Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Ganti baju.


__ADS_3

Tanpa Salsa sadar, kini satu tangan nya sudah  berada di dada bidang Zidan. Meraba rambut halus yang tumbuh di tengah-tengah tengah dadanya.


Plak!


Salsa mengelinjang kaget saat tangan nya di pegang oleh Zidan.


"Apa yang kamu lakukan?" Terdengar Suara bariton zidan dengan mata yang masih tertutup.


Wajah Salsa seketika memerah, Lalu ia menekuk wajah nya ke bawah, tubuh dan bibir nya gemetar.


Zidan yang saat itu posisi nya di ranjang telentang, melihat wajah merah Salsa dengan sedikit membuka matanya.


"Apa yang kamu lakukan?" ulang zidan dengan pertanyaan yang sama dengan mata yang sedikit terbuka.


"Sa- saya cu-,cu- cumaaaaaaa," balas Salsa yang tiba-tiba gagup.


"Hiss, cuma apa?" tanya zidan di sertai tangan nya melepaskan tangan Salsa.


Salsa kemudian sedikit menggeser duduk lebih menjauh lalu membalikkan badan nya membelakangi zidan.


Zidan pun memiringkan badan nya mendekat ke arah Salsa dangan satu tangan menopang kepala.


"Kenapa kamu?" tanya zidan menatap belakang tubuh Salsa.


"Sa- saya mau tidur om," balas Salsa sembari membaringkan badan nya cepat, serta menarik selimut untuk menutupi tubuh nya sampai ke puncak kepala.


"Heiss, kenapa dia tadi meraba-raba tubuh ku, sekarang malah mau tidur," batin zidan dengan menghempaskan kepala nya di bantal. Zidan yang resah hanya bisa membola-balik kan badan nya ke kiri dan ke kanan.


"Hais, Saya tidak bisa tidur," terdengar suara zidan setelah lama terdiam, Tapi Salsa masih saja diam di dalam selimutnya.


Zidan menatap tubuh Salsa yang terbungkus selimut. Kemudian dengan menggunakan satu tangan, ia menyentak kan selimut itu.


"Om, ma-mau apa?" gugup Salsa bertanya dengan badan yang masih memunggungi zidan.


"Heis, kenapa kamu tadi meraba-raba tubuh saya?" ketus zidan dengan setengah teriak.


"Sa, saya tadi cu-cuma mau bantu om saja," balas salsa dengan tubuh yang masih membelakangi zidan, sembari memainkan jemarinya.


"Mau bantu apa? Meraba-raba badan saya. yang ada badan saya merasa geli," sinis zidan sembari tersenyum.


"Bu-bukan, ta-, ta-tadi om mimpi, saya mau membangunkan saja," balas salsa gugup dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus membelakangi zidan.


"Heis, sekarang saya sudah bangun, lalu kamu mau apa," ketus zidan.


"Sa-, saya mau tidur, om jangan ganggu saya," balas Salsa cepat.


"Haiiiis," zidan menggeram kesal, menatap punggung Salsa.


"Haissss, apa dia katakan tadi, aku mengganggu dia, his,, apa dia tidak sadar, dia yang membuat ku seperti ini," batin zidan.


Zidan lalu melihat tubuh atas nya yang sudah telanjang seraya tersenyum.


"Siapa yang membuka baju saya?" tanya zidan sinis.


Pertanyaan dari zidan itu membuat Salsa susah untuk menelan saliva nya. sungguh malu rasa nya ia harus mengakui, kalau ia adalah pelakunya.

__ADS_1


"Kenapa diam?" ketus zidan.


"Sa- saya," ucap Salsa mengakuinya, dengan menahan malu.


"Apa kamu mau-?" ucapan zidan terhenti karna sudah di potong oleh Salsa.


"Bu-bukan, saya cuma,. Cumaaaa------,"


"Sa-saya cuma mau bantu om, buat ganti baju," balas Salsa gugup.


"Sekarang saya sudah begini, kenapa kamu tidak juga memasangkan saya baju," Sinis zidan.


"Om, kan sudah bangun," balas Salsa yang masih membelakangi zidan.


"Apa hubungan nya saya sudah bangun?" ketus zidan bertanya.


"Ya kan om bisa pasang sendiri," Jawab Salsa.


"Saya tidak mau, kamu yang membuka, ya, kamu yang harus bertanggung jawablah," dalih zidan.


"Om.....! Kan Om bisa pasang sendiri," sentak Salsa.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau, biarkan saja saya seperti ini, palingan saya masuk angin dan," ujar zidan.


"Heis, kenapa dia ini selalu nyebelin, apa susah nya dia pasang baju sendiri," batin Salsa kesal.


"Haciiiiiiiiiiiiim!"


"Haaaaaaaa'ciiiiiiiiiiiim!"


Zidan pura pura bersin, agar mendapatkan simpati Salsa.


Setelah itu Salsa kembali berjalan mendekati Zidan.


Salsa berdiri di samping ranjang dangan memegang pakaian ganti buat zidan, dengan memalingkan wajah nya dari zidan.


Zidan yang berbaring telentang hanya menatap pipi salsa yang sudah memerah dari samping.


"Om bisa duduk dulu gak!" ucap Salsa tanpa melihat tubuh Zidan.


Zidan pun perlahan duduk tanpa mengalih kan pandangan nya dari wajah Salsa.


Salsa yang berdiri di samping ranjang, kemudian memasangkan piyama dengan model kemeja itu ke badan zidan, tanpa melihat tubuhnya.


Salsa sudah memasukkan satu lengan piyama ke sebelah tangan zidan. Tinggal satu lengan lagi yang belum masuk, karna posisi duduk zidan yang menyamping menyulitkan Salsa untuk memasukkan satu lengan piyama lagi ke tangan zidan.


"Ish, bagai mana cara aku memasangkan nya, kalau duduk nya seperti itu," gerutu Salsa di dalam hati.


"Om bisa menghadap kesini gak!" pinta Salsa.


"Kenapa tidak kamu saja yang menghadap kesini," tolak zidan sinis.


"Ishhhh, dia ini," Salsa menggeram kesal.


Dengan terpaksa Salsa duduk di ranjang, tubuh nya berhadapan dengan zidan, tapi wajah nya menghadap ke samping.

__ADS_1


Akhirnya nya kedua lengan piyama itu sudah selesai terpasang.


Kini tinggal memasang kan kancing nya saja.


"Om pasang lah sendiri kancing nya," ketus Salsa sembari berdiri.


"Tidak mau," tolak Zidan.


"Om," kesal Salsa dengan menghentak kan kaki nya ke lantai.


"Ya, ya," balas zidan mengalah sembari mengancingkan sendiri baju nya.


Salsa masih berdiri di samping ranjang  memunggungi zidan, dengan bibir yang sudah maju ke depan karna kesal.


"Sudah kamu tidur lah, ini sudah malam." ucap zidan setelah selesai mengancingkan baju nya.


"Om tuh, ngapain pulang malam," kesal Salsa yang belum merubah posisinya.


"Si-siapa suruh kamu menunggu saya," ketus zidan.


"Ishh, dia ini, apa dia tidak tau, betapa cemas nya aku memikirkan dia tadi, dasar nyebelin," batin Salsa.


"Sudah lah saya mau tidur," gerutu Salsa dengan menghentak kan badannya naik ka ranjang. Kemudian berbaring di sudut ranjang memunggungi zidan.


"Kenapa dia?" batin zidan dengan mulut menganga.


***


Pagi menjelang Salsa terbangun dengan memeluk tubuh belakang zidan. Setelah tersadar dan membuka matanya, dengan cepat Salsa melepaskan pelukannya itu sembari duduk di atas ranjang membelakangi zidan.


"Kenapa aku setiap bangun selalu memeluk dia sih," gumam salsa merasa malu.


Salsa pun lalu bangkit dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.


****


Di kantor zidan.


Siang itu terlihat niken melangkah memasuki kantor zidan. Niken tersenyum senang saat masih di loby mendapati zidan yang berjalan ke arah nya.


"Zi, aku baru mau ke atas, ingin mengajak kamu makan siang," ucap niken saat zidan yang berjalan sudah ada di dekatnya.


Tapi zidan terus berjalan melewati niken yang saat itu berdiri tersenyum manis ke arah nya.


"Ziiiii, kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini terus zi." Lirih niken yang berjalan mendekati zidan sembari memeluk lengannya mesra.


Zidan berhenti dengan menatap tajam pada tangan nya yang di rangkul erat oleh niken. Membuat tangan niken perlahan melepaskan kembali tangan zidan.


"Pergi lah sekarang juga sebelum kau ku permalukan di sini," ucap zidan dengan penuh penekanan.


"Zi, please jangan perlakukan aku seperti ini, aku hanya berusaha memperbaiki diriku zi, tolong berikan aku satu kesempatan lagi zi, ingat, apa pesan papa mu dulu zi!" ujar niken di sertai bola matanya yang berkaca-kaca.


"Jangan kau libatkan papaku, untuk menutupi semua penghianatan kau, niken!" bentak zidan dengan mengacungkan satu telunjuk nya pada niken.


"kau juga tau jika bukan karna arwah papaku, aku tidak akan pernah mau bertunangan dengan kau," imbuh zidan sembari melangkah pergi.

__ADS_1


Niken hanya mengepal kan tangan nya kuat menatap punggung zidan yang semakin menjauh dari nya.


"Lihat saja zi, jika aku  tidak bisa mendapatkan mu kembali, maka tidak ada satu pun wanita lain yang bisa mendapatkan mu zi,"  gumam niken dengan dada yang naik turun.


__ADS_2