Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Miss Rida


__ADS_3

Zidan menatap Salsa yang berdiri di depan cermin sambil mengeringkan rambut nya.


"Heh, kenapa kamu masih menggunakan baju itu?" tanya zidan yang sudah duduk di ranjang nya.


"Emang kenapa dengan baju ini?" balas Salsa yang juga bertanya, sembari menatap zidan dari pantulan cermin.


"Bukan kah sudah saya katakan jam delapan nanti kita akan pergi," Ketus zidan menjawab pertanyaan Salsa.


"Kan masih ada waktu dua jam lagi om, lagian om saja belum mandi," balas Salsa santai.


"Ish, kenapa dia selalu menjawab terus," batin zidan kesal sembari melangkah ke kamar mandi.


"Selesai saya mandi, kamu harus mengganti pakaian itu," imbuh zidan yang terus berjalan ke kamar mandi.


"Gantinya pakai apa om?" tanya Salsa, seketika menghentikan langkah kaki zidan yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.


Zidan berdiri tampak memikirkan sesuatu.


"Pakai gaun yang warna merah tadi," ucap zidan ketus seraya melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.


Salsa menuruti saja apa yang di kata kan zidan. ia masuk kembali ke walk-in closet mengganti pakaian nya dengan gaun merah yang tadi di beli zidan di toko.


Selesai Salsa berganti pakaian pintu kamar zidan di ketuk dari luar.


Tok. Tol. Tok.


Salsa berjalan mendekati pintu dan membuka nya.


Ceklek


Pintu terbuka, terlihat Marni yang berdiri di depan pintu kamar.


"Maaf nyonya, di bawah ada orang yang mencari nyonya," ucap Marni.


"Siapa bi?" tanya Salsa dengan satu alis nya naik.


"Kata nya dia orang yang akan merias nyonya," Ujar Marni.


"Oo, baiklah bi, terimakasih sebentar lagi Salsa ke bawah," balas Salsa, sembari melangkah masuk ke dalam untuk mengambil ponsel nya yang berbunyi.


"Saya akan menunggu nyonya di sini," ucap Marni.


"Bibi turun saja duluan, sebentar lagi Salsa nyusul," balas Salsa sembari meraih ponsel yang ia letakkan di nakas.


Salsa melihat nama santi di layar ponsel nya lalu segera ia menggeser tombol panah hijau di layar.


"Hallo Sa, kamu sekarang dimana?" Tanya Santi saat sambungan ponsel nya baru saja terhubung.


"Iya san, aku sekarang lagi di rumah si om lah," balas Salsa.


"Sa, kok kamu manggil laki sendiri masih pakai om sih? Seperti laki mu itu sudah tua sekali," Ledek Santi.

__ADS_1


"Ish, suka-suka aku lah," ketus Salsa.


"Eh, aku udah di rumah nih, kamu mau kesini gak?" ucap Santi.


"Besok saja lah kita ketemu di sekolah," balas Salsa.


"Oke lah, aku cuma mau bilang itu saja, sampai ketemu besok di sekolah ya, bey," ucap Santi lalu memutuskan sambungan telepon nya.


Salsa meletak kan kembali ponsel nya di nakas, lalu berjalan kembali ke pintu kamar yang masih terbuka itu.


"Bibi kenapa masih disini?" tanya Salsa yang melihat Marni masih berdiri di samping pintu.


"Saya sengaja menunggu nyonya, dan akan mengantarkan nyonya ke bawah," jawab Marni.


Marni hanya tidak ingin kesalah pahaman orang pada Salsa, yang akan membuat mental Salsa down.


Salsa hanya mengerutkan dahi nya, lalu Salsa keluar dan menutup pintu kamarnya.


Salsa mengikuti langkah Marni berjalan menuruni tangga di mension itu.


-


-


Di tempat Herman biasa berjudi.


Herman yang setengah harian tadi hanya bermain judi. Kini telah menghabiskan uang dari hasil menggadaikan sertifikat rumah ibu Salsa.


Brak!


"Siapa yang curang man," Loe aja yang main nya bego," ledek Rojak sambil terkekeh senang.


"Kalian semua pada lihat juga kan. apa ada gua curang?" imbuh Rojak bertanya pada orang-orang di sekitar yang melihat meraka main.


Bagh!


Bagh!


Herman yang emosi karna merasa di curangi memukul Rojak dengan tangan nya. Membuat Rojak terjatuh dari duduk nya.


"Oo-, berani loe main tangan ama gua ya man," ucap Rojak yang sudah kembali berdiri, dengan sudut bibir sedikit berdarah. Rojak mendekati Herman yang sudah gemetar ketakutan.


"Kau mau apa? Ja-jngan mendekat," ucap Herman yang ketakutan.


Rojak mengangkat kasar kerah baju Herman dangan tangan kirinya. tangan kanan nya memukul Herman di wajah dan perutnya.


Bagh!


Bugh!


Bagh!

__ADS_1


Bugh!


"Cih, loe kira gua ini istri loe, yang saat loe pukul bakal diam aja, cuih," Ejek Rojak sembari meludah ke arah Herman.


Herman sudah terkapar tidak berdaya di lantai, dari sudut bibir nya juga sudah mengeluarkan darah.


-


-


Di mension zidan.


Salsa yang di dampingi Marni berjalan mendekati seseorang yang sajak tadi menunggunya duduk di sofa, orang itu yang akan merias wajah nya.


"Wah, anda sangat cucok sekali memakai gaun itu nona." ucap Rida, MUA yang akan merias Salsa.


Rida lalu berjalan mendekati Salsa dengan kipas kecil di tangan nya.


"Terimakasih om," balas Salsa yang tersipu dengan pujian itu.


Menurut Salsa laki-laki yang seperti perempuan di hadapan nya itu lebih cocok di panggil om. Karna umur nya mungkin setara dengan umur Marni. Serta rambut nya yang pendek berwarna putih pula, juga perut yang buncit, terekspos jelas di balik baju you can see, Dengan paduan celana jeans ketat.


"Nona, jangan panggil ekke om dong, nama ekke itu Rida, nona bisa panggil ekke miss Rida," ujar Rida sembari mengibas-ngibaskan kipas ke wajah nya.


"I-, iya miss Rida," balas Salsa sedikit gugup.


"Begitu dong, ekke kan jadi seneng mendengarnya," ucap Rida yang masih mengibas-ngibas kan kipas kecil itu.


"Miss dia adalah nyonya Salsa," timpal Marni yang masih berdiri di sana.


"Haduh. Kenapa yee tidak bilang dari awal sih, ekke kan tidak tau," gerutu Rida.


"Ekke minta sorry ya nyonya, ekke benar benar tidak tau," sesal Rida.


**


Zidan yang baru keluar dari kamar mandi mencari keberadaan Salsa yang sudah tidak ada di kamarnya.


Zidan bergegas memakai pakaiannya dan segera keluar dari kamar. Zidan mencari Salsa ke kamar lama nya, namun tidak menemukan nya. Zidan hendak mencari nya ke lantai bawah tapi dari atas tangga zidan sudah melihat Salsa, Marni dan seorang laki-laki yang tidak ia kenal. Laki-laki itu duduk saling berhadapan dengan Salsa.


Tanpa berfikir panjang zidan menuruni anak tangga itu dengan cepat.


Tap. Tapi. Tap.


Langkah kaki lebar nya terdengar sampai ke telinga Salsa yang berada di bawah. Rida yang sudah memulai merias wajah Salsa sempat terhenti, melihat zidan dengan wajah yang menakutkan berjalan mendekatinya.


"Nyonya, apa yang akan dia lakukan ekke takut sekali nyonya," cemas Rida yang melihat zidan dengan wajah yang menakutkan berjalan semakin mendekat ke arahnya.


Salsa segera berdiri, diikuti Rida yang berdiri di belakang tubuh Salsa.


"Apa, om mau di make-up juga?" tanya Salsa yang seketika membuat zidan berhenti.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya zidan dengan menunjuk Rida yang sedang bersembunyi di belakang tubuh Salsa.


"Nama nya miss Rida, katanya om yang menyuruh dia datang ke sini," jawab Salsa.


__ADS_2