Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Gugup dan takut


__ADS_3

"Katakan padaku apa yang membuat mu ketakutan seperti ini?" tanya Zidan sembari memegang kedua pipi Salsa.


Salsa tidak menjawab ia hanya menangis memeluk erat satu lengan zidan.


"Baiklah, kita pergi dari sini," ucap Zidan lalu melangkah pelan mengimbangi langkah Salsa yang tidak pernah melepaskan pegangan tangan nya di lengan Zidan.


"Hari ini kau beruntung pak tua," desis Zidan saat berjalan melewati tuan Albert.


Tuan Albert masih berdiri mematung di tempatnya, melihat Zidan dan Salsa pergi meninggalkan kediaman tuan nya.


"Kau mencari penyakit saja Herman! Beruntung aku belum memberikan uang padamu!" sentak tuan Albert.


Herman yang masih merasakan sakit di tenggorokan nya hanya pasrah bersimpuh di lantai.


"Seret manusia tidak berguna ini!" titah tuan Albert pada para pengawal nya.


"Baik tuan," ucap pengawal patuh.


Kemudian Herman di setet paksa keluar dari kediamanan itu oleh beberapa pengawal.


'Sial! Siapa pria itu? kenapa tuan Albert begitu takut padanya. Arrrgh! Gagal aku jadi orang kaya,"' Herman menggerutu sendiri.


Zidan dan Salsa kini sedang dalam perjalanan menuju ke mension. Saat ini, Salsa masih belum melepaskan pegangan tangan nya dari lengan Zidan.


"Tidak bisakan kau melepas kan tangan ku ini?" tanya Zidan sinis, sembari melirik Raka yang sejak tadi mencuri pandang pada mereka dari kaca spion.


Perlahan Salsa melepaskan tangan nya dari lengan Zidan, serta menggeser duduk nya sedikit menjauh.


"Kenapa kau tidak melakukan nya dari tadi," gerutu Zidan.


"Raka, lebih baik kau perhatikan saja jalan di depan!" sentak Zidan, karna melihat Raka masih saja memperhatikan nya dari kaca spion.


"Maaf bos," ucap Raka.


Mobil yang di kemudikan Raka, kini telah sampai di mension mewah Zidan.


Zidan segara turun dari mobil, berjalan memasuki mension nya.


Sedang kan Salsa masih duduk di dalam mobil.


"Nona turun lah kita sudah sampai," ucap Raka yang telah membuka kan pintu mobil disamping Salsa.


"Ini di mana?" tanya Salsa seraya mendongak kan kepala nya melihat ke atas bangunan 3 lantai itu.


"Ini rumah bos Zidan nona. Sekarang nona turun lah, karna saya harus segera pergi," ujar Raka.


"Kenapa saya harus turun, saya harus pulang ke rumah Santi, dia pasti begitu mencemaskan saya saat ini," ucap Salsa.


Dari arah pintu, Zidan terlihat melangkah keluar mension. berjalan mendekati Raka.

__ADS_1


"Jumput mobil ku sekarang, Raka!" perintah Zidan.


"Baik bos," balas Raka.


"Nona tolong turun lah, saya akan segera pergi," ucap Raka.


"Bawa saja dia kembali ke rumah si tua bangka tadi, mungkin dia betah tinggal di sana," teriak Zidan, lalu berjalan memasuki mension nya.


Mendengar perkataan Zidan, Salsa bergegas turun dari mobil.


Raka yang melihat nya hanya mengulum tawa nya.


Salsa masih berdiri si samping mobil. Pandangan nya mengedar menatap bangunan mewah yang ada di depannya saat ini. Hingga tanpa ia sadari mulut nya saat ini menganga mengagumi bangunan mewah di depannya.


"Nona, ayo masuk lah," ajak Raka yang berdiri tepat di samping Salsa.


"Saya hanya ingin pulang ke rumah sahabat saya," ucap Salsa.


"Katakan lah pada bos Zidan nona, saya hanya menuruti perintah dari dia. Sekarang mari kita masuk, nona, " ujar Raka yang lansung melangkah masuk ke dalam mension itu.


Salsa diam sesaat, perlahan mengekori langkah  Raka memasuki mension. Buru sampai di pintu utama mension, mata nya lansung di suguhi pendangan indah yang ada di mension, semua barang barang mewah yang belum pernah ia lihat, kini terpajang rapi di depannya. Ia melihat ke bawah, melihat lantai yang begitu mengkilat. 'Terlalu sayang untuk di injak" batin nya, melangkah ragu dan sangat perlahan sekali kakinya melangkah masuk ke dalam mension itu.


Braak.


Salsa menabrak seseorang, ia jatuh di lantai dengan posisi terduduk.


Tapi Salsa hanya diam menunduk membiarkan tangan Zidan menggantung begitu saja


"Hei, kau ini Kenapa? Aku hanya berniat membantu saja." Zidan mendengus kesal, sambil melihat Salsa yang masih meringis.


"Apa kau bisa bangun sendiri?" tanya Zidan kemudian, sebelum menarik uluran tangan nya lagi.


"Sakit," Salsa merintih sambil memegang paha nya.


"Kau bisa bangun tidak?" tanya Zidan sedikit membentaknya.


Salsa diam sambil terus meringis kesakitan. Zidan segera menunduk mengulurkan tangan nya meraih tubuh Salsa.


Dan kini tubuh Salsa sudah di bopongnya. Zidan melangkah ke sofa di ruangan itu dan perlahan menurunkan tubuh Salsa di atas sofa itu.


"Raka...!" teriak Zidan memanggil asisten nya.


Raka dan beberapa pelayan berlari ke ruang utama, ketika mendengar teriakan yang menggema di mension.


"Ada apa bos?" tanya Raka, belum pernah sama sekali ia mendengar teriakan bos nya sekeras itu.


"Panggil dokter sekarang!" perintah Zidan membentak nya.


Raka segera mengambil ponsel di kantong celananya, melakukan panggilan suara pada seseorang.

__ADS_1


"Saya tidak apa-apa Om, hanya paha saya saja sedikit sakit, sebentar lagi pasti sembuh kok," ujar Salsa yang merasa tak enak sendiri.


Salsa memang masih memegang pahanya, karna masih merasa kan nyeri.


"Kau urus dia Raka!" dengus Zidan merasa kesal, lalu pergi melangkah menaiki tangga yang terletak di tengah ruangan itu.


"Apa yang terjadi nona? Kenapa dengan paha mu?" tanya Raka melihat wajah Salsa yang masih meringis.


"Tadi saya jatuh di sana," Salsa menunjuk tempat ia terjatuh.


"Kenapa bisa anda jatuh nona? Apa lantai nya licin?" tanya Raka lagi.


Salsa tidak menjawab, karna memang ia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Raka itu. Tidak mungkin ia mengatakan terjatuh akibat menabrak tubuh Zidan?


"Coba kalian periksa lantai itu," perintah Raka pada para pelayan yang datang bersama nya.


"Baik tuan," jawab salah satu pelayan berjalan memeriksa keadaan lantai.


"Lantai nya tidak apa apa tuan, tidak basah dan juga tidak licin," ujar salah satu pelayan yang memeriksa lantai.


"Aku yang salah," Salsa berkata lirih disertai wajah tertunduk.


"Tidak apa apa nona, jangan di pikirkan," ucap Raka,


Tidak berapa lama seorang dokter pria datang ke mension itu.


"Apa yang terjadi dengan tuan Zidan, Raka? tanya dokter yang baru saja datang.


"Bos tidak apa-apa," balas Raka santai


"Lalu, siapa yang sakit? Kenapa kau menyuruh ku untuk segera datang?" tanya dokter itu lagi.


"Bos Zidan yang menyuruh ku memanggil kau, kalau kau ingin protes, protes saja ke bos," balas Raka.


Dokter itu pun menoleh melihat Salsa, yang duduk di sofa.


"Siapa dia?" tanya dokter itu dengan satu alis terangkat.


"Kau terlalu banyak bertanya dokter, cepat lah periksa kaki nona itu, sebelum bos Zidan marah karna mendengar pertanyaan-pertanyaan konyol kau," gerutu Raka merasa kesal sendiri.


"Baiklah, baiklah," ujar dokter itu, lalu ia mendekati Salsa yang duduk di sofa.


"Bisa tunjuk kan padaku bagian mana yang sakit nona? tanya sang dokter seraya meletakkan tas kerja nya di atas meja.


"Yang ini dokter," ucap Salsa memegang satu paha nya yang masih sakit.


"Apa nona terjatuh? tanya sang dokter lagi, sambil membuka tas kerja yang ia letak kan di meja.


Salsa mengangguk pelan. Kemudian dokter itu mulai memeriksa nya.

__ADS_1


__ADS_2