Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Hasutan Herman


__ADS_3

Sebelum meninggal kan Herman dan 2 orang yang menculik Salsa.  Raka terlebih dulu menelpin Zidan memberikan laporan.


"Nona sudah saya temukan Bos, sekarang sudah di antar Jefri ke mension," ucap Raka dari sambungan telepon.


"Bagus, sekarang kau segera lah ke sini," sahut Zidan, lalu memutuskan sambungan teleponnya.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, Raka sudah berada di ruang kerja Zidan.


"Apa kau sudah mempersiapkan jet untuk keberangkatan ku besok?" tanya Zidan.


"Belum bos," jawab Raka.


"Segera lah siapkan, dan selama aku tidak ada, kau ambil alih semua pekerjaan aku di sini,"


"Apa Bos akan pergi sendiri?" tanya Raka.


"Tentu saja tidak, tapi aku juga tidak bisa membawa kau Raka, karana hanya kau yang ku percaya mengambil alih semua pekerjaan ku di sini," jawab Zidan mantap.


"Baiklah bos," balas Raka, hendak berlalu pergi.


"Tunggu Raka," ucapan Zidan menghentikan langkah Raka yang hendak pergi.


"Belikan ponsel dan berikan pada gadis itu." prrintah Zidan.


"Baik bos," balas Raka kemudian melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan Zidan.


.


.


.


Salsa yang sudah berada di mension Zidan, kini telah selesai membersihkan dirinya, serta juga sudah berganti pakaian nya. Ia yang sudah terlihat sangat segar, hendak pergi kebawa karna perutnya yang sudah lapar.


'Dari pada aku merepotkan orang lain di rumah ini, lebih baik aku pergi ke dapur sendiri, mengambil makanan, mumpung si Om bos itu tidak ada. Kapan lagi kan, aku bisa melihat dapur nya. Pasti dapur nya sangat luas dan peralatannya sudah pasti bagus-bagus,'  gumam Salsa saraya melangkah.


Dirinya menuruni anak tangga, terus berjalan ke dapur, meski ia tidak tau letak dapur itu dimana, karna memang ia belum pernah ke sana.


"Makanan nya sudah siap nona," ucap Marni, membuat ia bergelinjang kaget.


"Issh.... Bibi ini. Ngagetin orang aja," ia mendumel kesal.


"Kalau jantung Salsa lepas gimana?" imbuh nya yang terus menggerutu sambil memegang dada.


"Maaf nona, saya tidak sengaja," sasal Marni.


"Ya sudah lah,"


"Bi Marni. boleh gak, bawa Salsa ke dapur?" pinta nya sambil memegang satu tangan Marni.


"Jangan nona, tuan melarang. Saya dan para pelayan lain akan di marahi tuan jika nona memaksa," Marni memohon.


"Bibi tenang aja, si Om galak itu kan tidak tau, orang nya juga belum pulang kan?! Jadi om galak itu nggak akan tau lah, bibi tenang saja," balas nya membujuk Marni.


Marni tersenyum melihat gadis di depannya.


"Disini banyak CCTV nona, coba nona lihat disana," Marni menunjuk salah satu CCTV di ruangan itu.


"Dan masih banyak lagi, CCTV lainnya, bahkan di dapur pun juga ada, jadi nona jangan berpikir tuan tidak akan tau," terang Marni.


"Tapi kan Salsa bosan Bi, masa Salsa cuma diam di kamar saja, terus ke bawah pun cuma di ruang makan dan ruang depan saja. hanya ingin pergi ke dapur saja, itu pun nggak boleh," gerutu nya kesal.


"Itu perintah tuan, nona. Tapi kalau nona bosan, nona bisa pergi ke lantai 3, atau ke taman belakang," ujar Marni.


"Hah. emang boleh?" tanya nya tak percaya.


"Boleh nona," jawab Marni mantap.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo kita ke atas," ajak Salsa penuh semangat seketika ia menarik satu tangan Marni.


"Nanti nona dulu non,"


"Kanapa tidak sekarang saja Bi," Rengek nya mengayun-ayunkan satu tangan Marni yang masih di pegangnya.


"Sekarang nona makan dulu, pasti nona sudah lapar kan" ucap Marni.


"Baiklah Bi, tapi Bibi janji ya, habis makan bawa Salsa berkeliling di rumah ini," pinta nya.


Marni mengangguk.


Salsa pun melangkah ke meja makan, menyantap beberapa hidangan lezat yang sudah di sajikan untuk nya.


"Apa nona sudah selesai?" tanya Marni melihat piring kosong di depan gadis itu.


"Udah Bi, ayo kita ke atas sekarang," Salsa lansung bangkit dari duduk nya berjalan mendekati Marni.


"Baiklah nona, tapi tunggu dulu, saya mau memanggil pelayan untuk membereskan meja makan ini dulu." ucap Marni berjalan ke belakang.


Tidak lama, Marni kembali dengan dua orang pelayan wanita berjalan di belakang nya.


"Mari nona," Marni melangkah di depan, di ikuti Salsa di belakang.


Baru saja sampai di lantai tiga hunian mewah itu, Salsa berdiri diam matanya mengedar ke setiap sudut di ruangan di lantai tiga itu.


Kemudian Salsa berjalan pelan mengikuti langkah Marni. Marni membuka salah satu pintu yang ada di lantai tiga itu, di ruangan itu terdapat sebuah layar besar yang hampir memenuhi sudut ruangan, juga ada satu sofa panjang berhadapan dengan layar besar. Suasana di ruangan itu tidaklah terang, hanya di sinari cahaya lampu berwarna warni.


"Ini tempat apa Bi?" tanya Salsa yang masih berdiri di depan pintu.


"Ini mini bioskop nona," jawab Marni.


"Ooo, apa si Om galak itu sering ke sini?" tanya nya lagi.


"Saya juga tidak tau nona, kami para pelayan di larang ke lantai dua dan tiga, kecuali kami akan datang dua hari sekali, membersihkan ruangan ini, serta ruangan lainnya," terang Marni.


"Kalau begitu lebih baik kita sekarang turun Bi, Salsa takut, nanti Om galak itu marah," Salsa menarik satu tangan Marni hendak membawa nya keluar.


"Tidak nona, tuan tidak akan marah, karna ini perintah tuan sendiri," balas Marni menghentikan langkah Salsa.


"Ya karna ini perintah tuan, Bibi di minta tuan untuk mengajak nona, mengelilingi seluruh mension ini." jawab Marni.


"Salsa nggak mau lah, nanti Salsa di marahi, takut lah Bi, lebih baik kita turun sekarang saja Bi," ajak nya seraya melangkah hendak menuruni tangga.


"Tunggu nona, nona sini lah dulu," ucap Marni memanggilnya sambil berjalan ke arah balkon yang ada di lantai tiga itu.


Salsa melangkah mendekati Marni.


"Wah. Bagis sekali pemandangan nya bi," seru nya melihat taman yang ada di pekarangan mension.


"Itu seperti taman rekreasi Bi, keren sekali, ayo kita turun bi," imbuh nya meraih satu tangan Marni. agar membawa nya kesana.


"Tunggu nona, pelan-pelan jalannya, saya bisa jatuh kalau nona tarik seperti ini,"


"Hehehe, maaf Bi," sesal nya


***


Sementara itu. Herman yang sudah di hajar habis habisan oleh anak buah Raka, dengan langkah sempoyongan, berjalan pulang ke rumah Rita. Wajahnya sudah babak belur, banyak luka lebam, serta darah yang sudah mengering di wajah nya.


BRUUK


Tubuh nya tersungkur saat melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Rita yang mendengar suara itu berlari mendekati nya.


"Ya tuhan, kamu kenapa mas? Apa yang terjadi mas?" tanya Rita khawatir, melihat wajah suami nya yang penuh dengan luka lebam bekas pukulan.


Herman diam, otak nya masih bekerja, mencari alasan.


'Apa yang harus aku katakan? Biar wanita bodoh ini mempercayai ku.argggg..... sial. Kenapa ini sakit sekali' batin Herman


Rita lalu membantu suaminya berdiri, membawanya ke kamar lalu membaringkanya di ranjang.


Rita bergegas kedapur,  mengambil air hangat serta handuk kecil, kembali ke kamar membersihkan luka lebam Herman, sebelum meneteskan betadine ke luka di wajah suaminya.

__ADS_1


"Sebenar nya apa yang terjadi, Mas? kenapa Mas bisa bonyok begini?" tanya Rita, setelah selesai mengobati suami nya.


"Ini semua gara gara Salsa," jawab Herman dengan mata terpejam.


"Salsa?" tanya Rita dengan mata menyipit.


"Jangan bercanda lah Mas," ucap Rita sambil terkekeh kecil.


"Memang bukan anak mu yang melakukan nya, tapi anak mu menyuruh orang lain," terang Herman ketus


"Jadi begini. Tadi itu aku berjumpa dengan anak mu, aku melihat dia berjalan dengan beberapa orang laki-laki hendak masuk ke sebuah karaoke. Jadi aku coba menegur dan menesehati nya. Tapi anak mu itu marah marah, dia menyuruh para lelaki yang bersama nya itu memukuli ku. Kamu liat aku sekarang seperti ini."


"Dia juga mengatakan padaku agar tidak mencampuri urusan nya lagi. Walaupun bagini dia juga sudah ku anggap anak ku sendiri, tapi kamu lihat balasan yang ku dapat." terang Herman panjang lebar.


"Ity tidak mungkin Mas, tidak mungkin Salsa berbuat seperti itu," ucap Rita menyangkal.


"Lalu, apa kamu mau mengatakan jika aku berbohong? lihat luka-luka ku ini, apa seperti pura-pura? Apa kamu tau? yang anak mu lakukan di luar sana! coba kamu pikir dari mana dia mendapatkan uang selama ini. Jika bukan melakukan pekerjaaan murahan itu," dengus Herman.


Rita terdiam mendengar perkataan suaminya.


'Apa benar yang di katakan Mas Herman ini? Tidak Salsa tidak akan melakukan pekerjaan menjijikan itu. tapi dari mana anak itu dapat uang untuk dia jajan, dan bersekolah selama ini. Atau, apa yang di katakan Mas Herman itu benar?' pikir Rita.


.


.


.


***


Malam harinya. Zidan masih terlihat sibuk dengan pekerjaan nya, banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan malam itu juga, karna besok pagi-pagi sekali ia akan terbang ke Jerman.


Jam dinding sudah menunjukkan angka sepuluh sepuluh, tapi Zidan masih belum ada tanda tanda ingin menyudahi aktifitas nya.


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan nya.


"Masuk" perintah Zidan tanpa melihat ke arah pintu.


Ceklek


Pintu di buka, dan masuk lah Raka ke dalam ruangan itu.


"Bos, sebaiknya anda istirahat dulu," ucap Raka yang sudah berada di ruangan itu.


"Jam berapa sekarang raka?" tanya Zidan yang masih menatap layar leptop nya.


"Sudah lewat jam sepuluh malam Bos," balas Raka.


Zidan kemudian berdiri, meregangkan otot-otot nya, hari ini terlalu lelah bagi nya, tadi ia ingin pulang cepat, agar bisa bertemu dengan Salsa, tapi pekerjaan nya hari ini tidak bisa juga ia tangguhkan.


"Kau pulang lah dulu Raka, seperti nya malam ini aku akan tidur disini," ucap Zidan yang masih menatap layar laptop nya dalam posisi berdiri.


Ruangan kerja Zidan memang memiliki kamar pribadi di dalam nya, biasa akan ia gunakan untuk beristirahat melepas penat selepas bekerja.


"Saya akan menemani Bos di sini," balas Raka.


"Itu terserah kau saja, Raka. Bagaimana dengan persiapan ku besok? apa semua sudah kau siapkan?" tanya Zidan.


"Sudah bos, semuanya sudah siap sesuai keinginan Bos, besok jam 6 pagi Bos sudah bisa berangkat," jawab Raka mantap.


"Bagus!" puji Zidan pada asisten ke percayaan nya itu.


"Ya sudah, aku mau istirahat, kau pulanglah Raka," imbuh nya.


Zidan kemudian melangkah masuk ke dalam kamar nya yang ada di ruang kerja.


Sedangkan raka, memilih duduk di sofa ruang kerja Zidan.

__ADS_1


'Tidak mungkin saya akan pulang Bos, sedang kan anda masih berada di sini," lirih Raka.


__ADS_2