Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Penyesalan Rita


__ADS_3

Pov Rita


"Mau apa kalian kesini?" aku bertanya sambil menutup tubuh ku dengan selimut. Ya sebelum tidur tadi Herman memang memaksaku untuk melayani nya, meski awal nya aku menolak. tapi, aku tidak bisa memungkiri kenikmatan yang di berikannya. Ya, karna cuma itulah yang bisa di berikan Herman padaku.


Ku lihat satu dari tiga orang laki-laki itu menatap ku dengan tatapan lain, seakan hendak menerkam ku saja. kulit tubuh nya yang di penuhi tato semakin membuat ku ketakutan. sedangkan satu orang teman nya yang botak berdiri di depan jendela, mencari Herman yang baru saja melompat keluar.


"Pergi kalian dari sini! Toloooong! toloooooong!" teriak ku yang semakin ketakutan saat laki-laki yang tubuh nya di penuhi tato melangkah mendekatiku, dengan seringai penuh na*su yang sangat terlihat menj*jikan.


"Diam kau!" Bentak laki-laki botak yang memeriksa jendela kamar. Aku melihat wajah nya seperti gelisah ketakutan.


"Bro, kita sikat saja istri si Herman ini! lumayan kan, gratis! tubuh nya juga molek," ujar si laki-laki bartato, yang semakin membuatku bergedik ngeri.


"Tolooooong! toloooooong!" aku semakin merasa ketakutan, saat laki-laki tatoan itu mencengkram pergelangan tangan ku, aku beringsut mundur dengan masih duduk di ranjang. Tapi, aku hanya bisa menahan selimut yang menutupi tubuh ku dengan satu tangan. Hingga selimut itu hanya mampu menutupi tengah-tengan d*da ku saja, sedang kan bagian samping tersingkap. membuat tiga laki-laki yang berada di kamarku itu semakin melotot melihat ke arah ku.


"Diam! kau tau, suami kau itu sudah menggadaikan rumah ini bulan lalu. Tapi, hingga sekarang ini dia belum ada sedikit pun mencicil nya." ujar laki-laki tatoan yang memegang pergelangan tangan ku.


Aku tersentak mendengar kan penuturan laki-laki itu. Bagai mana bisa Herman menggadaikan rumah ini. Oh tidak, apa jangan-jangan dia mengambil sertifikat rumah ini? Ya, waktu itu aku juga pernah melihat uang yang ia sembunyikan di bawah kasur. Tapi aku sama sekali tidak mencurigai nya, karna anggapan ku itu adalah uang hasil judi nya.


"Ha ha ha, kenapa? Kau tidak percaya? Bro perlihat kan bukti nya," papar laki-laki bertato, kemudian laki-laki yang berada di belakang si laki-laki bertato melemparkan kertas yang sudah di genggam nya padaku.


Aku tidak bisa melihat nya karna kertas sudah di remuk menjadi bulat. Jika aku membuka dengan tangan ku, maka selimut yang menutupi tubuh ku akan semakin merosot ke bawah.


"Udah bro aku sudah tidak tahan lagi, cepat tutup jendelanya," si laki-laki bertato kini sudah naik ke ranjang dan menindih tubuh ku. di ikuti teman nya yang lain setelah menutup pintu dan kamar.


"Mungkin si Herman memang sengaja memberikan kita hadiah bro," itu adalah suara si botak.


"Bu, bu Rita! apa ibu ada di dalam?" aku bernafas lega saat mendengar suara dari luar, tapi mulut ku di bekap kuat oleh laki-laki bertato yang sudah menindih tubuh ku. Aku hanya berharap tetanggaku yang ada di luar lansung masuk ke dalam rumah setelah melihat pintu depan yang sudah rusak.


"Bu, bu Rita, bu Rita dimana?" suara itu semakin dekat saja terdengar, mungkin mereka sudah masuk kedalam rumah.


"Toloooooong!" aku kembali berteriak saat laki-laki bertato itu berlari ke luar menyusul teman nya yang sudah melompat melalui jendela kamarku.


Brugh

__ADS_1


Brugh


Brugh


"Bu Rita! buka pintunya," panggil tetangga ku dari luar kabar, sambil menggedor-gedor pintu.


"Woi, sedang apa kalian," teriak suara beberapa orang pria, mungkin mereka melihat tiga orang tadi keluar dari jendela.


Sedang kan aku masih meringkuk di atas ranjang dengan kedua tangan menutupi tubuh ku dengan selimut.


"Ya Tuhan! bu Rita apa yang telah terjadi?" bu Asih berjalan mendekati ku dan beberapa ibu lainnya juga masuk ke dalam kamar ku.


"Siapa mereka bu Rita? Dan mana Herman?" tanya bu Asih yang sudah duduk di atas ranjang dengan memeluk tubuh ku.


"Palingan mereka itu orang-orang yang mencari si Herman, apa lagi kalau bukan untuk menagih hutang,"


"Kenapa sih? bu Rita masih mau dengan suami model begituan? Sudahlah pengangguran suka berjudi, mabuk-mabukan,"


"Benar bu'! kalau saya punya suami model begituan akan saya berikan racun tikus satu sendok sehari, biar dia mati perlahan."


Timpal semua ibu-ibu yang berada ke dalam kamarku. Aku hanya bisa manangis. Ya, aku tidak menyanggah satu pun ucapan mereka, karna semua itu adalah kebenaran yang tidak pernah aku sadari. Sekarang aku benar-benar menyesal, apa lagi saat aku teringat perkataan laki-laki tadi, rumah ini sudah di gadaikan. Oh Tuhan, padahal ini bukan lah rumah ku, karna mendiang ayah Putriku sudah memberikan nya pada Putrinya.


"Sudah, cukup ibu-ibu! jika kalian kesini hanya ingin mencemooh bu Rita lebih baik ibu-ibu pulang saja," ujar bu Asih membela ku. Sebenarnya aku tidak butuh pembelaan, karna semua ini memang lah kesalahan ku. aku memang pantas di hinakan.


"Sudah bu, tidak usah di dengarkan ucapan mereka," ucap bu Asih menenangkan ku.


****


Setelah semua ibu-ibu itu pulang ke rumah mereka masing-masing, aku pun memakai pakaian ku kembali. Aku juga memeriksa lemari tempat aku menyimpan sertifikat rumah ini. Oh Tuhan, aku menutup mulut ku dengan ke dua tangan sambil melangkah mundur dan duduk di atas ranjang. ternyata benar! Si Herman ba*jing*n itu sudah mengambil sertifikatnya.


Berapa dia menggadaikan nya? Pada siapa dia menggadaikan nya? Untuk apa dia menggadaikan nya? Padahal selama ini semua biaya hidup nya aku sendiri yang menanggung. Seribu pun dia tidak pernah mengeluarkan uang untuk kebutuhan rumah tangga.


Aku hanya bisa membatin sambil mengatur nafas ku yang terasa sesak.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


"Rita, Rita buka pintunya,"


Aku mendengar suara pintu kamar ku yang di ketuk pelan dari luar, juga memanggil-manggil nama ku. Ya, pasti Herman. Aku tadi memang mengunci pintu kamar, karna pintu luar yang sudah rusak.


Aku yang sedang di landa emosi segera membuka pintu. lansung memukul dan menjambak rambut nya menggunakan tangan, meluapkan semua amarahku yang semakin memuncak. Aku tidak peduli jika dia harus m*t* di tangan ku saat ini.


Tapi tenaga ku kalah jauh, hingga kini kedua tangan ku sudah di pegangnya kuat.


"Lepas, lepaskan aku *nj*ink," umpat ku, rasanya tak sudi aku di sentuh dan menyebut namanya lagi.


"Kau, bilang apa? Berani kau sekarang melawanku?" ia menggertak kan giginya mengancamku. Tapi sedikitpun aku tidak takut lagi dengan nya.


"Cuihh," aku meludahi wajah nya, itu pun belum cukup untuk ku melampiaskan amarah.


Plak


Plak


Dua tamparan keras dari nya mendarat di pipiku, hingga tubuh ku terhuyung ke ranjang. Balum cukup sampai di situ, ia lalu mencek*k leher ku dengan kedua tangan nya.


"Berani kau melawan ku, kau ingin anak kau bernasib sama dengan kau," dengan mata melotot dan wajah merah aku menggelengkan kepala, aku tidak ingin ia menyentuh putri ku.


"Cepat! kemasi barang-barang, kita pergi dari sini," bentak nya, tapi aku masih terbaring diam sambil mengumpulkan nafas ku yang tadi hampir habis karna di cek*k nya.


"Cepat!!! Atau kau ingin aku menghabisi anak sialan kau itu," bentak nya lagi. Sungguh, aku sedikitpun tidak takut dia melakukan apapun pada ku, tapi aku takut dia benar-benar akan mengganggu putriku.


Aku pun lalu berdiri, menuruti kemauannya, aku ambil koper usang dan memasukkan beberapa pakaian ku, dia juga membantu memasukkan pakaian nya. Setelah itu ia menyeret tangan ku keluar dari rumah.

__ADS_1


Aku tidak tau dia akan membawa ku kemana?


Semoga kita bisa bertemu lagi Nak, maafkan ibu, maafkan ibu....... 


__ADS_2