Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Kencan pertama Raka


__ADS_3

Lho! kamu mau kemana Nak? Kok udah rapi?" tanya Edi dengan kedua alis bertaut.


"Mau minggat!! " Santi lalu menghentakkan kaki nya pergi.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya om, " ucap Raka pamit pada Edi. Lalu ia bergegas masuk ke mobil mengejar Santi. Ia takut jika gadis itu pergi ke rumah Salsa dan mengatakan jika ia sedang ada di rumah nya.


Bisa mati aku jika bos tau aku ada di sini. 


gumam Raka sambil memutar stir mobil nya.


Dari kejauhan Raka melihat Santi berjalan menuju pangkalan ojek di persimpangan kompleks.


****


Di ruang kerja Zidan. Salsa duduk di sofa sambil menonton video di ponsel nya. Sedangkan Zidan, duduk di kursi kerja nya menatap fokus pada layar laptop yang menyala.


Video yang di tonton Salsa tiba-tiba terhenti, karna panggilan masuk dari Santi. Ia lalu mendekatkan ponsel nya itu ketelinga setelah menggeser panah hijau.


"Kamu di mana Sa? " tanya Santi saat sambungan telepon nya terhubung.


"Nih lagi di kantor, menemani suamiku. " jawab Salsa.


"Yah. Aku rencana nya mau kerumah mu nih. " ucap Santi dari sambungan telepon.


"Kok tumben? Biasanya kalau aku ajak kamu nggak mau, " balas Salsa.


"Lagi malas aku di rumah------ ," ucap Santi kemudian suara nya semakin menjauh.


"Hei! kembalikan ponsel ku! " pekik nya yang sayup-sayup terdengar di telinga Salsa.


"Halo San, San. Kamu masih di sana kan, " ucap Salsa merasa khawatir.


Setelah itu sambungan telepon terputus.


Salsa mencoba kembali menghubungi nomor ponsel sahabat nya itu. Namun, tidak ada jawaban. Hingga pada panggilan yang ketiga nomor ponsel Santi sudah tidak aktif lagi.


Kini pikiran Salsa di hinggapi rasa khawatir, karna tadi ia juga sempat mendengar suara Santi yang berteriak.


"Kenapa Sayang? " tanya Zidan saat melihat gurat khawatir di wajah istrinya.

__ADS_1


Salsa lalu berdiri dari duduk nya melangkah mendekati Zidan.


"Gini lho Mas, tadi kan Santi menelpon aku, katanya dia mau main ke rumah. Setelah itu dia berteriak meminta ponsel nya di kembalikan. Apa jangan-jangan ponsel nya di jambret orang? " ucap Salsa sambil terus mencoba menghubungi nomor Santi.


"Tidak usah berpikir macam-macam dulu sayang, mungkin saja ponsel nya habis baterai, mangkanya tidak aktif, " balas Zidan dengan jemari yang terus bermain di keyboard.


Salsa memilih kembali duduk di sofa, karna tak ingin mengganggu suaminya yang terlihat sibuk. Namun, pikiran nya belum bisa tenang. Ia masih mencoba menghubungi nomor ponsel Santi meski tidak pernah terhubung.


*****


Mobil Raka melaju dijalan Raya, sesekali ia melihat Santi yang duduk di sebelah nya yang memasang wajah cemberut menatap lurus kedepan. Raka tersenyum tipis sambil terus memutar benda bulat untuk mengendalikan mobilnya.


Mata Santi terus memperhatikan jalan. Pasal nya laki-laki yang sedang mengemudikan mobil di samping nya ini mengatakan akan membawanya ke kantor Zidan untuk bertemu dengan Salsa.


"Kamu nggak menculik aku kan? " dengus Santi yang terus memperhatikan jalan.


Raka menoleh ke arah Santi sekilas sambil menyunggingkan senyum.


"Apa senyum-senyum! Awas saja kalau kamu bohong, aku bilangin papa. Biar kamu dihajar lagi, " ucap nya ketus.


Kini mobil Raka memasuki parkiran sebuah Mall.


"Eh, eh. ini mau kemana? " protes Santi saat mobil masuk ke area parkir.


Mobil kini sudah terparkir rapi, Raka melepaskan seat beltnya setelah mematikan mesin mobil.


"Ka-kamu bawa aku kemana? " tanya Santi terbata-bata, takut dan cemas karna parkiran di bawah gedung yang sedikit gelap.


Raka mencondongkan tubuh nya hendak membantu membukakan seat belt Santi. Namun, tiba-tiba Santi lansung menarik rambutnya.


"Jangan macam-macam kamu ya! Rasain ini " Santi menjambak rambut Raka kuat dan menarik-narik nya hingga kepala Raka mengikuti gerakan tangan Santi.


"Aaaaw! Aduuuh, ...... Lapas Santi, ini sakit sekali, " ringis Raka memohon.


"Apa? Kamu pasti mau mesum denganku kan, jangan kira aku nggak tau otak mesum laki-laki sepertimu, " cerca Santi dengan terus menarik rambut Raka tanpa ampun.


"Lepas dulu Santi, rambut ku bisa rontok jika kamu tarik seperti ini, " pinta Raka terus memohon.


"Biarin. Sekarang Katakan! Buat apa kamu membawa aku kesini? " pekik nya tanpa melepaskan tangan nya yang menarik rambut Raka.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengajak mu bersenang-senang, itu saja, " jawab Raka.


"Tuh kan! emang dasar otak mu itu mesum! " Santi semakin menguatkan tangan nya menarik rambut Raka.


Raka semakin mengerang kesakitan. Rambut nya terasa akan lepas dari kulit kepala.


"Oke, oke. aku mengaku. aku mengajak mu kesini untuk berkencan, " erang Raka yang tak tahan lagi menahan perih di kepalanya.


Seketika mata Santi membola sempurna, seakan tidak percaya dengan apa yang di ucap kan Raka barusan. Bagaimana tidak, jelas-jelas kemarin ia mendengar sendiri ucapan Raka yang mengatakan tak akan pernah menyukai dirinya.


Raka mengusap kepalanya yang terasa perih. Meski cengkraman tangan Santi di rambut nya sudah terlepas. Namun rasa perih nya masih terasa.


"Ka-kamu menyukai ku? " tanya Santi terbata. Ia masih terpana mengingat-ingat ucapan Raka tadi.


"Sudah lah! Lupakan saja, lebih baik kita pulang sekarang, " rajuk Raka yang kembali memasang seat belt nya.


"Jangan. a-aku minta maaf deh, " sesal Santi.


"Huft. Telat, kepalaku sudah sakit. " dengus Raka.


"Kan aku sudah minta maaf. Abang mau kan maafin aku? "


"Hmm, " jawab Raka di sertai anggukan kecil.


"Serius! Terus, sekarang hubungan kita bagaimana? " tanya Santi menatap lekat Raka dengan bola mata berbinar.


Belum Raka menjawab, Tiba-tiba ponsel nya berdering. "Bos". gumam nya saat melihat layar ponsel. Ia lalu menempelkan telunjuk nya di bibir, meminta Santi untuk diam. Setelah itu mendekatkan ponselnya ke telinga setelah menggeser tombol hijau di layar ponsel.


"Kau dimana sekarang? " tanya Zidan saat sambungan telepon sudah terhubung.


"Di, di rumah sakit bos. Ya, di rumah sakit bos, tadi pagi tiba-tiba saja perut saya sakit bos, " jawab Raka memberi alasan.


"Sekarang bagai mana? apa perut mu masih sakit? " tanya Zidan dari sambungan telepon.


"Sudah mendingan bos. Hanya saja tadi dokter menyarankan agar hari ini beristirahat. Tapi tidak apa bos sebentar lagi saya akan sampai di kantor bos. " jawab Raka.


"Kau beristirahat saja lah dirumah, tidak usah datang ke kantor hari ini, " ucap Zidan dingin.


"Terus, bagaimana dengan jadwal meeting siang nanti bos? " tanya Raka.

__ADS_1


"Hari ini biar aku yang menghandle nya, " jawab Zidan.


Seharian itu Raka bersenang-senang dengan Santi di Mall. Belanja, makan-makan dan menonton bioskop. Merayakan hari pertama mereka menjadi pasangan kekasih. Santi sering mengabadikan setiap momen hari itu dengan berselfie sendiri terkadang juga dengan Raka lalu mengunggah nya ke sosmed.


__ADS_2