
"Ini sayang, ini anak-anak mu. Mereka sangat tampan dan cantik," Maria mendorong box bayi mendekatkan keranjang pasien.
Salsa menitikkan air mata saat melihat dua bayi mungil yang sedang tidur nyenyak di dalam box bayi itu. Rasa bahagia yang menyelimuti hatinya, mampu menjadi penawar rasa sakit yang ia rasakan usai persalinan.
"Mas, siapa nama mereka?" Salsa mendongak melihat Zidan yang berdiri di sampingnya.
"Mas belum memberikan mereka nama sayang. Takut nya, nanti kamu tidak suka. Mereka kan anak-anak mu, Sayang," Zidan tersenyum senang sambil mengusap air mata di wajah istrinya.
Sejenak Salsa berfikir sambil memandang bayi mungil nya.
"Wajah mereka kok mirip Mas semua, nggak ada yang mirip aku, " Salsa mengerucut kan bibir nya karna memang wajah anak-anak nya semua meng copy wajah Zidan.
"Ya, Mas kan Daddy nya sayang," Zidan tersenyum bangga.
"Aku kan ibunya," ucap Salsa sengit.
"Sayang, kamu lihat mama dan suamimu. Apa ada miripnya?" Maria menimpali.
Salsa melayangkan pandangan pada suami dan mertuanya itu secara bergantian. Memang benar, wajah Mereka tidak mirip sama sekali.
Bukan hanya Salsa, Rita pun juga ikut memperhatikan wajah besan dan menantunya itu.
Salsa lalu menatap langit-langit ruangan itu.
"Sayang, apa kamu sudah mempunyai nama untuk mereka?" Zidan mengusap lembut kening Salsa hingga kepuncak kepalanya.
"Zio.... Zia. Ya! Zio dan Zia," Salsa berucap sambil mata nya terus menatap langit-langit kamar, lalu memandang Zidan yang berdiri di samping ranjang.
"Gimana? Apa Mas suka?" Ia melihat Zidan yang tersenyum.
"Suka, Mas sangat suka sekali, " ucap Zidan di sertai anggukan kepalanya.
Salsa menoleh melihat Maria dan Rita seolah meminta pendapat mereka.
Maria mengangguk pelan. Begitu pun Rita.
"Kalau nama panjangnya Mas yang kasih ya."
"Hmm. Baiklah, " Sejenak Zidan tampak berpikir.
"Bagaimana, kalau Zio putra dan Zia putri, " Zidan tersenyum ragu.
"Iiih! Mas itu nggak kreatif, " Salsa merengut lalu kembali menatap langit-langit kamar.
Zidan memutar lehernya kebelakang melihat Maria dan Rita yang tertawa kecil. Seperti sedang menertawai nya.
"Zia Almahyra. Zio Alfahrizi. Bagus nggak Mas?" Salsa meminta pendapat suaminya.
"Iya, bagus," Suara Zidan terdengar datar.
"Mas nggak suka ya?"
"Suka sayang," Jawab Zidan di sertai sorot mata meyakinkan.
"Owwe. Owwe. Owwe,"
"Sayang mereka sudah bangun, mungkin mereka lapar. Coba kamu susui mereka satu-satu, " dengan pelan Maria mengangkat Zio dari box bayi mendekat kan pada Salsa.
Salsa melihat Zidan sekilas, kemudian melihat bayi nya yang ada di dalam gendongan Maria.
__ADS_1
"Ini Zio apa Zia Ma?
"Ini Zio sayang," jawab Maria.
Maria lalu meletakkan bayi mungil itu di sebelah Salsa.
"Mas yang susui Zia, ya,"
Zidan tersentak sembari meraba dadanya.
**
"Bi, Bi Marni, tunggu." langkah Marni terhenti mendengar nama nya di panggil.
"Ada apa Diana?"
"BI, saya boleh ikut kepasar. Saya mau membeli sesuatu," pinta Diana dengan wajah memohon.
"Saya juga bosan Bi, selama di sini kerja terus. Sekalian saya juga ingin lebih mengenal daerah sini. Masa sudah beberapa bulan tinggal di sini saya tidak di izin kan keluar," sambung nya.
"Bukankah dari awal sudah di katakan, jika aturan kerja di sini semua pelayan memang tidak di izin kan pergi kemana-mana selama satu tahun, " ucap Marni terdengar sinis.
"Iya, sih. Tapi aku boleh ikut ya bi. Kali ini saja," Diana menyatukan kedua telapak tangan nya kedepan.
Marni berpikir sejenak. "Ya sudah, tapi ingat! hanya sekali ini saja," Marni kembali melangkah.
"Tunggu sebentar Bi, saya mau ke kamar ambil uang,"
Lagi, langkah Marni terhenti, kemudian berbalik badan menghadap Diana.
"Bergegaslah."
Sampai di pasar. Diana beralasan pergi ke toilet lalu menelpon seseorang. Setelah mengetahui alamat orang yang di teleponnya. Diana pun pergi kesana setelah berganti pakaian.
"Kau yang bernama Bobi?" Diana berbicara pada seseorang yang menggunakan kaos tanpa lengan, seperti sengaja memamerkan tato Naga di pangkal lengan nya.
"Ada apa? Kenapa kau ingin bertemu dengan ku?" Pria itu menyeringai melihat Diana.
"Aku ingin menawarkan pekerjaan," ucap Diana tersenyum sinis.
"Pekerjaan? Pekerjaan apa? Berapa kau berani membayar ku? " tanya Pria itu.
"50 juta. dan, kau juga bisa dapat lebih nantinya,"
Mendengar nominal uang yang di sebutkan Diana membuat pria itu menyeringai.
"Katakan, apa pekerjaan nya?"
"Pekerjaan nya gampang. Kau hanya perlu menculik seorang bayi,"
"Sudah gila kau rupanya. Menculik bayi kau bilang pekerjaan gampang, " Mata pria itu membola.
"Ya sudah jika kau tak sanggup aku cari orang lain," Diana berbalik badan kemudian melangkah pergi.
"Tunggu! " Teriak pria itu.
Diana menghentikan langkah nya.
"Berikan aku 100 juta," ucap pria itu.
__ADS_1
Seketika Diana membalikkan badannya.
"60 juta ku berikan, jika kau masih menolak, aku akan cari orang lain. Lagian, kau juga akan dapat lebih jika menjual bayi itu,"
"Baiklah," ucap pria itu setelah berpikir sejenak.
"Sekarang ikut aku, " Diana lalu melangkah, setelah menggunakan masker dan penutup kepala. Pria itu mengikutinya dari belakang.
Diana kini sudah berada di rumah sakit. Setelah menanyakan pada resepsionis kamar rawat Salsa. Diana segera menuju kesana. Ia juga memperhatikan beberapa CCTV yang ada di sana dan memberitahukannya pada Bobi. Dari jarak beberapa meter ia menghentikan langkahnya, setelah menemukan kamar inap Salsa yang di jaga ketat oleh para pengawal.
"Kau lihat kamar itu," Diana menunjuk kamar yang di depannya banyak berdiri pengawal yang berjaga.
Bobi mengangguk tanda paham.
"Target kau ada di dalam sana,"
"Bagaimana caranya aku bisa masuk? Kau lihat sendiri, berapa banyak mereka yang ada di sana? " Suara Robi seperti ketakutan.
"Kau Tidak usah panik, aku ada obat bius, yang bisa menidurkan mereka semua, dalam waktu sekejap," Diana menyeringai.
"Baiklah," Robi menyetujui.
'Jangan harap kamu bisa bahagia, wanita kampung.'
Seringai Diana penuh kebencian, menatap ruangan yang di jaga ketat para pengawal.
***
Malam harinya....
Santi dan Raka datang kerumah sakit menjenguk Salsa. Mereka datang bersamaan. Hanya saja, Santi lebih dulu masuk ke kamar inap. Sedangkan Raka sengaja masuk belakangan.
Baru saja Santi masuk ke ruangan itu Maria lansung bertanya. "Santi, mana Raka?"
Seketika Zidan dan Salsa melayangkan tatapan nya pada Santi.
Santi tidak menjawab pertanyaan Maria. Ia hanya tersenyum kikuk kemudian mencium punggung tangan kedua wanita paruh baya yang ada di sana. Lalu, ia melangkah mendekati Salsa.
"Selamat ya Buk. Sorry baru bisa datang, tadi jadwal kuliah ku sampai sore," Santi mencium pipi sahabatnya yang berbaring di ranjang pasien.
"Kamu tau dari mana aku sudah melahirkan?"
Kini, pertanyaan Salsa membuat Santi harus berpikir keras untuk menjawabnya.
"Eh, ponakan tante yang paling ganteng." Santi mencoba mengalihkan pertanyaan Salsa. Ia berjalan mendekati box bayi. Mengajak baby twins mengobrol.
"Santo! Jangan ganggu anak ku, mereka baru tidur. Lagian mereka itu laki-laki dan perempuan."
"Lho, kok mereka sangat mirip ya. Mirip......?" Santi merasa heran sambil memperhatikan baby twins dan Zidan secara bergantian.
"Ya mirip lah. Kata dokter mereka kembar identik," terang Salsa.
"Kok nggak ada mirip kamu sedikit pun Sa," ucapan Santi membuat wajah Salsa cemberut.
"Tuh kan, ini gara-gara Mas. Orang-orang pasti mengira mereka semua anak-anak Mas,"
Zidan hanya melongo sambil menggaruk tengkuk nya. Bagaimana cara nya ia menjelaskan?
Beberapa menit kemudian Raka masuk keruangan itu.
__ADS_1
Raka merasa aneh serta canggung karna semua mata kini tertuju padanya. Laki-laki dingin itu berusaha tetap tenang.
"Selamat ya Bos, Nyonya," ucap nya lalu meletak kan parcel buah yang di bawanya di atas meja.