Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Merajuk


__ADS_3

Pov Salsa


Aku melangkah ke arah sofa yang di tunjuk Mas Zidan tadi. Sedang kan Mas Zidan kembali duduk di kursi nya, lalu meraih gagang telepon di samping meja kerja nya.


Tidak berapa lama Sekretaris tadi kembali masuk ke ruang kerja.


"Gisel bersih kan lantai ini!" kata Mas Zidan memerintahkan Sekretaris itu, setelah itu  Dia berjalan mendekati Ku.


Kulihat Sekretaris itu melihat padaKu sebelum Dia membersihkan bekas kopi yang Ku tumpahkan.


"Ayok Sayang?" Maz Zidan mengulurkan tangan nya pada Ku. Tapi, sebelum Ku raih tangan Mas Zidan, Aku kembali melihat ke arah sekretaris nya yang kini sedang jongkok mengemasi pecahan gelas kopi tadi, matanya juga menatap Ku dengan sorot nyalang, tampak jelas ketidak sukaan nya pada Ku.


"Sayang, pekerjaan nya sudah selesai ya," sengaja Aku memanggil Mas Zidan mesra sarta bertingkah manja, dengan suara yang juga Aku keraskan, sambil tanganKu merapikan dasi dan kerah kemejanya. Dugaan Aku benar, wajah Sekretaris itu memerah mungkin Dia menahan amarah nya. Berarti benar Dia menyukai Suamiku?


Mas Zidan mengernyitkan dahi nya, sambil meraba dahi Ku dengan punggung tangan nya.


"Lho, mas ngapain?" tanyaku yang tidak mengerti maksud Mas Zidan melakukan itu.


"Mas kira badan mu panas, karna tidak biasanya kamu memanggil Mas sayang," jawab Mas Zidan sambil tersenyum padaku.


"Iya, badan ku selalu panas jika ada didekat Mas, ayok kita pulang sekarang sayang," lagi aku memanggil Mas Zidan dengan kata sayang sambil memeluk lengan nya dan menyandarkan kepalaku di sana.


Aku tak tau apa kah sekretaris itu cemburu, atau kesal dengan ku. Tapi kulihat dia pergi keluar begitu saja dengan wajah kesal, padahal di lantai masih ada noda hitam bekas kopi. Kurasa aku tak salah, lah ini suamiku, kenapa dia yang marah? kenapa dia cemburu?


"Ayok lah, katanya kamu juga lapar kan, nanti kita makan dulu sebelum pulang," ajak Mas Zidan lalu mulai melangkah. Aku mengikuti langkah Mas Zidan dengan tangan yang masih memeluk lengan nya. Sepertinya Mas Zidan juga tidak keberatan berjalan dengan posisi ini......


Baru saja keluar dari pintu ruang kerja Mas Zidan, aku melihat Sekretaris itu berjalan menghampiri kami.


"Tuan, jam 12:30 kita ada meeting penting dengan Pak Wandi, membahas perencanaan proyek baru," kata si Sekretaris itu yang terus memandang suamiku, Aku bisa lihat tatapan matanya masih sama dengan yang kulihat tadi, pandangan menggoda.


Tapi Mas Zidan tidak memperhatikannya. aku pun semakin bergayut manja di lengan kekar suami ku, memperlihat kan kemesraan ku pada Sekretaris itu.


Kulihat Mas Zidan masih terlihat berfikir sambil memijat dahinya, seperti mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Sayang, seperti nya Mas tidak jadi pulang sekarang," kata Mas Zidan padaku. tapi mata ku menangkap sekretaris nya itu tersenyum seperti sedang mencibir ku.


Sebenarnya bagiku tidak masalah Mas Zidan tidak jadi pulang sekarang. tapi masalah nya saat ini, aku melihat senyum si Sekretaris itu yang seperti ingin menyingkirkan ku dari sini, mungkin secara tak lansung ia ingin menyuruh ku pergi agar bisa berduaan dengan suamiku.


"Oh ya nggak pa-pa Mas, aku temanin ya," balas ku sambil melihat kembali wajah si Sekretaris itu.


"Sebaik nya anda pulang saja nyonya, karna waktu meeting tidak tau kapan selesainya," lah! kok si Sekretaris itu yang menjawab, sangat terkesan sekali dia melarang ku berada di sini.


"Gisel benar sayang, Mas tidak mau kamu lelah nantinya," timpal Mas Zidan yang malah membenarkan ucapan si sekretaris nakal itu.


"Nggak kok Mas, aku malahan capek kalau nggak ada," Kini ku kalung kan kedua tangan ku di leher mas Zidan, dengan jarak wajah yang sangat dekat. Bisa ku lihat dari belakang tubuh Mas Zidan, wajah si sekretaris itu yang semakin merah padam.


"Nyonya, kok ada di sini?" ku palingkan wajah melihat bang Raka yang baru saja datang.


"Iya bang, mau jemput Suami," jawab ku manja. Kini kedua tangan ku kembali memeluk lengan Mas Zidan.


"Bagai mana kalau kita makan siang bareng nyonya," kata bang Raka mengajak kami.


"Raka, apa kau bisa memimpin meeting dengan Pak Wandi nanti?" tanya Mas Zidan pada Bang Raka.


"Bisa Bos," balas Bang Raka.


"Kalau begitu aku pulang sekarang, kau urus semua nya, dan jangan lupa bawakan leptop dan berkas yang ada di mejaku," kemudian Mas Zidan mulai melangkah kan kaki nya, Aku mengikuti nya dengan tangan yang masih merangkul erat lengan Mas Zidan. pasti si Sekretaris itu semakin kesal dengan Ku......


"Mas, tadi Aku ketemu Ibu," ucap Ku yang kini sudah berada di dalam lift.


Ku lihat raut wajah Mas Zidan berubah, seperti tidak menyukai jika Aku bertemu Ibu tadi.


"Mas, Aku kangen Ibu," rengek Ku dengan wajah memunduk, karna Ku takut melihat wajah suami Ku saat ini.


"Sayang, Mas tidak masalah jika kamu bertemu Ibu. Tapi yang Mas cemas kan itu si Herman. Mas takut Dia akan mengambil kesempatan nantinya," kata Mas Zidan sambil memegang kedua bahuku.


"Tapi Mas-," kata-kata Ku lansung di sanggah Mas Zidan.

__ADS_1


"Sudah! Mas tidak mau dengar! untuk saat ini, kamu jangan ber urusan dengan si Herman, atau pun hal yang mendekatkan diri dengan nya," Mas Zidan lalu memalingkan wajah nya, sepertinya Dia marah.


*****


Seperti janji Mas Zidan tadi, sehabis dari kantor kami tidak lansung pulang. Mas Zidan membawaku ke sebuah cafe. Meski di dalam perjalanan tadi Dia duduk di sebelahku. Tapi kami hanya saling diam, aku pun takut mengajak nya ngobrol. lah, wajah nya saja kusut. Bagai mana aku mengajak nya ngobrol? yang ada aku di bentak nya nanti.


Semenjak pertama masuk cafe sampai pesanan makanan kami datang, Mas Zidan masih diam. Aku mencoba menggoda nya dengan cara menyuapi makanan yang ada di piring ku, dan ternyata Dia mau membuka mulutnya meski wajah kesal nya masih terlihat.


"Mas, Sekretaris Mas itu cantik ya?" tanya ku yang ingin tau tanggapan Mas Zidan.


Tapi Mas Zidan Malah mengabaikan pertanyaan ku. Dia sibuk dengan makanan yang ada di piring nya.


"Mas," panggil ku karna tak ada respon darinya.


"Jangan banyak bicara kalau lagi makan!" jawab nya tegas, membuat ku takut, Aku merajuk, makanan di piring hanya ku aduk-aduk saja, dengan wajah menunduk menatap sendok dan garpu.


"Heis, cepat habis kan makanan mu itu," kembali suara tegas nya memerintah kan ku.


"Nggak, Aku nggak mau makan," balas ku yang masih tetap menunduk sambil memainkan sondok dan garpu di atas piring.


"Apa kamu ingin Mas menikahi Gisel dulu, baru kamu mau makan,"


Deg


Beberapa saat tubuh ku kaku. Wajah pun makin ku tekuk kesal, tangan ku kembali mengaduk makanan di dalam piring dengan kasar, hingga terdengar suara sendok dan piring yang beradu.


Setelah itu, aku mendengar suara gesekan kaki kursi bergeser. mungkin Mas Zidan saat ini berdiri, Aku tak melihat nya, karna wajah ku saat ini masih menunduk menatap sendok yang ku mainkan di atas piring.


Tidak berapa lama tiba-tiba pergelangan tangan ku ada yang memegang, ingin merebut sendok yang ada di tanganku. Aku yakin itu Mas Zidan tanpa Aku melihat nya. Tapi, kenapa tangan nya beda?


"Aku nggak mau makan, Mas pergi saja sana dengan Sekretaris Mas itu" ucap ku ketus tanpa melihat siapa orang yang memegang tangan ku.


"Sekretaris siapa?"

__ADS_1


__ADS_2