
Raka mengambil ponsel nya dari dalam saku celana, kemudian menelpon Zidan. Namun, nomor ponsel Zidan tidak lah aktif. Lalu Raka keluar dari ruangan itu.
Di luar Raka bertemu dengan seorang wanita yang di tangan nya membawa beberapa file hendak masuk ke ruangan Zidan.
"Apa kamu tadi melihat bos keluar dari ruangan nya?" tanya Raka pada wanita itu.
"Oh iya, 1 jam yang lalu tuan memang sudah keluar dari ruangan nya, wajah nya begitu kusut, jadi saya tidak berani untuk bertanya," jawab wanita itu.
Raka kembali meraih ponsel dalam kantong celananya, lalau melakukan panggilan telepon ke nomor Salsa.
"Halo Nyonya, apa bos sudah pulang?" tanya Raka saat sambungan teleponnya terhubung.
"Belum bang, om belum pulang, kenapa bang?" jawab Salsa yang juga ikut bertanya.
"Oh, tidak ada apa-apa, tolong hubungi saya jika bos sudah berada disana, nyonya,"
Tuuuuuuuuuuuu!
Belum Salsa menjawab, sambungan telepon di putuskan Raka begitu saja.
***
Malam hari di mension Zidan.
Setelah makan malam, Salsa kembali ke kamar Zidan untuk mengambil ponsel nya. Ia mencari nama Zidan dan menelpon nya, namun nomor ponsel suaminya masih belum aktif.
Dari tadi sore. Setelah menerima telepon dari Raka, yang menanyakan apakah Zidan sudah pulang apa belum. Sejak itu Salsa mencoba menghubungi nomor ponsel Zidan, tetapi tidak aktif.
Kini, perasaan Salsa mulai tidak enak. Selama dirinya tinggal di mension, Zidan tidaklah pernah pulang malam apalagi sampai selarut ini.
Perasaan cemas dan takut, itu semakin ia rasakan ketika melihat jam di ponsel nya saat itu sudah menunjukan angka 10 malam.
Salsa duduk di tepi ranjang, mengambil boneka panda yang pernah di berikan Zidan dulu.
"Om, dimana sekarang," lirih nya seraya memeluk erat boneka panda itu.. Ada rasa rindu yang begitu hebat di hatinya.
Salsa kembali melihat jam di layar ponsel nya yang sudah lewat pukul sepuluh malam, yang membuat rasa cemas dan rindu nya akan sosok suami nya malam ini semakin dalam.
Kemudian Salaa mencari nama Raka di ponsel nya lalu ia menekan tombol panggil.
__ADS_1
"Abang, Om kemana? Kenapa dia belum pulang juga." tanya Salsa saat sambungan telepon nya mulai terhubung.
"Maaf kan saya nyonya, saya masih belum mengetahui keberadaan bos sekarang ini," balas Raka di seberang telepon.
"Kenapa abang tidak tau? Bukan nya Abang selalu bersama Om," Kini tanpa Salsa sadari matanya sudah mengeluarkan bulir bening.
"Nyonya tenanglah, bos pasti akan pulang malam ini," balas Raka meyakin kan.
Belum selesai Salsa bertanya Sambungan telepon itu kemudian terputus begitu saja.
Salsa lalu berdiri, memeluk boneka pandanya lagi. Kemudian melangkah meninggalkan kamar Zidan. Ia berjalan menuruni anak tangga sampai ke ruang utama mension. Salsa menghempaskan tubuh nya di sofa, menyandarkan punggung dan kepala nya di sandaran.
Bayangan-bayangan Zidan datang melintas di pikirannya, membuat perasaan rindu nya semakin mendalam, perasaan takut bersamaan datang menghantui hati nya saat ini. Dirinya takut jika suatu hari ia akan berpisan dengan zidan.
"Om apa yang terjadi? Ya Tuhan kenapa perasaan ku seperti ini." Salsa bergumam dengan mata yang berkaca-kaca.
Salsa mengusap dahinya, saat bayangan Zidan melintas mencium nya setelah melafaskan ijab qabul pernikahan dulu.
"Om, hikzZ, hikz, om kemana sebenarnya, kenapa belum pulang juga, hiks, hiks, hiks," lirih nya sembari memeluk boneka panda nya erat.
***
Pintu pagar mension itu terbuka, Sebuah mobil masuk ke dalam halaman mension. Raka keluar dari balik pintu kemudi, kemudian membuka pintu belakang.
Raka yang di bantu jefri, lalu meraih tubuh zidan yang sudah tidak sadarkan diri di kabin belakang mobil. Raka meletak kan sebelah tangan zidan di bahunya, dan tangan sebelah nya lagi di bahu jefri.
Pintu utama mension telah di bukakan oleh penjaga, Raka dan jefri berjalan memapah tubuh zidan masuk ke dalam. Dari arah kanan, Raka melihat Salsa yang sudah tertidur pulas di sofa ruang utama mension itu.
"Nyonya, nyonya bangun lah," Terdengar suara Raka memanggil Salsa yang tertidur.
Salsa bangun dan melihat ke arah sumber suara yang memanggil nya, terlihat oleh nya zidan yang berdiri tidak sadarkan diri, yang badannya di topang Raka dan jefri.
"Om, om kanapa?" Salsa lansung berlari mendekati mereka dan menggantikan jefri yang tadi membantu zidan.
"Sebaiknya kita bawa bos ke kamar sekarang nyonya," Ucap Raka.
"Iya bang," balas Salsa yang akan mulai melangkah, tapi tenaga nya tidak kuat untuk berjalan, karna menopang tubuh zidan yang lebih besar dari nya.
"Sebaik nya biarkanlah jefri yang membantu nyonya," ujar Raka.
__ADS_1
"Baiklah bang," balas Salsa.
Dengan di bantu Raka dan jefri kini zidan sudah berada di dalam kamar nya.
"Kami permisi keluar nyonya, kalau ada apa-apa nyonya telpon saja saya, saya ada di bawah," ucap Raka sembari berjalan keluar dari kamar, setelah membantu membaringkan tubuh zidan di ranjang kamarnya.
"Iya bang, terimakasih ya," balas Salsa. setalah Raka dan Jefri keluar Salsa menutup pintu kamar.
Salsa mendekati zidan, lalu membuka sepatu dan kaos kaki nya. Salsa menatap lekat wajah suami tampan nya itu sembari tersenyum. Salsa memberanikan diri membelai wajah zidan.
"Ternyata kulit wajah nya lebih lembut dari kulit wajah ku," gumam Salsa sembari tersenyum.
Salsa merangkak naik ke atas ranjang, membaringkan tubuh nya di samping zidan. Posisi tidur zidan yang telentang sedang kan Salsa berbaring miring ke arah nya.
Satu tangan Salsa bermain di wajah Zidan, mengusap pipi yang menurutnya begitu lembut.
Tubuh Zidan tiba-tiba mengejang, seperti sedang mengalami mimpi buruk, terlihat juga bulir-bulir keringat keluar dari pori-pori kulitnya.
Salsa kemudian duduk di samping tubuh Zidan yang tertidur, mencoba membangun kannya.
"Om, Km," Salsa menggoyangkan tubuh Zidan.
Namun Zidan tidak juga tersadar, keringat di tubuh nya semakin bercucuran keluar.
Salsa yang khawatir lalu memberanikan dirinya membuka kemeja putih yang menempel di tubuh atas Zidan.
"Maaf ya om," gumamnya sembari melepas satu persatu kancing kemeja Zidan.
Setelah semua kancing kemeja itu terbuka, kini Salsa kesulitan untuk melepas kan nya dari tubuh Zidan, karna posisi tidurnya yang terlentang Salsa harus mengangkat sedikit punggung belakang zidan.
Setelah melakukan usaha yang cukup keras akhirnya kemeja itu terlepas dari tubuh Zidan.
Salsa menutup matanya, saat melihat begitu jelas tubuh atas Zidan yang telanjang. Perut rata kotak-kotak itu kini terpampang tepat di depan matanya. Perlahan jari-jari nya ia renggang kan dari mata.
Telapak tangan yang masih berada di mata, tapi dari sela-sela jari mata Salsa mengintip.
Salsa menelan salivanya kasar, ini memang bukan pertama kali baginya melihat bagian tubuh atas zidan tanpa busana. Tapi kali ini pemandangan itu begitu sempurna terpampang jelas di matanya.
Perut kotak-kotak dengan dada bidan yang yang naik turun, di sertai rambut-rambut halus yang tumbuh di tengah-tengah dadanya sampai ke pusar membuat tubuh Salsa panas dingin.
__ADS_1
"Haiss, kenapa dengan tubuh ku ini," gumam nya yang mulai resah.