Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Tanggung jawab


__ADS_3

Herman masih penasaran dengan sosok orang yang berbaring di ranjang pasien kamar inap yang di lihatnya tadi. Setelah ia melihat Raka meninggal kan tempat itu. Herman lalu pindah, bersembunyi di balik bangunan lain yang tidak jauh dari kamar inap Rita.


Dengan perut yang semakin terasa lapar Herman terus saja mengawasi Kamar inap itu. Menunggu seorang laki-laki yang sering di lihatnya di depan sekolah Salsa beranjak dari depan kamar inap itu.


Sial! kenapa si kampret itu tidak pernah beranjak dari sana. Mana perutku semakin lapar. 


Gerutu Herman terus saja mengumpat.


Tidak jauh dari tempat nya berdiri Herman melihat kran air yang terpasang. tanpa pikir panjang lagi dia berjalan ke arah kran air dan meminum air nya sampai mengeluarkan sendawa.


Lumayan lah, air ini bisa membuat perut ku kenyang...


Sedangkan Rita yang berada di ranjang pasien, perlahan jemari dan kelopak matanya bergerak. Rita belum menyadari jika saat ini dirinya ada di rumah sakit, sebab dari tadi siang ia hanya tertidur karna badan nya yang sangat lemah. Perlahan matanya terbuka, mendapati tempat yang sangat asing baginya.


Dimana aku? Kenapa kepala ku sangat pusing sekali. 


Sambil terus membatin, Pandangan matanya mengedar melihat setiap sudut di ruangan itu.


Rita baru menyadari dirinya berada di rumah sakit, saat melihat jarum infus menancap di punggung tangan nya. Lalu Ia berusaha untuk duduk agar bisa menjangkau botol air minum yang ada di meja nakas meski kepala masih terasa berat.


Ceklek


Pintu terbuka. Raka dan dua orang wanita masuk kedalam kamar inap.


"Siapa kalian?" tanya Rita yang sudah duduk di atas ranjang pasien.


"Syukurlah anda sudah sadar nyonya." balas Raka yang berdiri tidak jauh dari nya.


"Siapa kalian? Dan kenapa aku bisa ada di sini." tanya Rita yang belum bisa mengingat kecelakaan yang menimpa dirinya.


"Saya Raka nyonya, bukan kah kita sudah pernah bertemu dulu," jawab Raka.


Siapa dia? Kenapa dia mengatakan pernah berjumpa dengan ku? 


Rita mencoba mengingat-ingat laki-laki yang berdiri di depannya saat ini.


"Saya dulu pernah kerumah anda nyonya. Membawa uang mahar untuk meminang putri anda. Apa anda masih ingat." ujar Raka mencoba memancing ingatan nya.


Kepala Rita seketika tertunduk. Masih jelas di ingatannya ketika ia menolak semua pemberian calon menantunya saat itu. Kata-kata Raka yang mengatakan jika suatu hari nanti ia akan menyesal. Ya, kini kata-kata itu telah terbukti. Tetes air mata penyesalan pun tak mampu ia bendung lagi.


Sungguh! Rasa sesalnya semakin besar, jika teringat perbuatan yang pernah ia lakukan dulu pada Salsa. Masih terngiang oleh nya jerit tangis Salsa yang memohon ampun padanya. Saat ia memukul dengan tangan nya sendiri. Memenjarakan Salsa hanya karna terlalu percaya akan ucapan mulut suami yang dulu sangat ia cintai.


Namun sekarang, Rita seperti menerima karma atas perbuatan yang pernah ia lakukan dulu. Isak tangis nya pun semakin nyaring terdengar kala teringat kejadian itu.


"Tidak usah terlalu memikirkan kesalahan masa lalu nyonya. Sekarang anda Istrahat lah! Putri anda pasti tidak ingin melihat ini. dan jika butuh apa-apa katakan saja pada mereka berdua," Raka berlalu pergi meninggalkan Rita yang masih meratapi penyesalannya.


Di luar. Herman yang masih memperhatikan kamar inap itu semakin menggeram kesal, saat melihat Raka membawa orang untuk menjaga kamar itu.

__ADS_1


Arrrrrrg, sial! Aku semakin yakin jika yang di dalam ruangan itu pasti lah si Rita. 


*****


Pagi-pagi sekali Salsa sudah bangun karna tak sabar untuk bertemu dengan ibunya.


Mas, bangun. Bangun Mas!" Salsa menggoyang-goyangkan tubuh Zidan yang masih tidur pulas.


Zidan menggeliat, lalu menarik tubuh Salsa ke pelukannya.


"Iiiiih, Mas, cepat bangun. Katanya hari ini mau ngajak aku ketemu ibu." protes Salsa yang sudah berada dalam pelukan Zidan.


"Ini masih sangat pagi sekali sayang. Ayam saja belum berkokok" Ujar Zidan yang semakin mem pererat pelukannya.


"Terus kapan ketemu ibu?" tanya nya berusaha melepaskan tangan Zidan yang memeluk tubuh nya.


"Nanti siang sayang, sekarang tidur lah lagi." pinta Zidan semakin memper erat pelukannya.


"Nggak mau. Aku nggak mau tidur dan nggak akan tidur sebelum ketemu ibu." gerutunya.


"Kalau kamu terus membantah, mas tidak jadi membawa mu bertemu ibu." ucap Zidan mengancamnya.


"Ya, aku tidur," balas Salsa cepat, tanpa ingin memprotes lagi. Zidan tersenyum simpul sebelum kembali melanjutkan mimpinya........


Matahari pagi sudah mulai menampakkan sinarnya. Salsa dari tadi hanya berbaring saja di atas ranjang. Sedang kan Zidan, kembali melanjutkan mimpi nya.


"Mas. Ayo bangun," kembali Salsa menggoyang kan tubuh Zidan.


"Ayo bangun, iiiih." desak Salsa sambil menarik tangan nya.


"Kan sudah Mas katakan, bertemu ibu nanti siang. Lagian, buat apa kamu bangun pagi, ini kan hari minggu Sayang," ucap Zidan yang enggan membuka mata.


"Ya, tapi mas bangun dulu. cepat lah mas, bangun," Lagi, Salsa manarik tangan Zidan. Namun, suaminya itu sudah kembali memejamkan mata.


Puas Salsa membangun kan Zidan pagi itu. Namun, sepertinya Zidan memang ingin bermalas-malasan atau memang matanya sangat mengantuk.


Salsa lalu tersenyum, saat sebuah ide gila muncul di otak nya.


Dengan begini mas pasti akan bangun. 


Jemarinya tanpa di komando, lansung meraba-raba pangkal paha Zidan, mengusap lembut sampai ke bagian tubuh paling sensitif nya.


Tidak berhenti di situ, jemari nya semakin berani mengusap tongkat Sakti Zidan yang masih berada di dalam piyama. Nafas Zidan memang sudah tidak teratur. Namun, matanya masih saja terpejam.


Salsa terus memainkan jemarinya di sana, memijat tongkat sakti Zidan yang semakin membesar. Mata Salsa kembali melihat wajah Zidan yang masih tanpa ekspresi.


Aku yakin! Mas sebenarnya sudah bangun. Buktinya! ini nya juga sudah mulai keras. 

__ADS_1


batin nya dengan seulas senyum.


Jemari Salsa semakin nakal lagi. Kini jemari lentik nya itu telah menyusup ke dalam piyama Zidan. Menyentuh tongkat sakti itu secara lansung. Sebelum jemari nya mengenggam tongkat sakti itu. Salsa kembali menatap wajah Zidan yang masih belum memberikan ekspresi apa-apa.


Masih belum mau bangun? 


Salsa tersenyum penuh arti.


Jemari Salsa lalu mengenggam tongkat sakti Zidan yang sudah semakin mengeras dan memanjang. Lalu, jemarinya mulai mengurut pelan Tongkat sakti itu. Namun sayang nya saat ia lihat wajah Zidan. Wajah itu masih saja menampilkan wajah datar tanpa ekspresi.


Iiiiih, kok mas belum bangun juga sih. 


Salsa kemudian menarik lagi tangan nya karna usahanya untuk membangunkan Zidan gagal.


Beberapa detik kemudian, tangan Zidan yang menarik tangan Salsa. Membawa tangan itu kembali ke tongkat sakti milik nya.


"Kamu harus tanggung jawab," suara bariton Zidan yang terdengar serak dengan mata yang masih terpejam.


"Salah Mas sendiri, ngapain nggak mau bangun," Salsa kembali menarik tangan nya, menyembunyikan di belakang tubuh nya.


"Ayo lah sayang, ulangi lagi seperti tadi." Zidan merengak meletak kan kepalanya di atas paha Salsa.


"Nggak mau. siapa suruh nggak mau bangun," Salsa semakin menggodanya.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau melakukan nya. hari ini tidak jadi bertemu Ibu,"


Beruntung Zidan masih punya kalimat sakti yang bisa ia gunakan untuk menaklukkan istrinya.


"Iiiiih, ancaman Mas itu mulu." sungut Salsa.


"Salah siapa? Naga tidur malah di bangun kan. Cepat lakukan!" perintah Zidan.


Salsa hanya bisa pasrah, menuruti kemauan suaminya untuk menidurkan Naga nya yang bangun.................


********


Pagi menjelang siang, Raka kembali mendatangi rumah sakit untuk membawa Rita ke mension. Dokter yang memeriksa tadi pagi pun sudah mengizin kan Rita untuk pulang.


"Bagaimana keadaan anda sekarang nyonya?" tanya Raka yang baru saja masuk ke ruangan itu.


"Tolong jangan panggil saya nyonya, karna panggilan itu sangat tak pantas untuk saya," pinta Rita.


"Jadi, saya harus memanggil nyonya apa?" tanya Raka.


"Panggil saya ibu, atau tante. Mungkin itu terdengar lebih baik," balas Rita.


"Baiklah ibu Salsa. Apa ibu Sudah siap untuk bertemu anak dan menantu?" tanya Raka sedikit menggodanya.

__ADS_1


"Jujur Raka, saya masih ragu, saya malu untuk bertemu mereka. Yang kamu kata kan dulu benar Raka, suatu hari nanti saya akan menyesal. Dan sekarang saya merasakan penyesalan itu." ungkap Rita.


"Tidak ada guna nya larut dalam penyesalan. Lebih baik memperbaiki diri, dari pada meratapi kesalahan. Bukan kah semua orang juga pernah berbuat salah. Sudah lah! Sekarang ibu bersiap lah, karna anak dan menantu ibu sudah menunggu di rumah." ujar Raka.


__ADS_2