
"Mas. Hiks....." Salsa berhambur memeluk Zidan diiringi tangis yang semakin pecah.
"Sudah sayang. Semua baik-baik saja," ucap Zidan mencoba menenangkan.
"Angkat tangan kalian!" Raka yang baru saja datang menodongkan senjatanya pada Samuel dan Togar yang sedang mengikat kaki Rocky.
Samuel dan Togar yang merasa ketakutan memandang Zidan sambil mengangkat tangan nya keatas.
Tanpa melerai pelukan Salsa. Zidan menoleh melihat Raka yang berada di belakang .
"Turun kan senjata kau Raka," perintah Zidan yang lansung di turuti Raka.
"Sayang kamu pulang sama Raka ya, Mas ada perlu sebentar, " ucap Zidan beralasan.
"Nggak mau, " Salsa menggeleng cepat dengan bibir yang mengerucut.
"Ya sudah, kita pulang sekarang," Zidan melerai pelukan nya lalu melangkah keluar. Tepat di depan Raka ia membisikkan sesuatu sebelum kembali melangkah keluar...
Dalam perjalanan pulang. Salsa tak henti menatap kagum pada suaminya, setelahberkendara melihat aksinya melawan Rocky tadi.
"Sayang, kenapa kamu melihat Mas seperti itu? " tanya Zidan sambil terus menatap jalan.
"Nggak ada, pengen liat aja suami ku yang tampan dan pemberani ini," jawab Salsa sembari tersenyum manis.
"Beruntung nya anak-anak ku nanti, punya ayah yang tampan dan pemberani seperti suamiku ini," Seloroh nya seraya mengusap perut nya yang buncit.
"Kok ayah?" Zidan menoleh sekilas dengan mata yang menyipit.
"Terus, apa dong, kalau bukan ayah? Kakek, Oppa, atau Om, " balas Salsa di sertai tawanya.
"Papa...... Atau..... Daddy juga boleh," ucap Zidan bangga.
Salsa menggeleng.
"Nggak, Aku mau nya di panggil Bunda saja," ucap Salsa.
"Ya, Mas mau nya di panggil Papa," ucap Zidan tak mau kalah.
"Papa-Bunda itu nggak cocok Mas. Yang ada itu Ayah-Bunda. Jadi Mas itu nanti nya dipanggil Ayah oleh anak ku.," terang nya.
"Kok anak ku?" tanya Zidan.
"Ya, memang anak aku. Kan ada di perut aku, " jawab Salsa
"Iya deh, anak nya punya kamu. Mama nya punya Mas," ucap Zidan tersenyum nakal.
***
Di Markas.
"Kreeeek."
"Aaaaaaaw! Brengsek! Bajingan kau Raka sialan! " umpat Rocky saat Raka mematah kan tangan nya.
__ADS_1
"Itu oleh-oleh dari Bos, katanya kau sendiri tadi yang meminta nya, " ucap Raka.
"Dasar kau. penjilat! Kalau berani, kita duel 1 lawan 1," tantang Rocky.
"Kau yakin? " tanya Raka sambil terkekeh.
"Kenapa? Apa kau takut? " ucap Rocky.
"Ternyata nyali kau boleh juga Rocky, tapi aku tidak akan membuang buang waktu ku untuk meladeni manusia seperti kau. Sekarang kau terima saja lah hukuman yang akan kau terima sebentar lagi." ucap Raka.
"Dasar kau pengecut! Hanya bisa menjilat saja," Umpat Rocky.
"Ya. ya. Terserah kau saja Rocky," ucap Raka pasrah.
"Kau. Kau. Apa kalian sungguh-sungguh ingin bekerja dengan ku?" tanya Raka menunjuk Samuel dan Togar.
"Iya tuan," jawab mereka serempak.
"Baiklah. Tapi, aku harus menguji mental kalian dulu. Apa kalian siap? " tanya Raka lagi.
"Siap tuan," jawab mereka yakin.
"Kalian harus potong kaki dan tangan kedua bajingan ini. Apa kalian sanggup? " tanya Raka.
Seketika Togar dan Samuel saling pandang.
"Bagaimana? Kalian Sanggup tidak?" tanya Raka.
"Sa-sanggup tuan, " jawab Samuel ragu.
"Sa-saya siap tuan," jawab Togar terbata.
Raka lalu keluar mengambil samurai yang sangat tajam lalu kembali masuk ke dalam ruang jeruji besi itu.
Herman menggeleng hebat melihat samurai yang di bawa Raka.
"Tolong jangan lakukan itu pada saya tuan. Saya berjanji tidak akan menggangu Salsa lagi" ucap Herman memohon.
"Sudah terlambat, kau itu sudah berkali-kali ku beri kesempatan. Tapi apa, kau selalu melakukan nya lagi," bentak Raka.
"Tolong berikan saya kesempatan sekali lagi tuan, saya mohon. Saya akan berubah," lirih Herman dengan tubuh yang semakin bergetar hebat.
"Sayang nya semua itu sudah terlambat. Bersiaplah lah kau menerima hukuman atas semua perbuatan kau," ucap Raka dengan seringai yang terbit di wajah nya.
"Sekarang, siapa dulu diantara kalian yang akan merasakan tajam nya samurai ini," tanya Raka menatap Rocky dan Herman secara bergantian.
Rocky lansung menunjuk Herman. Membuat mata Herman seketika membola sempurna.
Raka lalu menyuruh Samuel dan Togar membawa Herman ke tempak eksekusi.
"Tolong jangan lakukan itu pada saya tuan," lirih Herman memohon.
"Ssst. Diam!" ucap Raka menempelkan satu telunjuk nya di bibir.
__ADS_1
"Kalian perhatikan baik-baik caranya, aku akan memperagakan contohnya," ucap Raka..
"Ja-jangan......... Ja-jangan tuan, " Herman menggeleng hebat.
Wush!
"Akhhhhhh,." pekik Herman kesakitan melihat tangan nya yang sudah berada di lantai.
"Sekarang giliran kau," Raka memberikan samurainya itu pada Samuel.
Setelah selesai melakukan tugas nya, Raka menelpon dokter Erwin memintanya datang ke markas untuk mengobati luka Herman dan Rocky.
***
Beberapa bulan kemudian.......
Kandungan Salsa sudah memasuki minggu ke 36. Mendekati kelahiran yang sangat di nanti-nanti. Perut besar nya sudah semakin turun ke bawah. Membuat nya semakin kesulitan sekedar untuk bangun dari duduk.
Semakin bertambah nya usia kandungan semakin banyak yang ia rasakan. Terlebih ketika malam hari. Punggung dan betis nya akan selalu terasa pegal membuatnya kesulitan untuk mencari posisi tidur yang nyaman. Ditambah pergerakan kedua janin yang sangat aktif tiap sebentar menendang-nendang di dalam perut nya.
Namun, sesulit apapun keadaannya, Salsa senantiasa menikmati masa-masa kehamilan nya tanpa mengeluh.
Pagi itu, Selesai mandi Salsa berdiri di depan cermin, melihat penampilan nya dengan perut bulat besar yang tampak sudah turun kebawah.
"Kamu terlihat sangat cantik sekali dengan perut besar ini, Sayang, " bisik Zidan di telinga Salsa sembari memeluk nya dari belakang.
Salsa tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin sambil tangan nya membelai wajah Zidan.
"Sayang, dia nendang lagi," ucap Zidan histeris saat merasakan pergerakan di perut istrinya. Kemudian ia berjongkok di depan Salsa mendekatkan telinganya di perut besar itu.
"Kalian sedang apa? jangan berantem di dalam ya. Kasihan Mama kalian," gumam Zidan.
"Udah diam dia sayang, sekarang ayo kita sarapan. Habis itu kita jalan-jalan sebentar di taman," Zidan lalu menuntun Salsa menuju meja makan.
Belum sampai di meja makan, Salsa meringis sambil memegang perutnya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Zidan yang lansung cemas seketika.
"Aakhhhh.......! Perutku, Mas. Perutku sakit banget," wajah Salsa seketika memerah menahan sakitnya.
Zidan yang panik dan tak tau mesti melakukan apa. Berteriak memanggil Maria dan Rita.
"Ma.......! Mama..........! Bu......! Ibu.........! "
"Tahan sebentar sayang," ucap Zidan yang terlihat begitu cemas
"Sakit Mas........! Sakit........! " ringis Salsa menahan sakitnya.
Maria dan Rita yang mendengar teriakan Zidan berjalan tergopoh-gopoh mendekatinya.
"Zi, cepat bawa istri mu ke mobil. kita kerumah sakit sekarang," ucap Maria.
Zidan pun lansung menggendong nya menuju mobil di ikuti Maria dan Rita.
__ADS_1
Dari arah ruang makan Diana berdiri menatap mereka dengan seringai kebencian di wajah nya.