
Mobil yang di kendarai Zidan kini sudah tiba di halaman mension. Setelah mematikan mesin mobil, Ia turun diikuti Salsa yang juga ikut turun. Salsa lansung masuk ke dalam mension. Sedangkan Zidan masih menatap satu mobil asing yang terparkir di halaman mension nya. Ia lalu melambaikan tangan pada penjaga.
Salsa yang sudah berada di dalam, melihat seorang wanita paruh baya yang duduk di sofa ruang utama serta seorang pria paruh baya yang berdiri tegap tidak jauh dari sofa itu.
Sembari berjalan pelan Salsa tersenyum canggung pada wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu.
Wanita paruh baya itu lalu berjalan mendekati Salsa yang berjalan pelan melewatinya.
Siapa tante ini? kenapa dia melihat ku seperti itu? batin Salsa bertanya.
"Siapa nama mu, Nak?" tanya wanita paruh baya itu menatap Salsa yang masih menggunakan seragam putih abu-abu nya.
Amarah Zidan memuncak, setelah menanyakan pada satpam siapa pemilik mobil mewah, yang terparkir di halaman mension nya.
Zidan berjalan dengan langkah lebar masuk ke dalam mension. Di ruang utama, ia melihat Salsa dan seorang wanita paruh baya yang ia kenali, duduk di satu sofa, mengobrol seperti sudah sangat akrab.
"Salsabila!!" terdengar suara bariton, yang membuat Salsa dan wanita paruh baya itu menoleh ke sumber suara.
Dengan tatapan penuh amarah Zidan berjalan mendekati kedua wanita beda usia itu.
Zidan menarik kasar tangan istrinya, membuat tubuh Salsa terpaksa harus berdiri dari duduk nya.
"Masuk kekamar mu sekarang!" Suara tegas Zidan yang bergetar membuat Salsa tidak berani untuk membantah nya. Salsa menatap wanita paruh baya itu seperti meminta izin padanya sebelum ia melangkah pergi.
Wanita paruh baya itu menatap Zidan dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Zi," lirih nya sembari mengulurkan ke dua tangan nya hendak membelai wajah zidan.
Zidan menepis kasar tangan wanita paruh baya itu, lalu melangkah kan kaki nya keluar. Tidak lama ia masuk kembali, di ikuti dua orang penjaga mension nya di belakang.
"Usir mereka sekarang juga dari sini!" titah tegas Zidan pada kedua orang itu.
Perkataan yang Zidan lontarkan itu membuat luka batin wanita paruh baya itu semakin mendalam.
"Zi...! Maafkan mama Nak," tangis wanita paruh baya itu pecah yang semakin lama semakin keras terdengar.
__ADS_1
"Berhentilah memanggil Saya dengan sebutan Nak, karna saya bukan lah anak Anda!" Suara Zidan terdengar lantang disertai bibirnya yang gemetar.
"Hiks... Hiks...Hiks.... "
Bentakan Zidan membuat tangis wanita paruh itu semakin menjadi-jadi.
"Kalian berdua, kenapa masih diam saja! Usir meraka dari sini, cepat!" teriak Zidan lantang hingga suara nya hampir terdengar di setiap sudut mension.
Prak! Prak! Prak!
Zidan melempar dan memukul benda apa saja yang ada di ruang utama itu dengan tangan nya.
Suara gaduh dari ruang utama itu membuat dua orang penjaga tadi hanya berdiri diam ketakutan.
"Hentikan Zi! Tolong hentikan Zi!" rintih wanita paruh baya itu. Suara tangisnya semakin keras terdengar mengiringi suara barang-barang yang di banting Zidan ke lantai.
"Pergi kalian.......! Perg dari sinii.....!"
Praaang!
"Mas.....! Salsa tiba-tiba berlari dan memeluk tubuh Zidan dari belakang. Ia bisa merasakan tubuh suaminya yang bergetar hebat, otot-otot di perut nya terasa kembang kempis. Dari ujung jari nya pun Salsa juga melihat cairan merah menetes ke lantai.
"Suruh mereka pergi Sabila! Suruh mereka pergi!" ucap Zidan dengan tubuh dan suara yang bergetar hebat.
Salsa melepaskan tangan nya yang memeluk tubuh Zidan. Perlahan ia berjalan mendekati wanita paruh baya itu.
Seakan mengerti. wanita paruh baya itu menyeka air matanya dengan sapu tangan dan memeluk tubuh Salsa sebelum pergi dari sana.
"Alfred, kita pergi sekarang!" ucap wanita paruh baya itu pada pria yang sejak tadi hanya berdiri tegap tanpa ekspresi.
Setelah wanita paruh baya itu pergi. Salsa terlebih dulu membawa Zidan duduk di sofa ruangan itu, memberi nya segelas air putih, lalu mememinta pada Marni untuk membawakan kotak P3K.
Salsa membersihkan luka diruas jari Zidan akibat terkena pecahan kaca. Ia mengobati luka itu dan menempelkan plester di sana.
**
__ADS_1
Malam harinya mension Zidan.
Didalam kamar, Salsa duduk di depan meja belajar mengerjakan tugas sekolah nya. Sedangkan Zidan hanya duduk bersandar di atas ranjang sembari memainkan ponsel.
Sejak insiden tadi sore mereka memang banyak diam. Salsa takut untuk menanyakan lebih lanjut tentang wanita paruh baya yang datang tadi. Takut suaminya kembali emosi.
Salsa tadi memang sempat berkenalan dan sedikit bercerita dengan wanita paruh baya yang ia ketahui adalah Ibu kandung dari Suaminya. tapi hanya sebentar, setalah itu Zidan datang dan menyuruh nya masuk kedalam kamar.
Salsa kini telah selesai mengerjakan tugas sekolah nya. Ia berjalan mendekati ranjang yang sudah ada Zidan di sana. Salsa naik ke atas ranjang dan menarik selimut sebatas dada bersiap untuk tidur.
Zidan memperhatikan Salsa dari Sudut mata nya, ia melihat Salsa yang berbaring terlentang di samping nya.
Zidan kemudian meletak kan ponsel nya di nakas lalu menggeser tubuh nya lebih mendekat lagi ke Salsa, ia berbaring dengan posisi menyamping melingkarkan satu kaki nya di tubuh bagian bawah Salsa, ia juga melingkarkan tangan kekar nya atas perut Salsa.
"Ihhhh....! Mas, berat tau," salsa menggeliat kan badannya, menepis kan kaki dan tangan Zidan yang ada di atas tubuh nya.
"Jangan tidur dulu sebelum saya tidur," dwaah Zidan.
Salsa memiringkan tubuh nya menghadap suaminya sembari menatap wajah nya lekat dengan dahi yang berkerut.
"Jangan menatap saya seperti itu!" Zidan menutup mata Salsa dengan satu tapak tangan nya.
"Habis Mas aneh, masa saya harus nunggu Mas tidur dulu," ujar Salsa sembari memegang tangan Zidan yang menutup matanya tadi.
"Ya karana kalau kamu sudah tidur, suara dengkuran mu itu terlalu berisik," balas Zidan beralasan.
"Ihhh, mana ada saya tidur mendengkur," dengus Salsa sembari menepiskan tangan Zidan yang di pegang nya tadi.
"Tidur lah cepat, saya sudah ngantuk," imbuh Salsa ketus.
"Bagai mana saya bisa tidur? Kalau yang di bawah bangun," ujar Zidan.
Salsa menatap Zidan dengan mengernyit kan dahi. Perlahan bola matanya turun ke bawah melihat tonjolan di bawah perut rata suami nya yang sudah tegak berdiri.
Bola mata nya kembali menatap wajah Zidan yang memelas.
__ADS_1
"Ya sudah, cepat lah saya sudah ngantuk," ucap Salsa disertai pipi yang sudah merona. Zidan bersorak senang dalam hati sebelum mulai menidurkan adik kecilnya.