Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Perkara suapan


__ADS_3

Marni dan dua orang pelayan datang ke kamar zidan dengan membawa makan malam untuk tuan nya. Setelah menyusun makanan di atas meja. Marni dan rekannya segera kembali ke bawah karna tatapan mata tuannya membuat tubuh Marni dan rekannya gemetar ketakutan.


Zidan yang masih berbaring di ranjang belum juga bisa duduk. Padahal sudah berkali-kali Salsa mencoba membantu nya untuk duduk namun selalu gagal.


Zidan yang saat ini, jika di depan Salsa sudah seperti seorang bayi yang tidak berdaya. Yang tidak bisa melakukan apa-apa.


"Mau kemana kamu?" Tanya zidan di saat melihat Salsa yang berjalan mendekati pintu kamarnya.


"Saya mau ke kamar saya, mau bereskan buku buat sekolah besok," jawab Salsa yang berdiri membelakangi zidan.


"Pergi lah, biarkan saja saya kelaparan malam ini," ucap zidan dengan memalingkan wajah pasrah nya ke samping, seperti seseorang yang meminta di kasihani.


Mendengar suara pasrah Zidan yang seperti seorang laki-laki yang tidak berdaya, membuat Salsa mengurung kan niat nya untuk pergi.


Salsa berjalan perlahan mendekati meja yang sudah tersusuh makanan yang di bawa Marni tadi. Salsa mengambil satu piring, kemudian menyendok nasi beserta lauknya.


"Apa om tidak bisa duduk dulu," tanya Salsa yang sudah berdiri di samping ranjang.


"A-, apa kamu kira saya pura-pura," kesal zidan yang sudah membalikkan wajahnya menatap Salsa.


Salsa hanya menggeleng kan kepalanya, dengan wajah yang sudah menunduk.


"Cepat lah! letak kan piring nya itu dulu, bantu saya untuk bangun," Ucap zidan ketus.


Salsa lalu meletak kan piring itu di atas meja dan kembali berdiri di samping ranjang.


"Angkat di ketiak saya ini," ketus zidan yang menatap Salsa dari sudut matanya.


Salsa menurut, ke dua tangan nya ia selip kan di kedua ketiak zidan, lalu mengangkat nya.


Zidan membantu menaikan badan nya dengan menahan kan tangan nya di kasur. Dalam posisi setengah duduk, zidan memandangi wajah cantik Salsa yang tanpa polesan bedak apa pun, dan Juga bola Mata hitam yang indah, di tambah bulu mata lentik yang berbaris rapi di atasnya.


Lama zidan terpesona melihat semua itu.


"Om, om, om geser ke belakang duduk nya biar bisa bersandar," ucap Salsa yang tangan nya masih memegang ketiak zidan. ucapan Salsa itu juga membuat zidan tersadar dari lamunannya. Kini posisi zidan telah duduk sempurna di tengah ranjang, dengan kaki yang selonjoran ke depan.


"Om bisa nggak badan nya geser ke balakang, biar om bisa bersandar," Imbuh Salsa yang di balas anggukan kecil Zidan.


Perlahan zidan menggeser duduk nya ke belakang dengan pelan, zidan menahan tangan nya di kasur kemudian menggeser tubuh nya ke belakang.


Salsa mengambil kembali piring yang tadi ia letak di meja, lalu memberikannya pada zidan yang sudah duduk bersandar di ranjang. tapi piring itu hanya di lihat saja oleh zidan.

__ADS_1


"Tangan saya sakit," lirih zidan pada Salsa dengan menatap piring yang di pegang Salsa.


"Lalu saya mesti gimana om?" tanya Salsa yang.


"Ya suap kan lah, apa kamu ingin saya mati kelaparan," ketus nya.


Salsa sedikit membola kan matanya, menelan saliva yang rasa nya tercekat di tenggorokan.


"Hais, kenapa dia memintaku menyuapi nya? Apa tangannya benar benar sakit?" batin salsa bertanya.


"Kenapa kamu hanya diam saja? Cepat suapkan, saya lapar," imbuh zidan yang melihat Salsa hanya diam.


Salsa kemudian memainkan sendok yang ada di piring itu, dengan tangan yang gemetar ia mengarahkan sendok itu ke mulut zidan. Zidan menangkap tangan Salsa yang gemetar itu sebelum memasukkan sendok itu ke mulut nya.


"Auowhc," ringis zidan memegang pipinya setelah sendok itu berhasil masuk ke mulutnya.


"O-, om kenapa?" panik Salsa gugup. yang melihat zidan meringis seperti itu.


"Gigi saya, ngilu terkena sendok," ucap nya yang meringis.


"Kamu cuci tangan dulu sana, suapkan saya pakai tangan mu saja." ketus zidan yang masih memegang pipinya.


"Apa kamu akan membiar kan saya mati kelaparan," ketus zidan mengancam sembari menatap Salsa dari sudut matanya yang membuat Salsa pasrah. Salsa lalu meletakkan piring itu di atas meja, dengan malas ia berjalan ke kamar mandi.


Zidan menoleh, melihat Salsa yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Ia pun segera bangkit berjalan cepat meraih satu kursi di depan m eja kerja nya, kemudian ia letak kan di samping ranjang nya itu.


Dengan cepat ia duduk kembali di ranjang, dengan posisi seperti semula.


Salsa yang telah selesai mencuci tangan nya, kembali melangkah mendakati meja mengambil piring tadi, lalu berjalan kembali mendekati zidan yang duduk di ranjang.


Sedangkan Wajah zidan kini menoleh ke arah lain, dengan mata yang ia pejamkan.


"Kok ada kursi di sini?"  tanya Salsa dalam hati. saat melihat ada kursi di samping ranjang itu.


"Om, om," Salsa memanggil zidan, tapi mata nya tidak lepas dari kursi itu.


"Huuumh, apa," balas zidan datar.


"Om, siapa yang meletakan kursi ini?" tanya Salsa yang masih menatap lekat kursi itu.


"Hais, mana saya tau," ucap zidan.

__ADS_1


"Kenapa kursi ini bisa ada di sini?" tanya Salsa lagi yang kini menatap zidan dengan curiga.


"Heiss," apa kamu kira saya yang membawa kursi itu." Ketus zidan kasar yang merasa tatapan Salsa seolah menuduh nya.


"Coba kamu lihat saya, untuk bangun saja tidak bisa," lirih zidan sembari menatap salsa seperti seorang yang tidak berdaya.


Dahi Salsa semakin berkerut memikirkan kursi itu.


"Cepat lah, saya lapar," Imbuh zidan yang bermaksud untuk mengalihkan kecurigaan Salsa.


Salsa kemudian berjalan mendekati zidan, lalu ia mulai memainkan sendok itu di atas piring yang ia pegang.


"Jangan pakai sendok, gigi saya ngilu," ucap zidan saat mendengar suara sendok dan piring yang saling beradu.


"Cerewet sekali dia ini," ucap Salsa dalam hati.


Salsa yang mulai kesal, mengaduk kasar makanan itu dengan tangan nya, lalu menyuapkan nya ke mulut zidan dengan suapan yang besar, sampai mulut zidan tidak mampu menampungnya.


"Aeir,,. Aeire, aeireee," ucap zidan yang tidak jelas karna dalam mulut nya masih banyak makanan. Tapi tangannya menunjuk air minum yang terletak di atas meja.


Tanpa rasa bersalah Salsa mengambil air minum itu dan memberikan nya pada zidan.


Dengan cepat kedua tangan zidan meraih gelas itu, lalu meminumnya separoh.


"Apa kamu sudah siap jadi janda," Ucap zidan kesal setelah meminum air dalam gelas itu.


"Maksud om apa!" balas Salsa dengan emosi nya. entah bagai mana penyakit serangan jantung mendadak, dan penyakit asma stadium akut nya seketika itu lenyap mendengarkan ucapan zidan tadi.


Kini zidan yang terdiam mendengar suara salsa, dengan wajah nya yang memerah serta cemas nya.


"Apa maksud om tadi?" tanya Salsa lagi setengah teriak dan mata yang sudah mulai berembun.


"Ya ka-kamu ingin saya cepat mati kan, agar kamu bisa bebas. iya kan!" jawab zidan yang tidak ingin terlihat cemas.


Salsa kemudian meletak kan piring yang di pegang nya. Lalu berjalan membuka pintu kemudian menutup nya kembali setelah berada di luar.


"Dia kenapa? Apa, apa aku salah bicara tadi, ah,,. siallllll! gagal sudah kesempatan ku untuk membawanya tidur di kamar ini, sialllll! Siallll!"  Ucap zidan merutuki diri.


Salsa yang kini telah berada di kamar nya. Matanya menatap langit-langit kamar.


"kenapa aku tadi marah ya? nanti dia akan menceraikan aku juga? Lalu kenapa tadi aku marah! Haisss malu nya aku,"  ucap salsa pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2