
"Mas, kapan kita ketemu ibu?" pertanyaan yang entah sudah berapa kali Zidan dengar sejak tadi pagi dari mulut istrinya.
Zidan memang tidak mengatakan pada istrinya jika ia sudah menyuruh Raka untuk membawa mertuanya hari ini ke mension.
"Mas," rengek nya sambil menggoyang-goyangkan lengan Zidan yang duduk di sofa ruang tengah.
"Hmm, sebentar lagi sayang." jawab Zidan datar tanpa mengalihkan matanya menatap layar ponsel. Seperti sengaja ingin membuat istrinya kesal.
"Iiiih. Tau gitu nggak mau bantuin tadi." sungut nya memalingkan wajah lalu melipat kedua tangan di dada dengan bibir yang meruncing ke depan.
Ya, Tadi pagi Salsa memang sudah membantu menuntaskan hasrat Zidan.
Zidan mengulum senyum, melihat Salsa dari sudut matanya.
"Kebetulan sekali kalian ada di rumah." sapa Maria yang baru saja datang dengan dua orang wanita di belakangnya.
"Mama," Salsa berdiri, berjalan mendekati mertua nya. Lalu mencium punggung tangan nya.
"Sayang, kenalkan ini Mbak Yuni dan Mbak Lia, mereka dari wedding organizer yang akan membantu mama mempersiapkan pernikahan kalian nanti," ujar Maria memperkenalkan dua orang wanita yang berada di belakang nya.
Salsa tersenyum simpul menyiratkan rasa ketidak percayaan dirinya saat melihat dua wanita matang yang terlihat elegan dengan pakaian yang mereka gunakan.
"Mbak Yuni, Mbak Lia, kenalkan si cantik ini adalah menantu saya. Nama nya Salsabila." dengan bangga Maria memperkenalkan menantunya. Sedikit mengembalikan rasa percaya diri Salsa.
Yuni dan Lia berjalan medekati Salsa, lalu mengulurkan tangan untuk saling bersalaman.
Setelah mereka saling berkanalan. Kemudian Maria mempersilahkan Yuni dan Lia duduk di sofa ruang utama. Yuni dan Lia duduk di sebelah sofa yang di duduki Zidan dan Salsa sedang kan Maria duduk sendiri berhadapan dengan Yuni dan Lia.
"Jadi, hari ini Mama sengaja mengajak Mbak Yuni dan Mbak Lia datang kesini untuk mendiskusikan tempat dan konsep pernikahan kalian. Kalian bebas menentukan tempat dan ingin konsep seperti apa." ujar Maria mengutarakan.
Yuni lalu mengeluarkan beberapa koleksi foto konsep pernikahan dengan bermacam-macam tema. Tentunya konsep yang mereka tawarkan adalah konsep pernikahan mewah Karna selama ini client mereka rata-rata semuanya dari kalangan atas. Yuni juga sedikit menjelaskan setiap konsep yang di tawarkan nya.
"Bagaimana sayang? kamu pilih yang mana? yang bergaya tradisional atau modern? atau kamu punya konsep sendiri?" tanya Maria antusias.
Yuni dan Lia memandang Salsa penuh harap.
"Atau nyonya mau konsep seperti dalam Negri dongeng." imbuh Yuni sambil mengeluarkan dokumen foto konsep pernikahan ala kerajaan. Tapi, Salsa masih diam dengan wajah yang tidak begitu bersemangat.
"Sayang, kamu oke?" tanya Maria yang di balas anggukan Kepala oleh Salsa.
"Terserah mama saja, Salsa ikut." jawab nya pasrah. Sejujurnya dia tidak lah mengerti dengan konsep-konsep yang di tawarkan oleh Yuni. Setahu nya pesta pernikahan itu hanya sewa tenda, dan membuat hiburan rabana untuk para tamu undangan, seperti yang sering ia lihat di acara pesta pernikahan tetangganya dulu.
"Lho, tidak bisa begitu sayang. Ini kan pernikahan kamu, harus kamu dan suami mu sendiri yang menentukan." ujar Maria.
"Atau kamu tidak suka dengan semua konsep tadi? Kalau kamu tidak suka nanti mama bisa ganti yang lain," imbuh Maria.
Dasar gadis kampungan. tinggal memilih salah satu saja apa susah sih.
batin Lia menaikan sudut bibirnya.
Salsa lalu menoleh melihat Zidan, yang sejak tadi hanya sibuk dengan ponsel nya.
__ADS_1
"Mas aja deh yang nentuin. Aku nggak ngerti," bisik nya di telinga Zidan.
Zidan menatap nya dengan mata yang menyipit.
"Kamu yakin?" tanya Zidan yang lansung di balas anggukan kepala Salsa.
Zidan berpikir sejenak lalu mengambil salah satu foto konsep pernikahan yang ada diatas meja.
"Aku mau konsep pernikahan yang modern, dan tempatnya itu di Bali," ujar Zidan pada Yuni, namun matanya memandang Salsa.
"Nggak! enggak! aku nggak mau di Bali," tukas Salsa cepat.
"Lah! Kan tadi katanya terserah Mas," balas Zidan.
"Iya, tapi nggak di Bali," ketus Salsa.
"Lalu, kamu maunya di mana Sayang?" tanya Maria menimpali.
"Salsa mau nya di sini aja Ma, dan Salsa juga nggak mau yang modern." pintanya.
"Terus, Kamu mau konsep yang seperti apa?" tanya Zidan.
"Yang seperti itu," Salsa menunjuk salah satu foto yang di keluarkan Yuni. Foto Konsep pernikahan dengan tema ala kerajaan.
Zidan menyunggingkan senyum lalu kembali menatap ponsel.
******
Raka masuk ke dalam mension di ikuti dua orang pelayan di belakang yang menjaga Rita tadi malam.
"Tumben abang kesini?" tanya Salsa yang kebetulan menoleh saat mendengar suara langkah sepatu.
"Ada perlu dengan Bos nyonya." jawab Raka yang kini sudah berdiri di belakang sofa yang di duduki Maria.
"Perlu apa?" suara Salsa sedikit meninggi, manatap Raka tidak suka. Tentu Salsa tidak suka jika kedatangan Raka akan membawa suami nya pergi, karna siang ini Zidan sudah berjanji akan membawanya bertemu dengan Rita.
"Ada urusan penting nyonya," balas Raka. Salsa menatap Zidan dengan bibir yang meruncing kedepan.
"Ke-kenapa kamu melihat Mas seperti itu?" tanya Zidan sidikit gelagapan.
"Mas udah janji kan nanti siang bawa aku ketemu ibu," ucap Salsa mengingatkan.
"Iya, sebentar lagi." balas Zidan datar.
"Sebentar lagi- sebentar lagi terus." sungut Salsa dengan bibir yang semakin maju ke depan.
Zidan melihat Salsa sekilas kemudian berlalu pergi, di ikuti Raka di belakang nya.
"Awas saja kalau sampai Mas pergi," ucap nya mengancam. Namun, Zidan terus saja melangkah
"Kenapa sayang?" timpal Maria yang sejak tadi memperhatikan nya.
__ADS_1
"Tau tu Ma, Mas Zidan tadi udah janji akan bawa Salsa ketemu ibu. Sekarang malah pergi dengan bang Raka." lirinh nya mengadu sambil memainkan jemari nya di tangan.
Maria lalu berpindah duduk di sebelah nya.
"Mungkin memang ada hal penting yang harus di lakukan nya sayang," bujuk Maria mengusap lembut puncak kepalanya
Salsa menyandarkan kepalanya di bahu maria, seperti mendapat kenyamanan saat Maria mengusap kepalanya......
Di luar. Raka membawa Zidan menemui Rita yang masih berada di dalam mobil. Sewaktu kecelakaan kemarin Zidan memang tidak terlalu memperhatikan wajah Rita. Tapi saat melihat Rita hari ini, ia seperti terpana, memperhatikan wajah Rita.
Kenapa wajah nya seperti tak asing bagiku? Apa karna dia ibu nya Sabila?
batinnya dengan terus menatap lekat wajah Rita.
"Bos." tepukan di bahu, membuat Zidan tersentak.
"Saya Zidan Alvero bu, suami nya Salsabila," Zidan lalu meraih tangan mertuanya mencium nya dengan takjim.
Lagi, Rita tak mampu menahan tangis nya. Karna selama ini yang dia dengar dari Herman, Salsa hanya di jadikan istri simpanan oleh lelaki tua.
"Maaf kan ibu." hanya itu yang mampu di ucapkan Rita bahkan suara nya pun bergetar hebat dengan tubuh yang mengejang menahan isak tangis.
"Sudah bu, sekarang ayo kita masuk, Sabila sudah menunggu didalam." Zidan merangkul pundak mertuanya yang masih menangis, Membimbing nya melangkah masuk kedalam hunian mewah nya.
Langkah Maria sedikit ragu memasuki rumah mewah itu. Bayangan perbuatan yang pernah ia lakukan dulu pada Salsa masih teringat jelas di kepalanya. Sungguh! Ia merasa malu untuk bertemu Salsa.
Tidak jauh dari sofa tempat Salsa duduk, Zidan berhenti. Di depan sudah terlihat Salsa yang duduk membelakangi nya, dengan menyandarkan kepala di bahu Maria.
"Sabila, Mas pergi sama Raka sebentar ya" ucap Zidan yang berdiri di belakang nya. Maria tersenyum, setelah menoleh kebelakang, melihat Zidan yang berdiri dengan seorang wanita paruh baya. Sedangkan Salsa masih enggan menoleh, karna kesal Zidan mengingkari janji.
"Nanti sore Mas baw-," ucapan Zidan lansung di potong Salsa.
"Tidak usah! Mas pergi saja lah aku bisa sendiri cari ibu, -" sela Salsa lalu menoleh kebelakang.
Deg!
Salsa lansung berdiri, berlari mendekati Rita. Bahkan, Suara Maria yang menyuruh nya agar berjalan pelan, tidak ia dengarkan.
"Bu," Salsa memeluk tubuh Rita yang sejak tadi sudah menangis. Dan kini semakin terisak.
"Maafkan ibu Nak. Maafkan ibu selama ini Ibu sudah menyakiti mu," ucap Rita di sela isak tangis nya. Bahkan bicara pun ia terbata karna isak tangis nya yang kian menjadi.
"Bu," Salsa melepaskan pelukan nya, menyeka air mata Rita dangan tangan nya.
"Bu, tolong jangan menangis lagi," pinta Salsa lalu kembali memeluk tubuh Rita.
******
Brengsek kau Rita! Jadi kau ingin menikmati sendiri harta menantu kau itu. Kau lihat! kau lihat! apa yang akan ku lakukan nanti. Tunggu kau.
Dengan dada naik turun Herman bicara sendiri sambil terus berjalan memegang perut nya yang terasa semakin lapar...........
__ADS_1