Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Tidak Mengizinkan


__ADS_3

Pagi hari nya..


Salsa mengeliat kan tubuh, perlahan membuka kelopak mata, mengumpulkan kesadarannya.


Dirinya merasakan ada tangan yang melingkar di ditubuh nya.


"Aaaaaaaar," Salsa berteriak keras sembari duduk, ia menolehkan pandangan nya ke samping, melihat seorang laki-laki yang sedang tidur memeluk tubuh nya.


"Om.... Om....Om....." Salsa menggoyang-goyang kan tubuh laki-laki yang tidur di sebelah nya.


Laki-laki itu terbangun karna Salsa mengganggu tidurnya.


"Hoam," lenguh laki-laki itu, sambil merentangkan kedua tangan nya ke atas.


"Om ngapain tidur disini?" tanya Salsa ketus.


"Heis, mana ada saya tidur," jawab zidan santai seraya duduk menjauh dari Salsa.


"Om jangan bohong, Om tadi tidur meluk saya." ketus nya lagi sembari melempar bantal pada suaminya.


"Saya tidak tidur lah," Zidan terus mengelak.


"Om tidur, saya lihat tadi om tidur," Salsa mendengus kesal, mendekap kedua tangan nya di dada.


"Saya tidak tidur. Saya hanya tertidur," kilah Zidan masih membela diri. "Tidur dengan tertidur itu dua kalimat yang berbeda artinya." imbuh nya memberi alsan.


Salsa diam sejenak, mencerna kata yang di ucapkan Zidan.


"Kenapa Om bisa tertidur di kamar saya?" tanya Salsa, meminta penjelasan.


"Ya, saya-," Zidane tak tau harus memberi alasan apa. "Sudah lah saya mau ke kamar," lanjutnya sengaja lari dari pertanyaan Salsa. Dirinya bangkit berjalan keluar dari kamar Salsa.


"Ish, menyebalkan. Kenapa dia tidur di sini? Bagai mana kalau nanti aku hamil, ishh.... Nyebelin, nyebelin," Salsa terus menggerutu, lalu menutup mata dengan ke dua tangan.


Hari ini Zidan tidak memberi Salsa izin, pergi kesekolah. Zidan juga menyuruh Raka untuk mengurus semua pekerjaan nya di kantor. Karna dirinya ingin fokus menjaga Salsa.


.


.


Di negara lain.


Suara ******* seorang wanita penghibur, terdengar nayaring di sebuah kamar. Wanita itu sedang berusaha memuaskan hasrat seorang pria.


Sedang kan pria yang ingin di puaskan, hanya diam pasrah tanpa ekspresi apa pun. Mata pria itu di tutupi sebelah dengan penutup mata, mirip seperti seorang bajak laut. Pria itu juga hanya memiliki sebelah tangan.


Set!


Brak!


Hanya dengan satu tangan yang dimilikinya. Pria itu menjambak rambut wanita yang ada di atas nya, hingga si wanita terhempas ke lantai.


"Auwh, aduh," wanita itu penghibur itu meringis mendapatkan perlakuan kasar secara tiba-tiba.


"Pria bermata satu itu kemudain bangkit, meraih bathrobe yang tergantung lalu memakainya.


Kemudian pria itu berjalan ke sudut kamar, mencabut sebuah samurai dari sarung nya yang terpaku di dinding.


Sring!" bunyi samurai itu saat keluar dari sarung nya.


"Ampun tuan...... Ampun tuan...... Apa salah ku tuan?" wanita itu terlihat cemas, saat si pria bertangan satu itu berjalan mendekatinya.


Tanpa memperdulikan rintihan, wanita penghibur itu, si pria bermata satu itu lansung mengayun kan Samurai nya dengan satu tangan nya.


Srett!!


Seketika ke@al@ wanita itu terlepas dari tubuh nya, lantai kini sudah di banjiri cairan kental berwarna merah.


Pria itu lalu berjalan mendekati sebuah cermin besar yang terletak di sudut kamar. Menatap dirinya di cermin itu dengan penuh amarah dan kebencian yang sudah lama ia pendam.


Perlahan pria itu membuka penutup matanya.


"Sudah saat nya Zi," ucap pria itu dengan rahang yang mengeras.


Striiig!


Seketika itu juga cermin besar di depan nya pecah berderai.


Flashback ON.


Cerita tiga tahun lalu.


Dor!


Bunyi suara tembakan senjata api di sertai jatuh nya tubuh seorang laki-laki ke lantai.


"Arrrrrrrhg" ringis laki-laki yang terkena tembakan di satu kaki nya.

__ADS_1


"Brengsek!" teriak laki-laki yang terkena tembakan itu.


"Kau seperti anjing yang ketakutan Rocky," ucap seorang laki-laki yang memegang pistol di tangan nya.


"Cuih, sampai mati pun aku tak kan pernah takut dengan kau. brengsek!" teriak rocky.


"Oh-, ya," ucap laki-laki yang memegang pistol lalu memberikan pistol itu pada seseorang di samping nya.


"Ha.. Ha.... Ha.... Kau itu laki-laki paling bodoh yang pernah aku kenal Zi," ucap Rocky tertawa puas mengejek nya meski satu kaki nya mengalami luka tembak.


"Bicara dan tertawa lah sepuas kau, aku akan memberikan kau waktu," ucap laki-laki dingin di depan Rocky.


"Apa kau tau Zi, betapa nikmat nya tubuh wanita mu itu?" lagi, kalimat ejekan keluar dari mulut Rocky.


"Ha..... Ha..... Ha.... Apakah kau seorang impoten, Zi? Ha.... Ha.....Ha..... Kau tau Zi? Aku lah yang pertama kali menikmati tubuh wanita mu itu, kau bisa ambil sisa ku itu," Rocky terus menghina laki-laki itu.


"Waktu kau sudah habis Rocky. Sekarang giliranku yang bermain," potong laki-laki yang berdiri di depan Rocky.


"Raka, bawakan aku alat untuk bermain," perintah laki- laki yang berdiri di hadapan Rocky.


"Baik bos."


Yang bernama Raka itu pun segera berjalan, mengambil sebuah samurai lengkap dengan sarung nya, lalu kembali dan memberikannya  pada laki-laki yang berdiri di depan Rocky.


"Kenapa sekarang wajah kau berubah seperti orang ketakutan Rocky?.Apa saat ini kau merasa takut?" tanya lelaki itu, tersenyum. sinis.


"Jangan banyak bicara kau brengsek, jika kau ingin membunuh ku, bunuh saja," ucap Rocky tanpa rasa takut.


"Siapa yang ingin membunuh kau?" ucap laki-laki yang berdiri di depan Rocky.


"Raka letak kan tangan kanan nya di atas meja itu." perintah laki-laki yang memegang samurai.


Raka lalu meraih tangan Rocky dan melatak kan nya di atas meja.


Srett!!


Tangan kanan Rocky Seketika terlepas, di sertai erangan keras dari mulut nya.


"Arrrrrrrrrrrrrrrg!"


Teriak Rocky yang menggema di seluruh ruangan itu.


"Bunuh saja aku!" teriak Rocky masih tanpa rasa takut.


"Aku tidak akan melakukan itu, menurut ku itu bukan lah hukuman yang pantas untuk seorang penghianat." ucap laki-laki yang telah memotong satu tangan Rocky.


Laki-laki itu pun kemudian menusuk mata kanan Rocky dengan ujung samurai yang ada di tangannya.


"Bunuh aku sekarang Zi," lirih Rocky pada lelaki itu. dengan memegang kaki laki-laki itu.


"Ha-ha-ha, kanapa ucapan mu itu seperti memohon padaku Rocky, bahkan aku belum menyudahi permainan ku ini," ucap laki-laki itu dengan santai. Rocky memang sudah tidak berdaya lagi, tenaga nya sudah habis menahan sakit.


"Raka, buka celana nya," perintah laki-laki itu pada Raka.


Raka pun segera melepas kan celana Rocky.


"Jangan Zi, aku mohon jangan lakukan itu padaku," ucap Rocky di sisa tenaga nya.


Laki-laki itu seperti tidak peduli, ia kemudian menusuk dan mengeluarkan 1 biji kelereng dari tubuh Rocky.


Tidak ada erangan kesakitan dari Rocky setelah laki-laki itu mengeluarkan 1 kelereng dari tubuh nya, Rocky pun pingsan jatuh ke lantai dengan darah yang bercucuran di tubuh nya.


"Kau panggilkan dokter untuk mengobati luka nya, setelah dia sembuh, kau terbangkan dia ke Nagara yang lain," Perintah laki-laki itu pada Raka.


Flashback off.


"Tunggu kedatangan ku Zidan Avero," ucap laki-laki bermata satu itu.


-


-


Di Mension zidan.


Zidan yang telah selesai mandi, kembali ke kamar Salsa. Dirinya melihat Salsa yang terlihat sudah rapi dengan seragam sekolah nya di bantu Marni dan dua orang pelayanan lainnya.


"Siapa yang menyuruh kalian membantu Dia? tanya Zidan pada Marni dan dua orang pelayan.


"Maaf kan saya tuan, nyonya yang meminta saya untuk membantunya tuan," jawab Marni ketakutan.


"Keluar sekarang!" titah Zidan.


Semua yang mendengar suara Zidan itu tersentak kagat, Marni dan dua orang pelayan itu segera meninggalkan kamar Salsa.


Salsa yang duduk di depan cermin, menunduk ketakutan.


Zidan menghela nafas besar, menurunkan emosi nya membuncah, lalu berjalan mendekati Salsa.

__ADS_1


"Apa kamu lupa dengan kata-kata saya tadi malam?" tanya Zidan yang sudah berdiri di samping Salsa.


Salsa yang masih ketakutan, menggelengkan kepalanya.


"Lalu, kenapa kamu tidak menurutinya?" tanya Zidan lagi.


"Sa-saya kan sudah bilang sama Om, hari ini saya akan sekolah," lirih Salsa yang  masih menunduk.


"Baik lah, kalau kamu tetap ingin sekolah hari ini saya akan izinkan," ucap Zidan yang kini sudah berdiri di belakang kursi yang Salsa duduki.


Salsa mengangkat wajah nya, menatap Zidan dari pantulan cermin di depan nya.


Melihat wajah Zidan tanpa ekspresi, Salsa kembali menunduk kan wajah nya.


"Saya akan mengizinkan mu pergi sekolah, tapi saya sendiri yang akan mengantarkan mu masuk ke dalam kelas," bisik Zidan di telinga Salsa.


"Bagaimana?" tanya zidan yang masih berdiri di belakang Salsa.


"Pasti nya dia tidak akan mau aku melakukan hal itu,"  ucap Zidan dalam hati.


"Ya, nggak apa-apa, Om boleh antarkan Saya sampai ke dalam kelas," balas Salsa tanpa mengangkat Kepala nya.


"Hais, gadis ini kenapa dia mau aku melakukan hal itu?" Zidan memggerutu kesal.


"Dan saya juga akan menunggu mu di dalam kelas," Kekeh zidan.


Seketika mata Salsa membola menatap cermin, ia melihat Zidan yang sejak tadi berdiri membelakangi nya.


"Apa? Dia bilang mau menunggu ku di dalam kelas. Apa dia sudah tidak waras?"  Salsa membatin.


"Bagai mana kamu mau tidak?" tanya Zidan yang masih berdiri memunggungi istrinya.


"Om saja yang pergi Sekolah sendiri, saya mau di rumah saja," Salsa yang hendak berdiri dari duduk nya.


Zidan tersenyum penuh kemenangan.


"Auuuuwh," Salsa meringis saat kaki nya yang terkilir terbentur kaki meja.


Seketika Zidan menoleh ke arah nya.


"Begini saja sudah meringis kesakitan," gerutu Zidan yang lansung membopong tubuh istri kecilnya menduduk kannya di atas ranjang.


Zidan kemudian menelpon dokter Erwin. menyuruh nya datang ke mension.


Tok


Tok


Tok.


Pintu yang tidak di tutup itu di ketuk Marni dari luar.


"Maaf tuan, di luar gerbang ada nona Niken ingin bertemu dengan tuan," ucap Marni yang berdiri di depan pintu.


"Suruh dia pergi," ucap Zidan matanya masih memperhatikan Salsa.


"Satpam dan para pengawal sudah melakukan nya tapi nona Niken masih tidak mau pergi, tuan."


"Ya sudah biar kan saja dia di luar,"


"Maaf tuan, tapi nona Niken bilang dia tidak akan pergi sebelum bertemu tuan."


Zidan melirik Salsa yang masih menunduk.


"Bantu dia mengganti pakaiannya," titah Zidan berlalu pergi.


.


.


.


"Untuk apa kau mencariku?" tanya Zidan pada seorang wanita yang tengah bersiteru dengan dua orang satpam.


"Zi, kamu harus pecat mereka. Mereka sudah berbuat kasar padaku Zi. Mereka juga melarang aku untuk bertemu dengan mu, Zi," ucap Niken.


"Bulan depan kalian akan ku beri bonus," ucap. Zidan pada satpam dan para pengawalnya.


"Terimakasih tuan," ucap dua satpam itu serempak.


"Apa maksud mu Zii, mereka sudah berbuat kasar pada ku,"


"Kau bahkan sudah tau apa maksud ku, kenapa kau masih bertanya?"


"Zi aku minta maaf, aku minta maaf Zi, aku akan hapus semua foto-foto itu, maafkan aku Zi," Niken terus memohon.


"Sekarang berapa yang kau inginkan?" tanya Zidan, mengeluarkan ponsel nya.

__ADS_1


"Zi, aku tidak butuh sama sekali uang mu. Aku hanya ingin kita bersama-sama lagi." jawab Niken memohon.


"Ha...Ha..... Ha...... Sekarang pergilah aku tidak punya banyak waktu, untuk mendengarkan semua lolucon mu ini," ucap zidan sembari membalik kan tubuh nya hendak meninggalkan gadis itu. tapi kedua tangan gadis itu lansung memeluk satu lengan Zidan serta menempel kan kepalanya di lengan kekar itu.


__ADS_2