Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Cemas


__ADS_3

Santi yang baru saja keluar dari kelas merasa heran melihat banyak Siswa yang berlarian ke ruang UKS


"Ada apa sih? Kok pada rame-rame ke ruang UKS," tanya Santi pada Mira yang baru saja dari ruang UKS.


"Loe sahabatnya Salsa kan?" tanya Mira.


"Iya, emang kenapa?" tanya Santi datar.


"Apa loe gak tau Salsa sekarang ada di ruang UKS!" ujar Mira.


"Engga," balas Santi.


"Dia tadi pingsan didalam toilet. gua juga ngeliat tadi ada darah di sana." terang Mira.


Santi segera berlari ke ruang UKS, tanpa mendengarkan lebih banyak lagi penjelasan dari Mira. Dengan raut wajah yang terlihat camas.


"Kamu kenapa Sa?" batin Santi yang merasa khawatir.


Benar saja, saat tiba di ruang UKS. Santi melihat Salsa yang terbaring di ranjang, di sampingnya ada seorang guru wanita yang mengobati luka di kepalanya. Santi berjalan menerobos kerumunan para Siswa yang ada di ruang itu. Ia mendekati sahabat nya yang terbaring di ranjang ruang UKS, dengan bola mata yang berkaca-kaca. Santi mengenggam tangan Salsa yang tidak memberikan respon apa-apa.


"Sa, kamu kenapa?" gumam nya menatap wajah Salsa yang tertidur.


"Santi, apa kamu punya nomor telepon keluarga Salsa yang bisa di hubungi?" tanya  guru yang mengobati Salsa.


Sejenak Santi terdiam. Lalu ia kembali ke kelas nya, mengambil ponsel Salsa yang ada di dalam tas.


Setelah itu Santi membuka layar ponsel Salsa yang tidak memiliki pasword. Ia menekan menu kontak, yang hanya ada tiga nama saja yang tersimpan. Santi melakukan panggilan suara yang tertulis nama Mas Zidan di menu kontak ponsel Salsa.


"Ada apa pacar.....?" Zidan sengaja menggoda saat sambungan teleponnya mulai terhubung.


"Maaf, Aku Santi, bukan Salsa." tegas Santi sebelum Zidan melanjutkan kata-kata nya.


"Aku hanya ingin memberitahukan, saat ini Salsa pinsan dan ada di ruang UKS," imbuh santi melanjutkan ucapan nya.


Tuuuuuuuuth. 


Sambungan telepon itu kemudian terputus.


**


Zidan yang berada di kantor, saat mendapat kabar dari Santi, raut wajah nya berubah seketika. Ia segera berjalan dengan langkah lebar menuju ruangan Raka.

__ADS_1


Ceklek


Pintu ruangan Raka terbuka.


"Ikut aku sekarang Raka." titah tegas Zidan yang hanya berdiri di depan pintu, kemudian ia segera mengayun kan langkah kaki nya menuju pintu Lift. Raka bangkit dari duduk nya dan berlari mengejar langkah Zidan yang sangat cepat.


Zidan melajukaan mobil nya dengan kecepatan kilat, menyalip kendaraan lain dari kiri dan kanan. untung saja di waktu jam kerja jadi tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang, yang sering membuat kemacetan di jalanan.


"Bos ada pa? Tolong tenang lah bos kendalikan diri, jangan mengemudi seperti ini," ucap Raka merasa cemas, dirinya merasa semakin dekat dengan kematian.


Namun kata-kata Raka itu seperti tidak di dengar oleh Zidan, ia terus menginjak gas dengan pandangan fokus kedepan.


Tidak Sampai dua puluh menit mobil Lamborghini Zidan, sudah terparkir di pekarangan sekolah. Jefri yang duduk di warung depan, melihat mobil tuannya masuk ke pekarangan sekolah, Ia pun berlari dan juga ikut masuk ke dalam, setelah meminta izin pada satpam yang bertugas.


Zidan turun dari mobil. ia segera berlari ke ruang UKS, dengan raut wajah cemas. Di ikuti Raka yang mengejar langkah nya. Ini memang kali ke dua Zidan ke ruang UKS di sekolah Salsa, jadi ia hapal betul letak nya di mana, tanpa bertanya dulu pada pihak sekolah.


Zidan menghentikan langkahnya, saat melihat Salsa yang terbaring tidak sadarkan diri. Bagian kepala Salsa sudah di ikat perban untuk menutupi lukanya.


Di ruangan UKS itu memang tidak ada lagi kerumunan para Siswa, seperti saat Salsa baru di bawa tadi. Disana hanya ada tiga orang guru, Santi dan Rendi.


Zidan menatap tajam pada Guru yang ada di dalam ruangan itu.


"Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini?" Ucap Zidan dengan bibir yang gemetar.


"Jawab...." sentak Zidan dengan suara yang sangat mengerikan.


"Lebih baik bos bawa nyonya ke rumah sakit, masalah di sini biar saya yang mengurus," bisik Raka di telinga Zidan.


"Satu jam dari sekarang, jika tidak ada tanggung jawab dari kalian, akan aku ratakan sekolah ini dengan tanah," ancam Zidan pada guru yang ada di sana.


Zidan juga menatap tajam Rendi, sebelum mengangkat tubuh Salsa. Tapi Rendi terlihat sangat santai duduk di sudut ruangan itu.


"Cari tau penyebab nya?" bisik Zidan pada Raka, saat hendak melangkah pergi.


Zidan berjalan cepat di Koridor sekolah dengan menggendong tubuh Salsa. Ia tidak memperdulikan bisik-bisik para Siswa saat berpapasan dengan nya.


***


Setelah Zidan meninggalkan ruang UKS. guru yang ada disana pun meninggalkan ruangan itu. diikuti Rendi yang juga ikut keluar.


Tek

__ADS_1


Tek


Tek


Raka menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Santi yang sejak tadi hanya melongo menatap nya.


Santi bergelinjak kaget, seraya berdiri dari duduk nya. Ia pun hendak keluar dari ruangan itu, saat menyadari hanya ada Raka dan dia saja yang disana.


"Tunggu," ucap Raka yang menghentikan langkah Santi.


"Apa kamu tau penyebab Salsa tadi pinsan?" tanya Raka.


"Tidak. aku tau nya Salsa sudah berada di ruang UKS." Jawab Santi di sertai gelengan kepalanya.


"Dimana Salsa pinsan?" tanya Raka lagi dengan menatap wajah Santi yang terlihat gugup.


"Di toilet sana," jawab Santi saraya menunjuk toilet yang masih bisa mereka ia lihat dari tempat nya berdiri.


"Siapa yang pertama kali menemukan Salsa pinsan?" tanya Raka lagi.


"Aku juga tidak tau, tapi mungkin teman aku yang lain tau." jawab Santi.


"Siapa? Bisakah kamu mengantarkan saya pada teman mu itu?" pinta Raka.


"Ya," Santi mengangguk sembari berjalan di Koridor sekolah, di ikuti Raka yang berjalan di belakang nya.


**


Zidan yang sudah berada di rumah sakit, melihat Salsa yang sudah di tangani oleh dokter dengan wajah yang masih cemas.


"Bagai mana keadaan istri Saya?" tanya Zidan pada dokter yang sudah selesai memeriksa  Salsa.


"Jangan terlalu cemas tuan, Sebentar lagi istri tuan akan sadar. tapi saya saran kan setelah ini tuan memeriksa kan ke dokter spesialis penyakit dalam-." terlihat dokter menghela nafas sebelum kembali melanjutkan kata-kata nya.


"Saya tidak bisa memberikan kesimpulan. Tapi saat ini kondisi detak jantung pasien sangat lemah," imbuh sang dokter.


"Maksud kau apa?" tanya Zidan dengan sorot mata tajam pada dokter.


"Saya tidak bisa memastikan nya tuan, apakah pasien saat ini hanya mengalami ketakutan saja. Atau ada penyakit yang lain," ujar dokter itu seraya melepaskan kaca matanya.


Zidan mendorong tubuh dokter itu sampai tersandar ke dinding. Ia mencengkram kerah di leher jas putih dokter itu dengan kuat.

__ADS_1


"Katakan padaku, kalau istriku itu baik-baik saja. Cepat katakan.....!" bentak Zidan dengan tatapan mata yang seakan membunuh.


"Ya, is-istri anda ba-baik-baik saja tuan," ucap dokter itu ketakutan.


__ADS_2