Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Membujuk


__ADS_3

Pov Salsa


Setelah Mas Zidan datang kerumah tadiĀ  siang memarahi ku, dan pergi lagi dalam keadaan marah. sampai sekarang aku belum melihat nya lagi, padahal hari udah sore namun Mas Zidan belum juga pulang. Aku coba menghubungi nomor ponsel nya beberapa kali tapi tidak di jawabnya. kemudian aku menghubungi nomor ponsel bang Raka akan tetapi bang Raka bilang Mas Zidan tidak ada di kantor. Ya Tuhan kemana Mas Zidan? Tidak biasa nya dia pulang selambat ini.


Mungkin dia sedang sibuk? Atau ada pekerjaan lain di luar kantor. aku mensugesti pikiran ku sendiri agar tetap berpikir positif.


Ya, ku akui ini memang kesalahan ku. Jika saja tadi siang aku tidak datang kerumah ibu mungkin semua ini tidak akan terjadi. Aku memang tidak menceritakan pada Mas Zidan kejadian tadi siang di rumah ibu, jika Herman nyaris memp*rk*s* ku. beruntung aku masih sempat teriak setelah menggigit tangan nya yang membekap mulut ku dan bang Raka yang mendengar lansung masuk ke dalam, jika tidak aku tak tau lagi apa yang terjadi.


Aku takut jika aku cerita kan pada Mas Zidan apa yang terjadi tadi siang dirumah ibu, tentu dia akan sangat marah sekali, aku tak ingin dia menyakiti Herman, karna pastinya ibu ku akan semakin membenciku.


Tadi siang setelah Mas Zidan dan bang Raka pergi. Aku pun pergi ke dapur memasak makanan untuk Mas Zidan nanti. Sebagai ungkapan maaf ku padanya. bi Marni memang melarang ku, tapi aku bersikukuh akan membuat masakan untuk Mas Zidan hari ini.


Sebenarnya aku butuh bantuan mertuaku untuk mengajari ku memasak makanan kesukaan Mas Zidan, tapi mertua ku belum juga pulang. Terpaksa aku memasak apa yang aku bisa saja, yaitu ayam kecap, karna menurut cerita mertua ku Mas Zidan sangat suka makan ayam kecap. dan aku berharap semoga Mas Zidan suka dengan masakan yang kubuat ini......


******


Sekarang jam di ponselku sudah menunjuk kan pukul delapan malam, namun Mas Zidan belum juga pulang. Makan malam yang ku buat tadi siang sudah ku hidang kan di meja. Aku juga sudah beberapa kali menghubungi nomor ponsel nya malam ini, namun hasil nya sama, tidak ada jawaban darinya. Kini Aku berdiri di luar gerbang menunggu Mas Zidan pulang. Pandangan ku menatap kejalan raya. Berharap mobil Mas Zidan datang.


"Nyonya masuklah ini sudah malam, jika tuan datang pasti nya tuan akan masuk juga ke dalam," kata bang Jefri yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang ku.


"Tapi bang, Salsa khawatir terjadi sesuatu dengan Mas," entah kenapa bola mata ku kembali berkaca-kaca.


"Abang, antar kan Salsa cari Mas," pinta ku pada bang Jefri.


"Jangan berpikir buruk nyonya, sebaik nya nyonya masuk kedalam dan berdoa lah agar tuan baik-baik saja," benar yang di katakan bang Jefri, aku pun masuk ke dalam rumah menunggu Mas Zidan sambil terus berdoa.


Di luar, ku dengar ada suara mobil yang baru datang. Perasaan ku sedikit lega karna ku pikir itu pasti Mas Zidan yang datang.

__ADS_1


Setengah berlari aku menuju keluar, tapi di luar yang datang ternyata Mertua ku dan orang-orang nya.


"Ma, Mas Zidan ma," aku lansung memeluk mertua ku yang baru saja menginjak kan kaki nya di depan pintu.


"Kenapa sayang," mertua ku mengusap lembut punggung ku, sambil menuntun ku ke sofa.


Setelah kami duduk di sofa, mertua ku mengusap pipiku yang sudah di basahi air mata.


"Mas, Zidan bulum pulang ma," ucap ku yang terus terisak.


"Mungkin dia sibuk sayang," balas mertua ku.


"Tapi, kenapa setiap kali Salsa telepon tidak diangkatnya ma," aku masih terisak.


Mertua ku kemudian mengeluarkan ponsel nya, lalu ia pun mencoba menghubungi nomor Mas Zidan, namun hasil nya sama, Mas Zidan tidak menjawabnya.


"Sekarang coba ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya mertua ku.


"Hanya kamu yang bisa membujuk nya sayang. Zidan itu orang nya sangat pedendam. Buktinya sampai sekarang dia masih marah sama mama, tapi mama yakin, kamu bisa membujuk nya. Dan mulai sekarang jangan pernah merahasiakan lagi apa pun darinya. Dia hanya ingin melindungimu, libat kan lah dia dalam setiap masalah yang kamu hadapi." ujar mertua ku memberi nasehat.


Ya, memang ku akui sifat ku kekanak-kanakan dengan nya, tapi sedikitpun aku tak pernah berniat untuk tidak menghargainya. Mungkin ini ketidak tauan ku yang tanpa sengaja memang menyudut kan nya dalam setiap masalah yang ku hadapi.


"Ya ma," balas ku sambil memeluk mertua ku kembali.


Malam itu sambil menunggu Mas Zidan pulang aku bercerita banyak dengan mertua ku, hingga ku tahu dua hari lagi adalah ulang tahun nya. Besok aku akan mempersiapkan kejutan untuk nya.


Mertua ku pun pamit masuk ke dalam kamar nya karna sudah merasa lelah, ia pun menyuruh ku agar menunggu Mas Zidan di dalam kamar saja. Aku pun mengiyakan saja, tapi ku masih duduk di sofa.

__ADS_1


*****


Pukul setengah sepuluh malam, aku mendengar suara mobil yang baru datang. Ya, itu suara mobil Mas Zidan. Dan benar saja, tidak lama Maz Zidan masuk rumah dan terus berjalan ke arah kamar. dia tak menoleh sedikitpun ke arah lain, langkah nya hanya tertuju ke pintu kamar, aku memanggilnya lalu berjalan mendekatinya yang sudah berada di depan pintu kamar.


"Mas, dari mana?


"Kita makan dulu. aku lapar, belum makan dari tadi karna nungguin mas," ucap ku sedikit memelas sambil menarik tangan nya ke meja makan, dia pun mengikutinya meski ku tahu langkah nya terpaksa.


Ku ambilkan nasinya dan ayam kecap yang ku buat tadi siang.


"Gimana mas? enak nggak?" tanya ku tersenyum menatapnya.


"Hmm," hanya itu jawaban nya dengan sedikit anggukan kepala.


Tapi ku merasa sangat senang karna benar dia menyukai masakan ku, bukti nya dia menghabiskan nya. Tapi, kok nambah nya sampai 3 kali, dia yang lapar atau masakan ku yang terlalu enak? Belum pernah aku melihat dia makan selahap itu.


"Mas tau nggak siapa yang masak Ayam kecap ini?" kembali ku bertanya karna ku ingin tau respon nya jika aku yang memasak makanan ini.


Tapi ia hanya melihat padaku sekilas lalu kembali menyantap makanan nya tanpa berkata apa pun.


Kini ku coba merayunya dengan menyuapkan makanan dengan tangan ku, tanpa menggunakan sendok. Meski tatapan matanya nyalang padaku ku, tapi dia mau juga menerima suapan ku.


Aku tersenyum dalam hati, melihat expresi wajahnya.


"Mas aku minta maaf ya," lirih ku menyesal.


Tapi ia malah meninggalkan ku sendiri di meja makan.

__ADS_1


Setelah meminta bi Marni untuk mengemasi meja makan, aku pun menyusul nya masuk kedalam kamar.


Ku lihat mas Zidan sedang duduk bersandar di ranjang sambil memainkan ponsel nya. Aku pun berjalan mendekati ranjang, dan meniup pelan tengkuk leher nya setelah merangkak naik ke atas ranjang. Tapi mas Zidan seperti tidak suka dengan perlakuan ku itu, dia pun berbaring membelakangiku setelah meletak kan ponsel nya di meja nakas.


__ADS_2