
Seperti biasa, mobil yang Jefri kemudikan berhenti tepat di gerbang sekolah Salsa. Istri Zidan itu tidak lansung turun, dirinya masih duduk diam di dalam mobil, matanya menatap tangan Zidan yang duduk di samping nya.
Ceklek
Pintu mobil telah di buka Jefri.
"Silahkan nyonya," ucap Jefri.
Dengan gerakan kilat Salsa meraih tangan Zidan lalu mencium nya, setelah itu keluar dari mobil, berlari kecil ke pekarangan sekolah.
-
"Salsa. tunggu....."
Panggil Santi berlari mengejarnya.
"Hafh..... Hafh...... Hafh..... Aduh sesak sekali nafas ku," keluh Santi setelah berlari mengejar Salsa.
"Siapa yang menyuruh kamu berlari?" tanya Salsa.
"Eh.... Aku tu mengejar kamu sejak dari luar gerbang, tau!" dengus Santi dengan nafas nya masih tersengal.
"Bahkan waktu kamu mencium tangan cowok ganteng di dalam mobil itu, aku juga melihatnya,"
Deg
"Ka-kamu liat apa San?'" tanya Salsa panik.
"Iya aku melihat kamu mencium tangan cowok ganteng didalam mobil itu. kan aku lagi di sebrang jalan." terang Santi, menaik-turun kan kedua alis nya di depan Salsa, sepertinya dirinya menuntut penjelasan lagi.
"Kamu tau Sa, aku tadi tu baru turun dari angkot, terus mau nyebrang jalan, eeeh malah di suguhi pemandangan romantis. Ada orang mencium tangan cowoknya, mana mesra pula tuh, sudah seperti pasangan suami istri saja," ucapan Santi tersirat sindiran akan sindiran.
"Kamu salah liat kali San," Salsa mengelak.
"Eh, bushet ini anak. Kamu kira mata ku ini sudah katarak!" dengus Santi.
Salsa diam, sambil tersenyum tipis.
"Sekarang nggak ada alasan, kamu harus jelasin semua sama aku," tegas Santi.
"Jelasin apa? Kan kemarin sudah aku jelasin semuanya sama kamu, bawel!" jawab Salsa, seraya mengusap wajah Santi.
"Nggak bisa gitu Sa, cowok yang ini kan belum kamu jelasin, "
"Bawel ah... Tuh, bel masuk udah bunyi, yuk masuk kelas," ajak Salsa menghindari pertanyaan sahabatnya.
Dikantor zidan.
Zidan berdiri di samping meja kerja nya, dari puncak tertinggi bangunan itu. pandangannya mengedar melihat pemandangan kota, dari balik jendela kaca. Dirinya sesekali melihat tangan yang tadi di cium Salsa sembari tersenyum.
Kriing
Kriing
Kriing
Zidan mendekati gagang telepon, mengambil lalu mendekatkan ke telinga.
"Maaf tuan, nona Niken memaksa ingin masuk menemui tuan," suara dari sambungan telepon.
"Jangan biarkan dia masuk, jika kau masih mau bekerja disini." balas Zidan, meletakkan kembali gagang telepon secara kasar.
.
.
.
Sementara itu di rumah Rita.
Herman baru saja bangun dari tidur nya, karna serangan rasa lapar yang mendadak. Dirinya bangkit duduk dan bersandar di sandaran.
__ADS_1
"Rita..... Rita..... Bawakan aku sarapan," Herman berteriak memanggil istr nya.
"Ritaaaaa! Kemana sih wanita sialan itu? Pagi-pagi sudah menghilang, dasar istri tidak berguna" Herman mengomel sendiri.
Dengan malas dia bangkit dari ranjang, berjalan menuju dapur. Sesampai di dapur di buka tudung saji yang hanya ada sepiring nasi goreng saja.
"Dasar pemalas.... Masak cuma nasi goreng saja bisanya," gerutu Herman, sambil menarik kursi duduk disana.
"Aku harus segera bertemu dengan anak sialan itu. Tapi bagai mana caranya? bos kaya yang sudah jadi suami nya itu pasti sudah menyuruh orang untuk mengawasi dan menjaga anak sialan itu. Aku pun tidak ingin di hajar lagi," pikirnya memikir kan cara.
.
.
.
.
Kembali ke sekolah Salsa.
Ruangan di kelas sangat riuh sekali, pasal nya Ibu Mega guru matematika yang akan mengisi pelajaran pagi ini berhalangan hadir. Para siswa sangat senang karna 2 jam kedepan bisa terbebas dari palajaran yang memeras isi kepala meraka.
"Sa, kantin yuk," ajak Santi yang telah berdiri di depan Salsa.
"Gak ah, aku masih kenyang," tolak Salsa.
"Sejak kapan sahabat aku ini datang ke sekolah dengan perut kenyang?" cibir Santi.
Memang benar semenjak Ibu Salsa menikah dengan Herman, Salsa tidak pernah sarapan lagi. Setiap Salsa hendak sarapan pasti selalu saja di goda Herman, atau Herman akan mencari-cari kesalahan Salsa hingga di marahi Ibu nya.
"Tapi sebentar deh Sa, aku perhatikan hari ini kamu tampak beda ya!" Santi menatap lekat wajah sahabat nya itu.
"Be-beda apanya?" Salsa menjawab gugup.
"Ya, beda. Seperti lebih...... Dewasa, ya kamu seperti orang yang baru menikah." ujar Santi menerka-nerka.
"Eh, mana ada, mulut mu itu jangan ngomong asal," Salsa menarik bibir Santi.
"Biarin,"
"Ya itu kan hanya menurut pandangan aku," ujar Santi beralasan.
"Oo ya Sa, nanti pulang sekolah kerumah aku ya, tas kamu ada di rumah, aku tidak tau kamu akan masuk sekolah hari ini, mangkanya tidak aku bawa,"
"ya, baiklah," sahut Salsa setuju.
"Sa." Santi duduk di sebelah sahabat nya, meraih kedua tangan Salsa dengan tangannya.
"Sa... Aku minta maaf ya, kemaren aku memeriksa tas kamu," lirih Santi memohon.
"Gak apa-apa, biasa aja tuh muka," balas Salsa lalu mengusap wajah sahabat nya yang memelas.
"Tapi Sa, didalam tas kamu aku menemukan sebuah amplop berisi uang. Punya siapa itu Sa? tanya Santi dengan memasang wajah serius.
Salsa yang lupa dengan uang itu cukup kaget mendengar nya, dirinya juga bingung bagaimana cara menjelaskan pada sahabat nya.
"I... Itu..... Itu uang aku lah San,... Beasiswa aku, ya itu uang beasiswa aku," jawab Salsa terbata-bata.
Santi menatap lekat bola mata sahabat nya itu yang selalu berkedip.
"Iya..... Itu uang di kasih si Om," ucap Salsa jujur.
"Apa tujuan Om mu itu mengasih kamu uang sebanyak itu?" tanya Santi semakin pemasaran.
"Ya aku mana aku tau, cuma katanya buat aku jajan, begitu," jawab Salsa jujur.
Kedua mata Santi membola, mulutnya sedikit menganga.
"Se-serius Sa? Uang itu buat kamu jajan. Itu uang sepuluh juta loh Sa, kamu mau jajan apa dengan uang sebanyak itu?" tanya Santi lagi semakin pemasaran.
"Tidak tau, mungkin akan aku ku tabung saja," jawab Salsa santai.
__ADS_1
"Tidak boleh begitu Sa. Dia kan bilang buat kamu jajan, kan. Kamu harus menunaikan amanah nya itu lah, Sa. Kalau kamu tabung, berarti kamu tidak amanah Sa. Itu dosa loh Sa, karna tidak menjalankan amanah orang?" tutur Santi panjang lebar.
"Memang nya kamu mau berdosa, di bakar di api neraka?"
Salsa menggeleng cepat.
"Kalau begitu kamu harus tunaikan amanah Om mu itu. Kamu tenang saja aku akan membantu mu," ucap Santi penuh semangat.
"Maksud mu?" tanya Salsa yang sejak tadi tidak mengerti kemana arah pembicaraan sahabat nya itu.
Santi lalu berdiri dari duduk nya.
"Aku tau Sa, kamu tidak akan bisa menghabiskan uang itu sendiri. Maka dari itu sebagai seorang sahabat yang baik akan membantu mu, Sa. Dengan segenap jiwa dan raga ku," terang Santi sambil menepuk Dada nya.
Salsa yang mengerti maksud sahabat nya itu kembali mengusap kasar wajah Santi. Namun, kali ini Santi tidak diam ia juga membalas, begitu pun dengan Salsa yang terus mengusap wajah Santi.
"Dasar Santo, bisa bisa nya kamu ya,"
"Ya, kan emang benar Sa, kamu nggak akan bisa menghabis kan uang sebanyak itu sendiri."
.
.
.
.
Sementara itu di rumah Rita.
"Dari mana saja kau? Pagi-pagi sudah menghilang, bukannya membuatkan kopi untuk suami, ini malah keluyuran," bentak Herman melihat Rita yang baru saja pulang.
"Aku dari rumah Bu Asih. Aku kerja, nyuci dan beberes di rumah nya," terang Rita menjelaskan.
"Eh bodoh! Kemarin kau di kasih uang sama calon menantu kau, kenapa kau menolak nya? Malah memilih jadi babu di rumah orang yang gaji nya tidak seberapa," ucap Herman sinis.
"Mas, aku melakukan itu karena kamu Mas! karna aku tidak rela kamu di perlakukan seperti itu. Tapi, kenapa kamu seperti menyalah kan ku?" Rita mengeluarkan kekesalannya.
"Sekarang kau pergi sana cari anak mu itu, minta kembali hak mu," herdik Herman.
"Hak....? Hak apa? Bahkan demi membela kamu, aku sendiri yang mengusir nya, aku juga yang telah melaporkannya ke polisi, itu karna siapa Mas? Karna aku lebih memilih mu Mas, karna aku lebih mempercayai mu Mas, karna aku lebih mencintaimu Mas, hikz hikz hikz," Rita terisak setalah meluahlan apa isi hatinya.
"Temui anak kau itu, dan suruh dia tinggal di sini lagi." bentak Herman.
Sejenak Rita terdiam, lalu pergi meninggalkan suami nya yang sedari tadi menonton TV.
.
.
.
Di sekolah Salsa.
Salsa dan Santi yang bosan di kelas karena tidak ada pelajaran, memilih pergi ke Perpustakaan.
"Ehem, boleh ikut gabung nggak?" sapa seorang siswa yang berdiri di samping Santi.
Salsa dan Santi serenpak menoleh ke arah siswa yang berdiri itu.
Salsa hanya menatap sekilas kemudian melanjutkan kembali membaca buku nya, sedang kan Santi seperti terpana melihat siswa itu.
Dia adalah Rendi. Siswa populer di sekolah. Prestasi nya sebagai kapten basket selalu mengharumkan nama sekolah. Rendi juga sangat di idolakan para siswi sekolah, karna ketampanan nya.
Santi menyikut lengan sahabat nya, seperti hendak meminta persetujuan, namun istri Zidan itu itu tidak memperdulikan nya. Salsa terlihat serius dengan buku yang di baca nya.
"Ya silahkan saja," ujar Santi menggeser duduk nya ke sebelah Salsa.
Rendi kemudian menarik satu kursi di meja lain lalu memposisikannya nya di sabelah Santi.
"Aku Rendi," ucap nya setelah duduk dan mengulurkan satu tangannya ke Santi, tapi mata nya menatap Salsa yang tidak memperdulikan kehadirannya.
__ADS_1