Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
28. Mimpi buruk


__ADS_3

Zidan yang berjalan di depan seketika berbalik badan, berlari mendekati Salsa yang sudah jatuh di lantai.


Salsa terduduk sambil memegang satu kaki nya. Zidan berjongkok memegang pelan kaki Salsa yang sakit.


"Auw sakit.... "


"Sakit... "


"Sakit Om... "


"Sakit..... "


Salsabila terus meringis menahan sakit di kakinya.


"Bos, sebaik nya bawa nyonya segera ke rumah sakit," ucap Raka yang tiba-tiba saja sudah berada diantara mereka.


Asisten Zidan itu sejak tadi membayangi mereka, sesuai perintah Zidan.


Tanpa membuang-buang waktu lagi Zidan merangkul kan tangan nya membopong tubuh Salsa.


"Kau urus semua masalah ini, temukan siapa orang yang melakukan nya," titah Zidan sebelum pergi.


Zidan melangkah cepat membawa Salsa yang sudah berada dalam gendongan nya. Keadaan posisi seperti itu reflek membuat Salsa melingkarkan tangan nya di leher Zidan.


Salsa mendongak kan wajah nya, melihat wajah tampan yang kini tepat berada di hadapannya. Kedua netra nya menatap kagum pada pahatan wajah yang selalu membuat penyakit jantung dan asma nya kambuh secara tiba-tiba.


Namun kali ini semua penyakit itu tidak ia rasakan, bahkan rasa sakit dikaki yang tadi ia rasakan pun kini seakan hilang.


"Nyonya kenapa tuan?" Jefri berlari mendekati mereka saat Zidan sudah berada di luar.


"Buka pintu mobil cepat," perintah Zidan tanpa menjawab pertanyaan Jefri yang tidak penting.


Salsa tidak menyadari jika Zidan kini telah membawa nya masuk ke dalam mobil. Tangan gadis itu terus saja bergelayut di leher suami nya, tatapan nya tidak pernah lepas dari wajah yang membuat nya terpesona.


Bahkan saat Zidan sudah meletak kan tubuh nya di atas jok mobil, dirinya belum juga menyadari. Kedua tangan nya masih saja melingkar di leher Zidan.


Klatak...


Zidan menyentil dahi Salsa dengan jarinya.


"Auw sakit," Salsa meringis, seketika kesadaran nya pulih. Kedua tangan nya pun reflek terlepas dari leher Zidan.


Dirinya benar-benar seperti terhipnotis, bahkan gadis SMA itu tidak tahu jika sejak tadi tangan nya sudah melingkar di leher zidan.


"Jalan sekarang Jef."


"Ke-kemana tuan?" tanya Jefri yang sudah duduk di bangku kemudi.


"Ke rumah sakit,"


"Baik tuan,"


Salsa masih meringis memegang pergelangan kaki nya yang sakit.


Zidan yang memperhatikan itu dari sudut netranya, mengulurkan tangan untuk memeriksa kaki Salsa.


"Auw... Sakit...... Om, jangan di pegang," tolak Salsa, membuat Zidan menarik tangannya kembali.

__ADS_1


"Heis... Saya hanya mau menolong saja," dengus Zidan merasa kesal.


"Hikz, sakit..... Hikz, sakit...... Sakit, Om," dirinya terus meringis.


"Tahan lah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," sahut Zidan ketus.


"Tapi ini sakit, Om. Bagai mana saya menahannya?" Salsa terus meringis.


Karna tak tega, Zidan kembali mengulurkan tangan nya hendak memeriksa kaki Salsa.


"Jangan pegang-pegang...." pekik Salsa, menepis kan tangan Zidan yang hendak memegang kaki nya.


"Heish..." Zidan berdecih, menarik tangan nya kembali.


"Ya sudah, menangis saja lah terus, tahan sakit nya sendiri," Zidan mendengus kesal, lalu menggeser duduk nya sedikit menjauh dari Salsa.


"Ish.... Suami macam apa dia itu,"  Salsa menggerutu dalam hati.


.


.


.


Tiba di rumah sakit.


"Auw sakit," Salsa menjerit, saat sebelah kaki nya turun dari mobil.


Dengan cepat Zidan memegangi bahu Salsa, menahan agar kaki istrinya tidak terlalu di beban kan untuk berjalan.


Namun, Salsa merasakan penyakit jantung, serta asma stadium akut nya tiba-tiba kambuh, detak jantung dan nafas nya kini saling berpacu.


"Tidak usah pegang-pegang saya bisa sendiri," Salsa menepiskan tangan Zidan yang ada di bahunya.


Merasa kesal, Zidan pun melepas kan tangan nya dari bahu istri nya, sembari menggeser langkah sedikit menjauh.


Salsa menggunakan satu kakinya mencoba melangkah dengan cara melompat.


Tap


Hanya satu lompatan, tubuh nya kembali jatuh.


"Aduuuuh.... Sakit," dirinya kembali meringis, melirik Zidan agar mau membantu nya.


Zidan berjalan mendekat.


"Itu lah,. sok. Keras Kepala," Zidan mendengus kesal, lalu berjongkok membantu istri keras kepalanya. Membantu memapah Salsa kembali berdiri.


"Apa om bilang, keras kepala," tanya nya setelah di bantu Zidan berdiri.


Zidan tidak menjawab, ia hanya menatap istrinya itu dengan tatapan sinis.


"Jefri, ambilkan kursi roda,"


"Baik tuan," sahut Jefri, segera berlari masuk ke dalam rumah sakit.


"Di ini, sudah lah berjalan tidak bisa, masih sempat berlagak kuat," Zidan menggerutu pelan. Sayang nya masih bisa di dengar Salsa.

__ADS_1


"Lepasin aja Om,"


"Heish," Zidan mendengus kesal.


.


.


.


Dirumah Ibu Salsa.


Herman yang baru pulang karna serangan lapar, melangkah gontai ke dapur, membuka tudung saji yang hanya ada tempe, dan tahu goreng saja di dalam nya.


"Lagi-lagi tempe goreng, bisa kurus aku makan ini terus," gerutu Herman kesal.


"Apa saja sih yang di kerjakan wanita itu di rumah ini, kenapa hanya memasak makanan ini terus?" gerutu nya kesal.


.


.


.


Malam hari di mension zidan.


Herman memeluk Salsa dari belakang, mencumbu gadis itu dengan buas nya, Salsa berusaha memberikan perlawanan, tapi perlawanan yang Salsa berikan tidak membuat Herman berhenti melakukan aksi bejat nya. Seperti tenaga Salsa tidak ada artinya bagi Herman


"Lepas kan,"


"Tolooooooong!"


"Tolooooooong!"


"Tolonggggggg!" Salsa menjerit sangat kencang.


"Bangun Salsa.... Salsa bangun," suara seorang laki-laki yang sangat Salsa kenali sedang mengusap lembut rambut Salsa.


"Aaaaaarg!" teriak Salsa sangat keras.


Salsa lansung duduk dari posisi nya yang berbaring di ranjang. dengan nafas yang memburu, serta bulir-bulir keringat bercucuran di wajah nya.


Dalam tarikan dan hembusan nafas yang begitu cepat Salsa mengumpulkan puing-puing kesadaran nya.


"Om. Hikz.... Hikz..... Hikz," tangis Salsa pecah reflek memeluk tubuh Zidan yang ada di samping nya. Menangis sejadi-jadinya, seperti merasakan semua yang ia alami tadi adalah nyata. Tangis nya begitu pilu, hingga hati Zidan merasa ter sayat mendengarnya.


Zidan mengusap kan tangan nya di punggung gadis itu, berusaha membuat gadis itu tenang, dari usapan lembut nya itu Zidan seolah menyatakan bahwa semua nya akan baik-baik saja.


Setelah mimpi buruk nya itu hilang dari ingatan, Salsa baru tersadar, bahwa yang ia peluk adalah Zidan, pelukan Zidan begitu nyaman ia rasakan. Pelukan pertamanya dari seorang laki-laki selain ayah nya.


"Om, ngapain disini?" tanya nya setalah tersadar sembari melepaskan tangannya dari Zidan.


"Heish.. Kamu yang memeluk saya tadi," gerutu Zidan sambil menoleh kebelakang melihat bahu nya yang sudah basah, di sebab kan air mata dan ingus istrinya menempel di baju.


"Ish..." Zidan memandang jijik bahu nya yang basah.


Salsa yang duduk bersila di atas kasur, hanya bisa menunduk merasa malu atas apa yang barusan terjadi.

__ADS_1


Zidan berdiri, kemudian membuka baju nya, masih memandang jijik pada baju dan bahunya yang terkana cairan ingus Salsa, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Salsa seketika menutup mata nya, dengan telapak tangan. Namun, bola mata nya mengintip di sela-sela jari tangannya, melihat untuk ke dua kalinya otot-otot di perut laki-laki yang sudah sahabat menjadi suami nya.


__ADS_2