
Salsa yang sudah sadarkan diri. sekarang sudah di pindahkan ke ruang VIP. Zidan duduk di samping ranjang pasien sembari menyatukan sela jemarinya pada jemari Salsa.
"Kamu kenapa?" tanya Zidan saat melihat Salsa yang memalingkan wajah nya ke arah lain.
"Mas bau, mandi sana!" jawab Salsa ketus tanpa menoleh melihat suaminya yang duduk di samping ranjang.
Zidan melepaskan genggaman jemari tangan nya pada jemari Salsa. Ia kemudian berdiri menatap Salsa yang masih memalingkan wajah nya ke arah lain.
Zidan berjalan mendekati sofa yang ada di ruangan VIP itu sembari mengendus tubuh nya sendiri, lalu mengeluarkan ponsel dan lansung menelpon Jefri.
"Belikan aku baju ganti, serta peralatan mandi. uang nya akan aku transfer." Ucap Zidan saat sambungan teleponnya sudah terhubung.
"Baik tuan," balas jefri.
Tuuuuuuuuth
Sambungan telepon Zidan putuskan begitu saja.
"Masa sih badan ku bau?" batin Zidan, yang masih mencium aroma tubuh nya sendiri.
*
Disekolah Salsa.
Santi terus berjalan di ikuti Raka di belakang nya. Ia menghentikan langkah saat melihat Mira di taman sekolah yang sedang berkumpul dengan teman-teman nya.
"Tunggu di sini!" perintah Santi pada Raka yang sejak tadi berjalan mengikuti nya.
Santi lalu melangkah mendekati kumpulan siswi yang nongkrong di taman sekolah itu.
"Mira, bisa bicara sebentar," ucap Santi saat sudah berdiri di antara mereka.
Mira menoleh melihat Santi yang berdiri di belakangnya.
"Mau ngomong apa?" tanya Mira menatap Santi heran.
"Ikut saja, Penting!" tegas Santi seraya berjalan mendekati Raka yang berdiri menunggu nya.
"Bentar ya guys," ucap Mira pada empat orang teman nya. Lalu, ia berjalan mengikuti Santi di depannya.
Sejenak Mira tertegun saat melihat Raka yang kini sudah berada tepat di depannya.
"Tanyain sama dia, Katanya dia tadi sempat melihat Salsa pinsan saat masih ada di toilet. sebelum di bawa ke ruang UKS," ucap Santi seraya menoleh pada Mira yang masih terpaku menatap Raka.
"Woi, Mira! Malah bengong," teriak Santi yang sontak mengagetkan Mira.
"Eh, sorry, sorry, gua nggak denger, lo ngomong apa tadi?" tanya Mira yang baru tersadar.
"Bukan aku yang mau ngomong tapi dia," ketus Santi yang tidak suka, saat melihat Mira yang terus saja menatap Raka.
__ADS_1
"Abang ganteng mau ngomong apa?" ucap Mira, sembari melangkah lebih mendekat lagi pada Raka.
"Saya mau menanyakan sedikit tentang insiden yang menimpa Salsa tadi," balas Raka.
"Oo,. tanyakan Saja, pasti aku jawab kok," ujar Mira yang kini tangan nya sudah merangkul tangan Raka.
Dasar cewek ganjen. Gerutu Santi menatap Mira kesal.
"Dimana kamu melihat pertama Salsa pinsan? Sebelum di bawa ke ruang UKS," tanya Raka sembari menatap lengan nya yang di rangkul mesra oleh Mira.
"Di toilet sana." jawab Mira seraya satu tangan nya menunjuk arah toilet dan satu tangan nya lagi menggandeng tangan Raka.
Raka hanya pasrah saja dengan sikap agresif Mira, demi untuk mendapatkan info. Lain hal dengan Santi yang semakin kesal melihat tingkah Mira.
"Bisa kamu menunjuk kan tepat nya di mana Salsa tadi pinsan?" pinta Raka.
"Ya bisa lah! apa sih yang engga bisa buat abang ganteng," ujar Mira yang semakin betingkah manja pada Raka.
**
Zidan yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian dengan pakaian ganti yang di bawakan Jefri. Ia kini kembali duduk di samping ranjang pasien, sembari kembali mengenggam jemari Salsa.
"Iiiiih, mas sana deh," ucap Salsa yang kambali memalingkan wajah nya dari Zidan.
"Kamu kenapa sih?" tanya Zidan dengan raut wajah kesal yang masih duduk di sebelah ranjang pasien.
Dengan terpaksa Zidan berdiri dari duduk nya. Ia menghempaskan tubuh nya di sofa yang tidak jauh dari ranjang pasien.
Apa badan ku se busuk itu? Sampai dia ingin muntah. Atau jangan-jangan? akibat benturan di kepalanya. batin Zidan sembari mencium kembali aroma tubuh nya sendiri.
***
Raka mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut ruang toilet wanita. tempat awal di temukan nya Salsa pingsan.
"Dimana kamu melihat Salsa pingsan tadi?" tanya Raka pada Mira.
"Disana," Mira menunjuk tempat tadi ia melihat Salsa tergeletak. dengan satu tangan nya yang masih memeluk lengan Raka.
"Tangan mu lepas dulu," pinta Raka, yang dengan terpaksa di turuti Mira.
"Apa kamu masih ingat posisi Salsa pinsan tadi seperti apa?" imbuh Raka bertanya.
"Posisi kepalanya ada di sini, dan posisi kaki nya ada di sana, dengan tubuh terlentang" terang Mira, sembari menunjuk dengan tangan nya.
Raka melangkah mundur. ia berdiri di depan pintu toilet, memperhatikan lantai toilet yang bersih dan kering. Serta memperhatikan posisi sudut dinding di toilet itu.
Tidak mungkin jika nyonya terpeleset, dengan posisi tubuh nya seperti itu? pikir Raka yang terus memperhatikan sudut dinding serta lantai toilet.
"Siapa yang pertama kali melihat Salsa pinsan?" tanya Raka yang terus memperhatikan setiap inci dari sudut ruangan itu.
__ADS_1
"Siska, anak kelas dua belas IPS, Saat itu ia menjerit-jerit minta tolong. aku dan teman-teman yang lain datang deh," ujar Mira.
"Apa Siska berteman dengan Salsa?" tanya Raka.
"Setahuku engga deh, malahan waktu pemilihan tokoh drama Cinderella ia seperti tidak menyukai Salsa gitu," Jawab Mira.
"Maksud kamu gimana?" tanya Raka dengan wajah serius nya.
"Tiga hari yang lalu. Waktu guru kesenian kami memilih beberapa orang Siswa untuk mementaskan drama Seni untuk acara perpisahan sekolah. Salsa lah yang terpilih untuk memerankan tokoh Cinderella, Sedangkan Siska hanya dapat peran sebagai saudara tiri jahat Cinderella. Padahal Siska ngarep banget tuh, untuk memerankan tokoh Cinderella agar bisa PDKT lagi sama si pangeran tampan Rendi," ujar Mira menerangkan.
Raka mendengarkan penjelasan Mira dengan menyilangkan kedua tangan di dada, seraya mengangguk kan kepalanya.
Raka lalu melangkah keluar dari toilet, ia terus berjalan sembari mengedarkan pandangan nya melihat ke atas.
"Apa di sekolah ini ada CCTV?" tanya Raka tanpa menoleh pada Mira yang berjalan di belakang nya.
"Ada tapi hanya di bagian depan sana," jawab Mira.
"Oke, Terima kasih ya!" ucap Raka lalu melangkah pergi.
"Abang ganteng mau kemana?" Mira berlari mengikuti Raka yang sudah berjalan cepat di depannya.
****
Ceklek
Pintu ruangan VIP tempat Salsa di rawat terbuka, di sertai masuk nya dokter Erwin yaitu dokter pribadi Zidan yang sering datang ke mensionnya.
Zidan berdiri dari sofa tempat ia duduk. Ia berjalan lalu menarik tangan dokter Erwin yang hendak berjalan mendekati ranjang pasien.
"Apa kau mencium bau sesuatu di tubuh ku?" tanya Zidan yang sudah berdiri agak jauh dari Salsa.
Dokter Erwin menatap Zidan dangan mengernyitkan dahi nya.
"Jangan menatap ku seperti itu." tekan Zidan seraya memalingkan tubuh nya ke arah lain.
"Tidak tuan, anda tidak bau," ucap dokter Erwin.
"Kau jangan berbohong!" Seru Zidan yang kembali menoleh pada dokter Erwin.
"Benar tuan, saya tidak mencium bau apa pun, selain aroma parfum tuan," tegas dokter Erwin.
"Lalu kenapa dia bilang aku bau, bahkan dia hendak muntah saat aku di dekatnya?" tanya Zidan sembari menatap Salsa yang berbaring di ranjang pasien.
Dokter Erwin sejenak diam, seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan Zidan.
"Biar kan saya memeriksa nya dulu tuan," ujar dokter Erwin.
"Hmm," Zidan mengangguk kan kepalanya.
__ADS_1