Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Rencana mertua


__ADS_3

"Ma! Kok mama ada di sini?" Salsa berdiri dari duduk nya saat melihat orang yang memegang tangan nya tadi ternyata bukan lah Zidan. Ia lalu mencium punggung tangan Maria dan memeluk nya.


"Ini kan cafe mama sayang! kamu dengan siapa kesini?" balas Maria bertanya.


"Lho, Mas Zidan tadi mana?" Salsa melepaskan pelukannya sambil matanya mengedar ke seluruh ruangan itu, saat menyadari Zidan tidak ada di sana.


"Mungkin Dia ke toilet sayang, kamu tidak usah khawatir begitu," ujar Maria mencoba menenang kan menantunya yang memang terlihat cemas.


"Sayang, tadi kamu bilang Sekretaris, Sekretaris siapa?" tanya Maria yang sudah duduk di kursi tempat Zidan tadi duduk. Ia melihat wajah Salsa yang masih terlihat bingung.


"Sekretaris Mas Zidan ma, seperti nya Dia suka deh dengan Mas Zidan" jawab Salsa dengan bibir yang mengerucut.


Maria terkekeh pelan mendengar nya.


"tuh Kan. mama malah ngetawain," Salsa menunduk dengan wajah yang memerah.


"Iya, iya, maaf sayang. Berarti kamu cemburu ya?" tanggap Maria.


Salsa masih terlihat menunduk dengan bibir yang masih mengerucut ke depan.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu, dan kamu harus percaya dengan suami mu sendiri," imbuh Maria memberi nasehat.


Salsa masih diam dengan wajah menunduk, Maria berjalan mendekati nya. Menuntun nya untuk duduk di kursi.


Tidak lama Zidan datang kembali berjalan dari arah belakang Maria.


"Mas dari mana?" tanya Salsa.


Maria berdiri dari duduk nya melihat ke arah Zidan yang baru saja datang.


"Dari toilet! kalau sudah selesai makan kita pulang sekarang," balas Zidan datar.


"Zi, mama boleh bicara sebentar," sela Maria.


Zidan melihat Maria sekilas sebelum menganggukan kepalanya.


"Sayang, mama pinjam suami mu sebentar ya," ucap Maria lalu berjalan ke meja lain sedikit menjauh dari Salsa. Zidan melihat Salsa sekilas sebelum melangkah mendekati Maria yang sudah berdiri tidak jauh sana.


"Duduk Zi," ucap Maria lalu ia duduk di kursi.


"Katakan cepat," tukas Zidan tanpa melihat padanya.

__ADS_1


"Baiklah, mama hanya ingin memberi saran saja, agar pernikahan kalian segera di umumkan. Buat lah acara resepsi biar orang-orang tau kalau kamu sudah punya istri. agar mereka juga menghargai istri mu, kasihan Dia jika berkunjung ke Kantor. Tentu karyawan mu tidak menghormatinya," ujar Maria.


Dalam hati Zidan membenar kan apa yang di katakan Maria. ya, kenyataan nya memang begitu, orang-orang tidak ada yang tau pernikahan nya dengan Salsa, kecuali orang-orang di mension nya. Di luar mension tidak ada yang tau jika ia sudah menikah.


Sebenar nya itu bukan kehendak Zidan, tapi itu adalah permintaan dari Salsa, agar pernikahan mereka di rahasiakan, karna Salsa takut pihak sekolah tau dan akan mengeluarkan nya dari sekolah.


"Hmm, ya baiklah," balas Zidan menanggapi usulan Maria.


"Benar Zi! kamu mau mengadakan resepsi?" tanya Maria begitu bersemangat.


"Ya, lihat nanti lah, saya akan bicarakan dulu dengan Dia," balas Zidan.


"Baiklah, mama hanya ingin menyampaikan itu saja,"


******


Kini Salsa dan Zidan sudah berada di dalam mobil yang di kemudikan Jefri.


"Mas, mama ngomong apa tadi?" tanya Salsa sedikit penasaran.


Zidan yang duduk bersandar di kabin belakang mobil tidak menanggapi nya, ia masih memikirkan cerita Salsa yang bertemu dengan ibu nya tadi, tentu itu membuat nya khawatir. Khawatir jika Herman akan mencelakai istrinya nanti.


"Mas, mas mikirin apa sih? Pasti mikirin sekretaris yang suka jalan lenggang-lenggok itu kan," Salsa menggoyang kan lengan Zidan.


"Nggak, buat apa cemburu?" ketus Salsa menjawab, dengan menyilangkan ke dua tangan di dada.


"Kalau tidak cemburu, tidak usah lah bibir di panjangkan begitu, sudah seperti bebek saja," sindir Zidan melihat Salsa dari sudut matanya.


"Mas bilang apa? Aku seperti Bebek!" Salsa memutar tubuh nya sebagian ke arah Zidan dengan kedua tangan berada di pinggang.


"Sekretaris mas tuh yang seperti bebek, lihat jalan nya udah kaya bebek di pakain pempes," imbuh Salsa yang merasa geram.


"Ya tidak usah marah lah, kalau tidak cemburu," sergah Zidan menjawab, dengan menahan tawanya.


"Iiiiii!!! Mas itu ngeselin," Salsa menggeram kesal mengarahkan jari-jari nya ke wajah Zidan seperti hendak mencakarnya.


Zidan yang sejak tadi menahan tawa nya hampir lepas melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan.


Salsa memalingkan duduk nya memunggungi Zidan, menatap ke arah luar jalan dari balik kaca mobil.


Saat berhenti di lampu merah kembali kedua mata Salsa manangkap seorang wanita paruh baya, yang sedang menjajakan degangan yang ada di tangan nya ke mobil-mobil yang berhenti di lampu merah.

__ADS_1


Ibu!! Itu ibu. 


Salsa dengan cepat menutup mulut nya dengan ke dua tangan, saat ia hendak berteriak memanggil wanita paruh baya yang di lihat nya seperti ibu nya itu. Ia tidak ingin Zidan mengetahui nya, dan memicu keributan lagi.


Mobil kembali melaju meninggalkan lampu merah, Salsa terus memperhatikan wanita itu sampai benar-benar menghilang dari pandangan nya. tidak terasa tetesan air mata nya jatuh membasahi pipi. Menahan rasa rindu pada ibu nya yang sudah lama ia tahan.


"Sayang mas hanya bercanda tadi," Zidan menggeser duduk nya lebih mendekat lagi ke Salsa, saat mendengar suara isak tangis nya.


"Mas, hiks, hiks," Salsa lansung memeluk Zidan, meluapkan tangisan nya yang tak mampu lagi ia tahan kan.


"Sayang Mas minta maaf, besok mas akan ganti Sekretaris yang baru jika kamu tidak menyukai Gisel," ucap Zidan membujuk. Tapi tangis Salsa semakin menjadi tanpa berkata apa-apa.


*****


Di mension.


Tidak lama setelah Salsa dan Zidan sampai di mension, Maria pun tiba, Seperti biasa Salsa mencium punggung tangan dan memeluk mertuanya itu.


"Zi, bisa kita ngobrol sebentar." pinta Maria saat melihat Zidan yang hendak masuk kedalam kamar.


"Ayo sayang, kita ngobrol dulu," Maria merangkul bahu Salsa, membawanya duduk ke sofa ruang utama.


"Zi, apa kamu sudah memberitahukan istrimu rencana mama tadi?" tanya Maria.


"Rencana apa ma? Mas Zidan nggak ada bilang apa pun," timpal Salsa menyela.


"Zi," Maria menatap Zidan seperti meminta persetujuan nya.


"Ya, saya belum menyampaikan nya," balas Zidan.


"Apa sih Mas? Bikin penasaran saja," Salsa menatap wajah datar Zidan dan Maria secara bergantian.


"Baiklah biar mama yang menyampaikan. begini sayang, mama dan Zidan-,"


"Bukan rencana saya," ketus Zidan menyela.


"Apaan sih Mas, nggak sopan banget sama mama," timpal Salsa.


"Tidak apa sayang." Maria menengahi.


"Jadi begini. mama punya rencana untuk membuat resepsi pernikahan kalian berdua, ya mama juga ingin lah membuat pesta kecil untuk kalian berdua. lagian kalian juga belum membuat resepsi kan? Setelah resmi menikah," ungkap Maria.

__ADS_1


"Gimana sayang? Apa kamu setuju."


__ADS_2