
"Tunggu!" suara Zidan menghentikan langkah kaki anak buah Maria yang hendak membawa Herman.
"Berikan dia pada Jefri, biar Jefri yang membawanya ke markas ku," ucap Zidan.
"Biar saya yang membawanya tuan, karna saya juga tau dimana letak markas tuan." balas Alfredo lalu membawa Herman pergi dari sana......
****
Sepulang dari kantor, Raka lansung datang ke markas atas perintah Zidan. Ya, Zidan memang menelpon nya tadi menyuruh nya agar segera datang ke markas untuk memberi hukuman pada Herman.
Dari lorong tangga menuju ruang bawah tanah, Raka sudah bisa mendengar suara teriakan Herman. Yang meminta untuk di bebas kan.
"Lepaskan!!! Lepaskan aku." pepik Herman yang menggema di ruangan itu.
Raka terus berjalan mendekati sumber suara.
"Tuan, tolong lepaskan aku tuan. aku mohon tuan aku tidak akan mengganggu Salsa dan Ibunya lagi. Tolong tuan lepaskan aku." rintih Herman saat melihat Raka berdiri di luar ruangan jeruji besi.
Samuel dan Togar yang sudah lebih dulu berada di dalam ruangan jeruji besi itu bergidik ngeri saat melihat seringai di wajah Raka.
"Buka pintunya." titah Raka pada seseorang yang berjaga di sana.
Pintu terbuka. Raka melangkah semakin mendekat kearah Herman yang duduk dengan tangan terikat di kursi. Ia juga menatap pada dua orang yang juga berada di dalam ruangan itu.
"Tolong lepaskan saya tuan," kali ini suara Herman lebih menyedihkan terdengar oleh Raka.
Raka menyeringai mendengar suara memelas Herman. Ia lalu mengeluarkan ponsel nya.
"Kau, berdiri di sana dan rekam kegiatan ku, fokuskan mengambil gambar pada dia," titah Raka pada laki-laki yang berjaga di luar.
"Baik tuan," jawab laki-laki itu bergegas masuk ke dalam dan mengambil ponsel yang di berikan Raka.
Herman tercekat, susah payah ia menelan saliva nya menanti apa yang akan Raka lakukan.
"Tuan, tolong lah lepaskan saya, saya akan melakukan apa pun yang tuan inginkan," lirih Herman terdengar parau.
"Apa kau sudah meng aktifkan rekaman video nya?" tanya Raka pada penjaga yang memegang ponsel nya.
"Sudah tuan," jawab penjaga itu yang kini sudah membidik kan kamera ponsel ke arah Herman.
"Baiklah sekarang kita mulai." seringai menakutkan terbit di wajah Raka.
Raka berjalan keluar mengambil sebuah setrum yang menggunakan batrai dengan daya 12 volt. Ia kembali masuk kedalam ruang jeruji besi mambawa setrum itu. Di depan pintu, Raka berdiri Lalu mencoba menempelkan alat itu pada pintu besi, Percikan listrik pun terlihat menjalar.
"Lumayan buat permulaan," gumam nya lalu masuk kedalam ruangan mendekati Herman.
Herman yang melihat itu membolakan matanya.
"Ka-kau mau apa?" gugup Herman dengan tubuh yang gemetar, dari celana nya terlihat pula air mengucur.
"Bau apa ini!?" bentak Raka seketika, membuat tiga orang tawanan nya itu terperanjat.
Tubuh Herman semakin gemetar di sertai keringat dingin yang mengucur deras.
"Dia kencing dalam celana tuan," kata penjaga yang sedang membidik kan kamera ke arah Herman.
Seketika Raka, Samuel dan Togar menoleh melihat Herman.
"Kau!" Raka kembali keluar untuk memakai masker, karna bau kencing Herman yang begitu menyengat.
Samuel dan Togar menutup hidung mereka sendiri dengan tangan.
Setelah menggunakan masker, Raka kembali masuk ke dalam ruangan jeruji besi itu, melangkah mendekati Herman.
"Aaaaaaaw!!!" Pekik Herman merasakan aliran listrik menjalar di tubuh nya.
Tubuh Herman gemetar hebat.
"Kau! Lepaskan celana nya." Raka menunjuk Samuel yang menutup hidung.
"Jangan Saya tuan, Togar saja," elak Samuel menunjuk Togar.
Togar membolakan matanya menatap Samuel.
"Cepat lakukan! Atau kalian ingin merasakan alat ini juga." bentak Raka.
Dengan rasa jijik akhirnya Samuel melakukan juga perintah Raka.
"Hentikan! Apa yang kau lakukan brengsek!" umpat Herman memberikan perlawanan saat Samuel ingin membuka paksa celananya.
Raka memalingkan wajah nya saat melihat belalai gajah Herman yang berkerut.
"Sekarang tugas kau! tempelkan alat ini ke itunya." titah Raka memberikan setrum itu pada Togar.
"Baik tuan," Togar mengambil alat itu dari tangan Raka lalu melakukan sesuai perintah Raka.
"Aaaaaaaaaw," teriak Herman di iringi percikan suara listrik yang mangalir.
Tidak lama suara teriakan Herman menghilang.
"Kenapa kau berhenti!" bentak Raka yang memunggungi mereka.
"Dia sudah pinsan tuan," jawab Togar.
Raka menoleh melihat kepala Herman yang sudah terkulai.
"Coba kau periksa, apa dia masih bernafas." titah Raka yang seperti jijik untuk menyentuh nya.
"Masih tuan, tapi detak nadi nya pelan," ucap Togar setelah memeriksa denyut nadi Herman.
Raka lalu keluar membawa alat setrum itu dan kembali lagi.
"Sudah hentikan rekaman nya." ucap Raka pada penjaga yang sejak tadi merekam.
Raka mengambil ponsel nya, dan melihat hasil rekaman itu sebentar kemudian berlalu pergi.
"Tuan, tunggu." panggil Samuel menghentikan langkah Raka.
"Apa." ucap Raka yang sudah berbalik badan.
"Kapan kami akan di bebas kan tuan?" lirih Samuel memelas.
"Kau tunggu saja," balas Raka berlalu pergi.
****
Malam harinya, Raka sudah berada di mension Zidan, ingin memberikan pada Zidan rekaman video yang diambil nya tadi.
"Heis. Kenapa kau hanya melakukan itu saja." dengus Zidan setelah selesai melihat rekaman video.
"Dia nya sudah pinsan duluan bos," kilah Raka beralasan.
"Harus nya, kau melakukan lebih dari ini Raka."
"Baik bos. Itu hanya permulaan saja bos, besok saya akan melakukan yang lebih dari ini bos." balas Raka.
__ADS_1
"Kalau begitu kau pergilah!" titah Zidan mengusir nya.
"Baik bos," balas Raka lalu berdiri dari duduk nya.
"Tunggu! Apa kau sudah menemukan keberadaan Niken dan Rocky?" tanya Zidan menatap padanya.
"Belum bos," balas Raka dengan wajah menunduk.
"Kerahkan terus orang-orang kau untuk mencari keberadaan mereka," Zidan lalu berdiri menepuk pundak Raka.
"Baik bos," balas Raka.
****
Beberapa minggu kemudian.
Maria kini tengah di sibukkan mempersiapkan pesta pernikahan Zidan dan Salsa yang hanya tinggal beberapa minggu lagi. Ia juga sudah mendatangkan desiner ternama untuk membuat gaun pengantin manyamakan tema ala Negri dongeng sesuai konsep pernikahan yang Salsa ingin kan.
Setelah kejadian di cafe beberapa minggu yang lalu Salsa merasakan perubahan sikap Zidan. Tidak ada lagi Zidan yang dingin, sifat Zidan berubah menjadi hangat. Meski pun semakin posesif.
Zidan sendiri setiap pagi masih mengalami morning sickness. Meski tidak begitu parah dari sebelum nya. Karna ia sudah mau meminum obat yang di berikan dokter Erwin.
Malam itu Zidan duduk bersandar di atas ranjang, memeriksa laporan yang di kirimkan Raka ke emailnya. Ia menutup leptop dan meletakan di meja nakas saat mendengar suara Salsa yang sedang bicara dengan ponsel.
"Iya, iya, nanti aku coba mengajak nya," ucap Salsa dari sambungan telepon.
Zidan lalu berjalan mendekati istrinya itu. Ingin tau dengan siapa dia sedang bicara. Zidan mendekatkan telinga nya ke ponsel Salsa ingin ikut mendengarkan suara di ponsel.
"Mas, sana iiiih, ganggu orang aja." gerutu Salsa sambil tangan nya menolak tubuh Zidan agar menjauh.
Namun, Zidan malah melingkar kan tangan nya di perut Salsa yang sudah mulai sedikit membuncit, ia juga menempelkan bibir nya di ceruk leher Salsa mengecup dan memberikan ransangan di sana.
"Uuuuch," mulut Salsa mendesah.
"Halo Sa. Kamu lagi ngapain?" tanya Santi dari sambungan telepon.
"Eng-nggak ada San, cuman di gigit nyamuk." balas Salsa
Zidan menyeringai, ia kini semakin mencumbu leher Salsa dengan buas.
"Uuuuuuuh........ Hentikan Mas," lenguh nya sambil berusaha menyingkirkan wajah Zidan.
"Ooo, di gigit nyamuk! Apa kamu yang digigit nyamuk Sa?" tanya Santi dari sambungan telepon.
"Bu-bukan gitu San-"
"Udah lah Sa, Sampai ketemu besok di sekolah. Jangan lupa yang tadi." dengus Santi lalu memutuskan sambungan telepon.
"Iiiiih. Mas ini kan." Salsa menghentakkan kaki nya menuju ke Ranjang dan menghempaskan bokongnya di pinggir ranjang.
Zidan terkekeh kemudian mengikutinya.
Salsa membuka pesan WA yang baru saja di kirimkan Santi.
[Eh! Jangan lupa ajak bang Raka besok ke sekolah. Awas kalau sampai lupa!] pesan WA Santi.
Kemudian Jemari Salsa dengan lincah mengetik balasan pesan WA Santi di layar ponsel.
[Iya Santo. kalau dia mau, kalau dia nggak mau gimana aku memaksanya]
Zidan yang juga sudah duduk di sebelah Salsa mendongak kan wajah nya ikut membaca pesan WA Santi.
Tidak lama pesan Santi masuk lagi.
[Minta tolong sama laki mu, kalau laki mu yang menyuruh pasti bang Raka mau datang] pesan WA Santi.
"Mas, bang Raka besok sibuk nggak?" tanya Salsa.
"Kenapa Kamu menanyakan dia?" tanya Zidan dengan alis yang bertaut.
"Hmm, anu. Aku mau mengenal kan bang Raka dengan sahabatku." jawab Salsa sedikit gugup.
"Mengenalkan buat apa?" tanya Zidan yang masih tidak mengerti.
"Mau comblangin meraka, ya siapa tau mereka cocok kan." jawab Salsa mulai bersemangat.
"Heis. Buat apa kamu repot-repot mengurusi hal itu," balas Zidan merespon tidak suka.
"Apa salah nya sih Mas, aku kan hanya mau memperkenalkan mereka saja, kalau nanti mereka berjodoh atau tidak biar mereka dan Tuhan yang menentukan." ujar Salsa.
"Lalu Mas dapat apa?" tanya Zidan lagi manaikan alisnya.
"Dapat apa? Minta hadiah nya sama bang Raka lah kalau mereka berjodoh." jawab Salsa lalu mengalihkan perhatian nya pada layar ponsel.
"Ya, sudah Mas nggak mau bantu," rajuk Zidan.
"Iiih! Mas kok gitu.
"Mas, mau hadiah dari kamu," Zidan menaik-turun kan alis nya.
"Kok aku? Emang Mas mau apa?" tanya Salsa.
Zidan menghela nafas panjang sebelum menjelaskan maksud nya.
"Hm. I-itu Usia kandungan mu kan sudah lebih tiga bulan, kan. Itu- kan kata dokter Erwin kalau sudah tiga bulan kita kan boleh gituan lagi. " ungkap Zidan sedikit terbata.
"Maksud Mas apaan sih," tanya Salsa ketus.
"Mas pengen itu.".Zidan memberi kode dengan memajukan bibirnya ke arah tubuh bagian tubuh Salsa.
Mata Salsa seketika membola dengan pipi merona. Ia lalu menunduk.
"Boleh ya sayang?" tanya Zidan. Namun, Salsa hanya diam menunduk malu.
Zidan lalu naik ke atas ranjang, memposisikan tubuh nya di belakang Salsa. Ya, diam nya Salsa ia anggap tanda persetujuan.
Sebagai lelaki normal dan sudah lama tidak melakukan hubungan itu, tentu tongkat saktinya cepat bereaksi.
Tangan nakal nya kini sudah bereaksi meremas pelan benda bulat di dada Salsa. Jamari Zidan merasakan benda itu kini lebih besar sebelum Salsa hamil. Membuat nya semakin bersemangat meremas nya.
"Aaaaw! Sakit. Pelan-pelan Mas." pekik Salsa.
"Maaf Sayang," sesal Zidan, lalu mengalihkan jemarinya mengusap pelan ujung benda bulat itu.
"Uuh.. Mas," Salsa melenguh kala Zidan mengecup dan menghisap tengkuk lehernya. tangan Zidan pun kini sudah berpindah ke perut Salsa yang sudah mulai tampak membuncit. Jemarinya bermain di sana mengusap lembut perut itu.
Tubuh Salsa seperti di sengat aliran listrik saat menerima usapan lembut jemari Zidan yang kini sudah sampai di aset berharganya.
"Mas menginginkanmu malam sayang," bisik Zidan di telinga Salsa.
Salsa memejamkan mata kala merasakan hembusan nafas Zidan di telinga nya, serta kecupan-kecupan lembut juga ia rasakan di daun telinga nya bahkan terkadang gigitan kecil.
"Mas," Salsa sudah tak mampu lagi menahan cumbuan lembut Zidan yang sudah membakar gairah nya.
"Stop! Hentikan dulu Mas," cegah Salsa dengan dada yang sudah naik turun. Lalu ia merangkak naik ke tengah-tengah ranjang.
__ADS_1
"Mas, sini. ayo lanjutkan." Zidan menyeringai lalu lansung mencium bibir Salsa dengan buas nya. Ya, mereka berciuman sangat buas sekali seperti harimau kelaparan yang baru mendapatkan daging segar. kedua tangan Salsa melingkar di leher Zidan menjambak dan mengacak nya dengan kasar.
Zidan tak mau kalah. Tangan nya kini sudah menyusup ke dalam gaun tidur Salsa. Jemari nya dengan lincah bermain di ujung dada Salsa. Memilin dan mumutar ujung kecil itu membuat Salsa mengerang nikmat sambil terus berciuman. Jemari Zidan semakin turun Mengusap lembah Salsa yang sudah mulai basah oleh cumbuan nya.
Zidan sudah tidak sabar lagi, gaun tidur Salsa ia angkat keluar dari kepala Salsa kemudian ia lemparkan begitu saja. Tidak ingin berlama-lama lagi Zidan ingin segera menuntaskan birahi nya. Seketika ia sudah membaringkan Salsa. Lalu ia mencondongkan wajah nya memilin dan menghisap benda kecil di ujung dada Salsa secara bergantian.
Salsa sudah seperti cacing kepanasan menjambak rambut Zidan dengan kasar. Apalagi saat bibir Zidan sudah turun ke bawah, mencium perut nya yang sedikit membuncit. Sungguh! Itu adalah pemandangan yang indah. Ciuman Zidan semakin turun hingga sampai di area terlarang yang di tutupi kain segitiga berwarna pink.
"Mas. " Salsa melenguh panjang saat hidung panjang zidan menggesek-gesek area terlarang nya.
Zidan yang sudah menjadi singa lapar dengan gerakan kilat sudah membuka kain segitiga yang membungkus area terlarang itu dan melemparkan asal kain segitiga nya.
"Jangan Mas!" Salsa merapatkan kedua kaki nya saat wajah Zidan semakin mendekat ke area terlarangnya.
"Nikmati saja sayang," ucap Zidan dengan suara yang sangat sexy.
"Tapi, Mas," Salsa sangat merasa malu saat ini, karna area terlarang nya sudah menumpahkan lahar, pastinya sekarang sudah sangat basah.
"Malam ini Mas akan membuat mu menjerit nikmat sayang, jadi nikmatilah." perlahan ia membuka kedua kaki Salsa sedikit lebar.
"Mas tidak mau kemau kelelahan nanti sayang, karna terlalu sering keluar," Zidan lalu melepaskan pakaian nya sendiri.
"Kita akan bersama-sama meraih puncak kenikmatan sayang, "
****
Pagi harinya Salsa malas sekali untuk bangun apalagi bangkit dari ranjang. Jika hari ini bukan hari pengumuman hasil ujian, senggan sekali rasanya ia untuk bangun. Ya, itu akibat permainan dua ronde mereka yang nonstop. Sungguh! Ia sangat menyesal karna sudah menantang Zidan.
"Mas, bangun!" Salsa menggoyangkan bahu Zidan.
Bukannya bangun Zidan malah melingkar kan tangan nya di pinggang Salsa.
"Bangun lah Mas, Iiiiih! Cepet bangun dan telepon abang Raka sekarang!!"
Namun Zidan masih belum bergeming. Tangan nya semakin erat memeluk pinggang Salsa yang duduk di tengah-tengah ranjang.
"Nggak usah bangun sekalian, aku bisa berangkat sekolah sendiri." Salsa lalu menepis kan tangan Zidan yeng memeluk tubuh nya.
"Iya, iya Mas udah bangun." seketika Zidan membuka matanya.
"Cepat! telepon abang Raka sekarang!" Salsa merangkak mengambil ponsel Zidan yang terletak dimeja nakas.
"Memang nya jam berapa kamu pergi sekolah nanti?" tanya Zidan yang masih berbaring di atas ranjang.
"Jam sembilan harus sampai di sekolah." jawab Salsa.
"Sayang, ini masih jam setengah tujuh pagi. Bagaimana kalau kita tidur satu jam lagi? usul Zidan yang masih mengantuk.
"Mangkanya nggak usah sok-sok an main dua ronde, jadi tepar kan." sindir Salsa.
"Heis. Mas masih kuat lah. Main sekali lagi juga masih kuat." tantang Zidan bersemangat.
"Iya, kuat! Habis itu, Mas akan tidur sampai besok." dengus nya merasa kasal.
"Mas hanya ngantuk saja sayang." kilah Zidan.
"Ealah alasan! bilang aja lemas." cibir nya.
"Sudah, sekarang cepat mandi." titah nya.
"Nanti lah sayang, berikan Mas waktu tidur satu jam lagi." rengek Zidan.
"Udah, Mas tidur saja sampai nanti siang, aku mau mandi terus berangkat sekolah sendiri." oceh nya lalu bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
"Iya Mas udah bangun sayang," dengan malas Zidan duduk diatas ranjang...
Selesai mandi dan berpakaian. Mereka keluar bersamaan untuk sarapan. Zidan hanya meminum segelas air jahe hangat. Ya, minuman itu memang baru-baru ini memang rutin dibuat Rita untuk nya. Sedangkan untuk sarapan lain ia tak pernah menyentuh nya. Karna selalu memicu rasa mualnya.
DING!
Sebuah pesan WA masuk ke ponsel nya.
Salsa lalu membuka pesan WA itu.
[Gimana Sa? bang Raka jadi datang nggak?] pesan WA Santi.
Salsa menoleh melihat Zidan yang duduk di sebelah nya.
"Mas, udah telepon bang Raka belum?" tanya Salsa.
"Iya, nanti Mas telepon dia," jawab Zidan.
"Nanti. Nanti kapan?" tanya Salsa ketus.
"Iya, iya Mas telepon dia sekarang." Zidan mengeluarkan ponsel nya dari kantong celana kemudian mencari nomor kontak Raka dan lansung meneleponnya.
"Kalau tidak sibuk datang kesekolah Sabila jam sembilan nanti." ucap Zidan saat sambungan telepon nya terhubung.
"Kenapa saya harus datang bos?" tanya Raka dari sambungan telepon.
"Tidak usah banyak tanya Raka, kau datang sajalah," ucap Zidan kemudian sambungan telepon ia putuskan....
****
Setelah pengumuman kelulusan keluar. Para siswa melakukan tradisi coret-coret baju. Tidak dengan Salsa dan Santi yang lansung melangkah pergi.
"Salsa, .... Salsa, .... tunggu Salsa." teriak Rendi memanggil nya.
Belum sempat Salsa menghindar Rendi sudah berdiri menghalangi langkah mereka.
"Eh! Buanya buntung! Mau lu apa lagi sih?" dengus Santi kesal.
"Gua nggak ada urusan sama lue," balas Rendi memandang wajah Salsa yang menunduk.
"Kalau lue nggak ada urusan sama gua lue minggir lah," ketus Santi lalu mendorong bahu Rendi.
"Lue kalau mau pergi, pergi aja brengsek!" bentak Rendi membalas mendorong Santi.
"Udah lah! Kamu mau apa sebenarnya?" pekik Salsa menengahi.
Seketika menghentikan aksi Rendi dan Santi yang saling dorong.
"Aku hanya ingin meminta tanda tangan kamu Sa," ucap Rendi lembut.
"Ya sudah, dimana----?"
"Kamu tidak perlu melakukan itu Sa!" sergah Santi.
"Udah nggak apa San." Salsa mengambil spidol dari tangan Rendi.
"Di sini Sa!" Rendi membalikan tubuh nya serta menepuk pundak nya sendiri.
Salsa lalu menuliskan tanda tangan nya di pundak Rendi.
"Udah. Selesai kan," ucap Salsa lalu menyerah kan kembali spidol itu ke Rendi.
__ADS_1
"Terimakasih ya Sa,"
"Aku boleh foto dengan mu nggak Sa, please ini hanya sebagai kenang-kenangan saja Sa,"