
Salsa yang masih berbaring menatap langit-langit di kamarnya, sedang berdebat sengit dengan dirinya sendiri.
"Walau bagai mana pun dia itu kan masih suami aku, tidak semestinya aku bersikap seperti itu tadi. Tapi kamu itu bukan wanita yang di inginkan nya Salsa. Dia itu sudah punya kekasih. ingat! tujuan dia menikahimu hanya untuk menolong mu saja." ucap Salsa pada dirinya sendiri.
Akhirnya Salsa memilih kembali ke kamar zidan, karna ia teringat akan nasehat ayah nya dulu.
"nak jika kamu sudah menikah, surgaMu telah berpindah ke suami mu, maka kamu harus Mematuhi nya, karna ridho nya adalah surga bagimu," Nasehat ayah nya itu membuat ia menyadari kesalahannya.
Dengan helaan nafas, Salsa kembali melangkahkan kaki nya ke kamar zidan.
Tok
Tok
Tok
Salsa mengetuk pintu kamar zidan, sebelum tangan nya meraih handle pintu.
Ceklek
Pintu di buka zidan dari dalam, sebelum Salsa memegang handle pintu dari luar. terlihat wajah panik zidan serta mata yang sedikit membola, saat melihat Salsa yang berdiri di depan pintu kamar nya.
Sama seperti zidan, Salsa pun terlihat kaget, ia menatap zidan dari ujung kaki sampai ujung ke pala nya.
"Bukannya dia tadi tidak bisa bangun?" tanya Salsa dalam hati.
"Auowhf, kepala saya sakit sekali," ucap zidan seketika, sembari satu tangannya memegang kepala nya sendiri.
"Om, om kenapa?" tanya Salsa panik, seraya meraih satu lengan zidan dan melatak kan di sebelah bahu nya.
Zidan seketika melemaskan tubuh nya, kapala nya pun kini terkulai di bahu Salsa.
Lalu dengan sekuat tenaga salsa memapah tubuh zidan berjalan mendekati ranjang.
Buk
Tubuh mereka terhempas keranjang, dengan tangan zidan yang masih berada di bahu Salsa.
Wajah meraka saling berhadapan, sejenak Salsa sempat terpesona memandang wajah tampan suami nya itu.
"Au Owch, om mau ngapain?" Pekik Salsa saat tersadar. Ia menepiskan tangan zidan yang masih berada di bahunya sebelum ia berdiri.
"Hais, kamu ini! saya ini kan lagi sakit, kenapa kamu hempaskan saya ke kasur," ucap zidan yang pura-pura meringis menahan sakit.
"Ta-, tapi om kenapa tadi bisa berdiri," tanya Salsa yang sudah berdiri menunduk di samping ranjang.
Zidan diam sejenak, memikirkan jawaban yang akan ia berikan.
"Ta-tadi saya memaksakan berjalan untuk membuka pintu. ya,saya tadi memaksakan nya," jawab zidan.
Salsa yang berdiri di samping ranjang melihat makanan di dalam piring yang tadi ia suapkan pada zidan, kini sudah habis tanpa sisa.
__ADS_1
"Biarkan saja Marni yang mengemasi nya," ucap zidan. Saat melihat Salsa hendak mengambil piring bekas zidan makan itu.
Dengan bibir yang bergerak-gerak maju ke depan Salsa menunduk melihat jemarinya yang bermain di bawah.
Tidak lama Marni datang mengemasi piring dan makanan yang tersisa.
"Aduh kepala saya sakit sekali," Ringis zidan sembari memegang dahi nya, setelah Marni keluar dari kamar nya.
Salsa yang masih berdiri menunduk di samping ranjang, hanya melihat suami nya itu dengan menaikan bola mata nya.
"Om kenapa," tanya Salsa yang masih menunduk.
"Kepala saya tiba-tiba sakit sekali," jawab zidan yang masih memegang dahi nya sesekali mengaduh seperti orang kesakitan.
"Tunggu sebentar om, saya akan ambil kan obat," ucap Salsa sembari membalik kan badan nya hendak berjalan.
"Obat saya sudah habis, kepala saya sakit sekali, aduuuuhhh," balas zidan seperti kesakitan sekali, membuat Salsa semakin panik.
"Apa yang mesti saya lakukan om?" tanya Salsa panik.
"Kemarilah, pijat kan kepala saya," balas zidan sembil menepuk kasur di sebelah nya.
Karna panik Salsa mengikuti saja apa kata zidan, ia merangkak naik ke atas ranjang.
Kemudian duduk di sebelah bahu zidan.
"Di sini sakit sakali, aduuh," rintih zidan.
"Ya, di sana, ahhh,, enak sekali, uhh,.. Kuat kan sedikit jangan seperti orang yang belum makan. pelan sekali!" racau zidan.
Salsa semakin menguatkan pijatan nya, yang awal nya pelan sekarang sangat kuat sekali bahkan itu bukan lah sebuah pijatan, tapi remasan kekesalan.
"Aduhhhhhh!" pekik zidan sembari duduk dari ranjang nya.
"Kalau tidak mau bilang, tidak usah begitu caramu, ini sakit sekali," kesal zidan yang benar benar merasa kesakitan sembari memegang dahinya yang di remas kuat Salsa.
"Om itu bawel sekali, sudah di bantuin malah ngomel-ngomel," ketus Salsa dengan menyilangkan kedua tangan nya di dada.
"Ya sudah, kali ini saya akan diam saja," ucap zidan. lalu dengan santai nya meletakkan kepalanya di kedua paha Salsa.
"Ommmm, kepalanya letak kan di bantal saja." Pekik Salsa dengan menepis kan kepala zidan yang sudah berada di pahanya.
Dengan terpaksa zidan menurutinya tanpa bicara sepatah kata apa pun.
Entah karna mengantuk, entah karna apa, malam itu Salsa tertidur di kamar zidan.
-
-
Pagi hari di rumah ibu Salsa.
__ADS_1
Rita yang dari tadi malam mencemaskan suami nya karna tidak pulang. Kini kejutkan dengan suara gedoran pintu dari luar.
Prak!
Prak!
Prak!
"Ritaaaaa, buka pintu nya," Teriakan suara seseorang dari luar.
Rita yang berada di dapur, bergegas membuka kan pintu, karna mengenali suara itu.
"Astaghfirullah mas, kamu minum lagi ya," ujar rita yang melihat suami nya berdiri dengan Sempoyongan.
"Jangan berisik kau," balas Herman. dengan mendorong tubuh rita yang berdiri di depan pintu.
Herman terus berjalan melangkah masuk ke dalam kamar. Membiarkan rita yang terduduk di lantai karna ulah nya. Lalu Herman menghempaskan tubuh nya di ranjang.
Rita hanya bisa meringis kesakitan akibat dorongan kasar Herman tadi.
"Aku kira kamu sudah berubah mas, hiks, hik," Lirih rita menahan kesakitan nya.
-
-
-
Di pagi hari di mension Zidan.
"Aaaaaaaaaaauuwh," Jeritan yang sangat keras menggema di kamar zidan.
"Hais, apa nih, pagi-pagi berisik sekali," ucap zidan yang memiringkan tubuh nya membelakangi Salsa, seraya menutup telinganya dengan bantal.
"Om, kenapa saya tidur di sini," tanya Salsa kesal yang sudah duduk menatap punggung zidan.
Tapi tidak ada jawaban dari zidan, zidan seperti melanjutkan tidurnya.
"Ishh," Salsa menggeram kesal dengan mengepalkan kedua tangan nya ke arah kepala zidan sembari bangkit dari ranjang.
"Mau kemana kamu?" tanya zidan yang melihat Salsa hendak turun dari ranjang.
"Saya mau mandi, mau pergi sekolah," jawab Salsa yang kini sudah berdiri.
"Ck, lihat di ponsel mu, sekarang hari apa," ucap zidan yang masih berbaring di ranjang.
Salsa tersentak, mencari ponsel yang lupa ia letak kan di mana. Ia kembali naik ke ranjang, menyibakan selimut, dan bantal tapi tidak menemukannya.
"Om, coba bangun dulu," ucap Salsa yang panik karna belum juga menemukan ponsel nya.
"Ish, ceroboh sekali," gerutu zidan sembari meraih ponsel nya di nakas lalu mencoba menghubungi nomor ponsel Salsa.
__ADS_1