Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Solusi sahabat


__ADS_3

Salsa memanyunkan bibir nya dengan wajah yang menunduk. Sesekali ia melihat Zidan dengan menaikan bola matanya.


"Duh malu nya aku, kenapa aku bisa mengatakan hal itu tadi," batin Salsa bicara sendiri.


"Om, saya sudah selesai, saya mau ke kamar," ucap Salsa seraya bangkit dari duduk nya.


Namun Zidan tidak menjawab nya.


Sungguh, Salsa merasa malu sekali. batin nya terus merutuk, kenapa bisa ia mengucapkan kata itu? Langkah kaki nya terasa sangat berat saat menapaki tangga mension.


"Pastinya si om akan memberikan bunga itu untuk pacar nya si Niken itulah, hufff, harus nya aku sadar diri aku ini siapa," gumam nya sembari berjalan menaiki anak tangga.


Di dalam kamar Salsa masih memikirkan kata-kata nya tadi, ia merasa malu dengan zidan, juga sedih, dan kecewa.


"Kenapa aku seperti ini? Kenapa aku semakin merasa takut jika om akan meninggalkan aku nanti?" gumam nya bicara sendiri di depan cermin.


Tanpa ia sadari mata nya sudah berkaca-kaca, jujur ia belum bisa menerima jika harus berpisah dengan zidan, sosok laki-laki yang selalu ada saat ia membutuhkan, sosok laki-laki yang selalu menjaganya.


"Hufffg, Apa aku ceritakan saja semua ini pada santi, siapa tau dia bisa memberikan aku solusi," Gumam nya.


Salsa lalu meraih ponsel yang ia letak kan di meja rias itu.


" Heaiss, Tapi aku malu lah, menceritakan semua ini pada santi. Bagaimana jika dia marah? Huffff, tapi aku harus bercerita dengan siapa lagi? Aku tidak punya teman lain selain dia, Cuma dia sahabat dan teman aku satu-satu nya. ya! lebih baik aku ceritakan saja ini pada santi," gumam Salsa yang merasa ragu.


Setelah meyakin kan diri nya, akhirnya selsa menelpon sahabat nya itu.


"Hallo, ada Sa?" sapa santi, saat sambungan telepon nya mulai terhubung.


"Kamu di mana sekarang san?" tanya Salsa dengan suara serak nya.


"Kamu kenapa Sa? Kenapa suara mu seperti itu? apa yang terjadi? apa om mu itu berbuat kurang ajar pada mu?" jawab santi, dengan rentetan pertanyaan.


"Aku gak apa-apa san," Balas Salsa dengan mata yang sudah berkaca-kaca, rasa nya ia ingin sekali memeluk sahabat nya itu, meluahkan semua yang ia rasakan saat ini.


"Jangan bohong sama aku Sa, aku mengenal kamu bukan baru ini," ujar santi.


Salsa menghela nafas, berusaha menenangkan diri nya.


"Halo Sa, halo Sa, katakan apa yang terjadi?apa kamu baik-baik saja? kamu di mana sekarang? sore ini aku sudah di rumah, share lock aja lokasi nya nanti aku jemput." panik santi karna Salsa hanya diam saja.


"San, hiks, hiks," lirih Salsa yang tidak mampu lagi menahan tangis nya.


"Kamu kenapa Sa, Katakan apa yang terjadi, jangan buat aku cemas seperti ini," desak santi.


"San, sebenarnya nya aku sudah menikah dangan om itu," ujar Salsa mulai bercerita.


"Apa. kamu sudah nikah?" Keterlaluan kamu Sa, apa kamu tidak menganggap aku ini sahabat mu? Kenapa kamu tidak memberi tahu kan ini pada ku," kesal santi.


"Maaf San, tapi semua ini mendesak San," lirih Salsa.


"Baiklah, kali ini aku maaf kan, tapi lain kali jika kamu menyembunyikan sesuatu lagi dari aku, aku tidak akan mau lagi berteman denganmu. paham!" ucap santi.

__ADS_1


"Terus apa masalah mu sekarang? apa dia menyakitimu?" imbuh santi bertanya.


"Nggak, dia baik," jawab Salsa.


"Terus apa masalah mu, bagus dong kalau dia baik," balas santi.


"Tapi dia sudah punya pacar," lirih Salsa.


"Pacar? maksud kamu dia punya pacar?"  tanya santi.


"Iya," jawab Salsa.


"Apa kamu sudah pernah, bertemu dengan pacar nya itu?" tanya santi lagi.


"Nggak," jawab Salsa.


"Kalau laki mu itu gimana? Apa dia sering bertemu dengan pacar nya itu?"


"Aku gak tau San," jawab Salsa.


"Hmm, kalau menurut mu, laki mu itu masih sayang gak sama pacar nya?" tanya santi lagi.


"Aku juga gak tau San," jawab Salsa.


"Kalau kamu sendiri gimana? Sayang gak sama suami mu?"


Salsa tidak menjawab, karna ia belum tau bagaimana perasaannya saat ini, yang ia rasa hanyalah perasaan takut, takut kehilangan sosok laki-laki yang selalu menjaga nya itu.


"Jawab woy, malah diam," kesal santi yang tidak sabar.


"Aku gak tau San," jawab Salsa.


"Aku, aku, aku cuma takut kalau nanti dia ninggalin aku San," ujar Salsa.


"Ya elah, kalau begitu kamu tuh sudah sayang sama dia," ucap santi.


"Engga lah," elak Salsa.


"Ya udah kalau kamu gak sayang, ya biarin saja dia kembali dengan pacar nya, gampang kan! Kan kamu juga gak sayang sama dia," Ujar santi menjelaskan.


"Ish, percuma aku cerita sama kamu," gerutu Salsa.


"Baiklah, aku akan bantu kamu," balas santi.


"Benarkah? Bagaimana caranya," tanya Salsa.


"Yang pertama, kamu itu harus bisa bersaing dengan pacar laki mu itu," balas Santi.


"Maksud kamu bersaing gimana?" tanya Salsa yang tidak tau maksud sahabatnya itu.


"Begini dengar kan baik-baik ya. Yang pertama, kamu itu harus bisa membuat suami yang kamu sayangi itu jatuh cinta dengan mu," ujar santi menjelaskan.

__ADS_1


"Gimana caranya?" tanya Salsa, yang mulai tertarik dengan solusi yang diberikan santi.


"Ya, kamu itu harus dandan, biar laki mu itu betah di rumah, dan bisa melupakan pacar nya itu, lama-lama dia pasti jatuh cinta dengan mu," terang santi.


"Ishh. dandan? Aku mana bisa dandan," balas Salsa. Ya selama ini Salsa memang tidak pernah menggunakan apapun jenis kosmetik. Kecuali bedak tabur bayi, cuma itu bedak yang ia gunakan sehari-hari.


"Gampang, kamu serahkan sama ahlinya, nanti aku ajarkan kamu menggunakannya." ucap Santi menyumbangkan dirinya.


"Sa, udah dulu ya, nanti sore aku sudah sampai di rumah, nanti aku telepon lagi." imbuh santi yang ingin mengakhiri sambungan telepon nya.


"Ya," balas Salsa singkat.


"Oh-, ya Sa, aku ucapin selamat atas pernikahan mu, jadilah istri yang penurut sama laki mu, biar gak kena azab kamu nanti, he, he, he, Dah ya bey,"


Tuuuuuuuuuuuut!


Santi lalu memutuskan sambungan telepon nya.


Salsa meletakkan kembali ponsel nya di atas meja. Kemudian ia mengambil sisir yang terletak di meja itu.


"Apa benar yang di katakan santi tadi? Masa aku sayang sama dia sih? Kan aku cuma takut kehilangan dia saja. Tapi om itu memang ganteng sih, baik? Kaya nya enggak deh, yang ada galak," gumam salsa bicara dengan pantulan dirinya di cermin.


Salsa menyisir rambut nya yang sedikit bergelombang sembari tersenyum membayangkan zidan.


Tok!


Tok!


Tok!


Suara ketukan pintu dari luar kamar membuat Salsa tersentak, bergegas ia meletakkan kan sisir nya, dan berjalan membuka kan pintu itu.


Ceklek!


Pintu terbuka terlihat Marni yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Nyonya, di bawah ada orang yang ingin bertemu," ucap Marni.


"Siapa bi?" tanya Salsa dengan dahi yang berkerut.


"Saya tidak tau nyonya," balas Marni.


"Tapi siapa bi? Salsa gak punya teman, masa ada orang yang nyariin Salsa," ucap Salsa bertanya.


"Sebaiknya nyonya lihat sendiri saja," balas Marni.


Salsa tampak berpikir. Siapa orang yang mencarinya itu.


"Saya permisi dulu nyonya," ucap Marni sembari membalik kan badan nya hendak pergi.


"BI, om ada di bawah gak?" tanya Salsa yang menghentikan langkah Marni.

__ADS_1


"Tuan tidak ada di bawah nyonya," jawab Marni.


"Ya sudah terimkasih ya bi, sebentar lagi Salsa akan turun." ujar Salsa sembari tersenyum.


__ADS_2