
Raka kini sudah berada di ruangan kepala sekolah. Musbar meminta menunggu nya di sana, Untuk menyelesaikan masalah dengan putri nya, secara kekeluargaan.
Tidak lama berselang Musbar dan Siska masuk ke dalam ruangan itu. Musbar menutup pintu ruangan karna tidak ingin di lihat oleh orang lain.
"Jangan tutup pintunya!" ucap Raka yang tidak bisa di bantah Musbar.
Raka mengalihkan pandangannya pada Siska yang berdiri dengan wajah angkuh.
"Pa, ngapain sih bawa aku ke sini?" ketus Siska.
"Cepat......!!! Minta maaf sekarang pada tuan Raka," herdik Musbar pada putrinya.
"Minta maaf pada dia? Untuk apa? Aku saja tidak mengenal dia," balas Siska sembari mengacungkan jari telunjuk nya pada Raka, yang duduk di kursi kebesaran papa nya.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Siska, hingga pipi yang terkena tamparan itu berubah warna nya menjadi merah.
Siska memegang pipinya, yang kali pertama mendapat tamparan dari sang papa, yang selama ini sangat memanjakan nya.
"Papa apaan sih!" sungut Siska pada papanya.
"Bagaimana Nona? sakit kah?" timpal Raka sengaja meledeknya. Raka lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, dan memperlihatkan rekaman video CCTV yang memperlihatkan saat Siska menarik tangan Salsa menuju toilet.
"Apa hubungan nya wanita Munafik itu dengan lo?" tanya Siska dengan angkuhnya menatap tajam pada Raka.
Plak!
Satu tamparan lagi mendarat di pipinya. Siska meringis memegang pipinya sembari menatap benci pada Musbar.
"Cepat minta maaf!!!" bentak Musbar.
**
Dirumah sakit.
Zidan yang masih duduk di sofa, menatap wajah polos Salsa yang sudah tertidur di ranjang pasien. Ia memandang wajah istrinya itu lekat sembari menyunggingkan senyum.
Perlahan ia bangkit dari duduk dan berjalan mendekati ranjang pasien. Zidan menatap perut Salsa yang masih terlihat rata, tersenyum penuh arti. Ia mengulurkan tangan mengusap dahi Salsa sampai ke rambut ikal nya, memperhatikan wajah Salsa yang twngah tertidur lelap.
Cup
Zidan mengecup dahi Salsa hingga membuat istrinya itu terbangun.
"Mas, ngapain di sini?" pekik nya saat melihat Zidan yang berdiri di samping ranjang pasien.
"I-itu ta-tadi ada nyamuk," ucap Zidan terbata saat melihat mata Salsa yang membola menatap nya.
__ADS_1
Salsa memegang dahi nya, yang tadi di cium Zidan, sembari menatap Zidan yang menggaruk kepala belakang.
Ceklek
Pintu terbuka terlihat seorang wanita paruh baya yang masih berdiri di ambang pintu. Rahang Zidan seketika mengeras melihat wanita paruh baya yang berdiri itu. Nampak jelas raut wajah ketidak sukaan Zidan terhadap wanita paruh baya itu.
Salsa memegang tangan Zidan yang hendak berjalan mendekati wanita paruh baya itu.
"Mama, Maria," sapa Salsa seraya tersenyum pada wanita paruh baya yang masih berdiri di ambang pintu.
Zidan menoleh melihat Salsa dengan tatapan tidak suka nya. Kemudian melepaskan tangan Salsa yang memegang tangan nya.
"Mas." langkah Zidan terhenti saat Salsa memanggilnya. Ia menoleh lalu kembali melangkah menuju pintu yang masih ada Maria berdiri di sana.
Tatapan mata Zidan yang begitu tajam seperti menusuk ke jantung Maria yang masih berdiri di depan pintu saat berjalan melewati nya.
"Ma, sini," Salsa memanggil Maria, yang masih berdiri terpaku.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Maria panik sembari berajalan mendekati ranjang pasien. Dia melihat wajah Salsa yang masih terlihat pucat.
"Nggak apa-apa ma, hanya saja kepala Salsa sedikit pusing," jawab Salsa sembari menyunggingkan senyumnya.
"Itu kepala mu kenapa sayang? Sampai di perban segala?" tanya Maria lagi.
"Ini," Salsa memegang dahi nya sendiri.
Maria mengernyit menatap menantunya itu.
Ceklek
"Selamat siang!" sapa ramah dokter wanita yang baru masuk ke ruangan itu, diikuti seorang perawat di belakang nya.
Dokter wanita itu berjalan mendekati ranjang pasien. Maria yang duduk di samping ranjang lalu berdiri mempersilahkan dokter itu mendekat.
"Maaf menganggu nyonya, kami mau memeriksa pasien sebentar," ucap dokter pada Maria.
"Ya silahkan dokter," balas Maria sembari berjalan mendekati sofa dan duduk di sana.
"Bagaimana keadaan mu Nona? Apa masih terasa mual," tanya dokter wanita itu.
"Masih dok, tapi kadang-kadang saja," jawab Salsa.
**
Di luar ruangan Salsa di rawat. Zidan melihat beberapa orang pria yang menggunakan jas hitam, berdiri tegap di sekitar ruangan. Mata nya menatap tajam pada seorang pria paruh baya yang tidak asing di matanya.
Ya dia lah Alfredo, pria yang pergi bersama ibunya enam belas tahun yang lalu. Wajah itu masih tersimpan di memori ingatan Zidan.
__ADS_1
Zidan lalu berjalan di pelataran rumah sakit sembari menelpon Raka.
"Bagaimana Raka? Apa kau sudah mengetahui penyebab istriku pingsan?" tanya Zidan saat sambungan teleponnya mulai terhubung.
"Sudah bos, saya sudah menemukan orang nya," jawab Raka dari sambungan telepon.
"Bagus Raka, kau tau kan, apa yang harus kau lakukan?"
"Tau bos. Bos tenang saja, jagalah nyonya baik," balas Raka.
"Kau tidak usah mengajariku brengsek!" bentak Zidan.
"Maaf kan saya bos. sa-saya hanya mau menanyakan bagaimana keadaan nyonya,"
Tuuuuuuuuth
Sambungan telepon itu lalu di putuskan Zidan.
"Raka sialan berani dia menesehati ku." gerutu Zidan kesal.
***
Sementara itu di ruangan Salsa di rawat. dokter telah selesai memeriksa nya.
"Nona, suaminya mana?" tanya dokter itu ramah.
"Suami nya pergi keluar sebentar dokter, saya ibunya," sela Maria seraya berdiri dari duduk nya.
Dokter itu lalu berjalan mendekati Maria.
"Kalau begitu, bisa nyonya ikut saya sebentar," pinta dokter sembari berjalan melangkah keluar ruangan.
"Mama keluar sebentar ya sayang," ucap Maria yang dibalas anggukan kepala dari Salsa. Ia lalu berjalan menemui dokter yang menunggunya di luar.
"Selamat ya nyonya, karna sebentar lagi anda akan mempunyai cucu." ucap dokter itu saat Maria sudah ada di luar.
"Cucu? Berarti menantu saya hamil dok?" Terlihat raut wajah bahagia wanita paruh baya itu.
"Benar nyonya. Tapi?"
"Tapi apa dok?" seketika raut wajah bahagia Maria berubah jadi tegang.
Dokter pun menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Tapi keadaan pasien sangat lemah nyonya, tekanan darah dan detak jantung nya tidak normal. Saya belum bisa memastikan penyebab nya. Tapi untuk sementara waktu, jangan biar kan pasien stres berkepanjangan, karna itu bisa membuat pasien tidak sadarkan diri." tutur dokter itu menjelaskan.
"Apa itu bisa sembuh dok?" tanya Maria cemas.
__ADS_1
"Untuk itu, kami perlu mengetahui penyebab nya dulu nyonya. Sekarang ini belum bisa di lakukan pemeriksaan karna keadaan pasien yang sangat lemah dan juga karna pasien sedang hamil, terlalu beresiko jika melakukan pemeriksaan," terang dokter itu.