Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Tebusan


__ADS_3

Zidan mengusap wajah nya kasar. Dada nya terasa bergemuruh.


Sayang, kamu dimana? 


rintih nya dalam hati, pikiran-pikiran buruk pun melintas di pikiran nya.


Tidak lama berselang ponsel nya berbunyi.  Buru-buru ia menggeser panah hijau di layar ponsel ketika melihat nama istrinya yang tertera di sana.


"Halo Zi, "


Zidan tersentak saat mendengar suara laki-laki dari sambungan ponsel nya. Ia kembali melihat layar ponsel memastikan nama pemanggil yang tertera. Benar itu nomor Salsa, tapi, kenapa suara laki-laki yang mengangkatnya.


"Siapa kau?! kenapa handphone-"


Belum selesai Zidan bicara ucapan nya di potong laki-laki itu.


"Ha ha ha. Santai Zi, santai. Apa kau sudah lupa dengan suara ku ini kawan? "


Seketika nafas Zidan memburu ketika mengetahui siapa orang di balik sambungan teleponnya. Kini, apa yang ia takut kan terjadi.


"Tolong Rocky, jangan sakiti istri ku....... Kau hanya punya masalah dengan ku, jangan libatkan istriku," lirih nya menahan emosi.


"Bagus lah. Ternyata kau masih ingat dengan ku kawan. Tapi kenapa kawan? Kenapa kau memohon padaku. Itu bukan Zidan yang ku kenal,"


Dari sambungan telepon Zidan mendengar suara tangisan ketakutan Salsa. Membuat hatinya semakin teriris pedih.


"Tolong Rocky........... Jangan sakiti istriku. Apa yang kau inginkan? katakan lah, "


"Kau bertanya apa yang ku ingin kan. Ha ha ha," tawa Rocky pecah.


"Katakan lah, apa yang kau inginkan? Aku akan memberikannya, "


"Ha ha ha. Ternyata istri mu cantik juga. Tapi, ini kenapa dengan perutnya, apa dia hamil?"


"Brengsek!!! Jangan pernah kau sentuh dia!!!" suara Zidan bergetar hebat seiring dada nya yang naik turun.


"Ha ha ha, "


Rocky tertawa seperti mengejek nya.


"Santai kawan, jangan berteriak-teriak padaku, "


"Katakan lah Rocky, apa yang kau mau?"

__ADS_1


"Baik lah kawan. Kau ingin istrimu ini kan? Ha ha ha, " Rocky kembali terkekeh tanpa melanjutkan kata-kata nya. Seperti sengaja membakar amarah Zidan.


"Katakan cepat! Brengsek! Apa yang kau inginkan?!"


"Ha ha ha, " Tawa Rocky pecah di sertai tangisan ketakutan Salsa terdengar di sambungan telepon.


Zidan yang mendengar hanya bisa mengepalkan tangan nya kuat. Ia sadar, saat ini tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi istrinya selain menuruti keinginan Rocky. Giginya bergelatuk menahan amarah di dada.


"Rocky. Katakan lah apa yang kau mau," lirih nya memohon.


"Aku menginginkan semua yang kau punya, tanpa terkecuali! Siap kan lah dokumen nya cepat. Ku beri kau waktu 10 menit. Setelah itu kau bisa menghubungi ku lagi. Tapi, ingat Zi! kau tau siapa aku kan, jika kau tak menuruti perintahku. Maka istri dan calon anak mu ini.? Kau tau maksud ku kan,"


Zidan mendengar suara isak tangis Salsa dari sambungan telepon. Membuat hati nya tercabik. Namun, ia tak bisa melakukan apa pun kecuali menuruti keinginan Rocky.


"Baiklah aku akan menyiapkan nya sekarang. Tapi tolong, jangan lakukan apa pun pada istriku" jawab Zidan. Lalu ia bergegas ke ruang kerja nya yang berada di lantai dua mengambil semua dokumen aset-aset nya yang di minta Rocky.


****


Mobil Raka sudah berada di mension. Namun, mobil nya tidak bisa masuk ke pekarangan karna pintu pagar belum juga terbuka. Ia sudah beberapa kali membunyikan klakson. Tapi, tetap saja pagar tinggi itu masih belum terbuka. Biasanya tanpa ia membunyikan klakson pagar tinggi itu sudah terbuka.


Dengan rasa kesal, Raka turun dari mobil meneriaki penjaga yang berada di dalam agar membuka pagar itu.


Lagi, tak ada jawaban atau pun respon dari dalam, Raka lalu melangkah masuk melewati pintu kecil di samping Pos jaga yang terbuka.


"Bangun, bangun," Raka memukul pipi salah satu pengawal yang tak jauh darinya.


Namun, tak ada respon dari pengawal itu, ia tertidur pulas seperti orang mati padahal matahari sudah menyengat tubuh nya.


Raka lalu mengambil galon yang ada di post satpam menuangkan ke tubuh pengawal itu. Pengawal itu seketika terbangun dari tidurnya. Mata nya masih redup seakan ingin tidur kembali.


"Apa yang terjadi?! "


"Hoam....... Tu-tuan, " jawab pengawal itu yang belum benar-benar sadar dari tidur nya.


"Kau dengar tidak?! " Suara Raka terdengar sangat lantang membentak pengawal itu.


Pengawal itu hanya memandang Raka dengan mata yang masih sayu.......


***


Zidan yang masih berada di ruang kerjanya, terburu-buru memasukkan semua dokumen aset penting nya kedalam tas. Tak ada keraguan di dirinya jika memang harus menukar semua harta yang ia miliki dengan istri yang sangat di cintainya.


Setelah semua nya selesai. Ia kembali menghubungi nomor ponsel istri nya yang saat ini berada di tangan Rocky.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kau sudah menyiapkan nya?" tanya Rocky saat sambungan telepon nya terhubung.


"Sudah, "


"Bagus, aku akan segera mengirimkan alamatnya. Tapi, kau hanya boleh datang sendiri, tanpa anak buah atau pun asisten penjilat kau itu. Ingat Zi! jangan pernah main-main dengan ku, kau tau resikonya kan!"


"Baiklah," Sambungan telepon pun berakhir.


Detik berikutnya. Sebuah pesan masuk ke ponsel nya. Ia membuka pesan singkat itu, yang berisi alamat tujuan kemana ia harus membawa semua dokumen penting itu.


Tanpa ragu Zidan melangkah meninggal kan ruang kerjanya. Tak ada hal lain di pikiran nya saat ini kecuali istrinya. Langkah nya cepat menuruni anak tangga


"Pagi Bos," sapa Raka yang sudah berada di ruang utama. Namun, Zidan seperti tuli, bahkan ia seperti tak melihat kehadiran Raka disana. Pandangan nya lurus kedepan dengan langkah yang semakin cepat.


"Apa yang terjadi bos?" tanya Raka sambil berlari mengejar langkah Zidan.


Lagi,. Zidan hanya diam seperti tak mendengar. Kaki nya terus melangkah membuka pagar yang masih tertutup lalu menuju ke mobil yang terparkir di halaman mension.


Raka tak menyerah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia menahan tangan Zidan yang akan masuk ke dalam mobil.


"Bos? Bicaralah! apa yang telah terjadi?"


Zidan melayang kan tatapan nya pada Raka.. Tatapan yang lain dari biasanya.


"Bicaralah Bos, katakan apa yang terjadi?"


"Pergilah Raka, "


"Tidak Bos, saya tidak akan pergi," .


"Pergilah Raka! "


Zidan menyentak kan tangan nya yang di pegang Raka, lalu masuk kedalam mobil.


Raka berlari ke pintu gerbang yang di buka Zidan tadi dan menutup nya kembali.


Zidan menurun kan kaca mobil lalu meneriaki Raka agar kembali membuka pintu gerbang itu.


"Buka Raka! Aku tak punya banyak waktu!"


"Tidak Bos! Saya tidak akan membukanya, kalau Bos ingin pergi biar saya yang mengantarkan," suara Raka terdengar lantang. Tidak seperti biasa nya ia berani menantang ucapan Zidan.


Zidan yang merasa tak punya banyak waktu lagi, akhirnya turun dari mobil dengan amarah yang memuncak.

__ADS_1


__ADS_2