
"Lho, kita kemana Mas?" tanya Salsa heran, soalnya arah mobil sudah berlainan arah.
Zidan melayangkan tatapan horor nya. membuat nyali Salsa menciut tak ingin bertanya lagi. Ia lalu memeluk lengan Zidan serta menyandarkan kepala nya di sana, ia juga mengusap-usap kan pipi nya di lengan kekar itu.
Zidan hanya mengulum senyum melihat tingkah istrinya itu. Rencananya untuk meminta maaf pun ia abaikan, karna sudah di dahului Salsa. Namun, Ia terus berusaha bersikap sedingin mungkin, ingin melihat seberapa jauh langkah istrinya meminta maaf.
Mobil kini sudah memasuki pelataran sebuah Mall. Salsa mendongak, melihat wajah Zidan yang menatap lurus kedepan.
"Semua orang juga tau kalau suami mu ini tampan. Jadi tidak perlu kamu melihat seperti itu." ucap Zidan memuji diri dangan nada yang masih terdengar dingin.
Salsa menaikan sudut bibir nya keatas lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.
Sejak kapan dia pandai memuji diri sendiri.
Batin nya.
*****
Di dalam Mall. Salsa merangkul erat lengan Zidan. Jujur saat ini ia tidak percaya diri karna masih menggunakan seragam sekolah.
Seakan mengerti, Zidan lalu mengajak nya masuk ke dalam sebuah toko pakaian ber merk. Mata Salsa lansung menangkap pakaian yang terpajang di patung pajangan. Salsa lalu meminta karyawan toko untuk mengambilkan pakaian yang sama dengan yang di pajangkan di patung tersebut. Setelah itu ia masuk ke dalam ruang ganti.
Kira-kira Mas bakalan suka nggak ya? Kalau aku menggunakan pakaian ini.
batin nya sambil mematut diri di cermin.
Rok panjang berwarna coklat susu, dipadukan dengan baju kaos lengan panjang putih serta jilbab segi empat pink baby, sudah terpasang di tubuh nya dengan sempurna.
Mas!" Salsa memanggil Zidan setelah keluar dari ruang ganti. berdiri tepat di depan Zidan yang memunggunginya.
Zidan terpana setelah membalikkan badan. Mata nya tak berkedip memandang Salsa yang berdiri di depannya saat ini.
"Mas!" lagi ia memanggil Zidan, membuat Zidan tersentak. Lalu, dengan cepat Zidan mengalihkan pandangan nya kearah lain.
"Jelek ya Mas?" tanya nya yang tak percaya diri.
"Hmm," Zidan menoleh kearah nya sekilas.
"Mas nggak suka ya? Ya udah aku ganti yang lain aja." lirih nya yang tak percaya diri.
"Sudah, pakai itu saja." ucap Zidan dingin menutupi rasa kagum nya.
"Aku ganti saja lah." balas Salsa kembali melangkah masuk ke dalam ruang ganti.
Dengan cepat Zidan memegang tangan nya, membuat langkah Salsa terhenti.
"Kamu cantik," ucap Zidan mengakui dengan nada yang terdengar dingin.
"Benaran?" tanya Salsa seakan tak percaya.
Zidan mengangguk pelan.
"Mas suka?" tanya Salsa lagi yang kembali di balas anggukan oleh Zidan.
"Kalau begitu aku mau pakai hijap aja lah, biar Mas nggak cemburu lagi," ucap nya spontan.
"Apa hubungan nya dengan kamu berpakaian seperti ini?" tanya Zidan dengan kedua alis yang bertaut.
"Ya, kan aku sudah tutup aurat. dan aurat ku hanya Mas lah laki-laki yang bisa melihatnya. Jadi, tidak ada alasan lagi buat Mas cemburu." jawab nya sambil menarik tangan Zidan menuju kasir...
Setelah keluar dari toko pakaian, mereka melangkah mengitari Mall dengan saling mengenggam jemari tangan
"Mas, kok tumben ngajak aku kesini?" pertanyaan yang sejak tadi ingin ia utarakan.
"Kenapa? kamu tidak suka?" jawab Zidan dingin.
Mendengar jawaban Zidan, Salsa memajukan sudut bibirnya kedepan sambil menggeleng pelan. Sedikit rasa kecil hati pun hinggap di hatinya. Bagaimana tidak? dari tadi Zidan selalu memberikan respon yang tidak baik padanya.
"Ha, kenapa diam?" tanya Zidan menghentikan langkah.
"Aku lapar," balas Salsa singkat.
"Ya sudah kita pergi makan sekarang." ujar Zidan kembali melangkah.
"Tapi Mas, aku mau nya makan nasi padang, tidak mau makanan di sini," balas nya menghentikan langkah Zidan.
Heais. Dia ini, apa dia tidak tau kalau aku mengajak nya kesini untuk shoping.
"Ya sudah, ayo lah." ucap Zidan dingin lalu melangkah tanpa melepaskan jemarinya yang mengenggam jemari Salsa.
Kini mereka sudah tiba di rumah makan padang, lokasi nya tidak terlalu jauh dari Mall yang mereka kunjungi tadi.
Setelah masuk dan duduk di dalam. Seorang pelayan rumah makan padang datang menghampiri mereka.
"Nio pasan apo Uda, Uni?" tanya pelayan rumah makan padang dengan bahasa daerah.
"Aku mau rendang," jawab Salsa cepat.
"Oke. uni nyo jo randang, kalau udanyo?" tanya pelayan itu sambil menulis pesanan di kertas.
__ADS_1
"Mas pesan apa?" tanya Salsa melihat Zidan yang masih bingung.
"Samakan saja dengan yang kamu pesan." Jawab Zidan.
"Bilang sama Uda nya lah, jangan sama aku." balas Salsa.
"Jadi randang duo yo ni! Kalau minum nyo apo ni?" tanya pelayan sambil jarinya menulis di kertas kecil.
"Air putih aja." jawab Salsa.
"Kalau uda nyo, Nio mamasan minum ndak?" tanya pelayan melihat Zidan yang masih bingung.
"Mas, di tanyain tu, mau pesan minuman nggak?" ujar Salsa.
"Kamu pesan apa?" tanya Zidan.
"Aku nggak pesan minuman, cuma air putih aja." jawab Salsa.
"Oo, ya sudah. Mas juga sama," balas Zidan.
"Ni. iko laki uni?" tanya pelayan itu.
"Iya uda," jawab Salsa tersenyum kikuk.
"Hei! Apa yang kau bicarakan?" tanya Zidan pada pelayan itu dengan tatapan tajam.
"Yo sudah, ambo permisi dulu yo uni, tunggu sabanta lai pasanan uni tibo. Laki uni pambangih, takuik ambonyo," ujar pelayan itu berlalu pergi.
Salsa sedikit terkekeh sambil menutup mulut nya dengan telapak tangan.
"Kenapa kamu tertawa? Apa yang dia katakan?" tanya Zidan ketus.
"Dia bilang Mas itu pemarah, dia takut," ujar Salsa yang masih tersenyum.
"Kamu mengerti bahasa mereka?" tanya Zidan.
Salsa mengangguk.
"Aku ngerti sih, cuman nggak bisa ngucapin nya." jawab Salsa.
Tidak lama pesanan mereka pun datang. seorang pelayan membawa makanan dengan cara menyusun piring di satu tangan nya. Kemudian menghidang kan di meja mereka. Salsa lansung mencuci tangan sebelum menyantap makanan nya.
"Mas kenapa?" tanya Salsa saat melihat wajah Zidan yang memerah, dengan keringat yang mengucur deras di wajah nya. Zidan meneguk air minum menggaruk kepala nya yang sudah basah oleh keringat.
Salsa gegas mengambil tisu mengeringkan keringat di wajah Zidan.
Zidan segera berdiri dari duduk nya, setelah itu ia berlari ke belakang setelah menanyakan letak kamar mandi pada pelayan.
Salsa kembali duduk dan menghabiskan sisa makanan di piring nya.
"Mas yakin nggak pa-pa?" Salsa mengernyit kan dahinya setelah Zidan keluar dari kamar mandi.
"Mas hanya tidak biasa makan pedas," jawab nya memberi alasan.
"Lah, ini nggak terlalu pedas kok, lagian makanan Mas baru sedikit habis," balas Salsa merasa heran.
"Ya buat mu itu tidak pedas. sudah lah, habiskan saja cepat makanan mu itu!" ketus Zidan kembali meneguk air minum.
"Sini rendang Mas, buat aku saja. Sayang sekali rendang seenak ini nggak di habisin," Salsa lalu mengambil piring yang berisi rendang itu.
"Haeis. Dasar rakus." dengus Zidan.
"Eeh. Dari pada Mas, Lemah! Masa makan rendang saja udah mandi keringat. Nih liat aku." cibir Salsa lalu memasukkan potongan daging itu ke mulutnya.
*****
Sore harinya mereka sudah kembali kemension. Tadi nya Salsa ingin kembali lagi ke Mall untuk membeli seragam baru agar bisa menggunakan hijab. Tapi keadaan Zidan yang tidak baik-baik saja setelah memakan sedikit rendang. Membuat Salsa mengurungkan niatnya untuk kembali ke Mall. Ia hanya mengirim pesan ke Raka meminta tolong membelikan seragam itu sepulang Raka dari kantor.
Ya, Salsa memang sudah memutus kan akan belajar menggunakan hijab. Di sekolah nya pun tidak melarang, karna ada juga sebagian siswa yang menggunakan nya.
"Kamu cantik sekali Nak." ujar Rita menatap nya haru. Hati Rita sedikit tercubit ketika melihat Salsa menggunakan hijab. Rasanya ia pun harus belajar menggunakannya.
"Ibu bisa aja," balas Salsa lalu mencium punggung tangan Rita.
"Beneran, kalau tidak percaya tanyakan saja sama suami mu. Iya kan Nak Zi-. Lho? suami mu kenapa Nak?" tanya Rita khawatir saat memperhatikan wajah Zidan yang terlihat sedikit pucat.
"Saya tidak apa-apa Bu," balas Zidan lalu meraih tangan Rita dan mencium nya.
"Salsa, capet bawa suami mu masuk kamar, Ibu akan buat kan Jahe hangat untuk nya," ujar Rita berlalu pergi....
*****
Malam harinya pintu kamar di ketuk dari luar, Salsa yang sedang belajar segera berdiri untuk membuka kan pintu. Tidak lama ia kembali lagi membawa kantong paper bag.
"Apa itu?" tanya Zidan yang berbaring di ranjang dengan tubuh yang masih lemas. Ya, sejak makan rendang tadi siang sampai sekarang tubuh nya tidak baik-baik saja. Bahkan selera makan nya pun hilang. Air rebusan jahe yang di buat mertuanya pun tidak ia minum.
"Ini seragam sekolah yang akan aku pakai besok." Salsa mengeluarkan isi di dalam paper bag itu dan merentangkan rok panjang itu ke pinggangnya.
"Kamu yakin akan menggunakan pakaian itu ke sekolah?" tanya Zidan.
__ADS_1
"Yakin. boleh kan Mas?" jawab Salsa meminta izin.
"Itu terserah kamu." balas Zidan.
"Nggak bisa gitu dong Mas. Mas itu harus tegas. kalau boleh ya bilang boleh, kalau nggak boleh ya bilang nggak boleh." cerocos nya.
Zidan berpikir sejenak sebelum menjawab. Jujur dalam hati ia memang sangat menyukai istrinya menggunakan hijab, meskipun status agama islam yang ia anut hanya sebagai formalitas di catatan negara saja.
"Ya, menurut Mas lebih baik kamu menjadi diri sendiri saja. Mas tidak menuntut kamu harus menggunakan pakaian itu, sebaliknya juga tidak melarang kamu menggunakan nya. Jadi kembali ke kamu, jika kamu merasa nyaman gunakanlah tapi kalau tidak ya tinggalkan," ujar Zidan memberikan pendapat nya.
****
Pagi harinya. Salsa sudah rapi dengan seragam sekolah nya. Kemeja putih lengan panjang di padukan rok abu-abu se mata kaki serta hijab putih sudah terpasang di tubuh nya dengan sempurna.
Sama hal nya dengan Zidan yang sudah rapi dengan stelan jas kantornya. Namun, wajah nya masih terlihat pucat bahkan tadi pagi ia sempat muntah-muntah di kamar mandi. Semakin membuat wajahnya terlihat pucat pagi ini.
"Mas, yakin mau berangkat ke kantor?" tanya Salsa yang terlihat cemas.
"Haeis. Kamu kira suami mu ini lemah," balas Zidan memaksa diri.
"Bukan begitu Mas. Aku hanya khawatir, takut Mas kenapa-napa." ujar Salsa.
"Sudah! ayo keluar, sarapan dulu," Zidan melangkah keluar kamar di ikuti Salsa di belakang nya.
"Pagi Ma," sapa Salsa melihat Maria menuruni tangga.
"Pagi juga sayang. Wah! kamu cantik sekali sayang dengan pakaian ini." puji Maria memandangnya dengan rasa kagum.
Salsa hanya diam tersipu malu, entah kenapa jika mertuanya itu yang memuji seakan pujian itu benar adanya.
"Ayo sayang kita sarapan." Maria merangkul pundak Salsa berjalan ke ruang makan.
"Lah Zi mau kemana?" tanya Maria melihat Zidan yang berlalu meninggalkan meja makan.
"Mau ke kamar sebentar, ada yang tertinggal. Sarapan saja lah dulu." jawab Zidan tanpa menghentikan langkahnya.
"Sayang, suami mu kenapa?" Maria menatap Salsa seperti meminta penjelasan.
"Nggak tau juga Ma, seperti nya Mas sakit." jawab Salsa.
"Coba kamu lihat ke dalam," ujar Maria merasa khawatir.
"Baik Ma," dengan cepat Salsa melangkah menuju kamar....
"Tuh kan! aku bilang juga apa." Salsa gegas melangkah masuk kedalam kamar mandi saat mendengar suara Zidan yang muntah.
Benar Saja Zidan berdiri di depan wetafel mengeluarkan paksa isi perutnya. Tidak ada yang keluar selain cairan bening saja. Ya, itu karna sejak tadi malam Zidan tidak menyentuh makanan sama sekali. Salsa membantu mengusap leher dan punggung Zidan agar ia lebih mudah mengeluarkan nya.
"Kamu pergilah sarapan, mas hanya masuk angin saja tidak perlu khawatir." ucap Zidan memaksa bicara.
"Mana ponsel Mas? biar aku telponkan dokter Erwin." ujar Salsa.
"Ambil dalam kantong," lirih nya.
Setelah menelpon dokter Erwin, Salsa membantu Zidan berbaring di ranjang. Ya, tubuh nya saat ini sangat lemas, mungkin karna banyak nya tenaga yang ia habiskan untuk memaksa keluar cairan dari dalam tubuh nya.
Kemudian Salsa pergi kemeja makan. Jam sudah menunjukkan pukul 07.10 hanya tersisa dua puluh menit lagi, sebelum jam masuk sekolah nya.
"Ma, tolong jagain Mas Zidan ya? Tadi Salsa udah telpon dokter untuk datang kesini, mungkin sebentar lagi akan datang." ujar Salsa lalu mengambil segelas susu diatas meja dan meminumnya.
"Sayang, jangan buru-buru sarapan lah dulu," ucap Maria.
"Salsa sudah telat Ma," tolak Salsa yang lansung meraih tangan Maria dan mencium nya.
"Tidak apa kamu telat, asal kamu dan calon cucu mama sehat. Cepat sarapan dulu," perintah Maria yang tidak bisa di bantah nya.
Terpaksa Salsa menyantap sarapan nya dengan cepat, sambil terus memperhatikan jam yang tergantung di dinding.
"Sayang, pelan-pelan makannya." ucap Maria yang diabaikan oleh Salsa. Tidak butuh waktu lama, kurang dari lima menit sepiring sarapan yang telah tersaji sudah habis oleh nya.
Setelah pamit, Salsa bergegas melangkah keluar.
"Bang Jeff ngebut ya, sepuluh menit harus sampai di sekolah." ucap nya pada Jefri yang berdiri membukakan pintu untuk nya.
"Siap Nyonya," balas Jefri.
"Loh, kok Mas ada di sini?" Salsa terperanjat saat melihat Zidan sudah duduk di dalam mobil.
"Heais. Jangan banyak tanya bisa?" ketus Zidan.
"Tapi, Mas kan lagi sakit, ngapain memaksa kekantor sih," cerocos Salsa yang masih berdiri di luar.
"Apa kamu mau telat?" dengus Zidan.
Mendengar itu. Salsa pun segera masuk ke dalam mobil. Karna memang waktunya tidak banyak lagi untuk sampai di sekolah.
Mobil yang di kemudikan Jefri, melaju dengan kecepatan tinggi. menyalip kendaraan-kendaraan lain dengan gesit. Membuat Zidan semakin merasakan mual. Beruntung di dalam mobil ada kantong kresek. Jadi mereka tidak perlu meminta Jefri untuk berhenti. Lagi, hanya cairan bening yang di keluarkan Zidan dari dalam tubuh nya. Salsa ikut membantu mengusap tengkuk leher Zidan.
Tiba di sekolah bell masuk pun berbunyi, setelah mencium punggung tangan Zidan, Salsa tidak lansung keluar dari mobil, karna melihat wajah Zidan yang semakin pucat.
__ADS_1