Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Tidak mau makan


__ADS_3

"Kenapa kamu lebih mementingkan perut si Raka dari pada suami mu!" Zidan semakin murka, saat melihat Raka melenggang keluar tanpa merasa bersalah karna sudah menghabiskan makanan didalam rantang. Masakan itu memang terasa lesat sekali di lidah nya, hingga membuat nya mampu nambah berkali-kali.


Tinggal lah Salsa sendiri di dalam ruangan inap, mendengarkan Zidan yang tidak berhenti mengoceh. Salsa tidak menyanggah apa pun, karna buktinya memang makanan didalam rantang itu, ia dan Raka lah yang menghabiskan. Ia tadi juga tidak bisa melarang, saat Raka yang entah berapa kali menambah makanan yang ada di dalam piring nya.


"Pokok nya aku tidak mau makan kalau tidak makanan tadi," Zidan merajuk, ia hendak membalikan badan nya, tapi ia tidak bisa melakukan karna bahu sebelah kanan nya yang masih sakit. Ia hanya bisa terlentang menatap langit-langit kamar itu.


Salsa yang merasa bersalah hanya bisa berdiri diam, dengan tangan yang masih memegang makanan yang di antar Pramusaji tadi.


Ia meletak kan kembali wadah yang berisi makanan itu di atas meja, Lalu ia hendak melangkah keluar mencari Jefri.


"Mau kemana?" Zidan yang masih merajuk bertanya, ia melihat Salsa dari sudut matanya.


"Mau keluar sebentar," Salsa menghentikan langkah nya menoleh ke arah suami.


"Terus kamu mau meninggalkan aku di sini!" ucap Zidan yang terdengar ketus.


"Aku mau keluar sebentar mas, sebentar saja kok!" Salsa mencoba membujuk nya.


"Tidak usah, kamu disini saja," pinta Zidan yang kini sudah menoleh melihat Salsa.


"Tapi mas makan ya," Salsa mencoba bernegosiasi. tapi Zidan malah diam enggan untuk meng iyakan permintaan istrinya itu.


Salsa kembali mendekati ranjang pasien, berdiri di sebelah meja nakas. kembali mengambil makanan yang di bawa pramusaji tadi. di piring yang di pegang nya itu hanya ada nasi putih yang sedikit lembek, serta sepotong daging dan sayuran yang ada di piring lain.


Salsa memasukkan sayur dan daging itu ke dalam piring yang di pegang nya, mengaduk dengan sendok lalu menyuapkannya pada Zidan.


"Sayang, Mas tidak mau makan itu," tolak nya dengan wajah seperti orang yang jijik.


"Terus mas mau makan apa?" Salsa kembali memasukkan makanan yang ada di sendok tadi kedalam piring.


Zidan hanya diam, sambil menggelengkan kepalanya.


"Mas masih merasa mual sekali sayang, tidak selera makan," lirih nya tanpa melihat Salsa.


"Tadi kata mas lapar?" Salsa teringat kata-kata suami nya tadi.


"Iya tadi aku lapar, tapi makanan nya malah kamu berikan pada si Raka," Zidan berkilah memberi alasan, tapi sebenarnya aroma masakan di dalam rantang tadi memang menggugah selera makannya.


"Ya sudah, biar aku minta bang Jefri untuk membawakannya lagi." Salsa meletakkan kembali piring itu di meja nakas, lalu ia melangkah keluar. Zidan tidak mencegah nya, karna memang ia ingin memakan masakan dengan aroma yang menggugah selera nya tadi. Sungguh aroma itu tidak asing baginya.


**


Diluar Salsa tidak menemukan Jefri, ia hanya melihat para pengawal Maria yang berdiri tegap di depan pintu kamar. Ia pun kembali masuk ke dalam.


"Mas, ponsel mas mana?" Salsa yang sudah kembali masuk kamar, berniat untuk menelpon Jefri tapi ia tidak mempunyai nomor kontaknya.


Zidan yang tidak tau dimana keberadaan ponsel nya, menyuruh Salsa untuk menghubungi nomor kontak nya.


"Maaf nyonya, ponsel bos ada sama saya, tadi itu saya ingin memberikannya. Tapi jadi lupa karna kekenyangan," sahut Raka dari seberang telepon.


"Oo, iya bang."

__ADS_1


"Oya bang, tolong telepon kan bang Jefri ya untuk membawakan makanan yang di bawanya tadi," balas Salsa.


"Baik nyonya," sahut Raka.


Setelah itu sambungan telepon terputus.


Tidak lama ponsel Salsa kembali berdering, tidak ada nama pemanggil di layar ponsel nya, tapi jari nya tetap menggeser tombol hijau.


"Halo nyonya," sahut seseorang dari sambungan teleponnya.


"Ya, Halo ini siapa?" balas Salsa bertanya karna tidak mengetahui siapa orang yang menghubungi nya.


"Saya Jefri nyonya,"


"Ooo.., bang Jefri. Bang tolong bawakan makanan yang abang bawa tadi ya," ucap Salsa.


"Maaf nyonya, makanan itu sudah habis," balas Jefri.


"Ooo, sudah habis ya! Kalau gitu tolong bilangin ke bi Marni  untuk membuatkan masakan yang seperti tadi ya bang," ucap Salsa.


"Maaf nyonya, tapi kata bi Marni yang memasak tadi itu Nyonya Maria," balas Jefri.


Mama! Pantas rasa nya beda, tidak seperti biasa. 


Salsa membatin.


"Hallo Nyonya," panggil Jefri memastikan Salsa masih bicara dengan nya atau tidak.


"Nyonya Maria sudah pergi nyonya," balas Jefri.


"Oo, terimakasih ya bang," ucap Salsa lalu mengakhiri sambungan telepon nya.


***


30 menit kemudian.


Raka yang kembali datang ke rumah sakit, untuk mengembalikan ponsel Zidan. melihat Maria berjalan di Koridor bersama Alfredo. Raka berlari mengejar langkah Maria yang berjalan di depannya.


"Nyonya!" Raka yang berada di belakang Maria memanggil.


Maria menghentikan langkahnya seraya menoleh ke belakang.


"Ada apa Raka?" Maria kini sudah membalikkan badannya menghadap Raka.


Raka mengatur nafasnya sebelum menjawab pertanyaan wanita paruh baya yang sangat di segani nya itu.


"Saya sudah mengetahui pelaku yang menembak tuan, nyonya." ucap Raka dengan nafas yang belum begitu teratur.


"Mereka adalah kelompok yang bisa di sewa myonya, untuk melakukan pengeniayaan, atau pun pembunuhan," imbuh nya.


"Jadi menurut mu, ada orang yang menyuruh menembak putraku?"

__ADS_1


"Benar nyonya," ucap Raka yakin.


"Cari tau siapa orangnya Raka. kalau perlu habisi kelompok suruhan itu."


"Alfred! untuk saat ini kau bantu Raka mencari orang yang ingin membunuh putraku,"


"Baik nyonya," jawab Alfred dengan sedikit membungkuk kan tubuh nya.


"Nyonya, tolong berikan ponsel ini pada tuan, " ucap Raka saat Maria hendak melangkah pergi.


Maria kembali melanjutkan langkah nya di kamar Zidan.


****


Sementara itu di tempat lain.


Seorang wanita  berlari di sebuah gang sempit, sesekali ia menoleh kebelakan dengan wajah cemas, dan ketakutan terlihat jelas di wajah nya.


"Sial! kemana perginya wanita sialan itu," umpat seorang laki-laki yang berdiri di tempat yang dilalui wanita tadi.


"Kau pergi kesana, dan aku kesana, wanita sialan itu pasti belum jauh dari sini," ucap lelaki satunya memberi arahan.


*****


Dirumah sakit.


Salsa melihat ke arah pintu, saat mendengar suara pintu yang di buka.


"Mama," Salsa yang tadinya duduk di samping ranjang pasien segera berjalan saat melihat sang mertua yang baru saja datang.


Salsa lalu meraih tangan Maria dan menciumnya.


"Apa kamu sudah makan sayang?" tanya mertua nya itu lembut.


"Sudah ma, tapi mas Zidan belum," Maria melayangkan pandangan nya pada Zidan yang berbaring di ranjang pasien.


"Mas Zidan hanya mau makan dengan makanan yang di bawa bang Jefri tadi. Tapi----------."


Maria menyipitkan mata, menunggu Salsa melanjutkan ucapan nya.


"Tapi-----, Makanan nya sudah habis." Salsa menunduk kan kepala, seperti merasa bersalah.


Maria mengangkat dagu menantunya itu agar tidak menunduk lagi.


"Bagus dong kalau habis," balas Maria sambil menyunggingkan senyumnya.


"Tapi gara-gara makanan nya habis, mas Zidan jadi nggak mau makan ma," Maria masih menyunggingkan senyum nya. Ia kembali menoleh melihat Zidan yang masih enggan melihat padanya.


"Mama akan membuatkan nya lagi sayang, lebih enak dari yang tadi," bisik nya di telinga Salsa.


"Tapi kan mama baru datang, masa mau pulang lagi," Sungguh Salsa merasa sangat tidak enak dengan mertuanya itu.

__ADS_1


"Tidak sayang, mama tidak pulang, mama mau menumpang masak di dapur rumah sakit ini," Maria meraih kedua pipi Salsa dengan senyum yang tidak lepas dari wajah nya.


__ADS_2