
"Mas lihat apa sih?" tanya Salsa yang sejak tadi memparhatikan Zidan, karna suaminya yang terlihat fokus menatap keluar dari balik kaca hingga kepalanya menoleh kebelakang.
"Ti-dak ada sayang, mas hanya melihat pohon saja," Zidan berkilah sambil meraih pipi Salsa yang juga hendak menoleh kebelakang.
Tentu Zidan tidak ingin memberitahukan jika ia melihat Herman. Apalagi melihat kondisi istri nya saat ini. Tapi, wajah wanita yang di seret Herman tadi belum bisa ia lupakan begitu saja. Meskipun hanya melihat sekilas, rasa nya wajah itu tidak asing baginya.
****
Setelah sampai di mension Salsa lansung mengajak Zidan masuk ke dalam kamar, sedang kan Maria dan Raka masih berada di ruang utama.
"Mas, boleh nggak kalau mama tinggal di sini saja, biar aku ada teman," Salsa mencoba membujuk dengan bergelayut manja di lengan kiri Zidan.
"Mas tidak suka keramaian sayang," Kilah Zidan menolak permintaan Salsa.
"Kalau begitu, mas izinkan aku besok sekolah!" Salsa menghentak kan kaki nya ke depan setelah melepaskan lengan Zidan yang di peluk nya tadi.
Sejenak Zidan berdiri diam menatap punggung Salsa yang sedikit menjauh dari nya. Teringat kembali nasehat dokter Erwin waktu itu, agar ia benar-benar harus menjaga emosi dan mental Salsa saat ini.
Membiarkan Salsa kembali sekolah tentu ia merasa sangat khawatir, takut hal buruk akan terjadi. Apalagi ia masih melihat Herman berkeliaran, tentu menambah rasa khawatir nya. Sebenarnya Zidan bisa saja dengan mudah melenyapkan Herman, tapi ia tidak ingin mertuanya akan menyalahkan Salsa nantinya. Seperti yang pernah di lakukan nya dulu, melaporkan Salsa ke polisi. Karna menurut cerita yang ia dengar mertuanya itu sangat lah mencintai Herman.
Zidan melangkah kan kaki nya, mendekati Salsa, melingkarkan tangan nya di pinggang Salsa dari belakang.
"Baiklah, mas izinkan dia tinggal di sini," bisik Zidan tepat di telinga Salsa, sambil mengusap lembut purut nya.
"Benar mas ngizinin mama tinggal di sini?" tanya nya sedikit tak percaya, sambil membalikkan badannya menghadap Zidan.
"Terpaksa," jawab Zidan.
"Terserah mas deh! mau terpaksa mau engga, yang penting mama tinggal disini. aku mau keluar dulu memberi tahu kan mama," Salsa berusaha melepaskan tangan Zidan yang masih melingkar di pinggang nya.
"Tunggu dulu sayang," Zidan semakin mengeratkan tangan nya, hingga tubuh mereka samakin menempel.
"Apa lagi mas?" Salsa merengek sambil terus berusaha melepaskan tangan Zidan yang melingkar di pinggang nya.
Zidan memaju-majukan bibir nya kedepan memberi kode agar Salsa mencium nya.
Cup
"Udah kan!" ucap Salsa setelah menempelkan bibirnya sekilas ke bibir Zidan.
"Belum!" jawab Zidan.
"Udah lah mas, nanti mama keburu pulang," Salsa kembali merengek meminta Zidan melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Oke, oke," Zidan pun melepaskan tangan nya yang melingkar di pinggang Salsa.
Dengan semangat Salsa lansung berlari keluar setelah Zidan melepaskan nya........
Sedangkan diruang utama, sejak tadi Raka menceritakan pada Maria jika beberapa hari ini ia memang mengurung Niken di sebuah apartement. Bukan perintah dari Zidan, hanya saja ketakutan dari diri nya sendiri, jika niken akan berbuat sesuatu pada Salsa. karna ia sudah menganggap Salsa sebagai adik nya sendiri.
Dari semua cerita Raka, Maria baru tau jika Niken juga pernah berselingkuh dengan Rocky.
"Benar-benar wanita iblis," Maria menggeram penuh amarah setelah mengetahui sebenarnya.
Maria kemudian memanggil Alfredo memerintah kan nya untuk mencari keberadaan Niken. Ia juga memberitahukan petunjuk jika tadi Niken berada di rumah sakit.......
"Ma," Salsa dengan riang nya berjalan mendekati Maria dan lansung duduk di sebelahnya.
Sedangkan Raka yang duduk di sofa lain merasa tak enak hati, berada di antara dua wanita yang ada di samping nya saat ini.
"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya besar dan nyonya muda," ucap Raka sambil tersenyum lalu bangkit dari duduk nya.
"Abang kenapa sih? Seperti nggak suka aja Salsa datang," ucap nya menimpali.
Raka yang sudah berdiri, menyipitkan matanya karna tidak mengerti maksud ucapan istri bosnya itu.
Begitu pun Maria yang juga ikut bingung.
"Habis Salsa baru saja datang, abang Raka lansung pergi, seperti nggak suka Salsa saja,"
"Kalau nggak suka bilang! Biar Salsa pergi lagi," rajuk nya merasa hati.
"Bu-bukan begitu nyonya," tukas Raka, yang tidak bisa memberikan alasan.
Maria yang duduk di sebelah Salsa hanya terkekeh pelan.
"Kalau begitu! abang duduk lagi!" pinta nya.
"Ya, baiklah nyonya," Raka terpaksa menuruti kemauan istri bos nya itu, ia kembali duduk di sofa, meski tak enak hati berada di sana, mungkin saat ini memilih duduk akan lebih baik dari pada melihat wajah cemberut nyonya rumah.
Maria yang duduk di samping Salsa masih senyum-senyum sendiri. Sambil merapikan rambut ikal Salsa yang tergerai bebas.
"Ma, malam ini mama nginap di sini ya," pinta Salsa sambil merangkul satu tangan Maria dengan kedua tangannya, kepalanya juga ia sandarkan di bahu mertuanya itu.
Maria tidak menjawab ia hanya membelai rambut menantunya yang berada di bahunya.
"Mas Zidan udah ngizinin kok ma," seakan tau apa yang di pikirkan mertuanya itu.
__ADS_1
"Tapi tidak sekarang ya sayang," ujar Maria yang masih mengusap lembut rambut sang menantu.
"Kenapa ma," Salsa mengangkat kepalanya melihat wajah Maria.
"Hmm, ya sudah besok malam mama nginap di sini ya,"
Wajah Salsa masih belum puas mendengar jawaban mertua nya itu.
"Apa mama nggak mau tinggal disini?" Salsa kembali menunduk kan wajah nya di bahu Maria.
"Bukan begitu sayang, tapi barang-barang mama kan masih di hotel," terang Maria yang tak ingin menantu nya itu berprasangka lain.
"Kalau begitu kita jemput sekarang ma, mumpung masih sore," kekeh Salsa yang terlihat bersemangat.
Maria benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kehendak menantunya seakan tidak bisa ia tolak.
"Ya sudah sayang, kalau begitu kamu izin dulu dengan suami mu,"
Dengan cepat Salsa berdiri dari duduk nya.
"Tunggu di sini ya ma," Salsa lansung melangkah menuju kamar.
Setalah melihat Salsa menghilang dari sana, Raka pun segera pergi.........
Didalam kamar, Salsa melihat Zidan yang duduk di kursi kerja nya, ia terlihat fokus dengan leptop kerja di depannya. Zidan memang meminta Raka untuk mengirimkan semua laporan-laporan penting ke email nya, agar ia bisa memeriksanya di rumah.
Salsa menutup pintu pelan, dan berjalan mengendap mendekati Zidan. setelah berada di belakang Zidan, Salsa menutup kedua mata nya.
"Coba tebak, siapa ini? Salsa merubah suaranya sambil terus memutup kedua mata Zidan.
"Mas lagi sibuk sayang," jawab Zidan seakan tidak ingin di ganggu.
"Mas, aku temani mama jemput barang-barang nya ya," ucap Salsa sambil mengalungkan tangan nya di leher Zidan.
"Kenapa harus ikut? biar saja dia jemput sendiri," tolak Zidan yang masih memperhatikan layar laptopnya.
"Tapi mas, mas kan juga lagi sibuk sekarang, lagian cuma sebentar kok," pinta nya yang terus merengek.
"Justru karna mas lagi sibuk, kamu harus temani mas di sini." tegas Zidan.
"Tapi Mas---,"
"Sayang, Mas mau mandi sekarang, kamu bantu mas mandi ya," ucap Zidan menyela sambil bangkit dari duduk nya.
__ADS_1
"Ya, aku bilang mama dulu," dengan wajah tertunduk Salsa lalu melangkah keluar.