
Hari yang cukup cerah tidak berpengaruh apa-apa bagi Salsa di sepanjang siang itu. Wajah nya terus saja cemberut, duduk di sofa ruang utama sambil memainkan ponsel. Ingin sekali ia menelpon Zidan, namun ia urung kan karna masih kesal dengan Zidan yang tak mengajak nya pergi ke kantor tadi pagi.
"Nak, ayo makan siang dulu," suara Rita membuat nya sedikit tersentak. Pasal nya wanita paruh baya itu tiba-tiba saja sudah berdiri dekat.
"Eh, Ibu. " Salsa tersenyum kecil melihat Rita yang berdiri memegang sandaran sofa.
"Ayo makan siang dulu Nak, " ulang Rita.
"Nanti saja lah Bu, Salsa belum lapar, " balas nya tidak semangat.
Rita lalu melangkah dan duduk di sebalah putri nya.
"Ada apa Nak? Apa ada masalah dangan suami mu? " tanya Rita sambil membelai rambut putri nya.
Salsa menggeleng cepat dengan bibir yang mengerucut.
"Terus kenapa kamu tidak bersemangat begini? " tangan Rita masih membelai rambut putri nya.
"Nggak ada Bu, Ibu makan lah dulu, Salsa mau nunggu Mas Zidan pulang," ucap nya berusaha tersenyum.
Rita menghela nafas panjang kemudian berlalu meninggalkan putri nya.
Beberapa menit kemudian, Salsa mendengar suara mobil diluar. Ia lalu berdiri untuk memastikan. Dan benar saja, ia melihat mobil yang di kemudikan Jefri sudah terparkir di halaman mension. Dengan cepat ia bersembunyi di balik sofa saat melihat Zidan turun dari mobil.
Dari balik sofa, Salsa melihat Zidan berjalan masuk ke dalam kamar nya. Tidak lama ia melihat Zidan keluar kamar dengan wajah cemas, melangkah ke arah ruang makan memanggil nama nya.
Mendengar suara teriakan Zidan. Rita yang berada di belakang gegas melangkah mendekatinya.
"Bu, Sabila mana? " tanya Zidan pada Rita.
"Bukan nya ada di luar, " Rita melangkah melewati Zidan menuju ruang utama.
"Tu Salsa? " ucap Rita menunjuk Salsa yang duduk disofa sambil memainkan ponsel nya.
Zidan mengusap kasar wajahnya. Lalu melangkah cepat mendekati Salsa yang duduk di sofa.
"Sayang, apa kamu tidak dengar Mas tadi memanggilmu?" keluh Zidan yang sudah duduk di sebelah Salsa. Suara nya terdengar seperti tercekat di tenggorokan.
"Dengar kok," jawab Salsa santai, mata dan tangan nya masih sibuk dengan benda pipih yang ada di tangan.
"Kamu dengar! Tapi Kenapa kamu diam saja," suara Zidan terdengar parau sambil memegang pipi Salsa dengan kedua tangan nya.
"Mas! lepas iiih. " sungut Salsa menepis kan tangan Zidan yang memegang pipi nya.
Sejenak Zidan berpikir dalam diam. Ia merasa heran dengan sikap istri nya saat ini.
Heis. Pasti merajuk gara-gara tidak di ajak ke kantor tadi pagi.
desah nya.
"Sayang, kamu pasti belum makan kan. Ayo kita makan siang dulu, " ajak Zidan lalu berdiri dari duduk nya. Namun Salsa masih diam duduk di sofa dengan bibir mengerucut.
"Oke. Mas minta maaf, besok-besok Mas tidak akan meninggalkan kamu lagi," ucap nya berusaha membujuk.
Salsa menengadah melihat wajah Zidan yang berdiri di depannya.
"Mas nggak lagi ngebujuk aku kan. " sungut Salsa.
__ADS_1
"Tidak sayang, besok-besok Mas akan selalu membawa mu ke kantor, "
"Janji! " Salsa lalu berdiri mengacungkan jari kelingking nya.
"Iya sayang, Mas janji, " balas Zidan menatap jari kelingking Salsa dengan mata yang menyipit.
"Mana kelingking Mas?"
Zidan mengangkat pelan jari kelingking nya lalu Salsa menautkan dengan jari kelingking nya sendiri.
"Dah, ayo, " ucap Salsa lalu melangkah ke ruang makan sambil memeluk lengan Zidan.
****
Malam harinya.
Menjelang tidur, Salsa membuka aplikasi media sosial nya, sekedar melihat-lihat postingan yang lewat di beranda. Alis nya bertaut saat melihat tanda merah di daftar permintaan teman. Sebelum mengkonfirmasi, Salsa terlebih dulu melihat profile dan foto orang yang mengirim nya permintaan perteman itu. "Diana. Siapa dia? Kok dia minta pertemanan dengan ku. Apa dia mengenal ku? " gumamnya dalam hati.
Setelah melihat nama dan profile yang bernama Diana itu. Salsa menekan tombol konfirmasi lalu memperhatikan foto profile wanita yang baru saja berteman dengan nya di media sosial itu.
"Mas, cantik nggak? " tanya nya menyodorkan ponsel pada Zidan.
Zidan melihat sekilas lalu mengalihkan pandangan ke ponsel milik nya.
"Cantik nggak?" tanya Salsa yang ingin mendengar pendapat Zidan.
"Biasa saja sayang, bagi Mas yang paling cantik itu kamu, " balas Zidan datar tanpa melihat wajah Salsa yang merona mendengar ucapan suaminya.
Ping!
[Hai, kenalkan nama ku Diana, nama kamu siapa. Boleh kah kita menjadi teman] pesan dari Diana.
Setelah membaca pesan itu, Salsa pun mengetik balasan.
[Ya, tentu boleh. Nama ku Salsabila, senang berteman dengan mu Diana]
Tidak lama balasan pesan dari Diana kembali masuk.
[Terimakasih ya Salsa, sudah mau berteman dengan ku. Aku baru saja datang dari kampung, sekarang hanya tinggal sendiri di jakarta. Senang banget deh, akhirnya mempunyai teman di sini!]
Jemari Salsa kembali mengetik balasan pesan dari Diana.
[Sama. Aku juga senang berteman dengan kamu Diana]
Tidak lama setelah pesan terkirim Salsa memperhatikan titik tiga di bawah pesan nya.
[Owya Salsa, kapan-kapan aku boleh nggak main ke rumah mu?] pesan Diana.
Salsa menanyakan terlebih dulu pada Zidan sebelum membalas pesan dari Diana.
"Mas, boleh nggak kalau teman aku main kesini,"
"Kalau perempuan boleh saja sayang," jawab Zidan yang terlihat sibuk dengan ponsel nya.
"Makasih Mas, "
Kemudian Salsa mengetik balasan pesan untuk Diana.
__ADS_1
[Boleh, datang saja. Aku senang banget jika kamu mau datang kesini]
[Kalau begitu aku boleh minta nomor ponsel kamu nggak Salsa? Biar nanti kalau aku mau kesana aku bisa memberi tahu kan nya padamu terlebih dulu] Pesan Diana.
Tanpa ragu Salsa mengetik kan nomor ponsel nya membalas pesan Diana. Begitu pun Diana mengirim kan nomor ponselnya, yang lansung di save Salsa di ponsel nya.
"Sudah malam ayo tidur Mas, " ajak Salsa setelah selesai berbalas pesan dengan teman baru nya.
Zidan menyeringai memandang istrinya yang sudah berbaring di ranjang. Segera ia letakkan ponsel di nakas. Kemudian ikut merebah kan tubuh di ranjang memeluk Salsa.
"Tidur Mas! "
"Satu ronde dulu sayang, " bisik Zidan.
***
Keesokan paginya. Salsa sudah rapi dengan pakaian nya. Karna sesuai janji, Zidan akan selalu membawanya berangkat ke kantor Namun, sebelum berangkat, Tiba-tiba saja ponsel nya berdering dan melihat nama Diana yang tertera di layar ponsel. setelah menggeser panah hijau Salsa mendekatkan ponsel itu ketelinganya.
"Halo, " sapa Salsa dari sambungan telepon.
"Ini Salsa kan? " tanya Diana.
Sejenak Salsa diam mendengar suara Diana di ponsel nya.
"Sepertinya aku kenal suara itu, " gumam nya mencoba mengingat.
"Halo, Halo, " ulang Diana di sambungan telepon membuat Salsa sedikit tersentak.
"I-iya, " jawab Salsa.
"Salsa, ini aku Diana! " ucap Diana menyebut dirinya.
"Iya Diana. Ada apa? " tanya Salsa.
"Salsa, hari ini kamu di rumah kan? Aku main kerumah mu hari ini ya," balas Diana.
"Hm, hm-" desah Salsa ragu.
"Boleh ya Salsa, " potong Diana cepat.
"I-iya, boleh, " balas Salsa terpaksa mengiya kan.
"Oke Salsa, tunggu aku ya, " balas Diana bersemangat kemudian memutuskan sambungan telepon.
Setelah mendapatkan telepon dari Diana. Salsa pun mengatakan pada Zidan jika hari ini ia tidak jadi menemankan nya ke kantor.
.
.
"Sayang, kamu yakin tidak mau ikut?" tanya Zidan sebelum masuk ke dalam mobil.
"Yakin Mas. temanku mau datang nanti, masa aku pergi, " balas nya.
"Ya sudah, Mas pergi dulu. Ingat jangan pergi ke mana-mana, " pesan Zidan lalu masuk ke dalam mobil setelah Salsa mencium tangan nya.
****
__ADS_1