
Di tengah keributan antara dokter Erwin dan Zidan. Salsa pun tersadar dari pingsan nya.
"Mas...."
Zidan menoleh kebelakang, melihat Salsa yang sudah duduk di atas ranjang. Seketika suara keributan di ruangan itu mendadak sunyi. padahal tadinya terdengar sangat riuh sekali.
"Mas sini?"
Salsa memanggil Zidan sembari menggaruk kepala, pada tiga orang laki-laki yang berada di dalam kamar. Zidan, Raka dan dokter Erwin beberapa jenak tubuh mereka mematung menatap Salsa yang duduk diatas ranjang. Posisi Raka yang masih menarik pinggang Zidan, sedangkan posisi dokter Erwin yang berjongkok tersandar ke dinding dengan kedua tangan menekuk kepalanya ke bawah.
"Sayang,"
Zidan berjalan mendekati Salsa dengan mulut sedikit menganga. Ia menatap lekat Salsa sebelum memeluk tubuh nya erat.
"Iiiiih, mas kenapa sih? Kok jadi aneh gini?" Salsa yang masih berada dalam pelukan Zidan meronta untuk di lepaskan.
"Mari Dok, sebaiknya kita keluar saja, dari pada mata kita ternoda melihat pemandangan ini," ucap Raka seraya membantu dokter Erwin berdiri.
"Lebih baik aku mengundurkan diri saja menjadi dokter pribadi nya," gerutu dokter Erwin sembari berjalan meninggalkan ruangan itu.
Didalam kamar Zidan masih memeluk Salsa dengan posisi berdiri.
"Mas....! Lepas dulu, iiiiih," rengek Salsa yang kepalanya masih berada di dalam dada bidang Zidan.
Setelah Zidan mulai sedikit tenang, dokter Erwin mengetuk pintu kamar nya untuk pamit. Tapi sebelumnya ia lebih dulu memberikan resep untuk Salsa.Dokter Erwin juga menegaskan pada Zidan agar Salsa harus mengkonsumsi obat itu tepat waktu.
**
Sedangkan di luar mension, terlihat tiga orang pria sedang memperhatikan bangunan mewah itu dari kejauhan.
"Sudah ku duga pekerjaan kalian itu tidak berhasil." ucap Rocky sinis pada kedua orang yang berada bersama nya saat melihat kediaman Zidan yang terlihat sepi dari luar.
Harusnya dari penuturan dua orang yang bersamanya saat ini sudah ramai orang yang datang melayat ke kediaman itu.
"Tapi benar bro, aku sudah menembak nya tadi. benar kan, Gar?" ucap Samuel sembari melihat teman nya yang bernama togar.
"Iya benar, mobil meraka juga sempat menabrak trotoar tadi," imbuh togar.
"Cih, orang seperti kalian bisa apa?" sinis Rocky merendahkan.
"Sorry bro, besok kami pastikan dia akan mati!" ucap Samuel dengan penuh keyakinan.
"Tidak perlu!"
"Aku punya tugas baru untuk kalian! dan jika misi ini berhasil, uang akan mengalir ke rekening kalian setiap hari ," ucap Rocky dengan seringai Licik di wajah nya.
***
Di rumah ibu Salsa.
Tok. Tok. Tok
"Man.....! Herman.......! Keluar kau," teriak orang dari luar rumah di sertai suara pintu yang di gedor keras.
Rita yang baru keluar dari kamar mandi, mendengar suara teriakan orang dari luar, serta pintu rumah nya yang di gedor keras. Ia pun bergegas berjalan hendak membuka kan pintu. Di ruang tengah rumah nya ia melihat TV 14 inchi menyala tanpa ada suara, dan juga Herman yang duduk di sofa usang dengan wajah panik.
Sebelum Rita menegur nya, Herman lebih dulu menarik tangan istrinya itu dan menempelkan satu jari telunjuk di bibir.
__ADS_1
"Man.....! Keluar kau Herman," teriakan orang dari balik pintu semakin keras terdengar.
"Ada apa mas?" desis Rita.
"Ssssttt............"
Herman menempelkan telunjuk memberi isyarat agar istrinya itu diam.
Cukup lama terdengar suara gaduh orang yang ada di luar pintu rumah nya, menggedor pintu serta meneriaki nama Herman.
Setelah cukup lama, suara dari luar sudah tidak terdengar lagi. merasa orang diluar sudah pergi, Herman lalu berjalan mengendap-endap masuk ke dalam kamar, ia mengintip dari balik jendela, untuk memastikan keadaan di luar.
"Siapa mereka mas?!" tanya Rita yang sudah berada di belakang Herman.
"Orang menagih hutang," jawab Herman santai, sembari berjalan kembali ke ruang tengah.
"Hutang apa?" tanya Rita setengah berteriak.
"Eh, kau itu dari tadi hanya berisik saja, kepalaku semakin pusing mendengar nya," bentak Herman sembari membaringkan tubuh nya di sofa, tangan nya meraih remot yang ada di atas meja lalu mengeraskan suara volume TV.
"Hutang apa? Selama ini kamu tidak pernah memberiku uang sepersen pun. Terus, hutang apa yang kamu maksud Mas?" teriak Rita bertanya sembari berjalan mendekati TV dan mematikan nya.
"Kau!" bentak Herman mengacungkan telunjuk nya ke arah Rita.
"Apa? Selama ini aku sudah sabar, sekarang ak---"
"Kenapa.........? Apa kau sekarang menyesal?hah....! Kau menyesal?"
Herman menarik tangan Rita dan mengehempaskan nya, hingga Rita jatuh ke lantai.
"Ooo, sekarang kau menyesal menikah dengan aku!"
Herman menarik rambut Rita yang duduk di lantai lalu menampar pipinya, hingga kepala nya terhempas ke lantai.
Plak
Plak
Plak
"Hiks.... Hiks...,"
"Ceraikan aku! Hikss, hiks, hiks Ceraikan aku sekarang juga,"
Rita merintih dengan tubuh yang masih terbaring di lantai
"Jangan harap aku akan menceraikan mu."
Tap
Herman menendang kaki Rita yang masih terbaring di lantai.
****
Malam harinya di mension Zidan.
Setelah Salsa tersadar dari pinsan nya, Zidan tidak pernah meninggalkan kamar nya yang sudah pindah ke lantai bawah.
__ADS_1
"Mas, lihat HP ku nggak? tanya Salsa dari atas ranjang.
"Tidak, memang kamu letak di mana tadi!" jawab Zidan yang duduk di sofa di dalam kamar.
"Mas itu gimana sih? Kalau aku ingat aku letekkan dimana, buat apa aku menanyakan nya sama mas!" sungut Salsa.
Zidan lalu mencoba menghubungi nomor posel Salsa dengan ponsel nya.
"Halo!"
Zidan mengernyit kan dahinya saat mendengar suara wanita dari sambungan telepon nya yang sudah terhubung.
"Siapa ini?" tanya Zidan dengan suara berat nya.
"Aku Santi, bagaimana keadaan Salsa sekarang?"
Zidan tidak menjawab, ia berjalan mendekati ranjang lalu memberikan ponsel nya pada Salsa.
"Siapa?" tanya Salsa pada Zidan seraya mengambil ponsel itu dari tangan nya.
"Temanmu," jawab Zidan.
Salsa tersenyum saat melihat nama istriku di layar ponsel Zidan.
"Halo," ucap Salsa yang sudah mendekat kan ponsel Zidan ke telinga nya.
"Sa, kamu dimana sekarang? Bagaimana keadaan mu?" tanya Santi khawatir.
"Nggak usah khawatir San! aku baik-baik saja kok," balas Salsa.
"Gimana aku nggak khawatir? Kamu itu kan sahabat aku!"
"Iya, iya. Bawel!" balas Salsa.
"Eh, Sa. Kamu tau nggak? Gimana panik nya suami bos mu itu tadi di sekolah? Sampai-sampai dia bilang ke guru mau merobohkan sekolah kita," ujar Santi.
Kedua mata Salsa membola, menatap Zidan yang sudah duduk di sofa.
"Hallo, Sa,"
"Iya, Santo aku dengar kok," jawab Salsa.
"Eh, awas kamu ya!" gerutu Santi.
"He he he, maaf San."
Tok. Tok. Tok
Zidan berdiri dari duduk nya dan membuka pintu kamar yang di ketuk dari luar.
Ceklek
Terlihat Marni dari balik pintu membawa troli yang berisi makanan. Zidan mendorong troli itu kedalam kamar dan menutup kembali pintunya.
"Ehem..ehem.." Zidan berdehem di samping ranjang.
seperti paham akan maksud suami nya itu, Salsa pun mengakhiri sambungan teleponnya.
__ADS_1