
Setelah Marni pergi. Salsa masuk ke kamar mandi untuk membuang hajatnya.
Sementara zidan, sejak tadi berdiri di belakang pintu kamarnya. Pintu itu sedikit ia buka agar bisa melihat Salsa dari dalam kamar nya.
"Ish, kenapa dia masuk lagi!" gerutu zidan yang menatap Salsa dari celah pintu kamarnya.
Setelah dari kamar mandi, Salsa lansung keluar dari kamar nya menuju lantai bawah, menemui orang yang di sebut Marni tadi. Salsa menutup pintu lalu berjalan ke bawah.
Zidan pun dengan langkah pelan keluar dari kamarnya membawa bunga dan boneka yang di beli Raka semalam. Disaat Salsa sudah menuruni anak tangga. Zidan seperti seorang pencuri masuk ke dalam kamar Salsa, meletak kan bunga dan boneka itu di atas ranjang.
Masih di atas tangga, Salsa melihat dua orang wanita muda yang tidak ia kenali duduk di sofa ruang utama mension itu, dengan 1 troli pakaian yang berada di dekat mereka.
"Apa mereka yang mencariku? Tidak mungkin lah, aku mana kenal meraka," gumam Salsa yang menghentikan sejenak langkahnya ditengah-tengah anak tangga, menatap 2 orang wanita yang tidak ia kenali itu.
"Mana mungkin mereka yang mencariku," Gumam nya, seraya melanjutkan langkah nya kembali menuruni tangga dan terus berjalan melewati dua orang wanita yang tidak ia kenali itu.
"Apa dia yang bernama Salsa?" Bisik dewi salah satu wanita yang duduk di sofa itu.
"Ya bukan lah! kata tuan Raka, Salsa itu istri nya tuan zidan, tidak mungkin kan gadis seperti itu yang menjadi istri tuan zidan." balas Ira teman nya dewi.
"Kamu lihat saja tuh pakaian nya seperti itu. cihh! Mana cocok dia memakai pakaian dari butik kita," imbuh ira metrmehkan.
Salsa memang tidak pernah memperhatikan penampilan nya, model-model pakaian pun dia tidak tau. Baginya memakai pakaian itu asal nyaman saja, yang penting tidak terbuka. Saat ini ia hanya menggunakan celana casual panjang serta kaus putih longgar. Yang di beli nya saat di mall bersama Raka.
Selsa terus berjalan mencari orang yang di katakan Marni tadi, ia berjalan sampai ke pintu utama mension. Tapi tidak menemukan orang lain selain dua orang wanita yang duduk di sofa itu.
Akhirnya ia masuk lagi ke dalam karna tidak menemukan orang yang di cari. Saat Salsa berjalan melewati dua orang wanita itu, salah satu dari mereka memanggil Salsa.
"Hei, babu kemarilah," panggil ira seraya melambaikan tangan kirinya.
Salsa tidak berhenti, ia terus saja melangkah melewati 2 wanita itu. Ira yang merasa di cuekin, malah mendekati Salsa yang berjalan pelan.
"Eh, babu apa kau tuli, di panggil bukannya berhenti malah tetap jalan!" ucap ira yang sudah memegang kasar pergelangan tangan salsa.
__ADS_1
"Maaf kak, saya memang gak dengar kakak memanggil saya" balas Salsa yang memang tidak mendengar karna merasa bukan dirinya yang di panggil.
"Eh malah nyolot loe ya," bentak ira emosi.
"Ira, kamu apa-apa an sih, malu tau, ini di tempat orang," timpal dewi yang masih duduk di sofa.
Zidan yang sedari tadi mengintip Salsa dari atas tangga, tangan nya mengepal kuat saat melihat ira memegang kasar tangan Salsa, ia pun bergegas menuruni tangga.
Ira menoleh dan melepaskan tangan salsa, saat melihat zidan berjalan cepat mendekatinya.
"Tuan zidan," Sapa ramah wanita itu seraya tersenyum.
Zidan meraih tangan Salsa pelan, ia melihat pergelangan tangan Salsa yang baru saja di lepaskan ira itu masih memerah.
Seketika rahangnya mengeras dengan tangan yang sudah mengepal sejak tadi.
"Masuk lah ke kamar mu," ucap zidan pada Salsa dengan suara berat nya.
Salsa menurutinya, ia berjalan menuju kamar nya, Sesekali Salsa menoleh ke belakang melihat wanita yang memegang tangan nya tadi seperti kebingungan.
Traaak!
"Aaaaaaaaaaaaa!'
Bunyi tulang yang bergeser di iringi jeritan keras wanita yang berdiri di depan nya itu. Zidan mematah kan tangan kanan wanita itu seketika, setelah yakin Salsa sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Diam! Atau satu tangan kau lagi yang akan aku patahkan." ancam zidan, yang membuat wanita di depannya itu lansung menutup mulut nya sendiri dengan tangan kirinya. Wanita itu menggeram kesakitan di lantai tanpa suara.
"Sekarang katakan siapa yang menyuruh kalian datang ke sini, dan apa tujuan kalian?" tanya zidan, di iringi mata nya menatap tajam pada dua wanita itu secara bergantian.
Dewi yang sejak tadi duduk di sofa, masih membekap mulut nya sendiri dengan ke dua tangan nya, saat melihat zidan dengan mudah nya mematah kan lengan ira. lutut nya masih bergetar disertai keringat dingin yang keluar dari pori-pori kulit nya.
"A-ampun tuan, kami hanya di utus madam Rosa, dari butik Rosa beautiful, ingin bertemu dengan nyonya Salsa, untuk menawarkan gaun-gaun ini," jawab dewi dengan lutut yang masih gemetar.
__ADS_1
Zidan kemudian berjalan kepintu utama mension.
"Jefriiii," panggil zidan setengah teriak.
"Iya tuan," Jawab jefri, yang masih berlari mendekati zidan.
"Usir kedua wanita di dalam itu," ucap zidan sembari melangkah masuk kembali.
Zidan berjalan menuju tangga tanpa melihat ke dua wanita itu. ira masih terduduk di lantai merintih tanpa suara menahan sakit di tangan nya. Sedangkan dewi hanya duduk diam di sofa dengan lutut yang masih gemetar.
Zidan tidak memperdulikan kedua wanita itu, ia terus saja berjalan menaiki tangga menuju kamar nya.
Di dalam kamar zidan menghempaskan tubuh nya di atas ranjang. Kemudian menelpon Raka.
"Raka, kau cari lagi butik yang bagus suruh datang ke sini," ucap zidan saat sambungan telepon nya sudah terhubung.
"Maaf bos, tapi kemaren saya sudah mencari nya. serta sudah menyuruh mereka untuk datang ke sana sesuai perintah bos, mungkin sebentar lagi mereka akan tiba bos." Jawab Raka.
"Aku tidak suka dengan gaun-gaun yang mereka bawa, sekarang kau carikan saja lagi, suruh datang kesini." Perintah zidan.
"Maaf kan saya bos, tapi apa tidak sebaiknya bos bawa saja nyonya pergi ke butik, takut nya bos tidak suka lagi dengan gaunnya, acara tuan Daniel kan malam ini bos, tidak banyak waktu lagi untuk memilih gaun bos," ujar Raka.
Tuuuuuuut!
Sambungan telepon zidan putus kan.
"Benar juga kata si Raka, aku harus membawa nya pergi ke butik. Haiss, tapi bagaimana kalau dia tidak mau. Tapi lebih baik aku katakan saja dulu," gumam zidan seraya bangkit dan berjalan ke pintu kamarnya.
Ceklek!
Saat pintu terbuka Salsa sudah tampak berdiri di depan pintu kamar nya dengan boneka panda dan buket bunga lily di tanganya.
Salsa menyodorkan buket bunga dan beneka itu ke depan zidan.
__ADS_1
"Ini boneka dan bunga om saya kembalikan," Ketus Salsa.