Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Nasehat Raka


__ADS_3

Marni berjalan tergopoh-gopoh mendekati Zidan yang masih duduk besandar di dinding kamarnya.


"Tu-tuan, diluar ada orang yang ingin memaksa masuk, untuk menemui nyonya," ucap Marni saat dengan nafas yang ngos-ngosan.


Zidan berdiri dengan cepat menghapus air mata nya yang masih bisa di lihat oleh Marni.


"Siapa?" tanya Zidan tanpa melihat Marni.


"Teman sekolah nyonya tuan," jawab Marni yang menunduk.


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Zidan yang kini menatap Marni.


"Laki-laki tuan, katanya nama nya Rendi," balas Marni.


"Sialan, Mau apa anak itu!"  batin zidan dengan tangan yang mengepal kuat.


"sekarang Kau bawakan makanan ke kamarku, dan pastikan dia memakan nya, setelah itu berikan dia vitamin yang ada diatas meja," ucap Zidan memberi perintah pada Marni.


"Baik tuan," balas Marni kemudian melangkah pergi.


Zidan lalu berjalan ke lantai bawah menemui Rendi.


Baru tiba di lantai bawah. Zidan mendengar keributan dari luar mension nya.


Zidan mempercepat Langkah nya keluar pagar. terlihat Rendi yang sedang bertengkar dengan para satpam yang berjaga di mension nya.


"Siapa yang kau cari di sini!" terdengar suara Zidan yang baru datang menghentikan pertengkaran Rendi dan satpam yang berjaga.


"Gua mau ketemu Salsa!" seru Rendi dengan lantang seraya berjalan mendekati Zidan.


Zidan hanya tersenyum sinis melihat Rendi yang berjalan mendekatinya.


"Kau pulang lah, karna dia tidak ada disini," ucap Zidan sembari membalikan tubuh nya berjalam masuk ke dalam.


"Jadi, ternyata tuan Zidan yang di takuti orang-orang itu begini. Pengecut!" ujar Rendi mengejek nya.


"Jadi kau mau apa?" ucap Zidan datar yang sudah memunggunginya.


"Gua mau, tuan melepaskan Salsa," balas Rendi yang sudah berada di hadapan Zidan.


Bagh!


Bugh!


Bagh!


Bugh!


Zidan memukul dua kali di wajah, dan dua kali di perut Rendi membuat tubuh nya lansung jatuh terduduk ke tanah yang beralaskan aspal.


Dari Kedua sudut bibir Rendi sudah mengeluarkan cairan berwarna merah. Tidak ada rintihan kesakitan dari nya, ia menggunakan Satu tangan nya, memegang perut yang di pukul Zidan tadi, Satu tangan nya lagi ia pakai untuk mengusap sudut bibir nya yang berdarah.


"Cuih," Rendi meludah kan cairan yang sudah berwarna merah itu ke arah samping nya. Ia menatap zidan sembari tersenyum seolah mengejek.


Bagh!


Satu tendangan, zidan ayunkan kuat di perut Rendi membuat nya lansung terjatuh tidak sadarkan diri.


"Kau, kau, kau antar kan dia, dan motor nya ini ke rumah tuan Daniel, dan katakan padanya jangan pernah mencampuri urusan ku," titah Zidan sembari menunjuk tiga orang pengawal mensionnya.


Zidan lalu kembali masuk ke mension nya. Langkah kaki Zidan terhenti Saat merasakan getaran ponsel di kantong celananya. Zidan menggeser arah panah hijau di layar ponsel nya Setelah melihat nama Raka yang tertera di sana.

__ADS_1


"Bagaimana? apa kau sudah mendapatkan wanita itu," tanya Zidan saat sambungan telepon nya sudah terhubung.


"Niken sudah ada di markas bos," balas Raka.


"Baik lah kalau begitu aku akan segera kesana,"


Tuuuuuuuuut!


sambungan telepon itu kemudian zidan putuskan.


Zidan kembali melangkah mendekati mobil nya. baru lima langkah Zidan berjalan, ponsel disaku celananya kembali bergetar, Zidan lansung menggeser panah hijau di layar ponsel nya, setelah melihat nama pemanggil yang tertera di sana.


"Ada apa lagi?" bentak Zidan saat sambungan teleponnya mulai terhubung.


"Apa tidak sebaiknya bos membujuk nyonya saja di sana," ucap Raka.


"Maksud kau apa?" balas Zidan bertanya.


"Maksud saya, apa tidak sebaiknya bos menjaga nyonya saja di sana." Ujar Raka.


"Ada Marni yang menjaganya," ucap Zidan.


"Ta-tapi bos, sebaiknya bos menjelaskan dulu pada nyonya, karna tadi saya melihat di ponsel niken masih ada foto-foto bos dan dia sewaktu di hotel dulu." terang Raka.


"Maksud kau apa? jangan bertele-tele Raka," ucap Zidan mengancam.


"Maafkan saya bos, tapi maksud Saya berkemungkinan niken sudah memperlihatkan foto-foto bos itu pada nyonya, lalu niken memprovokasi nya," terang Raka menjelaskan.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Zidan.


"Sebaiknya sekarang ini bos bujuk lah nyonya dulu!" seru Raka


"Bagaimana cara nya?" tanya Zidan datar sembari menggaruk kepalanya yang entah gatal entah tidak.


"Berhenti lah kau memberikan ku saran gila itu Raka," bentak Zidan.


"Bagaimana kalau bos mengajak nyonya berlibur untuk beberapa hari ke depan, hitung-hitung bos pergi berbulan madu lah," Saran Raka lagi.


"Apa yang kau pikirkan Raka?" ucap Zidan dengan wajah yang memerah.


"Ayo lah bos. buang lah pikiran untuk menyamakan satu wanita dengan wanita lainnya. Mungkin dulu nyonya Maria pernah meninggalkan bos dan tuan vero, mungkin dulu Niken pernah menghianati bos. Tapi janganlah bos limpahkan semua hukuman itu pada nyonya Salsa,"


Tuuuuuuuuuuut!


sambungan telepon itu lansung di putuskan oleh Zidan.


Zidan berjalan mendekati sofa yang berada di ruang utama mension nya. Ia menghempas kan tubuhnya di sofa itu serta menyandarkan kepala nya di sandaran sofa.


Satu tangan ia gunakan untuk memijat dahi nya sendiri. Lalu mata Zidan tertuju pada Marni yang berjalan menuruni anak tangga dengan membawa nampan yang diatasnya ada piring yang masih banyak tersisa makanan di dalam nya. Zidan lalu memanggil Marni.


"Bagaimana? Apa dia sudah makan?" tanya Zidan saat Marni sudah berdiri di dekatnya.


"Sudah tuan, tapi hanya sedikit sekali, dan nyonya juga sudah meminum vitamin yang tuan berikan." jawab Marni menjelaskan.


Zidan menatap nampan yang masih ada di tangan Marni itu.


"Apa dia menginginkan sesuatu?" ucap zidan bertanya.


"Nyonya meminta untuk diantarkan ke rumah  sahabat nya," jawab Marni.


Zidan kemudian mengibaskan satu tangan nya menyuruh Marni pergi. Lalu zidan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


Sembari berjalan zidan terus saja memikirkan ucapan Raka tadi.


Zidan kini sudah berada di depan pintu kamar. Ia menghela nafas panjang nya sebelum meraih handle pintu.


Ceklek!


Pintu kamarnya terbuka, Zidan berjalan mendekati ranjang melihat salsa yang berbaring dengan posisi menyamping memunggunginya.


Ekhemmm,"


Zidan berdehem, berharap Salsa akan menoleh padanya. Satu kali deheman tidak ada respon dari Salsa, zidan mengulangi deheman yang ke dua. masih sama, tubuh Salsa masih berbaring diam memunggunginya. Pada deheman yang ke tiga Salsa membalikkan badan nya, terlihat oleh zidan mata sembab Salsa serta bibir yang masih sedikit pucat.


Lagi-lagi Zidan merasakan hati nya teriris, saat melihat keadaan Salsa saat itu. ia merasa sangat bersalah, karna telah membuat istrinya itu menangis.


Zidan berjalan ke kamar mandi, karna ia tidak kuat melihat tatapan mata sayu Salsa pada nya.


"Jika kamu sudah sembuh! saya akan mengantarkan, ke rumah sahabat mu itu," ucap zidan saat sudah kembali dari kamar mandi. Kini Zidan seperti sedang sibuk mencari sesuatu di laci meja kerja nya.


"Tapi saya tidak sakit, om bisa antarkan saya sekarang," balas Salsa yang masih berbaring.


"Cih, kalau tidak sakit kenapa makan mu tadi hanya sedikit sekali, bukannya setiap hari makan mu selalu banyak," ucap Zidan yang serat akan ejekan.


"Haeissh, kenapa dia itu selalu menyebalkan, rasanya aku ingin sekali menggigit-gigit tubuh nya itu, dan memakannya," gumam Salsa di dalam hati.


Kemudian Salsa bangkit dari ranjang nya lalu berjalan menuju pintu kamar.


"Kamu mau kemana?" tanya zidan seketika menghentikan tangan Salsa yang akan membuka pintu kamar.


"Mau kabawah, cari makanan. kalau saya tidak makan sekarang bisa-bisa om yang saya makan," Ketus Salsa, sembari tangan nya membuka handle pintu kamar dan melangkah keluar. Setengah mulut zidan terbuka melihat Salsa yang berjalan keluar dengan santai nya.


"Bukannya dia sakit!" gumam zidan.


***


Keesokan hari nya.


Salsa menagih janji nya pada Zidan untuk membawanya pergi ke rumah santi.


Salsa sudah mempersiapkan semua barang-barang, Pakaian, serta perlengkapan sekolah nya.


"Ayo om," ajak Salsa yang sudah siap, sembari menenteng dua ransel yang berisi penuh dengan pakaian dan buku-buku sekolahnya.


"Barang-barang mu itu biarkan saja di di sini, nanti Jefri yang akan membawanya ke rumah sahabatmu itu," seru Zidan yang juga sudah siap dengan koper kecil di tangan nya.


"Dia mau kemana? Kenapa dia membawa koper? dan Kenapa dia menggunakan pakaian itu? Apa dia akan pergi berlibur dengan tunangan nya?" gumam Salsa, saat melihat zidan membawa koper.


Salsa tersentak kaget, saat tangan Zidan menyentil dahi nya.


"Apa yang kamu pikirkan," ketus Zidan, saat melihat Salsa hanya berdiri diam di depannya.


"Sakit lah om," Salsa meringis sembari mengusap-usap dahi nya yang hanya di sentil pelan oleh Zidan.


Zidan lalu berjalan keluar dari kamar menarik koper kecil yang ada di tangan nya, diikuti Salsa yang berjalan cepat mengejar langkah zidan di depan.


"Om, mau kemana?" tanya Salsa yang menghentikan langkah kaki zidan.


Zidan lalu membalikan badannya menatap Salsa.


"Bukan nya kamu mau saya antarkan ke rumah sahabat mu itu!" jawab Zidan dengan satu alis nya terangkat.


"Habis mengantar saya, om kemana?" tanya Salsa lagi dengan wajah yang menunduk sembari memainkan jemarinya.

__ADS_1


"Bukan urusan mu," ketus Zidan sembari membalikkan badan nya dan kembali melangkah.


"bukan urusan mu, bukan urusan mu," gerutu Salsa menirukan ucapan Zidan.


__ADS_2