Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Ngga usah pedulikan aku.


__ADS_3

Disekolah Salsa.


Siang itu terlihat dua orang pria dengan menggunakan seragam coklat muda, berjalan tergesa-gesa di koridor sekolah. Tidak jauh di depan mereka, berdiri Raka yang masih memperhatikan kamera CCTV yang menempel di depan kantor ruang guru, yang menyorot ke arah lapangan bola basket. Sedangkan Mira sudah berbalik arah saat melihat dua orang pria yang berjalan ke arah nya.


"Tuan, maafkan atas kelalaian kami," terdengar suara pria yang berdiri di depan Raka dengan raut muka cemas.


"Tidak usah berbasa-basi, pak----  Dayat," balas Raka yang mata nya melihat tag name di dada kiri pria yang bicara padanya.


"Maafkan jika kami lalai menjaga anak didik kami tuan," Musbar yang berdiri di samping dayat menyela ucapan mereka.


"Simpan kata maaf mu itu Pak kepala sekolah. Karna tuan Zidan tidak butuh itu," balas Raka.


"Sungguh tuan, kami juga tidak menyangka kejadian itu akan terjadi? Dan kami juga tidak tau jika family tuan Zidan bersekolah di sini," Sesal Musbar dengan raut wajah cemas.


Raka melangkah maju lebih mendekat lagi pada dua orang yang berdiri di depan nya. lalu membisikan sesuatu tepat di telinga Musbar. setelah itu ia kembali melangkah mundur.


"Sekarang, jangan membuang-buang waktu ku disini, cepat bawa aku ke ruang monitor CCTV," pinta Raka tegas.


*


Dirumah Sakit.


Dokter Erwin berjalan mendekati Salsa yang berbaring di ranjang pasien.


"Bagai mana keadaan mu Nona?" sapa ramah sang dokter dengan senyuman nya.


Wajah Salsa yang masih terlihat pucat, membalas senyuman dokter Erwin yang sudah berdiri di sebelahnya. Membuat Zidan yang berdiri di belakang dokter Erwin mengepalkan tangannya kuat.


"Apa yang anda rasakan saat ini Nona?" tanya dokter Erwin dengan lembut.


"Kepala saya terasa pusing dokter, dan rasanya punggung dan kaki saya terasa sakit sekali," jawab Salsa mengutarakan apa yang ia rasakan.


"Apa Nona juga merasakan mual? Seperti mau muntah." tanya sang dokter dengan wajah ramah nya yang di balas anggukan oleh Salsa.


Setelah menanyakan beberapa hal, dokter Erwin lalu memeriksa tekanan darah dan denyut nadi Salsa.


**


Disekolah Salsa.


Raka kini sudah berada di sebuah ruangan. Ia Duduk di depan layar komputer dengan tangan kanan yang memegang mouse dan tangan kiri berada di keyboard. Matanya fokus pada layar monitor memperbesar salah satu rekaman video CCTV, yang mengarah ke arah lapangan basket. Dari kamera itu ia bisa melihat koridor sekolah serta toilet tempat Salsa di temukan pingsan tadi, susuai dengan harapannya.

__ADS_1


Raka menyetel ulang waktu di rekaman video CCTV itu, dari awal jam masuk sekolah. Ia sedikit mempercepat rekaman video, dan kembali memperlambat nya, saat melihat seorang siswi yang berjalan di koridor menuju kantor ruangan guru.


Raka menekan tombol pause dan memperbesar gambar siswi yang berjalan itu. Dugaan nya benar siswi itu adalah Salsa. Lalu ia kembali mempercepat rekaman video CCTV itu, dan kembali memperlambat nya saat Salsa yang kembali berjalan di koridor yang sama menuju kelas nya.


Raka juga melihat seorang siswi yang mengikutinya dari belakang dan saat Salsa hendak berbelok ke arah kelasnya, siswi yang di belakang nya tadi menarik tangan Salsa berjalan ke arah toilet.


"Siapa gadis ini?" tanya Raka pada Musbar yang sejak tadi berdiri di samping nya.


Tubuh kepala sekolah itu seketika menegang, saat melihat rekaman CCTV itu.


"Siapa dia?" ulang Raka bertanya.


"Maaf tuan, tolong jangan perpanjang lagi masalah ini, saya mohon tuan. Saya yang akan bertanggung jawab" balas Musbar.


Raka lalu mencopy rekaman video itu dan memindahkan ke ponsel milik nya.


"Sekarang kau pilih? Aku yang akan mencari nya sendiri dan menyerah kan gadis itu pada tuan Zidan, atau kau yang akan membawa gadis itu kesini sekarang."


"Mungkin hukuman dari ku tidak seberat dari hukuman tuan Zidan," ujar Raka memberi penawaran.


"Tolong maaf kan dia tuan, dia itu putri saya satu-satu nya," ucap kepala sekolah itu memohon sembari bersimpuh di lantai.


Raka menatap tajam Dayat, lalu melambaikan tangan nya mengisyaratkan agar dia pergi.


"Dia juga istri satu-satu nya tuan Zidan,"


***


Dirumah sakit.


Setelah dokter Erwin selesai melakukan pemeriksaan pada Salsa, ia lantas izin pamit. Zidan mengantarkan nya sampai ke luar pintu kamar Salsa di rawat.


"Bagaimana? apa dia baik-baik saja?" tanya Zidan dengan raut wajah cemas. Saat sudah berada di luar ruangan.


"Maaf tuan, untuk saat ini saya belum bisa menyimpulkan nya. Tapi saya akan meminta dokter kandungan untuk memastikan." jawab dokter Erwin.


"Dokter kandungan? Maksud kau apa?" tanya Zidan dengan dahi yang berkerut.


"Menurut saya gadis itu sedang hamil tuan," jawab sang dokter.


"Hamil?" bola mata Zidan seketika membola sempurna, dengan mulut yang seakan ingin tertawa lepas.

__ADS_1


"Iya tuan. Mungkin gadis ini juga akan shock nantinya, jika tau ia hamil di luar nikah," ujar dokter Erwin.


"Dia itu istriku!" sentak Zidan yang kini melayangkan tatapan tajamnya pada dokter Erwin.


Tubuh dokter Erwin beberapa saat membeku dengan mulut yang menganga seperti tidak percaya apa yang di katakan Zidan.


"Ma-maaf kan saya tuan, sungguh saya tidak tau," sesal dokter Erwin.


"Suruh dokter kandungan memeriksa nya sekarang," ucap Zidan.


"Baik tuan," dokter Erwin lalu melangkah pergi.


"Tunggu....!!!"


Seketika dokter Erwin menghentikan langkah nya.


"Aku ingin yang memeriksa nya dokter wanita. Dan satu lagi, jangan katakan pada istriku kalau dia sedang hamil,"


"Baik tuan," balas dokter Erwin seraya kembali melangkah pergi.


Ha ha ha ha ha,. Sebentar lagi aku menjadi ayah,. sorak Zidan di dalam hati sembari kembali masuk ke dalam ruang inap Salsa.


"Mas dari mana saja sih? Kalau nggak mau nungguin aku lebih baik mas pergi saja," Ucap Salsa dengan bola mata yang berkaca-kaca.


Sejenak Zidan terdiam. Melihat bulir air yang sudah keluar dari mata indah sang istri.


"Ta-ta-tadi aku habis mengantar kan dokter Erwin keluar." gugup Zidan sembari menunjuk pintu. Ia terus melangkah mendekati Salsa yang air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.


"Kamu kenapa Menangis?" tanya Zidan yang terus melangkah mendekati istrinya.


"Nggak usah pedulikan aku hiks, hiks, Mas pergi aja sana," balas Salsa yang semakin sesugukan menangis.


Zidan mengehentikan langkah nya, yang belum sampai di ranjang pasien, karna tangis Salsa yang terdengar semakin keras.


"Kamu kenapa sayang?" ucap Zidan bertanya dengan suara lembutnya.


"Mas jangan mendekat kesini," ucap Salsa sembari menutup hidungnya saat melihat Zidan yang kembali melangkah.


"Oke, oke, aku berdiri disini saja."


"Jangan disana! mundur lagi," Perintah Salsa. Zidan hanya bisa menurut, ia kembali melangkah mundur hingga kaki nya terhalang oleh sofa yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


"Mas duduk di sana saja, jangan kemana-mana,"


__ADS_2