nona Salsa hari ini akan menikah. Segeralah nyonya bersiap, karna satu jam lagi acara nya akan di mulai," ujar Raka.


Rita masih menatap orang kepercayaan Zidan itu dengan tatapan sinis.


"Dan ini mahar yang di berikan tuan untuk lamaran putri nyonya," imbuh Raka, meraih koper yang ada di tangan Jefri, lalu menyerah kannya pada Rita.


PRAAK!


Koper itu terhempas ke tanah, karna di tepis oleh Rita.


"Kau dengar baik-baik ya! Aku tak akan pergi. dan tolong kau katakan pada anak sialan itu, lakukan kan apa yang dia suka, karna aku tidak perduli lagi dengan nya. Dan jangan pernah lagi datang mencariku jika ada masalah nantinya,"


BRAK!


Suara hempasan pintu terdengar sangat keras selesai Rita mengucapkan kata-kata itu.


"Smoga anda tidak akan menyesal nyonya!"  teriak Raka dari balik pintu.


"Jef, Bawa koper itu kita segera kembali," titah Raka pada jefri.

__ADS_1


Dari balik pintu kamar, Herman yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, lansung meraih tangan Rita yang ingin pergi ke dapur dan menghempasakan tubuh Ibu kandung Salsabila itu ke kasur.


"Apa yang telah kau lakukan bodoh!" bentak Herman, wajah nya terlihat menakutkan saat ini.


"Kenapa Mas? Apa yang aku lakukan? Kenapa mas marah seperti ini?" tanya Rita tidak mengerti.


"Kau masih bertanya apa yang kau lakukan," bentak Herman mendekati Rita.


Plak


Plak


Dua tamparan mendarat di pipi Rita, hingga satu pipi nya tenggelam dikasur.


"Mas kenapa? Hikzz.... Apa yang membuat Mas seperti ini? Hikz..... Bahkan aku tidak tau kesalahan apa yang telah aku lakukan. Hikzz.... Kenapa mas memukul ku? Hikz.. Hikz..." lirih Rita di sela isak tangis nya karna mendapat tamparan keras dari sang suami tercinta.


Herman menoleh keluar jendela, melihat mobil Raka yang sudah pergi meninggalkan rumah, semakin bertambah lah amarah nya. Di usap wajah nya yang masih terlihat menghitam, di karenakan pukulan Raka dan para anak buah nya.


"Uang sebanyak itu kau tolak.... Dasar wanita bodoh," umpat Herman kesal.


"Arrrrrgh..... Sial...... Hilang sudah kesempatan itu... Arrrrrrgh" Herman menggeram kesal seraya memukul udara.


PRAAK!


"Arrrrrrgh..... Dasar wanita bodoh," umpat nya berteriak, mengusap kasar rambut nya.


.


.


"Eheem...." Zidan berdehem saat dirinya sudah berdiri di pintu kamar Salsa.


Marni, dan empat pelayan lainnya refle menoleh ka arah pintu. Seakan mengerti mereka segera keluar dari kamar itu.


Salsa masih duduk diam dikursi menghadap ke cermin. Entah apa yang ia pikirkan, ia belum menyadari Zidan sudah berdiri di depan pintu kamar nya.


Zidan berdiri dengan kedua tangan menyilang di dada.


"Ehem...... Ehem...... " ulang nya berdehem


Namun, Salsa masih tidak ada respon dari Salsa. Gadis yang menggunakan kebaya putih itu hanya duduk diam mematung, seolah hanya raga nya saja yang duduk disana, sedangkan jiwa nya begentayangan entah kemana.


Zidan menaikan satu alis tebal nya, hingga kerutan di dahi nya tercetak jelas.


"Ishh, kenapa dia diam saja?" tanya nya dalam hati.


"Woi....... Batu," bentak nya, lalu berjalan mendekati Salsa.


Salsa seketika tersentak kaget, menyadari ke hadiran Zidan wajah nya lansung menunduk. tangannya yang sudah gemetar, jemari nya bermain di ujung kebaya menggulung kecil sudut kebaya yang di pakainya.


Zidan terus melangkah mendekati gadis itu, kedua tangannya berada di dalam kantong celana hitam panjang.

__ADS_1


"Kenapa kau memanggilku?" tanya Zidan memaksa berkata angkuh. Ia berjalan bolak balik di depan Salsa duduk.


Salsa masih diam menenunduk. Tapi tidak dengan jantung nya yang begitu cepat berdenyut. Jemari nya terus saja bermain di ujung ke baya.


"Hei! kenapa kau diam? Bukan nya tadi kau bilang akan mencekik ku?" tanya Zidan tersirat akan ejekan.


Salsa sedikit mengangkat kepalanya, melihat Zidan dengan sudut mata nya.


"Ti-tidak ada om," lirih nya terbata, di sertai kepalanya menggeleng hebat.


"Angkat kepala mu itu," titah Zidan tersenyum sinis, berdiri di samping Salsa.


Salsa menurut, perlahan menegak kan kepala nya menatap cermin di depan.


Zidan mengangkat sebelah sudut bibir nya, tersenyum sinis.


"Sekarang lihat kesini," ucap nya memerintah lagi.


Salsa memutar kepalanya pelan, menoleh ke sumber suara yang memerintah kannya. Wajah nya menghadap Zidan. Namun tidak dengan matanya yang masih setia menatap lantai.


"Sekarang katakan, apa kau ingin mencekik ku?" tanya Zidan, badannya setengah membungkuk, wajah nya ia dekat kan pada gadis itu, dekat, sangat dekat sekali. Bahkan Salsabila bisa merasakan hembusan nafas pria dingin itu.


Tubuh Salsa bergetar hebat, nafas nya memburu cepat. Jangan tanyakan bagaimana jantung nyasaat init? Mata ia pejamkan kuat, hingga kerutan terlihat jelas di setiap sudut matanya.


PLAK


PLAK


Kedua tangan Salsa secara spontan menampar wajah Zidan.


Hufh


Hufh


Hufh


Deru nafas yang gadis itu hirup dan hembuskan semakin terdengar nyaring. membuat dada nya juga ikut naik-turun.


"Auuuw," Zidan meringis sambil memegang bekas tangan Salsa di pipinya.


"Heis..... Kau..... Berani sekali kau menampar ku," bentak zidan yang terus memegang pipi nya.


"Ma-maaf," hanya kata itu yang ia ucap kan, berharap bisa menghapus jajak tangan nya di wajah Pria dingin itu. Jemari nya masih bermain di ujung kebaya.


"Heis......" Zidan mengepalkan tangannya kuat, rahang nya mengeras, hingga gigi-gigi bergesekan dengan kuat.


"Wush," Ia melesatkan tamparan nya ke udara.


Salsa menunduk dengan wajah polos tanpa dosa.


"Om mau cium Salsa ya?" lirih nya pelan, namun bisa di dengar oleh Zidan.

__ADS_1


Note.


Semoga suka dengan tulisan cakar ayam ku ini. Tinggalkan jejak nya ya kak😊😊 Salam sayang Salsa❤Zidan.


__ADS_2