Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Nomor ponsel asing


__ADS_3

Bel pulang sekolah sudah berbunyi dua menit yang lalu. Para siswa sudah berhamburan ke luar kelas..Namun Salsa masih berada di kelas nya membereskan buku-buku dan alat tulis.


"Sa, kamu jadi ke rumah ku kan?" tanya Santi yang sudah berdiri di depan pintu kelas menunggu sahabatnya.


"Gimana ya San, aku harus izin dulu sama Om, aku takut dia marah. Lagian aku juga nggak enak, karna aku juga tinggal di rumah di," ucap Salsa memberi alasa, gadis itu lalu bangkit dari duduk nya berjalan mendekati Santi.


"Ya, kamu kan tinggal izin saja ke dia Sa, ponsel kamu kan  juga ada di rumah aku, nanti kamu hubungi saja Om mu itu di rumah ku,"


Sejenak Salsa berpikir.


"Ya sudah, kita ke rumah mu sekarang,"


"Gitu dong, Eh, Sa nanti kita ke mall ya, aku mau kali ini kamu traktir aku makan enak, sekalian kita cari buku yang di suruh Bu Ida tadi," ucap Santi, seraya menggandeng tangan sahabat nya itu.


"Kapan lagi kan, kita jalan-jalan ke mall, iya gak?" mbuh Santi.


"Ish, kamu ini. Nanti kalau aku sudah kerja, baru aku traktir kamu, sekarang ini aku masih sekolah belum bisa cari uang. Hidup pun menumpang di rumah orang," sungut Salsa.


"Itu yang ada di dalam tas kamu kan uang kan, Sa,"


"Iya, tapi itu kan uang di kasih orang, masak mau aku hambur-hamburkan begitu saja."


"Kan buat beli buku belajar, aku ras Om kamu pasti gak akan keberatan lah, jika kamu menggunakan uang itu untuk keperluan sekolah," Santi terus berusaha membujuk nya.


"San..... Santi..." panggil seseorang dari arah belakang mereka.


Salsa dan Santi secara serentak menoleh ke sumber suara, di sana terlihat Rendi berlari ke arah mereka.


"Kalian sudah mau pulang ya?" tanya Rendi yang sudah berada diantara mereka.


"Iya Rend, ada apa?" Santi yang menjawab.


Rendi menatap Salsa dari samping. Lalu dia menarik tangan Santi berjalan agak menjauh dari Salsa.


"San, aku boleh anterin teman kamu pulang nggak?" ucap Rendi, setelah mereka menjauh dari Salsa.


"Nggak boleh," balas Santi cepat.


"Lho kenapa? aku kan cuman mau nganterin saja, kamu tenang saja San aku gak akan macam-macam kok," balas Rendi meyakin kan.


"Sekali nggak boleh, tetap nggak boleh, dan kamu jangan pernah coba ganggu sahabat aku. Pergi sana," Santi mendorong tubuh Rendi menjauh darinya.


"Tapi San,"


Rendi masih kekeh, dirinya tidak mau pergi. Namun, Santi tetap mendorong tubuh siswa paling populer yang ingin mendekati Salsa.


"Oke, aku pergi," Rendi akhirnya mengalah. Dirinya pun berjalan ke parkiran. Tidak lama ia kembali lagi mengendarai motor sport nya.

__ADS_1


"Kamu mau ikut dengan ku gak?" tanya Rendi pada Salsa, yang di balas gelengan kepala oleh salsa.


"Huh..... Dasar cowok, orang yang gak mau ikut di paksa, coba kalau dia bilang ke aku seperti itu. Santi kamu mau ikut dengan ku ngga," gerutu Santi bicara sendiri.


"Dan kamu." Santi menunjuk Salsa.


"Awas saja ya, kalau kamu mau ikut dengan dia," ucapan yang tersirat ancaman itu begitu saja Santi lontar kan pada Salsa.


"Eeh... Kamu kenapa Santo?" Salsa menempelkan satu punggung tangan nya ke dahi Santi, seperti ingin merasakan suhu tubuh nya.


"Aku kesal tau, Sa. Ku kira dia tadi mau nyamperin aku, mau ngajak aku nonton atau mau nganterin aku pulang, apa lagi waktu dia menarik tangan ku. Aku kira dia mau nembak aku, tapi ternyata tidak. Dia malah mau ajak kamu pulang Sa, sesak gak sih?" gerutu santi sambil memegang dadanya.


"Mangkanya isi kepala mu itu jangan cowok mulu,"


Mereka terus berjalan keluar gerbang sekolah. Di pintu gerbang, seperti biasa sudah ada mobil terparkir, beserta Jefri berdiri di samping. Pintu mobil pun sudah di buka Jefri untuk nyonya muda nya. Salsa dan Santi masuk ke dalam.


"Abang jefri, kita ke jalan pepaya dulu ya," ucap Salsa memberi perintah.


"Baik nyonya," balas Jefri.


"Nyonya? dia panggil Salsa nyonya?" kata Santi dalam hati.


Santi menatap sahabat nya itu, dengan tatapan penuh tanya, seperti meminta penjelasan.


.


.


.


Zidan sudah bersiap untuk pulang. Ia memanggil Raka ke ruangan nya, menyuruh orang yang di percaya nya menyiap kan dokumen- dokumen yang akan di bawa nya pulang nanti.


"Apakah Bos sakit?" tanya Raka memberikan beberapa file yang akan di bawa Bos nya.


"Tidak," balas Zidan


Ponsel Zidan tiba-tiba berbunyi, Zidan melihat tidak ada nama penelepon tertera di layar ponsel nya, ia pun menekan tombol merah memutuskan panggilan. Tek berselang lama kembali pensel nya berbunyi dengan nomor penelpon yang sama, Zidan mengabaikan nya saja. Hingga tiga kali ponsel nya terus saja berdering dengan pemanggil nomor yang sama, namun masih di abaikan nya.


Tidak lama, ponsel Raka yang berbunyi, Raka segera mengangkat nya.


"Hallo nyonya," sapa Raka saat panggilan nya terhubung.


"Sial..... Itu pasti gadis itu. Kenapa dia menelpon si Raka? kenapa dia tidak menelpon ku?" gerutu Zidan menatap Raka tidak suka.


"Iya nyonya nanti saya sampaikan." kata Raka bicara di sambungan telepon.


Sambungan telepon kemudian terputus.

__ADS_1


"Bos, nyonya bilang sekarang dia ada di rumah kawannya," ucap Raka menyampaikan pesan.


"Kenapa dia menghubungi kau?! Sekarang suruh dia menghubungi ponsel ku,"


"Tapi bos, nyonya bilang sudah tiga kali dia menghubungi ponsel Bos, tapi tidak pernah Bos jawab," terang Raka.


"Berarti itu nomor ponsel dia," Zidan melihat panggilan tidak terjawab di layar ponsel nya, dan membuat nama di kontak itu menjadi ISTRIKU.


"Suruh dia menghubungi ku sekarang," titah Zidan pada Raka.


"Baik Bos," jawab Raka patuh.


Raka kembali menghubungi Salsa, meminta istri Bos nya untuk menghubungi suaminya.


Tidak berselang lama ponsel Zidane kembali berdering, segera saja dirinya menggeser tombol hijau di layar.


"Hallo Om," suara Salsa terdengar saat panggilan telepon mereka terhubung.


"Hm, ada apa?" tanya Zidan dengan nada sok sibuk.


"Saya lagi di rumah teman aom, nama nya Santi," balas Salsa.


"Ya," Zidan menyahut singkat.


"Om, boleh gak saya pergi ke mall dengan Santi? saya mau cari buku," ucap Salsa di sambungan telepon.


"Ke mall mana?" tanya Zidan dingin.


"Ke mall yang waktu di bawa Bang Raka," jawab Salsa.


"Hm, ya jangan lama," sahut Zidan.


"Terimakasih Om," balas Salsa, sebelum memutuskan sambungan telepon nya.


Zidan menghela nafas kasar. Niat nya pulang ke mension ia urungkan.


"Raka pergi ke mall, sekarang, gadis itu ada di sana," Perintah Zidan pada Raka.


"Baik Bos," balas Raka.


"Maaf Bos, tapi untuk apa saya kesana, bukankah nyonya pergi bersama temannya?" tanya Raka sebelum melangkah pergi.


"Perhatikan gadis itu dari jauh, dan pastikan jam lima sore dia sudah pulang," ucap Zidan datar.


"Baiklah Bos,"  balas Raka.


"Heis..... Dia itu, apa dia tidak tau kalau aku sudah mau pulang.'

__ADS_1


__ADS_2