Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Pulang


__ADS_3

Sembari menunggu Salsa selesai menghabiskan sarapannya, Zidan mengeluarkan ponsel. Kemudian ia membuka menu aplikasi browsing yang ada di ponsel, lalu mengetikan kan kata.


Cara melakukan first kiss.


Yang Pertama pastikan bibirmu tidak kering atau pun pecah-pecah.


Zidan membaca artikel itu di dalam hati. Kemudian ia membuka aplikasi kamera depan ponsel. Ia melihat bibir nya dari kamera ponsel itu.


"Tidak kering." gumam nya sembari meraba bibir nya dengan jari. "Tidak pecah-pecah juga,"


"Mas ngapain?" tanya Salsa yang sejak tadi memperhatikan nya.


"Tidak ada," jawab Zidan santai.


Sabila, cepat habis kan sarapanmu!" imbuh nya, lalu kembali membaca artikel tadi.


Jangan memakan makanan dengan aroma yang menyengat, jika kamu akan melakukan ciuman. Karna bisa membuat pasangan mu ilfil.


Zidan kemudian meletakkan telapak tangan nya di depan mulut, lalu menghembuskan nafas nya.


"Haaahf,"


"Masih segar,, tidak ada bau" gumam nya sembari menoleh ke samping, di lihat nya Salsa masih memperhatikan nya.


"Kamu kenapa melihat saya seperti itu?" tanya nya seperti tidak suka.


Salsa mengernyitkan dahinya. Lalu, meraba kening Zidan dengan punggung tangan nya. "Nggak panas kok,"


"Heis! Kamu kira saya anak kecil yang sedang demam?" dengus Zidan kesal.


"Habis, Mas aneh," balas Salsa.


"Aneh kenapa?" tanya Zidan menaikan satu alis nya.


"Itu tadi ngapain Mas gini-gini?" Salsa menirukan cara Zidan menghembuskan nafas tadi.


"Heis! Cepat saja habis kan sarapan mu! Jangan banyak bicara kalau sedang makan," Zidan mendengus kesal, lalu kembali melihat layar ponsel nya. Artikel tentang ciuman sudah ia baca semua.


"Terus setelah ciuman aku harus melakukan apa lagi ya?" gumam nya sambil memikir kan sesuatu.


'Ya itu dia!' Lalu Zidan mengetik kan sesuatu di browser pencarian.


Cara Berhubungan Intim.


"Ini dia," Zidan memilih artikel paling atas.


Yang pertama bersikap lembutlah, jangan terburu-buru. Kamu bisa mengajak pasangan mu untuk mengobrol terlebih dahulu, lalu lakukan lah kecupan-kecupan kecil di pipi, leher bahkan di bibir.


Zidan membaca artikel tersebut sambil mengangguk-angguk tanda paham.


'Berarti aku harus mengobrol dengan nya terlebih dulu, dan mencium nya. Aaah, apa aku bisa," Zidan berkata dalam hati. Kemudian ia melanjutkan kembali membaca artikel tersebut.


Percaya dirilah. Mungkin saat ini kamu tidak percaya diri dengan ukuran punya mu yang kecil, atau mungkin kamu berpikir tidak bisa memuaskan pasangan mu. Percayalah untuk mencapai puncak kenikmatan dalam bercinta kamu wajib membuang pikiran itu jauh-jauh.


Lanjut Zidan membaca tulisan artikel itu.


"Apa punya ku ini kecil? Ah, itu tidak penting yang penting hari ini aku harus bisa melakukan nya," gumam nya sambil tersenyum kecil.


Zidan tampak senang, saat melihat Salsa sudah meletakkan piring nya di meja. Lalu Ia segera menyimpan ponsel nya ke dalam saku celana, namun ponsel itu terlebih dulu ia nonaktifkan, agar nanti tidak mengganggu prosesi belah duren yang akan ia lakukan.


"Ekhem.." Zidan berdehem sambil meletakkan satu tangan nya di sandaran kursi di belakang Salsa duduk.


"Sabila, kamu sudah selesai sarapan, kan? Ayo kita masuk, di sini banyak angin," ajak Zidan suaranya berbuah serak.

__ADS_1


Salsa menoleh pada Zidan, menatap lekat wajah Zidan. "Sebentar lagi ya Mas, saya masih mau di sini," balas nya menolak ajakan Zidan.


"Apa kamu tidak tau angin laut itu bgitu bahaya. Nanti kalau kamu masuk angin siapa yang akan repot? Sudah ayo kita masuk ke dalam," Zidan menarik tangan Salsa membawanya masuk ke dalam kamar.


Salsa hanya pasrah mengikuti langkah Zidan yang manarik tangan nya.


"Mas, pelan-pelan, Iiih."


* * *


Sekarang, mereka sudah sama-sama berada di dalam kamar. Duduk di pinggir ranjang dengan kaki yang sama-sama menjuntai ke lantai.


"Santai Zi, santai. Jangan tegang, ajak dia ngobrol dulu, habis itu baru cium dia," Zidan membatin sendiri, menenangkan dirinya yang saat ini terlihat gugup.


Sama hal nya dengan Zidan, Salsa pun juga terlihat gugup.


"Kenapa aku jadi gugup seperti ini? Bahkan aku tidak tau harus mengobrol apa." Zidan masih membatin sendiri, sesekali ia menoleh pada Salsa yang duduk di samping nya. Seperti sedang mencuri-curi pandang.


Zidan menghela nafas besar, perlahan ia menggeser duduk nya lebih mendekat lagi ke Salsa. Namun, Salsa juga ikut menggeser duduk nya menjauh dari Zidan, hingga sampai ke ujung ranjang.


Bruuk!


"Auw, aduh!" Salsa terjatuh ke bawah.


"Hikz, hikz hikz," Salsa meringis sambil memegang bokong nya yang barusan terhempas.


"Heis!" Zidan lalu segera membopong tubuh Salsa membaringkan nya di ranjang.


"Aduuuhhh, sakit..."


"Ini salah Mas," imbuh nya sambil menangis.


"Kenapa salah saya? Bukan nya kamu jatuh sendiri?" ucap Zidan yang tidak ingin di salahkan.


"Ya, saya kan ingin melanjutkan yang tertunda tadi malam," balas Zidan.


"Sudah, sekarang saja kita lakukan," ucap Zidan mulai mencondongkan tubuh nya.


Salsa memejamkan matanya, melihat bibir Zidan yang sudah maju ke depan. Dada nya berdegup kencang menanti bibir Zidan menciumnya.


Ting tong.


Salsa membuka mata, mendorong wajah Zidan yang hanya tinggal sedikit lagi berada di wajah nya.


"Mas, buka dulu pintunya."


"Hais! Siapa sih yang mengganggu!" decak Zidan kesal.


"Sudah biarkan saja, nanti juga dia akan pergi," Zidan kembali mencondongkan wajah nya.


Tapi, lagi-lagi tangan Salsa menghalangi nya.


"Mas buka dulu pintunya."


"Iya.. Iya... " Zidan mendengus, lalu pergi keluar.


* * *


Siang harinya.


"Mas, hari ini kita pulang ya? Kan, sebentar lagi kan saya mau ujian, saya takut nanti ketinggalan banyak pelajaran," ujar Salsa disela menyantap makan siang di saung depan kamar mereka.


"Katanya kamu mau ke pulau itu," Zidan menatap pulau kecil di depan mereka.

__ADS_1


"Kapan-kapan sajalah, saya gak mau beasiswa saya di cabut gara-gara sering bolos," tolak Salsa, walaupun sebenarnya ia sangat ingin pergi kesana.


"Apa kamu masih mau tinggal di tempat sahabat mu?" tanya Zidan yang kini menatap Salsa.


"Ngga," jawab Salsa Singkat tanpa melihat Zidan.


"Kenapa? Kalau mau nanti saya akan antar kesana,"


"Ihhh, Mas mau ninggalin saya ya," balas Salsa sedikit merengek.


"Siapa bilang?"


"Itu, tadi mas bilang mau nganterin saya ke tempat Santi," Salsa meletak kan kedua sendok di piring.


"Kemarin kan kamu yang minta mau tinggal di sana," balas Zidan sengaja ingin menggoda nya.


"Ya. Tapi kenapa Mas nggak mengantarkan saya waktu itu? malah membawa saya kesini," ucap Salsa ketus tanpa melihat Zidan.


"Ya- Saya kan mau ajak kamu liburan," ujar Zidan yang terus saja menjawab ocehan istrinya.


"Liburan? Liburan apa? Liburan hanya di atas kasur," gerutu nya pelan yang masih bisa di dengar oleh Zidan.


"Ya sudah, cepat habis kan makanan nya," ucap Zidan yang tidak ingin lagi menjawab ocehan istrinya.


"Nggak! Mas makan aja sendiri," jawab nya ketus, lalu bangkit dari duduk segera melangkah pergi.


Zidan diam melongo, menatap punggung istri nya yang hendak masuk ke dalam pintu kaca kamar. Ia tidak menyangka respon Salsa akan seperti itu.


Beberapa menit kemudian Salsa kembali lagi berjalan ketempat tadi. Salsa mengambil piring makanannya, lalu kembali lagi masuk ke dalam kamar.


"Sabila, tadi saya hanya bercanda saja, kamu jangan marah," ucap Zidan.


"Oh ya, saya sekarang juga hanya bercanda. dan Mas gak perlu repot-repot membujuk saya, karna saya bisa membujuk diri saya sendiri," balas Salsa ketus lalu menghentak kan kaki nya masuk kamar.


"Heis, dia kenapa?" gumam Zidan heran.


* * *


Sore nya mereka pulang, karna Salsa terus merengek minta pulang. Tidak banyak obrolan mereka selama di dalam perjalanan, karna Salsa yang duduk di samping Zidan sepanjang jalan hanya tertidur dengan pulas.


Malam hari mereka tiba di mension. Setelah turun dari mobil, Salsa terus berjalan masuk ke kamar.


Di dalam kamar, Salsa lansung melihat layar ponsel nya, yang sudah banyak panggilan tak terjawab dari Santi. Tadi nya Salsa memang ingin menelpon sahabat nya itu, untuk menanyakan pelajaran yang selama 2 hari tidak ia ikuti.


"Kamu kemana saja sih Sa? Sudah puluhan kali aku hubungi nomor mu, tapi pernah kamu jawab," ucap santi di sambungan telepon.


"He he he, maaf ya San," balas Salsa.


"Kemana kamu selama dua hari menghilang? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Santi khawatir.


"Iya aku baik-baik saja, nanti di sekolah aku ceritain," jawab Salsa.


"Tapi untung juga sih kamu gak datang ke sekolah, Sa,"


"Lho kenapa?" tanya Salsa heran.


"Sudah dua hari ini, aku selalu melihat ayah tirimu di sekolah, seperti nya dia mencari kamu deh," jawab Santi.


"Untuk apa dia mencari aku? Apa ibu ku Sakit San?" tanya Salsa.


"Aku juga nggak tau, sih. Tapi kalau Ibu mu aku lihat baik-baik saja, Sa," jawab Santi.


"Ya udah San, besok ketemu di sekolah ya, sekalian bawa buku catatan mu, aku mau pinjam," ujar Salsa.

__ADS_1


"Oke deh, sampai ketemu besok di sekolah," balas Santi. kemudian sambungan telepon Salsa putuskan.


__ADS_2