
Setelah mendapat telepon dari Zidan, firasat buruk tiba-tiba muncul di pikiran Salsa. Ia mencoba menelpon Raka untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Halo bang, abang dimana sekarang? Mana mas?" tanya nya saat sambungan telepon terhubung.
"Saya sudah menuju kesekolah nyonya sekarang. Ada apa nyonya?" balas Raka dari saberang telepon.
"Terus Mas kemana? Abang jangan bohong," suara Salsa mulai serak nada nya juga terdengar khawatir.
Raka mulai bingung harus menjawab apa. karna Zidan tadi memang menelpon menyuruh nya mengantarkan makanan ke sekolah Salsa.
"Bang, hallo bang, jawablah mana?" desak nya karna Raka hanya diam saja.
"I-iya nyonya. Nyonya tenang lah bos tidak apa-apa, a-ada meeting penting yang harus bos hadiri, mangkanya bos tidak jadi datang kesekolah," jawab Raka sedikit terbata. Ya dia harus berbohong. Karna di telpon tadi, Zidan memang mengatakan pada nya kalau ia harus mengantarkan seorang ibu-ibu kerumah sakit, karna saat perjalanan ke sekolah Salsa, mobil nya tidak sengaja menabrak seorang ibu-ibu yang melintas di jalan.
"Abang nggak bohong kan?" tanya Salsa yang tidak yakin.
"Tidak nyonya, tuan benar-benar meeting." jawab Raka.
"Ya sudah kalau begitu, abang nggak usah kesini, biar Salsa makan di kantin sekolah saja." balas nya.
"Baiklah nyonya,"
Sambungan telepon pun berakhir.
Pikiran Salsa sedikit tenang saat Raka mengatakan kalau Zidan sedang meeting, mangkanya ia tidak jadi datang ke sekolah........
Didalam mobil yang di kemudikan Jefri, Zidan duduk di kabin belakang bersama seorang wanita paruh baya yang tadi secara tidak sengaja di tabrak Jefri. Beruntung saat itu mobil nya melaju pelan, jadi hanya sedikit menyenggol tubuh wanita paruh baya itu.
"Kenapa kau sangat ceroboh sekali mengemudi Jeff!" bentak Zidan.
"Maaf tuan, saya tadi tidak melihat, wanita itu tiba-tiba saja melintas," jawab Jefri yang sesekali memperhatikan wanita yang di tabrak nya itu dari kaca spion.
"Maaf, maaf. Gara-gara kau aku tidak jadi makan siang dengan istriku," dengus Zidan kesal.
"Maaf tuan," Sesal Jefri sambil melihat Zidan dari kaca spion.
"Berentilah mengucapkan kata maaf padaku Jeff!"
"Setelah sampai di rumah sakit nanti, kau urus wanita ini, aku akan kembali ke kantor," balas Zidan dingin.
"Baik tuan," balas Jefri.
__ADS_1
"Kau tunggu di rumah sakit, nanti ku suruh Raka menjemput," titah Zidan.
"Baik tuan," balas Jefri...........
Di sekolah. Salsa berjalan menuju kantin sekolah yang letaknya lumayan jauh dari kelasnya. Langkah nya terus mengayun di Koridor sekolah, berpapasan dengan para siswa-siswi lain yang selalu ter senyum ramah padanya. tidak seperti biasanya teman-teman sekolah nya itu akan tersenyum ramah padanya. Karna dari dulu jangan kan tersenyum, satu orang pun tidak ada yang mau berteman dengan nya. Kecuali Santi.
"Salsa!"
Rendi yang baru keluar dari perpustakaan berlari mendekati.
Salsa semakin mempercepat langkah nya saat melihat Rendi yang semakin mendekat.
"Salsa, tunggu!"
Salsa terpaksa menghentikan langkah nya, karna Rendi kini sudah berdiri di depannya, merentangkan kedua tangan menghalangi jalan nya.
"Maaf Rend, aku mau ke kantin." pinta Salsa dengan wajah menunduk seperti ketakutan.
"Ok, ok. Aku juga nggak melarang kamu kok," ujar Rendi lalu melangkah kesamping memberikan Salsa jalan.
Salsa kemudian berjalan melewati Rendi dengan wajah yang masih menunduk.
Salsa menghentikan langkahnya, menghela nafas panjang.
"Maaf Rend, aku tidak bisa. Aku sudah mempunyai suami, dan tolong berhenti lah untuk mengganggu ku, karna suamiku pasti tidak suka melihat nya." jelas Salsa dengan menekan kan setiap katanya.
Rendi mengepalkan tangan nya, melihat Salsa yang sudah melangkah meninggalkan nya. ia tidak percaya bahwa, Salsa akan mengatakan itu padanya.
"Salsa! Kamu menikah dengan nya karna terpaksa kan! Kamu juga tidak mencintai dia kan!" ucap Rendi yang kembali menghentikan langkah Salsa.
"Kamu salah Rend! Aku sangat mencintai Suamiku." balas Salsa dengan penuh keyakinan.........
******
Jefri yang di tinggal sendiri di rumah sakit. Menunggu wanita paruh baya yang di tabrak nya itu sesuai perintah Zidan. Beruntung tidak ada luka yang serius di alami wanita paruh baya itu. Ia pinsan karna kelelahan serta kaget waktu melihat mobil yang sudah berada di depannya.
Jefri terus memperhatikan wajah wanita paruh baya yang masih terbaring di brankar rumah sakit itu. Semenjak di dalam mobil tadi ia juga terus mengingat-ingat, karna wajah wanita paruh baya itu, rasa-rasa nya ia pernah melihat. hanya saja ia lupa.
Astagah! ibu ini kan?
Jefri teringat jika ia pernah melihat wanita paruh baya itu sawaktu ia menemani Raka memberikan uang mahar pada keluarga Salsa.......
__ADS_1
Herman yang perut nya sudah keroncongan, melangkah gontai mencari Rita. Setelah membangun kan Rita tadi pagi hingga siang ini ia masih belum melihat Rita.
Kemana lah si Rita ini, apa dia tidak tau kalau aku lapar.
gumam Herman yang terus melangkah, memperhatikan area sekitar. Ia mendekati pedagang asongan yang menjual dagangan di daerah itu, pedagang itu juga tinggal di kamp para gelandangan.
"Woi tong, kau lihat bini Aku tak?" tanya nya pada pedagang asongan yang masih berumur belasan tahun itu.
"Pak dee nggak tau ya, kalau Buk de Rita tadi di tabrak mobil disana," jawab pedagang asongan itu sambil tangan nya menunjuk tempat.
"Kau jangan bercanda tong!" bentak Herman tak percaya.
"Benar pak dee, aku nggak bohong. Kalau nggak percaya tanyain aja tuh sama ibu-ibu yang jualan disana," ujar pedagang asongan itu.
"Awas kau kalau bohong!" ancam Herman berlalu pergi. dengan tergesa-gesa Herman belangkah mendekati wanita setengah abad yang berjualan Es kelapa muda di trotoar jalan.
"Eh, numpang nanya. Apa tadi pagi di sana ada kecelakaan?" tanya Herman pada wanita itu.
Namun, wanita itu hanya diam tak menghiraukan keberadaan Herman di sana.
"Woi budeg! kau tak dengar aku ngomong ya?" bentak Herman memaki.
"Eh, kau kalau mau bertanya itu yang sopan lah!" bentak wanita itu tak mau kalah sambil berkacak pinggang, membuat nyali Herman menciut.
"I-iya maaf," gugup Herman ketakutan saat melihat para pedagang lain juga berdatangan mendekat.
"Kau mau nanya apa?" dengus wanita yang sudah berumur setengah abad itu.
"I-Itu. apa tadi pagi disana ada kecelakaan?" tanya Herman terbata sambil menunjuk ke arah sebrang jalan.
"Iya," jawab Wanita itu singkat.
"Te-terus sekarang kemana dia pergi?" tanya Herman lagi.
"Di bawa sama mobil yang menabrak nya," jawab wanita itu yang masih emosi.
"Kemana?" lagi Herman bertanya.
"Ya, kerumah sakit lah, kalau tidak cari sana ke pemakaman umum," jawab wanita itu judes.
Herman pun lalu meninggal kan tempat itu.
__ADS_1