Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Gagal


__ADS_3

Salsa menutup mata dengan satu tapak tangannya, sambil berjalan pelan. satu tangan nya lagi meraba-raba ke depan. Zidan yang melihatnya malah berjalan, dan berdiri tepat di hadapan Salsa.


Satu tangan Salsa meraba-raba dada bidang Zidan yang di tumbuhi rambut-rambut halus.


"Apa ini?" Salsa merenggangkan sedikit celah jarinya.


"Aaaaaaakh," pekik nya seketika.


Zidan lalu menggunakan satu tangan nya untuk menarik pinggang Salsa, sampai menempel ke tubuh nya, satu tangan nya lagi ia gunakan untuk membekap mulut Salsa yang memekak kan telinga nya.


"Ssssssst,"


"Jangan teriak-teriak, nanti di kira orang saya akan memutilasi kamu," ucap Zidan pelan lalu melepaskan tangannya yang membekap mulut Salsa, tapi tidak dengan tangannya yang memegang pinggang Salsa.


"Salah mas sendiri, ngapain Mas berdiri di depandepan, kan saya jadi kaget," sungut Salsa kesal saat mulut nya sudah terbebas dari tangan Zidan.


"Siapa yang menyuruh kamu berjalan menutup mata?" suara Zidan berubah serak, merasakan hal lain di tubuh nya.


Dikarenakan posisi tubuh nya yang sudah menempel dengan tubuh Salsa, membuat gairah tubuh nya seketika bergairah. Terbukti dengan mengeras nya sesuatu di bawah sana, menyundul perut Salsa.


"Mas mau ngapain?" tanya Salsa merasa ketakutan saat benda tumpul mengganjal di perutnya.


"Sa-saya menginginkanmu, Sabila," suara Zidan terdengar semakin parau.


Zidan mencondongkan wajah nya kedepan, meski pengalaman nya nol, tapi naluri nya sebagai laki-laki normal menuntun nya untuk melakukan itu.


"Eh, eh. M-Mas mau ngapain?" Salsa bertanya dangan kedua tangan menghalangi wajah Zidan yang semakin mendekat ke wajah nya.


Tubuh Zidan yang sudah terbakar gairah menangkap kedua tangan Salsa, lalu memajukan bibirnya ke depan menempelkan di bibir Salsa. Tapi Salsa mengatup kan bibirnya rapat.


Naluri Zidan beralih mencium leher Salsa dengan sedikit menghisap nya.


"Uhhf, Mas ngapain?" Salsa melenguh pelan menahan gejolak di tubuhnya. Kini kedua tangan nya yang di pegang Zidan sudah melemah.


Ciuman Zidan berpindah-pindah dari leher sebelah kiri pindah ke kanan, sebelum kembali mencium bibir Salsa yang mulai merekah merasakan gairahnya.


"Ufffg, Mas, nga-ngapain?" ucap Salsa terbata-bata.


Zidan seperti orang tuli, tidak menghiraukan pertanyaan istrinya. Dirinya telah merasakan manis nya bibir Salsa. Meski Salsa belum membalasnya.


Salsa yang juga merasakan gejolak lain di tubuh nya, memasrahkan saja apa yang akan di lakukan laki-laki yang sudah menjadi suamimya.


Ting!


"Awhhh, sakit,"


Salsa menutup mulut nya seketika, saat gigi mereka saling beradu.

__ADS_1


"Mas," lirih nya menahan ngilu sembari menutup mulut.


Sama halnya dengan Salsa, Zidan pun menjauhkan seketika bibir nya.


"Heis, kamu itu harus nya diam saja," sungut Zidan kesal. Wajah nya kini memerah menahan gairah.


"Ihh, malah nyalahin orang, Mas itu yang gak bisa, mending Mas belajar dulu," ejek Salsa yang lansung berlari keluar dari kamar mandi.


"Arrrrgh, sial! Padahal sedikit lagi aku sudah bisa melakukan nya," Zidan merutuk sendiri sembari menepuk mulutnya.


Dirinya memang belum pernah melakukan ciuman, atau pun hal lain yang bisa membangkitkan gairah nya. Selama ini ia hanya memfokuskan diri nya untuk bekerja keras mengembangkan bisnis nya saja.


Meski banyak wanita diluar yang mengingin kan nya. Bahkan wanita di luar sana akan suka rela menyerah kan tubuh nya pada Zidan. Tapi, Zidan selalu membentengi dirinya dengan tatapan tajam dan wajah yang menakutkan, membuat para wanita tidak ada yang berani mendekatinya.


Orang-orang banyak yang beranggapan jika Zidan adalah penyuka sejenis.


Bahkan Niken, yang selalu menggoda nya pun tidak mampu membuat Zidan merespon sentuhan-sentuhan sensual yang ia berikan.


*


Setelah insiden di kamar mandi yang gagal. Zidan merasa sedikit canggung dan malu pada Salsa. Namun, otak nya tidak berhenti memikirkan cara agar bisa melancarkan aksinya lagi.


Beda halnya dengan Salsa yang lebih bersifat biasa saja, ia menyadari hal lumrah jika ia melakukan itu dengan Zidan yang sudah menjadi suami nya.


"Mas mau kemana?" tanya Salsa ketika melihat Zidan berjalan keluar dari kamar.


"Ihh, Mas kok nggak ngajak saya, saya kan juga lapar," balas Salsa bersikap biasa saja.


"Ya nanti saya bawakan sarapan untuk mu," Zidan lalu melangkahkan kaki nya keluar.


"Dia kenapa lagi sih?" batin Salsa bertanya sendiri.


Tidak lama, Zidan datang lagi ia masuk ke dalam kamar dan membuka pintu kaca lalu berjalan ke saung.


Salsa yang melihat nya mengikuti Zidan dari belakang.


"Mas, sarapannya mana?" tanya Salsa yang sudah berada di belakang Zidan.


"Tunggu sebentar lagi, mereka akan mengantarkan nya," jawab Zidan datar tanpa melihat Salsa.


"Mas, kapan mau ajak saya kesana?" tanya Salsa sembari menunjuk pulau kembar di tengah laut, lalu duduk di sebelah Zidan.


"Kapan-kapan," jawab Zidan singkat.


"Iiiih, Mas nyebelin!" sungut Salsa.


Tidak lama terdengar suara bell berbunyi, Zidan bangkit dari duduk nya masuk ke dalam untuk membuka pintu.

__ADS_1


Zidan meletakkan sarapan di ruang utama resort itu lalu kembali berjalan ke saung.


"Kamu mau sarapan tidak?" tanya Zidan yang berdiri di depan pintu kaca penghubung antara saung dan kamar.


"Sudah datang ya!" Salsa bangkit dari duduk berjalan mendekati Zidan yang sudah dulu melangkah di depan.


"Mas kita sarapannya di sini aja, yuk," ajak Salsa melihat Zidan sudah duduk di meja makan.


"Kamu sendiri Saja," balas Zidan yang sudah memegang sendok dengan ke dua tangan nya.


"Kalau Mas mau sarapan di saung, selesai sarapan kita ulangi lagi yang tadi," Salsa memberikan penawaran.


"Uhuk, uhuk, uhuk,"


Zidan menyemburkan kembali makanan yang baru di suap nya, mata nya membola menatap Salsa.


"Pelan-pelan makannya, Mas," ujar Salsa sembari berjalan mengambilkan air minum untuk Zidan


Glek! Glek! Glek!


Zidan meneguk air yang di berikan Salsa hingga air di dalam gelas habis. Lalu ia berdiri membawa sarapannya tadi masuk menuju saung di depan kamar.


Salsa mengikutinya sembari tersenyum.


Di saung Zidan dengan lahap memakan sarapan nya, tidak sampai lima menit sarapan di piringnya sudah habis. Zidan melihat piring Salsa yang baru habis sedikit.


"Heis, kenapa kamu lama sekali makannya?" Zidan menggerutu dengan suara pelan.


"Makan itu harus di nikmati, Mas," ujar Salsa melihat wajah kesal Zidan.


"Sini saya bantu suapkan," ucap Zidan menawari, agar Salsa cepat menghabiskan sarapannya.


"Nggak usah saya bisa makan sendiri, kok," tolak Salsa yang dengan sengaja memelankan suapan nya.


"Heis, makan bubur saja pakai di kunyah," dengus Zidan yang memperhatikan cara makan Salsa.


"Biarin, suka-suka saya dong," cibir Salsa.


Zidan mungusap kasar wajah dan rambut nya.


"Arrgh!"


----------------------------------------------------


Not:


Like & koment nya dong. Biar aku tau ada yang baca cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2