
Satu jam lebih lamanya, Zidan uring-uringan di atas ranjang, menahan birahi akibat jemari Salsa yang nakal. rasanya saat ini ia ingin menerkam tubuh Salsa yang berbaring di sebalah nya. Namun ia mengurungkannya.
Ia kemudian pergi ke kamar mandi mengguyur tubuh nya dengan air shower yang dingin, sampai suhu di tubuh nya kembali normal.
Malam sudah semakin larut. Salsa yang sudah sempat tertidur kini kembali terjaga karna di serang rasa lapar yang tiba-tiba datang. Ia melihat Zidan yang berbaring di sebalah nya.
"Mas, Mas, Mas." Salsa memanggil-manggil Zidan namun tidak ada jawaban. ia lantas duduk menggeser tubuh nya dengan cara merangkak diatas ranjang, duduk di sebelah Zidan yang sudah tidur. Memang tidak tega rasa nya ia membangun kan suaminya yang terlihat tidur begitu pulas, bahkan ia tidak tau kalau Zidan baru bisa tertidur setelah mandi malam karna ulah nya. Tapi rasa lapar tidak bisa juga ia urungkan sampai pagi hari.
"Mas......, Mas....., Mas.......," Salsa menggoyang-goyangkan bahu Zidan yang tidur memunggunginya.
"Hhm," Zidan menggeliat kan tubuh nya mengahadap pada Salsa namun mata nya masih belum terbuka.
"Mas bangun, aku lapar," Salsa merengek sambil terus menggoyangkan tubuh Zidan.
"Ck, Panggil lah pelayan ke belakang," dengus Zidan yang masih menutup matanya karna mengantuk.
"Tapi aku mau makan bakso Mas," rengek nya yang tidak di respon Zidan.
"Kalau Mas gak mau belikan, aku telpon Mama Maria saja buat membelikannya," Salsa hendak berdiri dari ranjang untuk mengambil ponsel yang ia letak kan di atas meja belajar.
"Eish, tidak usah telepon dia, biar aku suruh Jefri saja yang membelikan." Zidan duduk seraya tangan nya meraih ponsel di nakas.
"Tapi aku gak mau di bungkus, aku mau nya makan di sana,"
"Esh, jangan minta macam-macam Sabila lihat ini sudah jam satu malam," dengus Zidan sembari memperlihatkan jam di layar ponselnya.
Salsa hanya diam sambil memegang perutnya yang rata dengan wajah polos ia memelas seperti minta di kasihani.
Zidan yang melihat nya dengan malas berdiri dari ranjang lalu berjalan kekamar mandi.
"Tadi malam dengan mudah nya dia meninggalkan aku tidur, sekarang dia malah membangunkan aku meminta makanan aneh," gerutu Zidan sambil melangkah ke kamar mandi. Setelah mencuci muka, Zidan keluar dari kamar mandi, berjalan ke lemari mengambil jaket dan memakainya, ia juga mengambil sweater hoodie kuning yang di beli Salsa dulu.
"Pakai ini," Zidan yang sudah berdiri di samping ranjang memberikan sweater itu pada Salsa.
__ADS_1
Dengan penuh semangat Salsa bangkit dari ranjang mengambil sweater di tangan Zidan dan memakainya.
"Asyik, sekarang kita pergi makan bakso," ujarnya sembari menggandeng lengan Zidan melangkah keluar kamar.
Saat Zidan membuka pintu utama mension dan melangkah keluar. Para pengawal yang berjaga yang tadi nya asyik bercanda bermain catur dan ada juga yang bermain domino, Seketika semua berdiri saat melihat Zidan dan Salsa keluar dari dalam mension.
Para penjaga dan pengawal merasa heran bercampur rasa takut, karna tidak pernah menyangka sebelum nya, Zidan akan keluar di jam tersebut. mendapati mereka yang tengah bermain di waktu berjaga.
Biasanya Zidan akan memecat mereka yang lalai saat menjalan kan tugas nya. Tapi tengah malam itu Zidan hanya memanggil Jefri dan menyuruh nya menghidupkan mesin mobil. Setelah itu Zidan dan Salsa masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan para pengawal yang berdiri ketakutan.
"Kita mau kemana tuan?" Jefri bertanya saat mobil yang ia kendari sudah meninggalkan mension.
"Beli bakso bang. Abang tau nggak dimana warung bakso yang enak?" sela Salsa menjawab tanya Jefri.
"Wah nyonya ngidam ya?" Jefri lansung menerka membuat Zidan teringat jika istri nya saat ini sedang hamil.
"Nggak tau bang, rasanya Salsa pengen banget makan bakso yang besar, pakai sambal yang banyak. Uffhh....., membayangkan saja sudah nikmat sekali." ucap nya penuh semangat.
"Wah, itu berarti nyonya benar-benar ngida-,"
***
Mobil yang di kemudikan Jefri sudah sampai di warung bakso yang terkenal dengan kelezatan nya di kota itu. tapi sayang nya warung bakso itu sudah tutup, karna memang di sana hanya buka sampai pukul sebelas malam saja bahkan kadang masih jam sembilan bakso di sana sudah habis karna banyak nya pelanggan yang membeli.
"Iiih, gimana dong mas, warungnya udah tutup." rengek Salsa pada Zidan yang masih duduk di dalam mobil.
"Ya kamu nya sih, minta nya sudah tengah malam," jawaban Zidan yang begitu konyol bukan nya membujuk tapi seakan menyalahkan istrinya.
"Iiih mas. Pokok nya aku nggak mau tau, aku mau makan bakso sekarang!" Salsa yang kesal menggeser duduk nya menjauh dari Zidan.
"Ya sudah! Jeff datangi semua warung bakso yang ada di kota ini siapa tau masih ada yang buka," perintah Zidan pada Jefri.
Jefri melajukan kembali mobil nya, mendatangi beberapa warung bakso yang dia ketahui, tapi sayang nya sudah pada tutup dan yang masih buka tapi bakso mereka sudah habis semua.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu tidak mau yang lain? Mie ayam atau apa lah," tawar Zidan membujuk.
"Nggak. aku mau nya bakso, pokok nya aku mau bakso, titik." balas nya yang tidak mau di tawari apapun.
"Tapi kita cari bakso nya kemana lagi sayang! Ini sudah pukul dua dini hari," ucap Zidan terdengar menyerah.
Salsa tidak menjawab, ia menyandarkan kepalanya kebelakang, matanya pun kini sudah kembali mengantuk.
"Ya, sudah kita cari lagi warung bakso yang masih buka."
"Jalan sekarang Jeff!"
Jefri kembali melajukan mobil nya membelah jalanan untuk mencari warung bakso yang masih buka. Sedangkan Zidan menggeser duduk nya mendekati Salsa yang kepalanya sudah terkulai karna sudah tertidur.
Zidan menyandarkan kepala Salsa yang sudah tertidur di bahunya, sebelah tangan nya menahan kepala Salsa agar tetap bersandar di bahunya.
"Tuan, itu di depan ada warung bakso yang masih buka," ucap Jefri yang sudah memelankan laju mobil nya.
"Ya sudah, kamu berhenti, dan tanyakan apa bakso nya masih ada," ucap Zidan pelan karena tidak ingin Salsa bangun.
"Baik tuan," balas Jefri yang juga memelankan suara nya lalu memarkirkan mobil nya di tepi jalan.
Dengan pelan Jefri keluar dari mobil dan masuk kedalam warung bakso. Tidak lama Jefri kembali lagi berjalan ke mobil.
"Bakso nya masih ada tuan," ucap Jefri setelah membuka pintu mobil dan kembali masuk kedalam untuk memarkirkan mobil nya ke depan halaman warung bakso.
"Sayang, bangun sayang," Zidan mengusap lembut kepala Salsa untuk membangun kan nya.
"Aku ngantuk banget mas," Salsa malah membaringkan kepalanya di kedua paha Zidan.
"Katanya mau makan bakso, ini bakso nya sudah ada," Tangan Zidan masih mengusap lembut kepala Salsa.
"Kita pulang aja mas, aku ngantuk banget," balas Salsa tanpa membuka matanya.
__ADS_1
Zidan membolakan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang di katakan istrinya itu.