
Setelah menelpon Zidan, Dengan langkah gontai Salsa berjalan sendiri ke ruang kesenian yang tidak jauh ldi depan nya.
"Salsa...... Salsa....." Terdengar suara laki-laki yang memanggilnya dari arah belakang. Salsa pun menoleh tanpa mengehentikan langkahnya. Ia melihat Rendi yang memanggil, seketika itu juga ia mempercepat langkah.
"Salsa, tunggu!" Rendi kembali memanggil sembari berlari mengejar.
Salsa semakin mempercepat langkah nya menuju ruang kesenian. ia bernafas lega saat masuk ke ruang kesenian, mendapati Novi, Mira, Aidil dan Rais yang juga sudah berada di dalam.
"Salsa, sini gabung!" Novi memanggil Salsa yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
Salsa berjalan mendekati mereka dan duduk di bangku sebelah Novi. Hanya jarak beberapa detik saja Rendi pun datang.
"Wah! Pangeran tampan juga sudah datang nih!" ujar Mira saat melihat Rendi yang masih berdiri di pintu.
"Haii guys!" sapa Rendi, sembari melangkah mendekati mereka. tapi Aidil malah melongos kearah lain. Sedangkan Salsa hanya menunduk kan wajah nya sejak Rendi datang.
"Pangeran datang, kok Cinderalla nya malu-malu sih?" ujar Novi bercanda yang bahunya lansung di sikut oleh Salsa. Pipi Salsa seketika itu juga memerah menahan malu. Tapi Rendi malah tersenyum melihat nya.
"Harus nya gue yang jadi pengeran, bukannya dia," Aidil bergumam tanpa menoleh pada mereka.
"Lo itu cocok nya jadi pangeran kodok, Dil," timpal Rais yang duduk di sebelah Aidil.
"Berisik lo," dengus Aidil kesal pada Rais.
"Tenang Dil, nanti Ibu peri akan merubah kamu menjadi pangeran tampan," timpal Mira yang berperan sebagai Ibu peri.
Mereka saling bercanda sebelum Buk Nurmaini datang. Kecuali Salsa yang hanya diam saja tanpa ikut menimpali candaan mereka.
Setelah Buk Nurmaini datang. Guru kesenian, memberikan sedikit penjelasan tentang peran berakting dalam memainkan sebuah drama. Buk Nurmani juga menjelaskan tentang pentingnya penghayatan, saat berakting. berdialog dengan intonasi yang benar, karna itu akan menunjang peran mereka masing-masing, agar penampilan mereka maksimal nantinya saat memantaskan drama yang akan mereka pertontonkan nanti. Para murid yang ada di sana, menyimak penjelasan dari guru kesenian itu sebelum memulai latihan.
"Itu dialog yang harus kalian hafalkan," ujar Buk Nurma setelah membagikan beberapa lembar kertas, sesuai peran mereka Masing-masing.
"Siska mana?" tanya Buk Nurma yang baru menyadari Siska tidak ada di sana.
"Mungkin dia tidak menyukai peran nya yang hanya menjadi saudara tiri Cinderella Buk," celetuk Novi.
"Kalau dia tidak mau, Harus nya dia bilang tadi," gumam buk Nurma kecewa.
"Rendi, coba kamu telepon Siska. Pastikan dia mau ikut drama ini atau tidak?" perintah Buk Nurmaini pada Rendi.
Rendi segera mengeluarkan ponsel lalu menghubungi nomor Siska.
"Lo ada dimana Sis?" tanya Rendi saat sambungan telepon nya mulai terhubung.
__ADS_1
"Di rumah lah! Kanapa emang nya?" jawab Siska santai.
"Sebenarnya lo mau ikut drama ini atau nggak, sih?" tanya Rendi lansung mengutarakan tujuan nya menelpon.
"Gua malas Ren kalau hanya di beri peran itu. Tapi kalau peran nya jadi Cinderella gua mau," jawab Siska.
Tuuuut.....
Sambunga telepon lansung Rendi matikan setelah mendengar jawaban Siska.
"Bagaimana Rendi? Apa kata Siska tadi?" tanya bu Nurmaini saat Rendi sudah memasukkan kembali ponsel nya ke dalam saku celana.
"Dia sudah pulang Buk, dan sepertinya apa yang di katakan Novi itu benar, dia tidak menyukai peran nya, Buk," jawab Rendi.
"Ya sudah, kalau begitu besok Ibuk akan cari pengganti Siska, untuk memerankan tokoh saudara tiri Cinderella," balas bu Nurmaini.
"Sekarang kita mulai saja latihan nya. Salsa sebagai Cinderella dan Novi sebagai Ibu tiri jahat silahkan maju kedepan. Peragakan peran kalian masing-masing sesuai alur dan dialog yang ada," ujar buk Nurmaini.
Salsa maju ke depan dengan wajah sedikit menunduk.
"Cinderella! sini kamu!!" bentak Novi yang berperan sebagai Ibu tiri jahat, sembari bertolak pinggang menirukan alur yang sudah di tulis guru kesenian mereka.
"Iya bu, sebantar," balas Salsa, yang berperan sebagai Cinderella, ia berjalan ter buru-buru mendekati Novi, menirukan seperti alur dan dialog yang di tulis ibu Nurmaini.
Suara tepuk tangan buk Nurmaini, kemudian di ikuti oleh Rendi, Aidil, Rais dan Mira.
"Bagus, bagus sekali ekspresi kalian tadi, ibuk suka," ujar buk Nurmaini memuji.
Satu jam latihan tiba-tiba ponsel di dalam tas Salsa berbunyi. Salsa mengambil ponsel di dalam tas nya lalu berjalan keluar dari ruang kesenian, setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Hallo Mas!" sapa Salsa pelan saat sambungan telepon mereka terhubung.
"Kamu dimana? Saya sekarang ada di depan gerbang sekolah mu," balas Zidan bertanya.
"Kan tadi saya sudah bilang, hari ini saya pulang nya jam setengah lima sore," ujar Salsa menjawab.
"Kamu mau saya menunggu?" tanya Zidan lagi.
"Mas pulang saja, kan ada bang Jefri yang akan mengantarkan saya pulang nanti," jawab Salsa.
"Di-dia sudah pulang, mangka nya saya datang kesini," jawab Zidan memberikan alasan.
"Tapi saya masih latihan, Mas! Nggak enak lah, kalau saya pulang duluan," ujar Salsa.
__ADS_1
"Ya sudah biar saya masuk, saya akan menunggumu di dalam," sahut Zidan.
"Jangan Mas! Nan-nanti kalau mereka tanya Mas siapa? Saya mesti jawab apa?" jawab Salsa panik.
"Ya kamu jawab saja apa adanya," ucap Zidan santai.
"Ihhh, Mas ini gak paham lah apa yang saya katakan!" sungut Salsa kesal, lalu memutuskan sambungan teleponnya. Salsa kemudian mengambil tas di dalam ruang kesenian, lalu segera berjalan menuju gerbang sekolah, setelah meminta izin pada buk Nurmaini untuk pulang lebih awal.
Rendi yang melihat Salsa keluar membawa tas, ia pun juga meminta izin pada buk Nurma untuk pulang duluan.
Zidan tersenyum senang, melihat Salsa berjalan mendekatinya. Namun, senyum nya seketika lenyap, saat melihat Rendi yang juga berjalan cepat di belakang Salsa.
Zidan lansung mencium bibir Salsa ketika sampai di depakatnya, sengaja ia lakukan agar di lihat Rendi yang berdiri tidak jauh di belakang Salsa. Rendi mengepalkan kedua tangan nya kuat menyaksikan adegan itu.
"Mas, apaan sih! Ini di sekolah!" Salsa mendelik kesal, ia tidak bisa menghindari ciuman tiba-tiba Zidan.
Tapi Zidan seperti tidak menghiraukan respon Salsa. ia dengan santai nya setelah mencium bibir Salsa, berjalan mendekati pintu kemudi mobil dan membukanya.
Zidan menoleh, melihat Salsa yang masih berdiri mematung dengan wajah kesal nya.
"Masuk ke dalam mobil sekarang! Atau saya akan gendong kamu masuk!" Ucapan bernada ancaman itu seketika menggerak kan kaki Salsa. Ia segera berjalan dan lansung mencoba membuka pintu kabin belakang yang terkunci.
"Pintu belakang itu rusak, kamu duduk saja di depan," ujar Zidan yang melihat wajah kesal Salsa dengan bibir yang sedikit bergerak-gerak. entah apa yang di ucapkan nya.
Salsa meraih gagang pintu depan mobil itu, lalu masuk dan duduk di sebelah Zidan yang sedang memasang seat belt.
"Mulai besok saya melarang kamu untuk ikut latihan drama itu," ucap Zidan yang hendak menghidupkan mesin mobil nya.
"Iiiih! Mas ini kenapa sih? Dari awal saya sudah bilang kan? Dan mas jawab apa? Mas izin kan jika itu berhubungan dengan kegiatan sekolah. Iya, kan?" dengus Salsa kesal.
"Saya tidak terlalu jelas mendengar apa yang kamu katakan waktu itu," balas Zidan datar.
"Terus, saya harus bagaimana sekarang?" tanya Salsa pasrah.
"Ya kamu jangan ikut lagi kegiatan itu," balas Zidan datar sembari menghidupkan mesin mobil nya.
"Mas kenapa sih? Emosi Mas lagi nggak stabil ya?" tanya Salsa.
"Heis! akamu itu yang kenapa? Ooo, atau kamu memang sengaja ikut kegiatan itu biar terkenal, biar bisa banyak mendapat pujian dari teman laki-lakimu!" jawab Zidan sengit.
"Iih, Mas!" Salsa menggeram kesal sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau Mas nggak mau saya ikut kegiatan itu, mas saja sendiri yang bilang pada guru, saya nggak mau bilang," sungut nya kesal.
__ADS_1
Zidan tidak menjawab lagi ucapan Salsa, ia mulai melajukan mobil menuju mension. Selama di perjalanan mereka hanya diam saja. Zidan sesekali menoleh, melihat Salsa yang duduk bersandar dengan wajah kesal nya, menatap lurus ke depan dengan kedua tangan ia silang kan di dada.