Om CEO Galak Itu Suamiku

Om CEO Galak Itu Suamiku
Pulang dengan ku sekarang!


__ADS_3

"Mana istriku?" Zidan menatap tajam wanita paruh baya yang duduk di depannya. Maria segera berdiri dangan mata yang berkaca-kaca melangkah pelan mendekati Zidan.


"Maaf..." Kalimatnya terjeda saat melihat dua orang pengawalnya berjalan mendekati.


"Maaf kan kami Nyonya, kami tidak menemukan nyonya Salsa di toilet," ucap pengawal itu dengan kepala tertunduk.


Zidan berjalan mendekatinya. Lalu mencengkram kerah leher pengawal yang berbicara tadi.


"Kau bilang apa?" Zidan menatap nya tajam, lalu menghempaskan tubuh pengawal itu ke lantai. Ia kembali membalikkan tubuh nya menghadap Maria dengan tatapan yang begitu menakutkan.


"Zi, maafkan Mama, Nak," Wanita paruh baya yang terlihat sangat anggun itu tidak kuasa lagi menahan air mata yang sejak tadi sudah menggenang di bola matanya.


Entah kenapa? Hati Zidan luluh saat melihat air mata penyesalan wanita paruh baya yang telah melahirkan nya itu, namun ia juga tidak bisa seketika menghapus rasa benci di hatinya yang selama ini telah tumbuh berakar.


Zidan mengalihkan tatapan nya dari Maria yang telah menangis.


"Bagaimana bisa istri saya hilang dengan pengawalan sebanyak ini," Zidan menatap satu persatu pengawal Maria yang berdiri disana.


"Ini bukan salah mereka Zi, ini salah Mama. Harusnya Mama tadi menemaninya ke toilet," sesal Maria menumpahkan semua kesalahan pada dirinya sendiri.


"Maafkan Mama Zi, karna Mama lah yang telah lalai menjaga istrimu," lirih Maria kembali terdengar


"**** up!" bentak Zidan.


Raka yang baru datang dilokasi gegas berlari mendekati Zidan yang berdiri di antara Maria dan para pengawalnya.


"Bos, lokasi ponsel Nyonya Salsa masih di sekitar sini, sebaiknya kita segera mencarinya," ucap Raka memberi saran.


Zidan menoleh melihat Raka yang berdiri tidak jauh darinya, ia mengangguk tanda setuju dengan saran yang di berikan Raka. Lalu melangkah berjalan meninggalkan Maria dan para pengawal nya yang masih berdiri disana. Zidan melangkah ke arah toilet tempat di mana para pengawal Maria tadi mencari nya. Sedangkan Raka berjalan mencari Salsa ke lantai dua bangunan itu.


Tidak jauh dari toilet, Herman membekap mulut Salsa di balik tiang besar di lantai dasar bangunan yang berlantai empat itu, hingga ketika para pengawal Maria tadi menyusul, Salsa tidak bisa bicara sepatah kata pun, karna mulut nya di bekap erat oleh Herman.


Setelah memastikan para pengawal Maria pergi, Herman baru melepaskan tangan nya yang membekap mulut Salsa. Tapi satu tangan ia gunakan memegang pergelangan tangan Salsa kuat.


Salsa menghirup udara begitu rakus saat tangan Herman terlepas dari mulut nya.


"Lepas lah, Om, mau apa sebenarnya?" Salsa memberontak mencoba melepaskan tangan Herman yang memegang pergelangan tangan nya.


"Aku mau uang! Berikan aku uang sekarang," jawab Herman sambil menampung satu tangannya.

__ADS_1


"Aku mana ada uang! Kalau pun ada aku juga nggak akan memberikannya," ucap Salsa membentak Herman.


"Mulut kau sangat biadap sekarang ya? Tidak ada sopan santun lagi pada orang tua sejak menikah dengan laki-laki kaya itu," balas Herman seraya mencengkram kedua pipi Salsa dengan satu tangan nya.


Salsa berusaha melepaskan tangan Herman yang ada di pipinya.


"Orang tua? Kau merasa orang tua kah? Apa kau merasa pantas di hormati? Kalau kau mau uang, kenapa tidak kerja? Apa kau nggak malu bergantung pada wanita, memeras keringat nya untuk kau hambur-hamburkan di meja judi? Sekarang kau minta uang pada ku, kau itu laki-laki yang sangat menjijikkan," ucap Salsa meluapkan amarah nya.


"Anak sialan kau! Berani kau menghinaku!" sentak Herman yang mulai emosi.


"Kenapa? Apa kau merasa malu, hah!" Salsa terus menantang nya.


Kembali tangan Herman hendak mencengkram pipi Salsa, tapi gerakan reflek dari Salsa kaki nya tiba-tiba mengayun tepat mengenai alat vital Herman.


Herman seketika itu melepaskan pegangan tangan nya pada pergelangan tangan Salsa.


Ia berjongkok dan kembali berdiri sembari kedua tangan nya memegang alat vital nya menahan sakit.


Kesempatan itu tidak di sia-siakan Salsa, ia segera berlari meninggalkan Herman yang masih meringis menahan sakit akibat tendangan reflek dari kaki kanan nya.


"Anak sialan, jangan lari kau!" Wajah Herman merah padam, menahan sakit dan amarahnya pada Salsa. Dia segera mengejar Salsa dengan kedua tangan yang masih memegang alat vitalnya.


Salsa berteriak saat Herman berhasil mengejar dan kembali membekap mulut nya. Ia menyandarkan tubuh Salsa ke dinding.


Zidan yang sempat mendengar teriakan Salsa dengan cepat berlari ke sumber suara.


"Sekarang kau mau lari kemana lagi? Hah! Kau berikan aku uang atau...." Herman menyeringai saat melihat cincin yang terpasang di jari Salsa.


"Aku nggak akan memberikan apapun," tegas Salsa tanpa rasa takut.


"Berikan aku cincin itu, cepat!" Herman menampungkan satu tangan nya.


"Nggak! Jangan berharap kau," tolak Salsa.


"Sepertinya kau perlu ku beri pelajaran dulu, baru mau menuruti kemauan ku," Herman mengangkat satu tangan nya ke atas hendak menampar Salsa.


Puk


Tangan Herman yang hendak memukul Salsa di tangkap Zidan yang baru saja datang.

__ADS_1


"Berani kau memukul istriku?" ucap Zidan dengan suara yang bergetar. Ia memelintir tangan Herman, hingga terdengar suara tulang yang bergeser.


Krek, krek. 


"Awh....Sakit..... Ampun.... Ampun," raung Herman kesakitan.


Zidan menghempaskan tangan Herman yang sudah terkulai.


"Auw sakit.... Sakit...." rintih Herman kesakitan.


Salsa yang sejak tadi menutup wajah dan matanya dengan kedua telapak tangan saat Herman hendak memukulnya, perlahan ia menyingkirkan telapak tangannya yang menutupi wajah ketika mendengar suara Zidan ada di sana.


"Mas," Salsa yang masih ketakutan memeluk tubuh Zidan erat.


Zidan bisa merasakan ketakutan Salsa saat ini, ia juga mendengar helaan nafas istrinya yang tidak teratur.


"Tenang lah! Mas ada di sini," Zidan mengusap puncak kepalanya, mencoba menenangkan.


"Mas ayo kita pulang," pinta Salsa yang masih memeluk nya.


"Iya, kita pulang sekarang," Zidan membawa Salsa dari sana, membiarkan Herman yang masih meraung kesakitan.


***


Di luar, Maria masih saja menangis, menyesali kelalaian nya hingga membuat Salsa menghilang hingga membuat Zidan kembali marah padanya.


"Ma...?" Terdengar suara Salsa yang baru muncul bersama Zidan dari arah toilet membuat mata Maria kembali berbinar.


"Sayang...?" Maria berlari mendekatinya dan memeluk tubuh Salsa erat.


Zidan yang berdiri di samping Salsa manarik tangan nya agar segera pergi dari sana.


"Cepat lah! Kita pulang sekarang," ucap Zidan sembari menarik tangan Salsa.


"Tapi Mas, aku mau pulang sama Mama," Salsa mencoba memohon sambil meremas pakaian yang di pakai nya saat ini.


"Tidak! Pulang dengan ku sekarang! Atau kamu tidak akan pernah lagi aku izinkan keluar!" ucap Zidan tegas.


Salsa dengan wajah cemberut nya, memandang Maria yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2