
Di luar gerbang sekolah, Zidan sudah menunggu di dalam mobil yang biasa di kemudikan Jefri. Ia hanya duduk di bangku kemudi dengan mata tak pernah lepas menatap ke pintu gerbang yang telah terbuka. Ada rindu yang semakin mendalam akan sosok istri yang salalu membuat rasa khawatir, cemas dan takut di hati nya.
Sesekali zidan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya di sertai helaan nafas panjang. Tak sabar rasa nya ingin berjumpa dengan sang istri. memang benar hanya beberapa jam saja ia tak berjumpa. Tapi, bagi nya waktu yang hanya beberapa jam itu sangat lah panjang sekali.
Tidak lama, sosok yang sejak tadi di nantinya terlihat juga keluar dari gerbang. Zidan tersenyum senang, memperhatikan setiap langkah istri nya yang semakin mendekat ke arah mobil bersama dengan seorang teman nya.
"Benar, nggak mau ikut aku pulang?" tanya Salsa pada Santi sambil meraih gagang pintu belakang mobil.
"Nggak usah lah, nanti aku naik angkot aja. nggak enak sa-," ucapan Santi terhenti saat melihat Zidan keluar dari pintu kemudi yang lansung berjalan mengitari mobil dan membuka kan pintu depan.
"Mas." Salsa ingin menyalami dan mencium punggung tangan Zidan saat itu tapi ia urung kan, karna keadaan sekolah yang masih ramai.
"San, aku duluan ya." setelah melambaikan tangan pada sahabatnya, Salsa lalu masuk ke dalam mobil. Zidan berjalan kepintu kemudi setelah menutup pintu di samping Salsa duduk.
"Kok Mas yang jemput? Abang Jefri mana?" tanya Salsa.
Zidan tidak menjawab pertanyaan istrinya ia menyodorkan tangan kanan terlebih dulu yang lansung di sambut Salsa.
"Jefri ada di rumah sakit." jawab Zidan setelah Salsa mencium punggung tangan nya.
"Di rumah sakit? Emang bang Jefri sakit apa?" tanya Salsa histeris.
"Dia tidak sakit. Hanya lagi menunggu seseorang saja," Zidan sengaja tidak mengatakan Jika Jefri tadi menabrak seseorang. takut membuat istrinya khawatir.
"Ooo, aku kira abang Jefri yang sakit. Emang siapa yang di tungguin nya Mas? istrinya, ibunya, atau anak nya?" lagi Salsa bertanya dan mendapat tatapan nyalang Zidan.
"Bukan Siapa-siapa. Sudah! Berhentilah memikirkan orang lain saat bersama suami mu," dengus Zidan lalu menghidupkan mesin mobil.
Salsa hanya tersenyum kacut melihat wajah Zidan yang menahan kekesalan........
******
Setelah bertanya pada beberapa orang letak rumah sakit terdekat. Hanya dengan berjalan kaki, akhirnya Herman sampai di sebuah rumah sakit. Perutnya sudah semakin terasa lapar karna dari pagi belum memakan apa pun. Kini matahari sudah semakin condong ke barat. Pikirnya jika sudah menemukan Rita dia akan meminta sejumlah uang pada pelaku yang menabrak istrinya.
Langkah Herman tadinya begitu semangat masuk ke dalam aula rumah sakit. Namun, sampai di dalam dia bingung harus bertanya pada siapa keberadaan istrinya. Akhirnya dia melangkah mendekati seorang perawat yang berjalan.
"Dek! dek!" panggilnya setengah berlari mengejar seorang perawat. Perawat itu berhenti dan menoleh melihat Herman.
"Ya, ada apa pak?" tanya perawat itu ramah.
"Aku mencari istriku? Tadi pagi dia di tabrak mobil, di perempatan jalan XXX, apa dia di bawa kesini?" balas Herman bertanya.
"Oo. Coba Bapak tanya ke resepsionis yang ada disana," jawab perawat itu sambil menunjuk sopan.
Tanpa bertanya lagi Herman langsung melangkah menuju ke resepsionis yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah menanyakan pada resepsionis. Herman di arah kan menuju ke ruang inap pasien kecelakaan untuk melihat sendiri. Karna di catatan resepsionis tidak ada di temukan data-data pasien yang di sebutkan nya.
Herman kemudian berjalan di Koridor rumah sakit untuk melihat sendiri istrinya di ruang inap pasien kecelakaan. Langkah nya tidak begitu semangat karna resepsionis tadi mengatakan jika di rumah sakit ini tidak ada pasien atas nama Rita. Tapi ia akan memastikan sendiri sebelum mencari kerumah sakit lain.
Setelah melihat beberapa ruang inap pasien. Tapi ia tidak melihat Rita ada di sana.
Dengan rasa kecewa Herman melangkah hendak meninggal kan tempat itu. Namun, ia kembali berbalik masuk ke ruangan inap pasien karna melihat Raka dari kejauhan berjalan ke arah nya.
Kenapa si kampret itu ada di sini juga?
batinnya. Ia bersembunyi di ruangan pasien dengan mata yang tak lepas menatap Raka yang terus berjalan di Koridor rumah sakit.
__ADS_1
Raka berjalan sampai di depan pintu kamar inap VIP. Herman hanya bisa melihat saja dari jauh, saat Raka berbincang dengan Jefri di depan pintu kamar inap. Tidak berapa lama, Raka dan Jefri masuk ke dalam kamar inap semua itu tidak lepas dari tatapan mata Herman.
Herman yang merasa penasaran berjalan mengendap menuju kamar inap yang di masuki Raka dan Jefri. Dari balik kaca jendela ia mengintip ke dalam. Namun, dari tempatnya berdiri, ia tidak bisa melihat wajah orang yang berbaring di ranjang pasien karna terhalang kain gorden.........
******
Setelah selesai makan malam, Salsa bergelut dengan buku-buku pelajaran nya dimeja belajar. Tentu ia harus lebih fokus lagi belajar karna ujian tinggal beberapa hari saja.
Zidan yang duduk bersandar di ranjang, terus memperhatikan jam yang ada di ponsel nya. Salsa tadi memang meminta Zidan untuk tidak mengganggu nya selama satu jam karna ia ingin fokus belajar.
"Sayang, ini sudah satu jam." Zidan memperingatkan, seperti tak sabar ingin berdua dengan sang istri.
Salsa mengambil ponsel yang ia letak kan diatas meja.
"Masih kurang sepuluh menit lagi," balas nya setelah itu kembali membaca buku.
Zidan berdecak kesal, dari tadi ia sudah menghitung mundur waktu di ponsel nya dan sisa waktu belajar istrinya hanya tersisa empat menit lagi.
"Empat menit lagi, kamu harus berhenti dan berbaring disini," tegas Zidan.
Salsa menoleh, mengangkat sudut bibirnya ke atas. "Dasar bawel."
Zidan merasa tak tahan melihat sunggingan bibir istrinya itu, ia lalu bangkit dari ranjang melangkah mendekati meja belajar. Dengan satu sentakan tubuh Salsa sudah berada dalam gendongan ala bridal style nya. Kedua tangan Salsa juga bergayut di leher Zidan.
"Dengar! jangan pernah kamu melakukan hal seperti tadi pada orang lain," ancam Zidan. Lalu mengecup bibir merah istrinya
"Emang kalau aku lakuin, Mas mau apa?" tantang Salsa menggoda nya.
"Kamu mau tau? Apa yang akan Mas lakukan?" Sorot mata Zidan nyalang menatap nya.
"Mau." balas Salsa cepat di sertai anggukan kepala membuat Zidan semakin merasa kesal.
"Tuh, ponsel mas bunyi angkat dulu gih." Zidan tidak memperdulikan, ia semakin mendekatkan wajah nya ke wajah Salsa.
"Mas! angkat dulu ponsel nya, siapa tau penting," pekik Salsa menyarankan.
"Siapa sih! Mengganggu orang saja," gerutu Zidan lalu bangkit dari ranjang. Ia mengambil ponsel nya yang terletak di meja nakas, dan lansung menggeser panah hijau setelah melihat nama Raka yang tampil di layar.
"Ada apa?" tanya Zidan kesal saat sambungan telepon terhubung.
"Ada hal penting yang ingin saya sampaikan bos," jawab Raka dari sambungan telepon.
"Saya sekarang ada diluar bos," Sambungan pun berakhir.
"Tunggu di sini! Mas keluar sebentar," ucap Zidan yang hendak melangkah keluar kamar.
"Mas mau kemana? Ikut." Salsa segera bangkit dari ranjang.
"Ish, Mas hanya keluar sebentar menemui Raka, tunggulah di sini." perintah Zidan.
"Ngga mau, pokok nya aku ikut," Salsa merentangkan kedua tangan nya. Zidan menghela nafas panjang sebelum berjongkok membelakangi istrinya.
"Udah," Salsa menepuk pundak Zidan lalu mengalungkan kedua tangan nya di leher Zidan.
Zidan berdiri dan memegang kedua paha Salsa yang bergayut di punggung nya.
__ADS_1
*******
Raka terkekeh saat melihat Zidan keluar menggendong Salsa. Sudah seperti bapak-bapak menggendong anak nya, pikir Raka.
Tapi Raka harus mengulum tawa nya sendiri ketika Zidan menatap nya tajam.
"Cepatlah katakan! hal penting apa yang ingin kau sampai kan," dengus Zidan setelah menurun kan Salsa di sofa.
Raka terlihat enggan mengatakan, matanya sesekali melihat Salsa yang duduk di sebelah Zidan.
"Abang apaan sih! Kalau mau ngomong, ngomong aja Salsa juga nggak ngerti urusan pekerjaan," dengus nya merasa hati.
Zidan yang tak ingin melihat istrinya cemberut meminta Raka untuk mengatakan saja di depan istrinya.
"Tapi bos. ini bukan tentang pekerjaan." terang Raka.
"Sayang kamu masuk kamar dulu ya," pinta Zidan sambil mengusap bahu Salsa pelan.
Salsa lalu berdiri dan menghentak kan kaki nya cepat masuk ke dalam kamar.
"Cepat lah! apa yang ingin kau katakan." desak Zidan.
"Itu bos, wanita yang di tabrak Jefri tadi pagi itu adalah Ibu nya nyonya Salsa," ungkap Raka.
"Kau serius?" tanya Zidan seakan tak percaya.
"Benar bos, tadinya saya juga tidak yakin saat Jefri mengatakan itu dari sambungan telepon. Tapi setelah saya pastikan sendiri tadi sore datang kerumah sakit ternyata benar bos. Dia adalah Ibu nya nyonya Salsa," terang Raka.
"Lalu bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya Zidan.
"Tidak ada luka yang serius bos. Kata Jefri dia hanya pingsan karna kelelahan. Tapi, saya belum ada bicara apapun tadi, karna dia tidur." jawab Raka.
"Sekarang siapa yang menjaga nya di sana?" tanya Zidan.
"Jefri bos," Jawab Raka.
"Kalau begitu kau bawa dua orang pelayan kesana dan juga pengawal, jangan sampai Herman menemukan nya," titah Zidan
"Baik bos," balas Raka.
"Kau pergi lah sekarang." ucap Zidan lalu melangkah masuk kedalam kamar.
****
Didalam kamar, Zidan melihat Salsa yang berbaring di ranjang dengan menutup seluruh tubuh nya dengan selimut. Ia sangat tau saat ini pasti lah istrinya itu sedang merajuk.
Perlahan Zidan naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut.
"Mas sana lah, iiiiih," dengus nya menepiskan tangan Zidan.
"Hei, Mas kan belum memberikan kamu hukuman," ujar Zidan.
"Mas hukum saja tuh bang Raka," balas nya lalu membalikan badan memunggungi Zidan...
"Sayang, kamu mau berjumpa ibu tidak?" Seketika Salsa membalikan badannya.
__ADS_1
"Mas nggak bercanda kan?" tanya Salsa meyakinkan.
"Kalau malam ini kamu mau memeluk mas, besok kita jumpa ibu," balas Zidan.