
"Gimana Sayang apa kamu setuju?" tanya Maria karna Salsa tak kunjung menjawab nya.
"Hm, anu ma, Salsa kan sekarang masih sekolah ma, lagian resepsi juga nggak terlalu penting juga kan." jawab Salsa memberi alasan.
"Siapa bilang resepsi tidak penting? Resepsi itu penting Sayang! Tujuannya diadakan resepsi itu kam untuk memberitahukan dan membagikan kabar pada kerabat, teman dan juga publik, bahwa kalian berdua sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah. dan itu juga sebagai wujud dari rasa syukur kita juga terhadap Tuhan," tutur Maria.
"Tapi ma-," Salsa memandang Zidan seperti meminta sang suami agar membantunya menolak rencana mertuanya yang terlihat bersemangat untuk mengadakan resepsi.
Zidan tidak mempedulikan Salsa yang terus memandang nya, ia hanya menatap layar ponsel meski ia tau Salsa sekarang menatap nya.
"Bagaimana Zi, apa kamu setuju dengan rencana mama?" tanya Maria memandang Zidan sambil tersenyum.
"Hm, ya," jawab Zidan singkat sambil menganggukan kepalanya.
Meski begitu Maria sangat paham jika putra nya itu sependapat dengan nya walau hanya dengan memberi respon singkat.
"Sekarang bagaimana dengan mu sayang?" tanya Maria pada menantunya yang terus saja memandang Zidan.
Rasanya Salsa tidak enak hati, jika dia sendiri yang menolak rencana mertua nya itu. Sedangkan Zidan sudah menyetujuinya.
"Ya ma, Salsa setuju," jawab nya dengan wajah meringis pasrah.
"Baiklah, jika kalian berdua sudah setuju. semua persiapan biar mama yang persiapkan. biar mama sendiri yang mengurusnya. tapi, nanti mama akan meminta pendapat kalian untuk memilih tempat beserta tema dekorasi dan untuk fitting baju pengantin, itu pasti mama akan menyerahkan pada kalian untuk memilih nya." ujar Maria yang begitu bersemangat.
"Tapi ma, nggak usah terlalu mewah ya, dan nggak usah terlalu banyak orang juga," pinta Salsa yang membuat Maria sedikit terkekeh.
"Tidak sayang, mama hanya mengundang relasi dan kolega bisnis mama saja, dan kamu pun bisa mengundang teman-teman mu juga," balas Maria.
"Zi apa kamu ingin menyampaikan sesuatu?" tanya Maria yang di balas gelengan kepala oleh Zidan setelah melihat Salsa dan Maria secara bergantian.
"Ma, acara nya setelah Salsa selesai ujian ya," pinta Salsa.
"Iya sayang, kapan kamu ujiannya?" tanya Maria.
"Dua minggu lagi ma," jawab Salsa yang tidak begitu bersemangat.
"Kalau begitu kamu harus fokus belajarnya sayang, tidak usah memikirkan tentang rencana mama tadi," ujar Maria menyemangati.
"Iya ma," balas Salsa....
Zidan yang sejak tadi hanya diam, setelah merasa obrolan sudah selesai dia pun pergi melenggang masuk ke dalam kamar.
"Ma, kalau gitu Salsa mau istrahat di kamar dulu ya," ucap Salsa meminta izin.
"Iya sayang, istirahat lah," balas Maria.
Salsa pun melangkah masuk ke dalam kamar. Mengikuti Zidan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
"Kenapa tadi Mas menyetujui saja rencana mama? Kan aku sudah bilang aku tidak mau di adakan pesta," gerutu Salsa saat sudah berada di dalam kamar.
"Eh, kanapa marah sama Mas, bukan nya kamu juga setuju," balas Zidan menatap punggung Salsa dengan mata yang menyipit.
"Ya, gimana aku mau menolak, mas aja udah setuju," Salsa merenggut sambil menghempaskan duduk nya di samping Zidan.
"Ya, kalau tidak suka kamu tolak saja lah sayang, jangan malah menyalah kan Mas terus," bujuk Zidan sambil merangkul bahu Salsa.
"Aku nggak enak lah menolak sendiri," balas Salsa dengan bibir yang mengerucut.
"Terus sekarang mau nya gimana? Apa mau di batal kan?" tanya Zidan berusaha membujuk nya.
"Ya jangan lah! Aku nggak enak lah sama mama nantinya," ketus nya.
"Kalau begitu kamu jangan menyalahkan Mas lagi," pinta Zidan.
"Pokok nya ini semua salah Mas. kalau Mas tadi nggak setuju aku juga nggak setuju," Salsa berdiri lalu melangkah mengambil ponsel nya yang berbunyi....
__ADS_1
"Ya hallo, ada apa San?" tanya Salsa setelah menggeser tombol hijau di layar ponsel.
"Eh, kamu kenapa Sa? Seperti nggak suka saja aku telepon?" balsa Santi dari sambungan telepon.
"Bukan lah, cuma aku lagi kesal aja sama seseorang," ketus Salsa yang sengaja mengeraskan suaranya sambil melihat ke arah Zidan.
"Eh dia itu laki mu, hormati dia," balas Santi yang sudah bisa menebak orang yang Salsa maksud.
"Aku nggak ngomongin dia kok," kilah Salsa menjawab.
"Ya, terserah mu deh, ngeyel!" balas Santi.
"Eh Sa, tadi aku lewat di depan rumah ibu mu, dan di halaman depan ada plang yang bertuliskan rumah itu di jual, apa kamu sudah tau?" imbuh Santi.
"Dijual?" Salsa segera menutup mulut nya, lalu berjalan keluar kamar. Karna takut Zidan akan mendengar ucapan nya.
"Iya, aku nggak tau juga sih sejak kapan papan tulisan itu di pasang, karna aku pun baru melihat nya tadi. dan pintu rumah itu pun ku lihat terbuka, seperti nya ibu mu tidak tinggal di sana lagi deh," ujar Santi.
"Kamu yakin San?" tanya Salsa.
"Yakin lah, aku tadi juga ambil foto nya, nanti ku kirim ke nomor WA mu deh," jawab Santi........
*****
Setelah mengetahui jika rumah ibu nya akan di jual, Salsa tidak tau apa yang harus dia lakukan saat ini. Ingin rasa nya ia menceritakan semua nya pada Zidan, tapi ia teringat perkataan Zidan yang melarang nya untuk menjauhi Herman atau pun segala hal yang berkaitan dengan Herman. Sedang kan ibu nya adalah istri Herman secara tidak lansung ia akan berurusan dengan Herman nanti nya. Dia sangat berharap jika suatu hari nanti ibunya bisa berpisah dengan Herman dan mau tinggal bersama dengan nya.
*****
Keesokan paginya Zidan tidak berangkat ke kantor. Salsa yang sudah berencana sajak semalam untuk pergi keluar melihat rumah ibunya, harus memikirkan cara lain.
"Mama mau kemana? Salsa ikut ya? Salsa bosan di rumah ma," Salsa berdiri dari sofa yang di dudukinya, saat melihat Maria yang baru saja keluar dari kamar dalam keadaan rapi.
"Maaf sayang, hari ini mama ada meeting penting, takut nya kamu nanti bosan menunggu," jawab Maria.
"Benar Mas mau anterin aku?" tanya Salsa.
"Iya, bersiap lah sekarang," balas Zidan.
"Ya sudah kalau begitu mama berangkat sekarang ya," pamit Maria lalu melangkah pergi.
Begitu pun dengan Salsa ia masuk kedalam kamar setelah Maria pergi, mengambil tas dan ponsel nya.
Baru saja Salsa masuk ke dalam kamar tiba-tiba ponsel Zidan berbunyi. Zidan lansung menggeser panah hijau di layar ponsel setelah melihat nama Raka yang tertera.
"Ya, ada apa?" tanya Zidan saat sambungan telepon nya baru saja terhubung.
"Sebelum nya saya minta maaf bos. Karna Gisel sudah di pecat saya jadi lupa untuk memberitahukan bos. Jika Pagi ini ada meeting dengan Mr Kim." terang Raka.
"Jam berapa?" tanya Zidan sambil melihat jam di pergelangan tangan nya.
"Jam sepuluh bos," jawab Raka.
"Kenapa tidak dari semalam kau mengatakan nya," bentak Zidan sebelum memutuskan sambungan telepon nya. Sekarang sudah jam delapan hanya tersisa dua jam lagi sebelum meeting dengan Mr Kim.
"Ayo Mas," ajak Salsa yang baru saja keluar dari dalam kamar.
"Sayang, bisa tidak kalau kita perginya nanti siang saja," ujar Zidan.
"Lho emang nya kenapa Mas?" tanya Salsa.
"Barusan Raka menelpon, dan Mas harus datang ke kantor sekarang," jawab Zidan.
"Oh nggak pa-pa Mas, aku nunggu Mas di kantor saja," balas Salsa yang merasa senang.
"Benar, kamu mau menunggu di kantor?" tanya Zidan meyakin kan.
__ADS_1
"Iya benar. sudah buruan kita berangkat sekarang." ujar Salsa.
******
Salsa kini sudah berada ruang kerja Zidan. Ia duduk di sofa yang ada diruangan itu tanpa ingin mangganggu Zidan yang telihat sibuk. Pikiran nya terus memikirkan bagai mana cara nya ia bisa datang kerumah ibu nya, untuk melihat sendiri keadaan rumah nya saat ini. Pasti nya ia juga bisa bertanya pada tetangga di sana apa yang sebenarnya yang terjadi.
"Mas, aku mau pulang saja deh, Tiba-tiba kepalaku pusing," pinta Salsa sambil memegang kepalanya.
"Kamu pusing? Ya sudah kamu istrahat di kamar dulu, nanti Mas telpon dokter Erwin untuk datang kesini." ujar Zidan yang terlihat khawatir sambil berjalan mendekati Salsa.
"Aku ingin pulang saja Mas," kekeh Salsa merengek minta pulang.
"Tapi Mas sebentar lagi akan meeting Sayang," ujar Zidan.
"Biar aku pulang sama abang Raka saja Mas," pinta nya.
"O ya sudah kalau begitu, biar Mas telepon Raka dulu," Zidan lalu meminta Raka untuk datang ke ruangan nya.
Tidak berapa lama Raka pun datang.
"Ya, ada apa bos?" tanya Raka yang baru saja masuk kedalam ruang kerja nya.
"Raka, kau antarkan istri ku pulang sekarang, setelah itu kau segera kembali kekantor" ucap Zidan memberi perintah.
"Ayo nyonya," ucap Raka.
"Apa kamu bisa jalan sendiri sayang?" tanya Zidan Khawatir sambil menuntun Salsa untuk berdiri.
"Bisa, Mas nggak perlu khawatir, ni lihat aku jalan sendiri," jawab Salsa sambil menghentak-hentakkan kaki nya berjalan.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya?" ucap Zidan.
Setelah menyalami dan mencium punggung tangan Zidan, Salsa pun pergi diantar Raka.
******
"Bang, tolong antar kan Salsa kerumah ibu," pintanya pada Raka yang sedang mengemudi.
"Maaf nyonya, saya tidak bisa. Bos akan marah jika tau saya mengantarkan nyonya kesana," terang Raka sambil melihat Salsa dari kaca spion depan.
"Ya sudah kalau abang tidak mau, turunkan Salsa disini! Salsa bisa pergi sendiri kok," pinta nya.
Raka yang merasa tidak tega melihat wajah sedih Salsa, akhir nya menurutinya juga.
"Abang tunggu di sini dulu ya, Salsa mau masuk" ucap nya setelah sampai di depan rumah.
Benar saja apa yang di sampaikan Santi, di depan rumah nya sudah di pasang plang bertuliskan Rumah ini dijual. Setengah berlari Salsa masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah rusak.
"Bu,... "
"Ibu... "
"Ibu..... "
Ia terus berteriak memanggil ibunya sambil mengayun kan kaki masuk kedalam rumah. Tiba-tiba saat ia sudah berada di dalam, terdengar benda jatuh dari dalam kamar ibu nya.
"Bu... "
"Apa ibu ada di dalam?"
Dengan langkah sedikit takut dan ragu Salsa perlahan mendekati pintu kamar ibunya. Ia mendorong pintu kamar yang tidak terkunci itu, lalu melangkah masuk.
"Bu, ibu, ibu," ia terus melangkah masuk ke dalam kamar itu.
Dan tiba-tiba mulut nya di bekap seseorang dari belakang.
__ADS_1