
Di kantor zidan.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk," sahut Zidan.
Cek lek.
Pintu di buka, Raka berjalan mendekati zidan yang duduk d depan meja kerjanya.
"Bos lima menit lagi pimpinan perusahaan New Global akan datang," kata Raka mengingatkan.
Zidan melihat jam di pergelangan tangan nya, kemudian berdiri, berjalan meninggalkan ruang kerjanya, diikuti Raka di belakang.
Zidan turun ke bawah menggunkan lift, berjalan ke pintu loby menunggu tamu nya di sana.
Tidak berapa lama 3 unit mobil mewah datang. dari tempat nya berdiri, Zidan bisa melihat beberapa orang pria turun dari mobil menggunakan setelan jas hitam, bertubuh besar dan tinggi seperti orang Eropa kebanyakan.
Pria-pria berjas hitam itu berbaris rapi di depan pintu mobil yang menghadap lansung ke kantor Zidan. Dan seorang pria paruh baya dengan setalan jas yang berbeda membukakan pintu mobil yang belum terbuka.
Dari mobil yang di bukakan pria itu, keluar lah seorang wanita paruh baya menggunakan drees hitam selutut serta kaos kaki hitam panjang yang menutupi kulit kaki nya, juga topi bundar yang berwarna putih menutupi bagian atas rambut ikal nya.
Wanita paruh baya itu terlihat begitu anggun, dengan rupa wajah seperti orang eropa.
Wanita itu berjalan mendekati Zidan. Yang berdiri diam menatap nya tajam.
Zidan mengingat-ingat kembali rupa wanita paruh baya itu.
"Usir mereka dari sini Raka!" perintah Zidan lalu masuk kembali ke dalam kantornya
"Tapi bos-,"
"Kau usir mereka, atau kau ku pecat!" suara Zidan terdengar tegas.
"Zi, tunggu." rintih wanita paruh baya itu memanggil Zidan.
"Maaf nyonya, tuan tidak mengizinkan anda masuk," ucap Raka saat wanita paruh baya itu berada di pintu loby.
Wanita paruh baya itu meneteskan air matanya ketika melihat punggung Zidan yang akan memasuki pintu lift.
Raka memerintahkan satpam agar melarang orang-orang asing itu masuk ke dalam kantor. Kemudian Raka kembali masuk ke dalam loby mengejar Zidan.
Wanita paruh baya itu masih berdiri di luar loby, menyeka air mata dengan sapu tangan yang di pegangnya.
"Tante Maria," Sapa seorang wanita yang baru saja datang, lalu ia berjalan mendekati wanita paruh baya yang sedang menangis itu.
"Tante masih ingat saya? saya Niken tante, teman kecil Zi dulu," ujar niken mengingatkan wanita paruh baya itu sembari memegang kedua tangan nya.
"Iya tante ingat, kamu sudah besar ya Nak," ucap wanita paruh baya itu sembari membelai pipi niken.
"Tante kok ada di sini? bukan nya tante-," Niken tidak melanjutkan kata-kata nya.
__ADS_1
Bola mata wanita paruh baya itu kembali berkaca-kaca.
* * *
Sementara itu di sekolah Salsa.
"Sa, kok tadi pagi aku nggak melihat kamu ikut upacara?" tanya santi yang berjalan mendekati meja salsa. Beberapa menit yang lalu jam istirahat memang sudah berbunyi.
"Iya San,"
"Kenapa, tumben kamu gak ikut upacara," tanya Santi lagi yang sudah duduk di sebelah Salsa.
"Gara-gara si Rendi tuh," kesal Salsa, sembari memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Ngapain dia?" tanya santi menatap SalsaSalsa lekat.
"Kata nya dia mau ngomong sesuatu, terus ngajakin aku ke kantin." terang Salsa.
"Eh ngomong-ngomong kantin. kita ke kantin yuk! nanti kita lanjut cerita di sana, aku lapar nih!" ujar Santi.
"Aku malas lah San, nanti jumpa lagi sama si Rendi," balas Salsa.
"Jangan takut! Kan ada aku, kalau dia macam-macam aku hajar dia," ujar Santi sembari mengepalkan tangan kanan memukul kan ke telapak tangan kirinya.
"Ya udah ayok,"
* * *
Wanita paruh baya dan Niken masih berada di loby kantor Zidan.
"Apa tante sudah bertemu Zi?" tanya Niken.
Wanita paruh baya itu hanya menggelangkan kepala, air matanya sudah berlinang membanjiri pipinya.
"Tante yang sabar ya, nanti aku bantu tante untuk bicara dengan Zi," ujar Niken seraya memegang bahu wanita paruh baya itu, menenangkannya.
"Akhir nya aku punya cara untuk mendapatkan mu kembali Zi," gumam Niken tersenyum licik.
"Gimana kalau kita ngobrol nya di luar saja tente," imbuh niken.
-
-
Di ruangan Zidan.
Zidan berdiri di tepi jendela kaca besar, di puncak lantai tertinggi bangunan itu, ia menatap birunya langit. Tangan nya mengepal kuat ketika teringat kilasan-kilasan kenangan masa lalu.
Flashback On.
"Ma, Mama mau kemana? Jangan pergi Ma, jangan tinggalkan Zi, Ma," tangis meratap seorang anak yang memegang tangan Ibu nya yang akan pergi.
__ADS_1
Tapi tangan anak itu ditepiskan oleh sang Ibu. Wanita itu tergesa-gesa berjalan membawa koper yang cukup besar, lalu ia berjalan keluar dari rumah. Di depan pintu gerbang ia di sambut seorang pria bertubuh besar dan berkulit putih, seperti bukan keturunan orang asia. Pria bertubuh besar itu membantu membawakan kopernya
Anak kecil itu memegang tangan sang Ibu yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Ma, jangan pergi ma, jangan tinggalkan Zi, Ma," Zidan terus menangis sembari mengetuk-ngetuk kaca mabil yang tidak di hiraukan sang Mama. Mobil pun mulai melaju meninggalkan nya.
Dalam isak tangis, Zidan kecil terus menyusul mobil yang sudah melaju, dengan kedua kaki nya. Zidan terus berlari meski mobil yang ia kejar sudah hilang dari pandangannya. Namun, ia terus berlari dan terus berlari sampai kaki nya tersandung membuat tubuh nya menghempas ke tanah.
Flashback Off.
Rahang Zidan seketika mengeras. Di saat ia sudah bisa mengubur semua kenangan itu. Tapi kini kenangan buruk itu seperti menghantuinya lagi.
***
Disekolah Salsa.
"Apa! Dia bilang suka ke kamu!" Terdengar suara seorang wanita yang cukup keras di kantin sekolah. Tapi dengan tiba-tiba mulut nya di sumpal makanan oleh orang di depannya.
"Kamu apaan sih Sa," Cemberut wanita yang di sumpal mulut nya itu pada seseorang di depannya.
"Sssssst," Seseorang di depannya meletakkan satu telunjuk nya di bibir.
"Suara mu itu bisa di kecilin gak volume nya, san," imbuh nya.
Ya mereka adalah Santi dan Salsa, yang sudah berada di kantin.
"Iya, iya. Terus sekarang gimna! Kamu tadi jawab apa ke si Rendi?" tanya santi nyaris berbisik.
"Itu lah san aku bingung, gimana cara menolak nya! tidak mungkin kan! aku bilang aku ininsudah menikah dengan si om! bisa-bisa aku di keluar kan dari sekolah," ujar Salsa dengan raut wajah tidak senang.
Santi meletakkan satu telunjuk nya di dahi seperti memikirkan sesuatu.
"Menurut aku, kamu harus bicarakan ini pada laki mu," ucap santi memberikan solusi.
Salsa menggelengkan kepalanya dengan bibir cemberut.
"Kamu harus bincangkan ini Sa, dia itu kan laki mu, dia juga berhak tau. Jika kamu gak beri tau, dia akan mengira kamu itu selingkuh nantinya," terang Santi dengan wajah serius.
"Kamu gak tau sih san. si om itu seperti apa, aku malu, dan takut cerita sama dia," ujar Salsa dengan wajah tertunduk pasrah.
"Sama laki sendiri malu?" tanya Santi seperti tidak percaya.
"cuma cerita saja, pakai malu segala. Giliran tidur berdua tidak malu," Imbuh Santi meledek Salsa.
Mata Salsa seketika membola, kedua pipinya kini memerah seperti kepiting rebus. mendengar kata kata sahabat nya itu.
"Udah gak usah malu sama laki sendiri, baik buruk nya dia tetap laki mu. Syurga mu kan sekarang ada pada dia Sa, pokok nya kamu harus ceritakan ini sama laki mu, si om om itu," Racau santi menesehati.
Salsa masih diam dengan wajah merah nya.
***
__ADS_1
Niken dan Maria sekarang sudah berada di sebuah restoran mewah. Para pria berjas hitam berdiri tidak jauh dari niken dan Maria duduk.